lostduskworld

Raga yang sedari pagi tadi sudah ribut dengan Arsen entah perkara apa hingga kini ketika sampai di Legoland dirinya berniat menunggu Ligar dan Arsen di Burger Junction. Dirinya melangkah malas di belakang Arsen yang bersemangat menarik Ligar untuk mencari wahana roller coaster naga yang telah mencuri pikiran anak itu dari berminggu-minggu lalu. Sialannya ketika melihat wahana itu Raga justru tertarik, melawan niatannya yang hanya ingin menunggu dengan makan di sini.

Ligar yang duduk di belakang Arsen dan Raga dipenuhi rasa cemas. Dua kesayangan Ligar itu berulang kali mengangkat tangan lepas dari pegangan. Keduanya sama-sama heboh dan teriakannya kencang.

Turun dari roller coaster, Raga dan Arsen sudah sibuk sendiri mencari wahana yang diinginkan. Ligar hanya mengikuti kemana mereka pergi dan menjaga jalan mereka yang terlalu bersemangat supaya tidak menabrak orang yang berjalan dari arah berlawanan.

“Main basah-basahnya terakhir aja biar nanti selesai ganti baju gak banyak keringetan lagi,” saran Ligar pada keduanya yang berhenti di Dino Island. “Ke Ninjago 4d Ride atau Lost Kingdom dulu aja, mau ketemu ninjago katanya kamu,” tambah Ligar.

“Itu yang petualangan itu Papo?” Ligar memberikan anggukannya. “Mau!! Aku mau ketemu Kai sama Lloyd!” Arsen langsung menarik Ligar dan Raga untuk pergi ke wahana tersebut.

Ligar hari ini berperan menjadi pengasuh dua anak aktif. Raga yang dia pikir akan bosan nyatanya begitu bersemangat. Bahkan ketika dalam wahana lost kingdom, Raga sibuk berembuk sendiri bersama Arsen untuk mencari harta karunnya. Juga saat berada di Dino Island, Raga dan Arsen asik sendiri menyanyikan dino ABC yang dirinya saja tidak menghafal keseluruhan nama dino.

“Ini buat anak-anak doang, Pipoy. Buat latihan nyetir. Kita lihat aja Arsen dari sini,” bujuk Ligar pada Raga yang kesal karena dirinya tidak bisa ikut mengendarai mobil lego. “Kamu kayak anak kecil banget sih hari ini.” Ligar memeluk gemas Raga dari belakang.

“Keliatan banget ya Papp masa kecil kurang bahagianya.” Ligar seketika ingin mengurungkan kalimat yang dia ucapkan sebelumnya. Kegemasannya ditangkap lain oleh Raga.

“PIPOYY!! PAPOGARR!!” panggilan Arsen itu membuyarkan sendu yang menyelimuti keduanya.

Raga tersenyum getir melihat tangan Ligar yang masih melingkari dirinya itu mengambil gambar dan video Arsen yang tengah memgendarai mobil lego. Dirinya juga melihat jelas Ligar memindahkan gambar dan video Arsen dalam folder tersendiri.

“Yang ini isinya kamu.” Ligar berganti menunjukkan folder yang isinya dipenuhi oleh Raga. “Ngapain screenshot segala dimasukin,” ledek Raga. “Itu momen langka,” terang Ligar lalu membawa Raga dalam rangkulannya menjemput Arsen yang telah selesai mengemudi. “Ada folder mantanmu juga nih pasti.” Ligar memberikan ponselnya tanpa menjawab dan membiarkan Raga menemukan sendiri jawabannya.

Tak pernah disangka oleh Raga bahwa dirinya akan menginjakkan kaki di rumah mantan istri Ligar. Dirinya bahkan duduk berhadapan langsung dengan wanita tersebut hari ini. Cantik merupakan satu kata yang keluar dalam batinnya semenjak melihat wanita itu. Raga kini mengerti dari mana wajah bule Arsen berasal, ibunya memiliki darah campuran.

Setiap kali Ligar dan Raga melakukan panggilan dengan Arsen, anak itu lebih sering menyebutkan merindukan Raga. Akan tetapi ketika melihat keduanya menjemput dirinya, yang pertama kali dipeluk Arsen adalah Ligar. Bahkan Arsen memeluk dan mendusel cukup lama pada Ligar sebelum akhirnya berganti memeluk Raga.

Ligar menyenggol lengan Raga yang memasang wajah kaget ketika disapa oleh suami dari mantan istri Ligar. Raga lantas merubah ekspresinya dan melipat bibir karena menahan tawa. Ligar tak mengerti apa yang tengah dipikirkan Raga.

“Seru nggak di rumah Mami?” Arsen menunjukkan raut berpikir atas pertanyaan Ligar itu. “Ada yang seru ada yang enggak, soalnya aku 10 menit aja bisa bobo sama peluk Mami habis itu ditinggal sama adek-adek,” balas Arsen seraya mengadu. Sebetulnya tidak 10 menit, Arsen menyebut seperti itu karena merasa itu sebentar bagi dirinya yang rindu sekali dengan Maminya walaupun nyatanya lebih dari 10 menit.

“Itu kamu udah lebih dari 10 menit peluk Mami.” Arsen sedari tadi duduk dipangkuan Maminya dan memeluk wanita itu. “Papo ayo ikut aku sama Mami pelukan,” pintanya mengejutkan empat orang dewasa di sana.

Ligar ikut dalam pelukan itu karena rengekan Arsen yang terus meminta. Ada rasa yang berkecamuk dalam diri Raga, namun dirinya tak bisa menebak perasaan apa yang dominan, irinya terhadap Arsen atau cemburunya terhadap Ligar. Satu hal Raga sadari, Ligar tak menyentuh mantan istrinya dalam pelukan itu. Pria itu hanya mendekatkan dirinya pada Arsen dan sebelah tangannya berada di paha Arsen, sedangkan yang satunya menelapak pada sofa menopang dirinya.

