Mendapat Kunjungan
Kedatangan orang tua Lucas mereka sambut hangat. Sean berlari memeluk keduanya yang baru memasuki unit mereka. Renjun dan Lucas pun beranjak membantu keduanya membawa barang bawaannya.
“Kak, kamu dikasih makan apa sih sama Papo Pipomu? Makin gedhe aja tiap Bubun ketemu. Bubun takut gak muat baju yang Bubun bawain buat Kakak, Kakak coba dulu baju dari Bubun,” celetuk Bunda.
“Baju dia udah naik ukuran. Yang dipake dia sekarang itu aja baju aku, Bun,” sahut Renjun.
“Bentar lagi juga Piponya jadi paling kecil di sini.” Lucas langsung melangkah cepat menjauh setelah mengatakannya.
“Persis kamu dulu isengnya,” adu Bunda pada suaminya. Tindakan Lucas tadi mengingatkannya pada saat putra semata wayangnya itu tumbuh kian melampaui dirinya dan suaminya itu meledeknya persis seperti yang dilakukan Lucas.
Sementara Sean asik bersama kedua orang tua Lucas, Lucas dan Renjun tengah sibuk menata masakan ibunda Lucas pada meja makan untuk mereka makan malam. Manik Lucas mendapati Renjun yang memindahkan masakan ke piring saji dengan raut masam itu justru bertindak sembrono di ruang makan dengan menjatuhkan ciuman pada suaminya.
Gila. Secara spontan Renjun mencubit Lucas yang melakukan hal itu. Yang dicubit hanya mengaduh dengan raut tak bersalahnya. Sudah meledek, bukannya mengucap permintaan maaf, malah mengajaknya bertingkah sembrono di tengah orang tua yang berkunjung ke rumah mereka.
Disaat makan malam, Sean mendominasi dengan mulutnya yang tak henti berbagi cerita. Dirinya juga menceritakan perihal Delilah yang telah memberinya kabar. Banyak hal dia ungkapkan menghidupkan suasana di ruang makan.
“Mama baik sekali ya, Kak?” Sean nampak berpikir mendengar pertanyaan Papa Lucas.
“Mmm... Baik saja. Mama tidak lupa dengan Kakak dan sayang pada Kakak, itu baik,” balasnya. Dirinya perlahan menerima Delilah namun apa yang sudah terjadi masih tersimpan apik dalam memorinya.
“Kak, masakan Bubun enak sekali atau tidak?” sahut Bunda yang sedari tadi tak mendengar pembahasan tentang masakan yang dia buat sepenuh hati.
Sean acungkan kedua jempolnya pada ibunda Lucas dengan mengunyah makanan di mulutnya. “Selalu enak sekali,” ucapnya setelah menelan habis makanan di mulutnya. “Papo, perut Kakak sudah tidak muat,” lanjutnya sembari menaruh alat makannya.
“Kakak pura-pura kenyang supaya sudah selesai makan masakan Bubun yang tidak enak, ya?” sahut Bunda dengan bergaya sedih.
“Tidak, Bubun. Lihat perut Kakak penuh sekali,” balasnya seraya menunjukkan perutnya.
“Bubun bercanda, Kak,” ujar Bunda dengan mengulas senyumnya.
Selepas itu, Sean berpamitan untuk pergi beristirahat terlebih dahulu karena besok harus bersekolah. Dirinya diberi banyak kecupan manis oleh Bubun dan Grandpanya sebelum ke ruangannya.
“Yang, makannya Sean,” pinta Lucas pada Renjun untuk mengambilkan piring Sean dengan makanannya yang masih.
“Perut karetmu ada untungnya juga jadi tandon makanan anaknya yang gak habis,” celetuk Bunda.
Suasana ruang makan seketika sunyi selepas kepergian Sean. Keempat orang di meja makan sibuk menikmati makanan mereka masing-masing.
“Sean bakal ikut mamanya?” Pertanyaan Bunda menghentikan kegiatan makan semuanya. “Jangan dijawab kalau jawabannya bener,” lanjutnya.
“Enggak, Sean tetep di sini,” balas Lucas.
“Terus kenapa Delilah gugat Edwin? Dia bakal cuma rugi,” tanya Bunda.
“Ada hal yang gak perlu kita tahu, Bun. Itu udah keputusan dia,” terang Lucas.
Kedua orang tua mereka mengangguk. Maksud utama mereka berkunjung selain karena Sean adalah untuk mengetahui perihal yang terjadi dengan keluarga kecil putra semata wayang mereka itu dengan Delilah.
“Disisi apa yang kalian lalui itu gak mudah, Papa bangga dengan kalian. Kalian buktikan tanggung jawab kalian pada Sean, mau berdamai dengan latar belakang Sean, selalu ada buat Sean juga kalian satu sama lain, kalian hebat,” tutur Papa.
“Bunda tahu pasti ada naik dan turunnya kalian menghadapi itu, terlebih kalian menghadapinya di usia pernikahan yang belum genap setahun, kalian hebat,” timpal Bunda.
Lucas dan Renjun saling berpandangan dengan ekspresi yang sulit dideskripsikan. Hal itu mengundang tanya dari kedua orang tua Lucas, khawatir akan perkataan mereka ada yang menyinggung keduanya. Kedua orang tua Lucas semakin heran ketika keduanya tiba-tiba tertawa bersamaan.
“Serem deh kalian tiba-tiba ketawa sendiri,” celetuk Bunda.
“Kita berdua baru inget anniversary kita udah tiga bulan yang lalu waktu Bunda ngomong tadi,” terang Lucas.
“Malah empat bulan lalu kayaknya, Ge,” timpal Renjun mengingat-ingat tanggal pernikahan mereka.
“Beneran anakmu itu, Bun. Sukanya lupa,” celetuk Papa.