Bermain

Sementara Ligar asik dengan kegiatan clubnya, Raga menemani Arsen bermain air. Menemani anak-anak bermain air menjadi ujian kesabaran baginya. Jika saja tidak ada Jemian yang menemaninya bermain dengan anak-anak bisa saja tadi Raga kelepasan memarahi anak-anak itu.

“Arsen, didengarkan itu Mas Raga. Bahaya kalau Arsen mainnya terlalu ke tengah, nanti dibawa air laut,” peringat Jemian pada Arsen. “Lundra juga gitu, didengarkan kalau Pipi kasih tahu,” lanjutnya memperingatkan putranya.

“Cil, kita main pasir aja lah,” ajak Raga mencari jalan aman.

“Ayo main pasir aja,” sahut Jemian ikut mengajak anak-anak.

Raga pada akhirnya mendapat waktu untuk duduk dengan tenang disaat Arsen sibuk bermain pasir. Dalam diamnya tiba-tiba terlintas pikiran tentang bagaimana Arsen mengikuti Ligar touring sebelumnya, melihat saat ini saja lelaki itu masih sibuk dengan kegiatan clubnya dan anaknya bersama dengan dirinya yang menjadi baby sitter mendadak.

“Setiap touring lo pasti jadi baby sitter bocil-bocil ya?” tebak Raga pada Jemian yang mendapat senyuman dari lelaki itu.

“Enggak, kan ada orangtuanya masing-masing. Mungkin saling bantu buat saling ngawasin aja. Kalau Arsen sama Lundra itu emang deket banget dari mereka kecil, kemana-mana maunya bareng, jadi kadang aku jagainnya sepaket,” terang Jemian yang mengerti maksud arah pertanyaan Raga.

“Ngapain lo bantu jagain nih bocil, kasih tuh ke bapaknya. Ngajak-ngajak kagak diurusin anaknya,” sahut Raga.

“Biasanya pasti dijagain sama Mas Ligar, cuma semenjak aku nikah sama Julian, aku yang mau jagain mereka berdua setiap touring biar mainnya gak ditengah obrolan orang dewasa. Dulu mereka pasti main di sekitar orangtuanya, gak pernah dilepas jauh begini,” jelas Jemian. “Tuh kan baru diomongin orangnya udah jalan ke sini,” lanjut Jemian terkekeh melihat Ligar dan Julian yang berjalan ke arah mereka.

Arsen dan Lundra yang melihat Ligar dan Julian berjalan ke arah mereka pun seketika berlari menghampiri. Kedua lelaki itu lantas ditarik Arsen dan Lundra bersemangat. Tawa bahagia mereka tak terhenti karena akan menjalankan rencana mereka.

“Papogar ayo bobok di pasir!” pinta Arsen seraya menarik-narik lengan Ligar.

Ligar mebaringkan dirinya di pasir yang tak jauh dari tempat Raga duduk sesuai arahan Arsen. Raga yang melihatnya justru terfokus dengan badan bertatto Ligar dan itu tak hanya satu atau dua gambar.

“Mas Raga, Ayo! Mas Raga kan mau bantu aku,” ajak Arsen untuk menutupi tubuh Ligar dengan pasir.

“Bro, pelan-pelan dong. Pasirnya masuk hidung Papo ini loh, gawat nanti Papo punya upil batu,” peringat Ligar.

“Enggak, Papogar!” sahutnya dengan tertawa mendengar kalimat terakhir Ligar.

Ligar dan Julian hanya pasrah dengan badan mereka yang menjadi mainan anak-anak. Andai saja Arsen tak ada, Ligar pasti sudah menendang Raga yang mengubur kakinya dengan beberapa kali segaja memukul kakinya itu. Walaupun tubuh Raga itu kecil, Ligar tak lupa bahwa lelaki itu si jago ribut, maka dari itu dia tak terkejut bahwa pukulannya cukup terasa.

“Mas Raga, bantu yang diperut PapoㅡPapo jangan bernapas dulu ini retak!”

“HEY! Papo kok disuruh jangan bernapas? Bisa meninggal dong Bro,” sahut Ligar heran.

“Arsen, kenapa kamu jadiin Mas Raga sahabat kamu?” tanya Lundra yang masih cemburu dengan Arsen yang memiliki sahabat selain dirinya. “Kenapa kamu gak jadiin Mas Raga kayak Pipi? Nanti kita jadi sama deh,” lanjutnya tanpa menunggu jawaban Arsen.

Arsen melirik Ligar dan Raga bergantian. “Sahabat ya Bro, sahabat.” Arsen mendengus mendengar ucapan Ligar.

“Sahabat nomor satunya Arsen itu tetep kamu, Mas Raga kan masih baru,” sahut Raga menjelaskan pada Lundra.

“Bener nih, kamu lebay banget gak bolehin aku sahabatan sama Mas Raga,” timpal Arsen.

“Udah nemu kosakata lebay aja kamu, Bro,” celetuk Ligar.

“Panjul sering ngomong itu.” Sontak pandangan Ligar dan Jemian tertuju pada Jemian.