“Udah ya bro...” izinnya pada Arsen untuk melepas pelukan itu. Ligar tak mungkin lama dalam pelukan itu, dirinya dan sang mantan istri sudah memiliki pasangan masing-masing.

“Kakak Arsen masih mau di sini sama Mami?”

“Besok-besok aja deh, aku mau ke legoland,” balasnya mengingat liburannya.

Ketiganya beranjak berpamitan karena harus kembali ke Jakarta dan melakukan penerbangan. Lagi-lagi Raga menahan tawanya ketika digendong oleh suami dari mantan istri Ligar dan lelaki itu hendak mencium Arsen, namun anak itu dengan cepat membuat jarak setelahnya.

“Kamu mau ngetawain apa sih dari tadi?” Ligar merangkul Raga dan bertanya dengan berbisik sembari berjalan menuju mobil.

“Mantamu nikahin kakek-kakek?” Ligar sontak terkejut lalu tertawa atas pertanyaan Raga. “Ngawur kamu, dia tiga tahun diatasku,” terang Ligar pada Raga yang tengah melepas tawanya. “Dih masa? Udah ada rambut putihnya gitu. Kamu juga ada rambut putih nih jangan-jangan?” Ligar reflek mencubit pipi Raga atas pertanyaan itu.

“Mas Tono pintunya dikunci,” lapor Arsen yang tak bisa membuka pintu mobil. “Pipoy duduk deket aku ya, aku mau peluk Pipoy lama,” pintanya sebelum masuk mobil. “Dih aku mau duduk peluk Papomu.” Arsen seketika merubah rautnya dan melipat tangannya di depan dada. Sangat disayangkan sekali Ligar tengah membantu Mas Tono menata barang Arsen di bagasi, jika dirinya mendengar ucapan Raga itu bisa jadi dirinya akan terus memeluk Raga selama perjalanan.

“Cil, kamu tadi gak suka ya dicium Om Papi?” tanya Raga pada Arsen yang menyamankan dirinya di pangkuan Raga. “Bukan enggak suka ya Pipoy, tapi sakit dicium kena brewoknya. Papogar sama Pipoy jangan brewok ya, aku gak mau cium kalo brewok,” adunya yang membuat terpingkal kedua orangtuanya, bahkan Mas Tono yang tengah mengemudi mobil mereka pun ikut terpingkal.

Arsen menegakkan duduknya lalu mencium pipi Raga beberapa kali, “Kalo gitu kan gak sakit ciㅡihh! Papo kenapa ikut cium-cium Pipoy aku!!” Arsen seketika memukul lengan Ligar dan memasang muka kesal karena Ligar ikut mencium pipi Raga setelah dirinya.

“Loh ini juga Pipoy aku, Bro. Aku juga mau tau sakit gak ya cium Pipoy? Gituu.” Ligar menjatuhkan ciuman di pipi Raga sekali lagi dan kembali mendapat pukulan dari Arsen.

Bad mood deh aku,” celetuknya lalu menjatuhkan dirinya dalam pelukan Raga dan menghadap ke arah kaca membelakangi Ligar.

Selama perjalanan, Arsen enggan turun dari pangkuan Raga. Anak itu tidak ingin Raga melepaskan dirinya dan berganti memeluk Ligar karena Arsen sadar bahwa tangan kiri Raga menggenggam tangan Ligar yang tengah tidur.

Selepas pemberkatan, Ligar dan Raga pergi menuju tempat resepsi pernikahan keduanya. Dengan beriringan mengendarai motor, dikawal oleh kedua kelompok motor keduanya dan seluruh tamu undangan menuju sirkuit.

Raga baru mengetahui dirinya akan balapan bersama Ligar dalam resepsi mereka itu semalam. Sungguh tak terbayang olehnya akan balapan pada hari pernikahannya, terlebih melawan pria yang telah resmi menjadi suaminya.

“Pap, ada hadiahnya gak ini?” tanya Raga pada Ligar di sebelahnya.

“Acara sendiri cari hadiah,” sindir Ligar.

“Balapan apaan gak ada hadiahnya,” sahutnya.

“PIPOYY SEMANGAT!!” Arsen berlari ke arah Raga dan memberikan high five sebagai bentuk dukungan.

“Pipoy aja yang kamu kasih semangat,” sindir Ligar yang kali ini tertuju pada Arsen.

“PAPOGAR SEMANGAT!! Aku dukung Papogar.” Ligar menoleh ke arah sebaliknya dan mendapati Lundra di sebelahnya.

“Nah ini nih anak Papo,” ujarnya seraya mencium puncak kepala Lundra yang membuat Arsen mencebik melihat hal itu.

Ligar dan Raga berjabat tangan terlebih dahulu sebelum mulai pertandingan. Ketika bendera telah naik, Ligar dengan cepat melesat di depan Raga. Setelah dia rasa memiliki cukup jarak dari Raga, dia menurunkan kecepatanya. Pandangan Ligar fokus pada spion memperhatikan Raga yang melaju dengan berambisi.

Ketika Raga berhasil menyalip dirinya, Ligar justru tak membalas membalapnya. Dirinya justru menikmati menonton Raga dari belakang dan terkadang dari samping. Keduanya sampai di garis finish berjarak dua detik.

Keduanya turun dari motor masing-masing dan berpelukan. “Pipoy, hadiahnya nanti ya...” bisik Ligar di tengah pelukan keduanya.

“Papo sama Pipoy ayo lempar bunga.” Arsen menghampiri keduanya dan memberikan bunga pada keduanya. “Jangan dilempar dulu, tunggu aku di sana. Aku mau ikut nangkep,” lanjutnya lalu berlari menuju barisan tamu undangan.

