Menjemput Arsen

Tak pernah disangka oleh Raga bahwa dirinya akan menginjakkan kaki di rumah mantan istri Ligar. Dirinya bahkan duduk berhadapan langsung dengan wanita tersebut hari ini. Cantik merupakan satu kata yang keluar dalam batinnya semenjak melihat wanita itu. Raga kini mengerti dari mana wajah bule Arsen berasal, ibunya memiliki darah campuran.

Setiap kali Ligar dan Raga melakukan panggilan dengan Arsen, anak itu lebih sering menyebutkan merindukan Raga. Akan tetapi ketika melihat keduanya menjemput dirinya, yang pertama kali dipeluk Arsen adalah Ligar. Bahkan Arsen memeluk dan mendusel cukup lama pada Ligar sebelum akhirnya berganti memeluk Raga.

Ligar menyenggol lengan Raga yang memasang wajah kaget ketika disapa oleh suami dari mantan istri Ligar. Raga lantas merubah ekspresinya dan melipat bibir karena menahan tawa. Ligar tak mengerti apa yang tengah dipikirkan Raga.

“Seru nggak di rumah Mami?” Arsen menunjukkan raut berpikir atas pertanyaan Ligar itu. “Ada yang seru ada yang enggak, soalnya aku 10 menit aja bisa bobo sama peluk Mami habis itu ditinggal sama adek-adek,” balas Arsen seraya mengadu. Sebetulnya tidak 10 menit, Arsen menyebut seperti itu karena merasa itu sebentar bagi dirinya yang rindu sekali dengan Maminya walaupun nyatanya lebih dari 10 menit.

“Itu kamu udah lebih dari 10 menit peluk Mami.” Arsen sedari tadi duduk dipangkuan Maminya dan memeluk wanita itu. “Papo ayo ikut aku sama Mami pelukan,” pintanya mengejutkan empat orang dewasa di sana.

Ligar ikut dalam pelukan itu karena rengekan Arsen yang terus meminta. Ada rasa yang berkecamuk dalam diri Raga, namun dirinya tak bisa menebak perasaan apa yang dominan, irinya terhadap Arsen atau cemburunya terhadap Ligar. Satu hal Raga sadari, Ligar tak menyentuh mantan istrinya dalam pelukan itu. Pria itu hanya mendekatkan dirinya pada Arsen dan sebelah tangannya berada di paha Arsen, sedangkan yang satunya menelapak pada sofa menopang dirinya.

“Udah ya bro...” izinnya pada Arsen untuk melepas pelukan itu. Ligar tak mungkin lama dalam pelukan itu, dirinya dan sang mantan istri sudah memiliki pasangan masing-masing.

“Kakak Arsen masih mau di sini sama Mami?”

“Besok-besok aja deh, aku mau ke legoland,” balasnya mengingat liburannya.

Ketiganya beranjak berpamitan karena harus kembali ke Jakarta dan melakukan penerbangan. Lagi-lagi Raga menahan tawanya ketika digendong oleh suami dari mantan istri Ligar dan lelaki itu hendak mencium Arsen, namun anak itu dengan cepat membuat jarak setelahnya.

“Kamu mau ngetawain apa sih dari tadi?” Ligar merangkul Raga dan bertanya dengan berbisik sembari berjalan menuju mobil.

“Mantamu nikahin kakek-kakek?” Ligar sontak terkejut lalu tertawa atas pertanyaan Raga. “Ngawur kamu, dia tiga tahun diatasku,” terang Ligar pada Raga yang tengah melepas tawanya. “Dih masa? Udah ada rambut putihnya gitu. Kamu juga ada rambut putih nih jangan-jangan?” Ligar reflek mencubit pipi Raga atas pertanyaan itu.

“Mas Tono pintunya dikunci,” lapor Arsen yang tak bisa membuka pintu mobil. “Pipoy duduk deket aku ya, aku mau peluk Pipoy lama,” pintanya sebelum masuk mobil. “Dih aku mau duduk peluk Papomu.” Arsen seketika merubah rautnya dan melipat tangannya di depan dada. Sangat disayangkan sekali Ligar tengah membantu Mas Tono menata barang Arsen di bagasi, jika dirinya mendengar ucapan Raga itu bisa jadi dirinya akan terus memeluk Raga selama perjalanan.

“Cil, kamu tadi gak suka ya dicium Om Papi?” tanya Raga pada Arsen yang menyamankan dirinya di pangkuan Raga. “Bukan enggak suka ya Pipoy, tapi sakit dicium kena brewoknya. Papogar sama Pipoy jangan brewok ya, aku gak mau cium kalo brewok,” adunya yang membuat terpingkal kedua orangtuanya, bahkan Mas Tono yang tengah mengemudi mobil mereka pun ikut terpingkal.

Arsen menegakkan duduknya lalu mencium pipi Raga beberapa kali, “Kalo gitu kan gak sakit ciㅡihh! Papo kenapa ikut cium-cium Pipoy aku!!” Arsen seketika memukul lengan Ligar dan memasang muka kesal karena Ligar ikut mencium pipi Raga setelah dirinya.

“Loh ini juga Pipoy aku, Bro. Aku juga mau tau sakit gak ya cium Pipoy? Gituu.” Ligar menjatuhkan ciuman di pipi Raga sekali lagi dan kembali mendapat pukulan dari Arsen.

Bad mood deh aku,” celetuknya lalu menjatuhkan dirinya dalam pelukan Raga dan menghadap ke arah kaca membelakangi Ligar.

Selama perjalanan, Arsen enggan turun dari pangkuan Raga. Anak itu tidak ingin Raga melepaskan dirinya dan berganti memeluk Ligar karena Arsen sadar bahwa tangan kiri Raga menggenggam tangan Ligar yang tengah tidur.