Hadiah Kemenangan

Langkah Ligar beranjak menuju ruangannya selepas menidurkan Arsen. Dirinya dapati Raga tengah tidur dengan posisi tengkurap andalannya. Ditariknya sedikit selimut yang menutupi wajah Raga, dirinya sugar rambutnya untuk melihat wajah calon suaminya itu.

“Tidur kok lirik-lirik,” gumamnya lalu membenarkan selimut Raga dan beranjak.

Batin Raga sudah banyak mengumpat sedari tadi, entah dia tujukan pada Ligar atau dirinya sendiri. Pikirannya terus menyangkal rasa takutnya, tetapi perasaannya tak berubah, dirinya masih takut tanpa tahu alasannya.

Selama bersama Ligar, Raga hampir tidak pernah lagi balapan. Kali ini pertama kalinya dirinya balapan setelah hubungannya dengan Ligar resmi menuju jenjang yang lebih serius. Saat berkumpul dengan geng motornya, Raga biasanya hanya sekedar berkumpul dan mengoordinasi anggotanya untuk kegiatan mereka, pun dirinya jarang pulang pagi karena kegiatan geng motornya. Raga membuat batasnya sendiri sampai pukul berapa dia bisa berkumpul.

Raga dapat rasakan tangan yang menelungkupi tubuhnya. “Tadi menang dapet berapa?” Suara itu terdengar halus melewati indra pendengarnya.

“Haris yang ambil,” sahutnya selepas berperang dengan dirinya sendiri untuk tetap berpura-pura tidur atau tidak.

“Kamu mau hadiah dari aku nggak?” Raga diam tak menyahut. Dirinya tak tahu arah pertanyaan itu akan membuatnya untung atau buntung. “Hadiahnya aku bebasin kamu pilih motor buat mahar pernikahan.” Raga seketika membalik tubuhnya dan dikejutkan dengan wajah Ligar yang cukup dekat dengannya.

“Kalo dipikir-pikir, kenapa juga ya aku takut kamu kalah dan buru-buru balik ke Jakarta? Padahal aku tahu kamu jagoannya.” Gila. Degup jantung Raga tak karuan mendengarnya, bahkan mulutnya ingin sekali mengulas senyum namun dirinya tahan sebisa mungkin.

“Gak marah?” Ligar mengangkat sebelah alisnya dan terkekeh atas pertanyaan Raga. “Enggak, ngapain juga marah. Tinggal ambil motor kamu udah beres,” balas Ligar dengan senyumnya.

“Motornya aku pake kerja, Pap,” adu Raga dengan raut panik. Akan tetapi aduannya itu tak ditanggapi oleh Ligar dan prianya itu memilih menyamankan posisinya untuk tidur. “Pap, jangan gitu lah,” rajuknya pada Ligar yang telah terlentang dengan menutup matanya.

Raga beranjak dari ranjang dan turun ke garasi memeriksa keberadaan motornya yang sudah tak lagi ada di sana. Ligar sudah menyimpannya entah di mana. Dirinya bahkan memeriksa gudang di dekat garasi untuk mencari motornya dan hasilnya nihil.

“Pap, besok aku kerja pake apa kalo motornya kamu ambil?” adunya lagi pada Ligar karena selain untuk itu, motornya sudah seperti bagian dari dirinya.

“Bisa pake mobil. Biar kepake SIM A kamu,” sahut Ligar dengan masih menutup matanya.

Sorotnya pandangi sosok yang tengah abai padanya. Dirinya dekatkan dengan wajah prianya dan mempertemukan belah bibir keduanya. Persetan dengan datangnya pikiran melakukan itu darimana, Raga tetap melanjutkan aksinya dengan memberikan lumatan pada bibir yang tak merespon ciumannya.

Raga terus melanjutkan ciumannya sampai dirinya sadari bahwa Ligar tak akan membalasnya. Akan tetapi baru sesaat Raga berhenti, Ligar memberikan balasannya dan keduanya melanjutkan peraduan bibir itu.

Selepas ciuman itu usai, Raga berpikir akan mendapatkan keringanan dari Ligar dengan mengembalikan motornya atau setidaknya memberitahu di mana motornya itu disimpan, tetapi tidak sama sekali. Yang Raga dapatkan adalah dekapan hangat dari Ligar.

“Duda bangke,” gumamnya kesal. Ligar mengulas senyumnya mendengar umpatan calon suaminya itu.

“Puasin deh nyebut aku duda, bentar lagi kamu gak bisa panggil itu lagi karena aku jadi suami kamu,” sahut Ligar.

Raga seketika mendorong tubuh Ligar untuk dirinya lepas dari dekapannya dan berbalik memunggungi prianya. Ligar pun cekatan kembali membawa Raga yang memunggunginya itu dalam dekapannya. Salah tingkah Raga selalu mengundang rasa gemas Ligar.