Keduanya memegang bunga tersebut bersama. Dalam hitungan ketiga, keduanya melempar bunga ke belakang. Keduanya berbalik ketika mendengar sorakan riuh. Harry, teman dekat Raga mendapatkan bunga tersebut. Lelaki itu lantas membawa bunga serta menggendong kekasihnya.

Di tengah orang-orang yang riuh dengan aksi Harry dan kekasihnya, Ligar dan Raga justru melanjutkan ciuman keduanya di altar tadi. Keduanya bercium lebih dalam dan saling menuntut.

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Raga menggenggam erat tangan Ligar karena gugupnya. Ligar sendiri berusaha nampak tenang untuk Raga. Ini memang bukan kali pertama bagi Ligar, namun bukan berarti dironya akan santai menghadapi hal ini, kegugupannya tetap ada.

Keduanya melangkah menuju altar disambut dengan riuhnya para tamu undangan. Mereka tak mengundang banyak orang, karena ingin lebih intim dan bisa puas menikmati acara karena bersama orang terdekat.

Beberapa saat di tengah prosesi, pandangan Raga tertuju pada bangku tamu undangan. Pandangannya tidak kabur untuk mengenali orang yang baru saja hadir adalah orang tuanya. Keduanya hadir bersamaan dan ketika pandangan mereka bertemu, keduanya memberikan senyuman kecil untuk Raga. Tanpa sadar, senyuman Raga semakin cerah karena kehadiran mereka. Panggilan kecil Ligar pada Raga menyadarkan atensi lelaki itu untuk kembali fokus pada prosesi pernikahan keduanya.

Arsen berjalan menuju altar membawa cincin pernikahan dengan senyum bahagia yang tak memudar sedikit pun. Baik Ligar maupun Raga, keduanya bersyukur mengetahui Arsen menerima pernikahan keduanya, walaupun saat ini dia masih mengerti dengan sebutan pesta.

Ligar berikan usapan halus pada kepala putranya selepas memberikan sekotak cincin padanya. “Papo, jangan rusakin rambut keren aku deh,” tuturnya seraya merapikan rambutnya. Ligar dan Raga hanya terkekeh mendengar ucapan Arsen.

Keduanya saling mengucap janji pernikahan mereka dihadapan semua orang. Janji keduanya untuk saling memiliki dan menjaga dari sekarang dan selama-lamanya. Tukar cincin menjadi pertanda keduanya kini telah resmi terikat.

Ligar meraih pinggang Raga untuk mendekat padanya. Tangan Raga mengalung pada Ligar seraya membertemukan belah bibir keduanya. Tepuk tangan dan sorakan riuh terdengar mengiringi ciuman keduanya. Ligar jatuhkan kecupan pada kening Raga untuk mengakhiri ciuman keduanya.

Pipoy, I love you to infinity and beyond,” ucap Ligar pada lelaki yang masih dalam rangkulannya.

I love you more, Papp,” balasnya lalu segera mengalihkan pandang dari Ligar.

“Aku ganti nama kontaknya alay ya?” Raga memindahkan atensinya pada Ligar yang berbaring di sebelahnya. “Padahal udah gak jadi aku kasih emot love 5 biji.” Raga bergidik lalu kembali fokus dengan gawainya membalas pesan rekan kerjanya.

Raga merasakan pandangan Ligar yang tak lepas darinya. Dirinya mendadak tidak fokus membalas pesan rekan kerjanya karena hal itu. Ligar sinting, Raga hampir mengirim balasan melantur pada rekan kerjanya karenanya.

“Tidur aja kenapa sih,” ketusnya lalu menaruh ponselnya dengan sedikit keras di atas nakas.

“Kamu kesel aku ganti nama kontakku?” ulang Lihar mempertanyakan hal yang sama.

“Biasa aja,” balas Raga sembari memposisikan dirinya untuk tidur.

Ligar perhatikan Raga yang mulai memejamkan matanya. Senyumnya seketika terulas karena memikirkan dirinya yang berakhir jatuh cinta pada Raga. Tangannya terulur merapihkan surai Raga, lelaki yang dalam hitungan jam akan resmi menjadi pasangan hidupnya.

“Papp...” Ligar menghentikan aksinya pada rambut Raga. Lelaki itu perlahan membuka matanya dan mempertemukan pandangan mereka. “Latihan dikit buat besok,” tambahnya lalu dengan sedikit bangkit dari tidurnya, Raga mempertemukan belah bibir mereka.

Ligar yang semula diam kini mulai membalas ciuman Raga. Raga nikmati euforia berciuman mereka. Niat utamanya mencium Ligar bukanlah untuk latihan, namun memvalidasi perasaannya untuk Ligar. Dirinya terima segala rasa yang muncul ketika belah bibir keduanya beradu.

Raga memberikan peluknya untuk Ligar selepas ciuman itu. Ada keterkejutan dari Ligar, namun pria itu menerima pelukan Raga tanpa mempertanyakan apapun. Semakin lama pelukan Raga semakin erat.

Seharian ini, Raga banyak memikirkan perihal pernikahannya besok juga perasaannya untuk Ligar. Dirinya merasa belum sepenuhnya membalas perasaan Ligar. Ada kebingungan baginya untuk mengungkapkan bentuk cinta dirinya pada Ligar.

“Pap, gimana rasanya?” tanyanya yang menimbulkan bingungnya Ligar. “Aku peluk,” tambahnya menjelaskan maksudnya.

“Aneh karena kamu jarang kayak gini, walaupun gitu, pelukan kamu nyaman. Kamu malem ini tidurnya peluk aku dong Pipoy,” balasnya seraya merajuk.

Tidak ada balasan yang keluar dari mulut Raga, tetapi dirinya tak menolak permintaan Ligar. Perlakuannya itu hampir membuat Ligar mengekap tubuhnya gemas. Ligar malam ini terlelap dengan senyum kemenangan yang terulas.

