Latihan
“Aku ganti nama kontaknya alay ya?” Raga memindahkan atensinya pada Ligar yang berbaring di sebelahnya. “Padahal udah gak jadi aku kasih emot love 5 biji.” Raga bergidik lalu kembali fokus dengan gawainya membalas pesan rekan kerjanya.
Raga merasakan pandangan Ligar yang tak lepas darinya. Dirinya mendadak tidak fokus membalas pesan rekan kerjanya karena hal itu. Ligar sinting, Raga hampir mengirim balasan melantur pada rekan kerjanya karenanya.
“Tidur aja kenapa sih,” ketusnya lalu menaruh ponselnya dengan sedikit keras di atas nakas.
“Kamu kesel aku ganti nama kontakku?” ulang Lihar mempertanyakan hal yang sama.
“Biasa aja,” balas Raga sembari memposisikan dirinya untuk tidur.
Ligar perhatikan Raga yang mulai memejamkan matanya. Senyumnya seketika terulas karena memikirkan dirinya yang berakhir jatuh cinta pada Raga. Tangannya terulur merapihkan surai Raga, lelaki yang dalam hitungan jam akan resmi menjadi pasangan hidupnya.
“Papp...” Ligar menghentikan aksinya pada rambut Raga. Lelaki itu perlahan membuka matanya dan mempertemukan pandangan mereka. “Latihan dikit buat besok,” tambahnya lalu dengan sedikit bangkit dari tidurnya, Raga mempertemukan belah bibir mereka.
Ligar yang semula diam kini mulai membalas ciuman Raga. Raga nikmati euforia berciuman mereka. Niat utamanya mencium Ligar bukanlah untuk latihan, namun memvalidasi perasaannya untuk Ligar. Dirinya terima segala rasa yang muncul ketika belah bibir keduanya beradu.
Raga memberikan peluknya untuk Ligar selepas ciuman itu. Ada keterkejutan dari Ligar, namun pria itu menerima pelukan Raga tanpa mempertanyakan apapun. Semakin lama pelukan Raga semakin erat.
Seharian ini, Raga banyak memikirkan perihal pernikahannya besok juga perasaannya untuk Ligar. Dirinya merasa belum sepenuhnya membalas perasaan Ligar. Ada kebingungan baginya untuk mengungkapkan bentuk cinta dirinya pada Ligar.
“Pap, gimana rasanya?” tanyanya yang menimbulkan bingungnya Ligar. “Aku peluk,” tambahnya menjelaskan maksudnya.
“Aneh karena kamu jarang kayak gini, walaupun gitu, pelukan kamu nyaman. Kamu malem ini tidurnya peluk aku dong Pipoy,” balasnya seraya merajuk.
Tidak ada balasan yang keluar dari mulut Raga, tetapi dirinya tak menolak permintaan Ligar. Perlakuannya itu hampir membuat Ligar mengekap tubuhnya gemas. Ligar malam ini terlelap dengan senyum kemenangan yang terulas.