“Kak Lego sini dong sebelah aku,” pinta Orion pada Lego yang duduk berhadapan dengan dirinya.

Baru mendaftar tetapi ada rasa cemas tersendiri bagi Orion. Perasaan cemasnya saat dulu mendaftar masuk SMA terulang kembali saat ini, dirinya saat itu gagal masuk pada pilihan pertamanya. Ada rasa sesal saat itu, bahkan perlu satu tahun bagi Orion untuk merasa nyaman dan ikhlas menerima berada di SMA saat ini.

“Ibun telepon aku angkat ya,” izin Lego.

Lego mengarahkan kamera gawai Orion yang tengah terhubung dengan Ibundanya itu ke laptop milik Orion. Sang Ibunda membantu melontarkan semangat dan meyakinkan Orion untuk memilih sesuai dengan apa yang dia ingin dan cita-citakan.

Pilih apa yang Ion mau. Ibun dan Ayah selalu doakan Ion supaya dapat yang terbaik. Sekolah menyarankan Ion, bukan mengharuskan. Gak apa-apa Ion pilih diluar dari yang disarankan sekolah,” tutur sang Ibunda menyakinkan putranya yang masih bimbang.

Ion mau masuk mana sih, Bun, jadinya?” sahut Ayah Ion yang ternyata di dekat sang Ibunda.

Masuk arsitektur NCIT, kapan hari kan bilangnya itu, Ayah,” balas Ibunda menjelaskan.

Itu alesannya biar bisa pacaran terus sama Lego,” sindirnya dengan tertawa.

“AYAAHHH!! Ada Kak Lego tau di sini. Aku mau ke sana tuh karena aku emang pengen ke sana,” sahut Orion dengan menggunakan nada kesalnya.

Ayah tau kok, kelihatan muka Lego di layar,” balasnya dengan tertawa lagi. “SNM itu main untung ya Lego, jadi pilih aja yang dipengen, iya kan?” tambahnya.

“Iya Ayah, main untung. Yang milih diluar dari yang disarankan sekolah ada juga yang lolos, Michelle temen satu angkatan aku dulu gitu,” terang Lego.

Orion sedari tadi masih berhenti pada bagian jurusan, bimbangnya semakin besar ketika dihadapkan pilihan itu. Bahkan Lego yang menggenggam tangan Orion saja merasakan dinginnya ujung jemari Orion.

“Oke, aku pilih arsi NCIT. Aku udah pegang tangan Kak Lego, untungnya pasti nular,” tuturnya lalu memilih dengan yakin jurusan dan kampus yang dia sebutkan. “Aku pilih beneran itu!!” adunya pada orangtuanya yang masih terhubung dalam panggilan.

Ibun dan Ayah doakan Ion lolos ya. Ion sendiri juga jangan putus berdoa,” tutur Ibunda. “Lego jangan lupa mampir ke rumah loh ya,” tambah Ayah Orion.

Selepas panggilan berakhir, Orion memeluk erat Kakak Lego nya. Dia sungguh memiliki harapan dalam SNMPTN, jalur yang tidak bisa didapatkan semua orang.

“Kakak, doain aku lolos SNM kayak Kakak yaa...” pintanya dalam dekapan Lego. “Aku udah atur banget buat grafik nilaiku naik terus,” tambahnya.

“Iya, Ion pasti dapet hasil yang terbaik.”

Renjun menarik Ligar menepi dari keramaian. Dirinya sungguh tak bisa menjadi Raga untuk ini. Dalam pikirannya saat ini adalah dirinya harus memberitahu Ligar perihal dirinya dan di mana Raga. Dirinya tidak bisa menang ataupun kalah sebagai Raga.

It maybe sounds weird, but ya itu faktanya. And because here i'm not your hubby, Raga, aku gak bisa ikut balapan. Aku gak bisa nyetir motor gedhe,” tuturnya selepas menyampaikan penjelasan tentang dirinya dan Raga.

Ligar masih sulit mencerna penuturan Renjun, namun 15 menit lagi pertandingan dimulai. Sorot matanya menatap bingung sosok yang tengah panik, cemas, dan bingung dihadapannya itu. Memintanya tetap mengikuti balapan atau mengundurkan diri itu sama bahayanya untuk Renjun.

Renjun berulang kali berusaha melepas genggaman Ligar yang justru menariknya ke arah sirkuit. Dirinya sudah menuturkan panjang perihal dirinya dan Raga yang tertukar, namun tetap saja harus ke sirkuit.

“Balapan kali ini, Raga saya bonceng.” Riuh terdengar ketika Ligar mengatakan itu. “Kalo Raga menang, kalian cukup kasih separuh dari taruhan kalian.” Renjun berulang kali meminta atensi Ligar, namun pria itu tak menggubrisnya.

“Gila separuh taruhan. Ngapain sih lo segala dibonceng? Numpang pacaran di sirkuit?” Renjun bingung ditodong pertanyaan itu oleh seorang anggota geng motor.

“Mereka kasih separuhnya, saya yang tambah separuhnya. Raga lagi kurang enak badan hari ini. Saya minta maaf kalo balapan kali ini harus begini, Raga gak mungkin mengundurkan diri kan?” sahut Ligar membalas Harry.

“Anjir lo nekat banget pucet gitu,” tutur Harry menyadari pucatnya bibir Renjun. Kecemasan Renjun yang sampai memucatkan bibirnya itu ternyata sedikit menguntungkan untuk menipu. “Gue coba jelasin ke anak-anak deh. Sorry udah marah-marah duluan,” lanjutnya lalu beranjak ke anak bumantara yang tengah riuh.

“Itu Harry, anak yang paling deket sama Raga di geng motornya.” Renjun hanya mengangguk karena jujur saja informasi itu tidak penting baginya.

“Kenapa tetep balapan? Aku gak mau balapan, menang atau kalah pun gak mau,” gerutu Renjun. “Kita gak bisa selain maju, kalo mundur, kamu yang kena. Di sini ada aturan yang kalah atau mengundurkan diri harus dipukuli dan bukan cuma satu orang, bisa jadi semua orang di sini.” Renjun merinding mendengar penuturan itu.

“Siapa sih bikin aturan bego kayak gitu,” gumamnya kesal.

“Yang lagi sama suami kamu,” sahut Ligar yang masih mendengar gumaman Renjun. Juga ucapan Ligar itu membuat dirinya semakin merindukan Lucas yang jauh darinya.

“Bocah gila beneran.” Ligar tertawa mendengar umpatan Renjun. “Aku juga gak mau menang ya, gak mau aku gituan sama kamu.” Ligar seketika menatap heran Renjun. “Raga kasih tau aku, nanti aku kasih tau gimana bisa ngobrol sama Raga but first, i need to go from here, i beg you,” tambahnya.

“Kalo mau pergi ya balapan. Dan kalo menang, kita gak akan lakuin itu karena itu janji Raga ke aku, bukan kamu. Kamu bukan Raga, kan?” Renjun mengangguk.

Renjun sejenak terbius atas perlakuan Ligar yang dengan lembut menggandengnya berjalan ke sirkuit dan membantunya memakai helm. Dirinya sejenak lupa bahwa dihadapannya itu bukanlah Lucas, rupa yang sama membuatnya terbawa dalam suasana.

“Ayo naik.” Ajakan itu membuyarkan lamunannya, membuatnya gelagapan.

Ligar merasa déja vu dengan Renjun yang berpegang pada pundaknya. Dirinya seakan merasa di belakangnya itu adalah Raga, tangannya dengan perlahan memindahkan tangan Renjun yang berpegang pada pundaknya untuk memeluk pinggangnya. “Jangan dilepas, nanti kamu bisa terbang kalo aku bawanya kenceng,” ujarnya dengan kekehan.

Selama motor melaju, Renjun hanya memeluk erat Ligar, batinnya merapal doa dan matanya terpejam. Ini benar-benar pengalaman yang gila baginya. Selain batinnya merapal doa keselamatan untuknya, dirinya juga mengharapkan Lucas tak mendalami kesukaannya terhadap motor sampai seperti ini. Ini buruk baginya.

“Udah selesai, kita menang.” Ligar sedikit mengoyak kalungan erat tangan Renjun di pinggangnya. Dapat dirinya rasakan dinginnya ujung jari lelaki itu.

“Gege...” Dengan cekatan Ligar melepas pelukan tangan Renjun dengan tenaganya. Dirinya bingung harus merespon apa. Di satu sisi kasian dan merasa bersalah atas ketakutan Renjun, di sisi lain Renjun bukanlah Raga suamianya.

Keduanya pulang dari sirkuit dengan saling diam. Ligar yang masih memikirkan sikap seperti apa yang harus dia tunjukkan untuk Renjun, sedangkan Renjun memikirkan bagaimana caranya dia bisa kembali bersama Lucas nya. Renjun sungguh merasa tak hidup di tempat ini.

Baru kali ini Raga menghabiskan waktu cukup lama di walk-in-closet karena sibuk mencari pakaian yang harus dia kenakan untuk dinner nanti. Dia tak punya banyak baju formal karena gaya berpakaiannya cenderung santai. Bahkan sampai Ligar pulang dari kantornya pun, Raga masih berkutat di sana.

“Kamu mau obral baju?” Raga menoleh ke sumber suara. Ligar nampak menatap heran pada Raga dan sekelilingnya.

“Lagi cari baju,” balasnya lalu kembali dengan kegiatannya.

“Yang kamu keluarin sebanyak itu bukan baju emangnya?” Ligar hanya melempar senyum ketika mendapat lirikan Raga atas pertanyaannya. “Pipoy, kamu mau pake apapun tetep bagus. Santai aja dinner sama Mami Papi,” lanjutnya.

Raga berdiri dengan mengangkat dua buah pakaian dan meminta Ligar memilihkan untuknya. Jujur, dirinya benar-benar dalam bingungnya. Raga tidak tahu bagaimana acara nanti akan berjalan dan harus bersikap seperti apa.

“Gak perlu terlalu formal, ini aja,” tunjuk Ligar pada kemeja coklat di tangan kanan Raga. “Yang paling penting itu nanti kamu jangan sembunyiin senyum manis kamu. Biarin Papi sama Mami lihat itu,” lanjutnya seraya membuat senyum Raga dengan jemarinya.


Ligar dan Raga akhirnya sampai pada tempat dinner mereka selepas ribut sejenak bersama Arsen tadi karena dirinya tak diajak. Dengan tangan yang saling menggenggam, keduanya memasuki restoran tersebut dan mencari tempat yang sudah direservasi.

Langkah Raga seketika terhenti ketika mendapati bukan hanya orang tua Ligar yang ada di sana, melainkan juga orang tuanya. Sebelah telapak Ligar memberikan usapan hangat pada punggung tangan Raga dan kembali membawanya melangkah menuju bangku mereka.

Entah kenapa justru ada rasa malu dalam diri Raga melihat orang tuanya ada di sana. Keluarga pecah belahnya dihadapkan dengan keluarga Ligar yang jauh dari kata hancur. Pun ada rasa takut dalam dirinya membayangkan bagaimana orang tuanya akan merespon makan malam ini nantinya. Disisi itu, Raga juga masih terheran bagaimana bisa orang tuanya berada di sana sementara setiap dirinya ingin sejenak bercengkrama saja susah bertemunya.

Raga memilih diam, membiarkan Ligar menuturkan segalanya. Dia berpegang pada Ligar hari ini. Dirinya amati raut orang tuanya yang berbanding terbalik dengan orang tua Ligar yang tampak mengumbar senyumnya ketika putranya memberitahukan rencana pernikahannya.

“Saya sudah pernah peringatkan kamu perihal anak saya dan kamu ternyata bersikeras untuk bersama anak saya. Kalian bisa memutuskan keputusan kalian sendiri, kalau mau menikah ya silahkan saja. Saya hanya berharap untuk kamu, semoga tidak bertemu lagi dengan perceraian setelah menikah dengan anak saya.” Raga jelas dengarkan itu sebagai ejekan untuknya.

“Terima kasih dan harapan saya untuk Bapak juga sama, semoga tidak bertemu lagi dengan perceraian.” Raga tersentak mendengar penuturan Ligar.

“Apa yang buat kamu yakin dengan anak saya?” Kini ganti Mama Raga bertanya. Raga seketika mengalihkan pandang ketika sorotnya bertemu lirikan sang Mama.

“Raga dekat dengan putra saya.” Nampak pandangan terkejut dan heran dari orang tua Raga ketika mendengarnya. “Lihat Raga sebagai Raga, kalian akan tahu,” lanjut Ligar seraya menatap Raga di sebelahnya.

Jika Ligar hanya melihat Raga sebagai Raga si ketua geng motor, sampai hari ini yakinnya tidak pernah ada. Raga perlu dilihat sebagai dirinya sendiri untuk tahu siapa dan bagaimana dia.

“Kalau kamu, Raga?” Raga menaikkan alisnya ketika Mami Ligar menujukan pertanyaan padanya. “Apa yang buat kamu yakin mau menikah sama Mas Ligar?”

“Dia menerima saya sebagai Raga,” jawabnya singkat.

Raga menoleh karena merasa terus dipandangi. Pandangannya bertemu dengan Ligar yang mengulas senyum lebarnya. Dengan cepat Raga mengalihkan pandangannya setelah sejenak bertemu dengan pandangan Ligar. Kalau saja tidak sedang berhadapan dengan orang tua mereka, Ligar pasti sudah meledek aksi salang tingkahnya walaupun Raga sendiri tak merasa sedang salah tingkah. Raga memang jagonya menutupi salah tingkah walaupun Ligar masih bisa menyadarinya.

“Kalian rencana mau nikah kapan?” tanya Papi Ligar.

“Rencananya dua bulan lagi, tapi mau cocokin tanggal sama kalian.” Ligar tentu menginginkan kehadiran mereka secara lengkap pada pernikahannya.

“Saya ada business trip bulan itu,” sahut Papa Raga. “Pertengahan bulan itu putri saya ada olimpiade di Jepang,” timpal Mama Raga.

“Minggu depan bisa?” “Gila lo?!” Raga menendang kaki Ligar di bawah meja. “Maksudku, yang bener aja minggu depan? Jangan ngaco,” ulang Raga membenarkan ucapan spontannya.

Selama percekcokan tanggal pernikahan dirinya dan Ligar, Raga tak ikut ambil campur. Orang tuanya menuturkan segala kesibukannya seolah tak bisa sehari saja menyempatkan untuk pernikahannya. Dirinya justru sibuk memperhatikan Ligar yang mulai geram karena tak menemukan hari yang pas dengan empat orang tua mereka bisa hadir. Ekspresi Ligar yang geram namun tetap berusaha mempertahankan senyumnya itu membuat senyum Raga sedikit terulas tanpa sadar.

“Kita nikah di KUA doang ajalah Pipoy,” celetuk Ligar yang nampak pasrah. Ligar meneguk separuh minumannya dalam sekali waktu untuk membasahi tenggorokannya.

“Kalo Papa sama Mama gak bisa dateng yaudah sih, ada Papi sama Mami kamu,” tutur Raga akhirnya menyuarakan apa yang sedari tadi dirinya tahan.

“Kamu menikah loh ini, masa yang sama kamu cuma anak motor kamu? Wali kamu anak motor?” Raga memberikan anggukannya. Bagi Raga, geng motornya lebih terasa seperti keluarganya daripada orangtuanya sendiri. Sebelum Ligar, anak-anak geng motornya lah yang menjadi saksi jatuh-bangunnya, terlebih Harry.

“Atur saja bulan depan, saya akan usahakan datang,” sahut Papa Raga setelah mendengar pertanyaan Ligar pada Raga. “Saya izin pamit, ada hal yang perlu saya urus,” lanjutnya beranjak meninggalkan meja mereka.

“Ya, atur saja bulan depan,” timpal Mama Raga satu suara dengan mantan suaminya itu.

“Papi ready wes, apalagi Mamimu ready selalu wes Mas,” sahut Papi Ligar.

Selepas makan malam itu, Ligar menyadari satu hal bahwa sikap Raga yang seolah tak peduli namun nyatanya sebaliknya itu didapatkan dari orangtuanya. Ligar bisa mengasumsikan hal itu karena selepas dirinya mendatangi orang tua Raga secara personal untuk meminta izin dan memberi ajakan untuk dinner malam ini, keduanya beberapa kali menghubunginya untuk mempertanyakan dirinya dan Raga. Gayanya saat menghubunginya persis seperti Raga, lagaknya cuek dan keras padahal ingin tahu perihal anaknya.

“Ngetawain apaan sih?” heran Raga pada Ligar yang tiba-tiba terkekeh disaat keduanya tak ada bahasan dan jalanan luar sudah sepi karena malam semakin larut. “Gapapa.” Raga mendengus atas jawaban Ligar.

Langkah Ligar beranjak menuju ruangannya selepas menidurkan Arsen. Dirinya dapati Raga tengah tidur dengan posisi tengkurap andalannya. Ditariknya sedikit selimut yang menutupi wajah Raga, dirinya sugar rambutnya untuk melihat wajah calon suaminya itu.

“Tidur kok lirik-lirik,” gumamnya lalu membenarkan selimut Raga dan beranjak.

Batin Raga sudah banyak mengumpat sedari tadi, entah dia tujukan pada Ligar atau dirinya sendiri. Pikirannya terus menyangkal rasa takutnya, tetapi perasaannya tak berubah, dirinya masih takut tanpa tahu alasannya.

Selama bersama Ligar, Raga hampir tidak pernah lagi balapan. Kali ini pertama kalinya dirinya balapan setelah hubungannya dengan Ligar resmi menuju jenjang yang lebih serius. Saat berkumpul dengan geng motornya, Raga biasanya hanya sekedar berkumpul dan mengoordinasi anggotanya untuk kegiatan mereka, pun dirinya jarang pulang pagi karena kegiatan geng motornya. Raga membuat batasnya sendiri sampai pukul berapa dia bisa berkumpul.

Raga dapat rasakan tangan yang menelungkupi tubuhnya. “Tadi menang dapet berapa?” Suara itu terdengar halus melewati indra pendengarnya.

“Haris yang ambil,” sahutnya selepas berperang dengan dirinya sendiri untuk tetap berpura-pura tidur atau tidak.

“Kamu mau hadiah dari aku nggak?” Raga diam tak menyahut. Dirinya tak tahu arah pertanyaan itu akan membuatnya untung atau buntung. “Hadiahnya aku bebasin kamu pilih motor buat mahar pernikahan.” Raga seketika membalik tubuhnya dan dikejutkan dengan wajah Ligar yang cukup dekat dengannya.

“Kalo dipikir-pikir, kenapa juga ya aku takut kamu kalah dan buru-buru balik ke Jakarta? Padahal aku tahu kamu jagoannya.” Gila. Degup jantung Raga tak karuan mendengarnya, bahkan mulutnya ingin sekali mengulas senyum namun dirinya tahan sebisa mungkin.

“Gak marah?” Ligar mengangkat sebelah alisnya dan terkekeh atas pertanyaan Raga. “Enggak, ngapain juga marah. Tinggal ambil motor kamu udah beres,” balas Ligar dengan senyumnya.

“Motornya aku pake kerja, Pap,” adu Raga dengan raut panik. Akan tetapi aduannya itu tak ditanggapi oleh Ligar dan prianya itu memilih menyamankan posisinya untuk tidur. “Pap, jangan gitu lah,” rajuknya pada Ligar yang telah terlentang dengan menutup matanya.

Raga beranjak dari ranjang dan turun ke garasi memeriksa keberadaan motornya yang sudah tak lagi ada di sana. Ligar sudah menyimpannya entah di mana. Dirinya bahkan memeriksa gudang di dekat garasi untuk mencari motornya dan hasilnya nihil.

“Pap, besok aku kerja pake apa kalo motornya kamu ambil?” adunya lagi pada Ligar karena selain untuk itu, motornya sudah seperti bagian dari dirinya.

“Bisa pake mobil. Biar kepake SIM A kamu,” sahut Ligar dengan masih menutup matanya.

Sorotnya pandangi sosok yang tengah abai padanya. Dirinya dekatkan dengan wajah prianya dan mempertemukan belah bibir keduanya. Persetan dengan datangnya pikiran melakukan itu darimana, Raga tetap melanjutkan aksinya dengan memberikan lumatan pada bibir yang tak merespon ciumannya.

Raga terus melanjutkan ciumannya sampai dirinya sadari bahwa Ligar tak akan membalasnya. Akan tetapi baru sesaat Raga berhenti, Ligar memberikan balasannya dan keduanya melanjutkan peraduan bibir itu.

Selepas ciuman itu usai, Raga berpikir akan mendapatkan keringanan dari Ligar dengan mengembalikan motornya atau setidaknya memberitahu di mana motornya itu disimpan, tetapi tidak sama sekali. Yang Raga dapatkan adalah dekapan hangat dari Ligar.

“Duda bangke,” gumamnya kesal. Ligar mengulas senyumnya mendengar umpatan calon suaminya itu.

“Puasin deh nyebut aku duda, bentar lagi kamu gak bisa panggil itu lagi karena aku jadi suami kamu,” sahut Ligar.

Raga seketika mendorong tubuh Ligar untuk dirinya lepas dari dekapannya dan berbalik memunggungi prianya. Ligar pun cekatan kembali membawa Raga yang memunggunginya itu dalam dekapannya. Salah tingkah Raga selalu mengundang rasa gemas Ligar.

“Pipoy, besok aku sama Arsen ke Bogor, boleh?” Raga yang sibuk dengan game di ponselnya lantas menoleh pada Ligar. “Ibu Maminya Arsen lagi drop, aku mau ajak Arsen ke Bogor besok,” lanjutnya yang seketika membuat ekspresi Raga berubah.

“Berdua aja?” tanyanya mendapat anggukan Ligar. “Kalo kamu mau ikut, boleh,” tukas Ligar setelah melempar anggukannya.

Raga tak bisa mendeskripsikan perasaannya. Rasanya ada hal yang berbeda pada perasaannya saat Ligar menyebut Maminya Arsen yang tidak lain adalah mantan istrinya. Dirinya ingin menjawab ikut, namun mulutnya justru mengucap kebalikannya.

“Ngapain juga aku ikut, kalian aja,” tukasnya.

Ligar pandangi sosok yang kembali fokus pada game ponselnya. Dirinya beranjak mengambil tempat di sebelah calon suaminya itu. Tangannya melingkar pada pinggang lelaki itu membuat kegiatan bermainnya sedikit terusik.

“Pemilik ruang terbesar di hati aku itu Arsen dan kamu, bukan yang lainnya,” tuturnya yang menempatkan kepalanya di bahu Raga.

Raga menoleh pada pemilik suara, “Aku on mic,” kecumik Raga pada Ligar di sebelahnya. Ligar tak mengetahui hal itu karena Raga menggunakan airpodsnya dan tak banyak bersuara selama memainkan gamenya tadi.

“Besok aku ke Bogor loh, gak mau main sama aku aja?” Pertanyaan Ligar itu sontak mengundang riuh teman-teman Raga. Mereka dan Raga sendiri mengartikan pertanyaan Ligar ke arah lain. Lelaki itu dengan sengaja menyikut Ligar membuat yang lebih tua itu mengaduh.

Ligar beranjak pergi selepas mendapat sikutan dari Raga. Dapat dirinya dengarkan segala umpatan yang Raga ucapkan pada teman-temannya saat dirinya keluar. Ligar hanya tertawa atas kekesalan Raga menghadapi teman-temannya.

Langkah Ligar masuk ke ruangan Arsen. Putra semata wayangnya itu gelagapan ketika dirinya masuk. Ligar menempatkan dirinya pada tempat tidur Arsen menghadap putranya yang tengah merakit legonya di atas karpet ruangannya.

“Bro, besok ikut Papo ke rumah Uti ya?” Arsen seketika mengalihkan fokusnya pada Ligar. “Uti lagi sakit, besok kita jenguk di rumah Mami,” lanjutnya menjelaskan maksud kepergian besok.

“Sama Pipoy juga?” Ligar menggeleng. “Kita berdua aja, Pipoy di sini,” balasnya menerangkan.

Terdengar nada kekecewaan Arsen mengetahui Raga tak ikut serta pergi ke Bogor. Ligar yang berusaha bangkit untuk mendekat pada Arsen, tanpa sengaja menjatuhkan ransel Arsen yang ditaruh pada ujung ranjang karena kakinya. Arsen pun seketika panik membereskan isi tas miliknya yang bercecer.

“Yang baru kamu masukin itu apa?” Arsen terkejut dengan pertanyaan Ligar. Anak itu nampak panik dan bingung harus menjawab apa. “Ituㅡtadiㅡmmm... buku,” terangnya gelagapan.

“Yang patahin action figure punya Papo itu Pipoy atau kamu?” Ligar langsung melemparkan pertanyaan itu karena dirinya tahu Arsen berbohong atas jawabannya. Dirinya lihat  patahan action figure miliknya dimasukkan Arsen ke dalam ransel anak itu. “Papo tanya,” lanjutnya meminta jawaban Arsen.

Nada bicara Ligar memang tidak meninggi, namun terdengar tegas dan rautnya menuntut jawaban jujur Arsen. Anak itu cukup lama duduk menunduk tak mengucap jawaban sedikit pun.

“Papo mau dengar jawaban kamu, Pipoy atau kamu yang patahin action figure Papo?” Ligar sekali lagi meminta jawaban Arsen.

Arsen menggelengkan kepalanya. Dirinya perlahan menitihkan air matanya dan langsung dia usap menggunakan tangannya selepas turun membasahi wajahnya.

Ligar turun dari ranjang meraih putra semata wayangnya yang menangis tak bersuara itu. Dirinya raih pundak putranya dan menegakkan kepalanya menatapnya. “Papo tanya kamu. Kalo misal kamu yang patahin pun gapapa, Papo gak marah. Papo cuma mau denger jawaban jujur dari kamu,” tuturnya pada Arsen yang enggan bertemu pandang dengannya.

“Bukan aku. Itu temenku.” Penjelasannya terhenti karena tangisnya pecah. “Akuㅡaku udah janji sama Pipoy... Besok gak lagi ambil punya Papo gak bilang Papo... Aku janji Papogar...” Ligar meraih putranya dalam dekapannya.

“Maaf, Pap. Tadi aku bawa ke sekolah mau kasih tau temenku terus pas istirahat gak sengaja diinjek Jesse,” tuturnya dalam dekapan Ligar.

“Kenapa tadi gak bilang dulu waktu mau bawa ke sekolah?” tanya Ligar meminta penjelasan. Hening menerpa mereka selepas pertanyaan itu keluar.

“Takut... Nanti Papo marah...” balasnya.

“Justru Papo marah kalo kamu gak izin dan gak bertanggung jawab begini. Jangan diulangi lagi minjem barang siapapun itu tanpa izin dan harus tanggung jawab sama barang yang dipinjam,” tutur Ligar masih dengan nada tegasnya. Arsen mengangguk dalam dekapannya.

Selepas dari ruangan Arsen, Ligar beranjak kembali ke ruangannya menemui Raga. “Siapa yang patahin action figurenya?” Ligar membuat Raga yang tengah menyusun laporan tercekat, terlebih Ligar sudah berdiri tepat di sebelahnya.

“Ngagetin aja. Aku yang patahin. Kamu mau yang persis punyamu yang patah? Nanti aku coba cariin lagi, siapa tau masih ada,” balasnya.

“Kenapa kamu bilang itu yang patahin kamu padahal bukan kamu?” Raga menoleh. “Arsen udah waktunya buat ngerti yang namanya tanggung jawab, mulainya dari hal kecil kayak gini. Kamu yang bisa tegas sama Arsen, jangan malah nutupin gitu.” Raga diam saja mendengar penuturan Ligar.

Raga membuka ponselnya dan mendapati pesan dari Arsen. Anak itu menceritakan bagaimana dia dipergoki Ligar tadi. Lantas dirinya pandangi sosok yang telah berpindah dari hadapannya.

“Pap, maaf...” Atensi Ligar dari kopernya berpindah kepada Raga. “Arsen takut banget tadi, makanya minta dijemput aku aja dan hampir gak mau aku ajak pulang dari sekolah tadi. Dia takut bilang ke kamu,” terangnya.

“Tapi gak perlu sampe kamu tutupin seolah dia gak buat kesalahan itu. Kamu jangan gitu lagi, gapapa yang kali ini dibuat pembelajaran,” balas Ligar.

“Iya, maaf.”