Sirkuit
Renjun menarik Ligar menepi dari keramaian. Dirinya sungguh tak bisa menjadi Raga untuk ini. Dalam pikirannya saat ini adalah dirinya harus memberitahu Ligar perihal dirinya dan di mana Raga. Dirinya tidak bisa menang ataupun kalah sebagai Raga.
“It maybe sounds weird, but ya itu faktanya. And because here i'm not your hubby, Raga, aku gak bisa ikut balapan. Aku gak bisa nyetir motor gedhe,” tuturnya selepas menyampaikan penjelasan tentang dirinya dan Raga.
Ligar masih sulit mencerna penuturan Renjun, namun 15 menit lagi pertandingan dimulai. Sorot matanya menatap bingung sosok yang tengah panik, cemas, dan bingung dihadapannya itu. Memintanya tetap mengikuti balapan atau mengundurkan diri itu sama bahayanya untuk Renjun.
Renjun berulang kali berusaha melepas genggaman Ligar yang justru menariknya ke arah sirkuit. Dirinya sudah menuturkan panjang perihal dirinya dan Raga yang tertukar, namun tetap saja harus ke sirkuit.
“Balapan kali ini, Raga saya bonceng.” Riuh terdengar ketika Ligar mengatakan itu. “Kalo Raga menang, kalian cukup kasih separuh dari taruhan kalian.” Renjun berulang kali meminta atensi Ligar, namun pria itu tak menggubrisnya.
“Gila separuh taruhan. Ngapain sih lo segala dibonceng? Numpang pacaran di sirkuit?” Renjun bingung ditodong pertanyaan itu oleh seorang anggota geng motor.
“Mereka kasih separuhnya, saya yang tambah separuhnya. Raga lagi kurang enak badan hari ini. Saya minta maaf kalo balapan kali ini harus begini, Raga gak mungkin mengundurkan diri kan?” sahut Ligar membalas Harry.
“Anjir lo nekat banget pucet gitu,” tutur Harry menyadari pucatnya bibir Renjun. Kecemasan Renjun yang sampai memucatkan bibirnya itu ternyata sedikit menguntungkan untuk menipu. “Gue coba jelasin ke anak-anak deh. Sorry udah marah-marah duluan,” lanjutnya lalu beranjak ke anak bumantara yang tengah riuh.
“Itu Harry, anak yang paling deket sama Raga di geng motornya.” Renjun hanya mengangguk karena jujur saja informasi itu tidak penting baginya.
“Kenapa tetep balapan? Aku gak mau balapan, menang atau kalah pun gak mau,” gerutu Renjun. “Kita gak bisa selain maju, kalo mundur, kamu yang kena. Di sini ada aturan yang kalah atau mengundurkan diri harus dipukuli dan bukan cuma satu orang, bisa jadi semua orang di sini.” Renjun merinding mendengar penuturan itu.
“Siapa sih bikin aturan bego kayak gitu,” gumamnya kesal.
“Yang lagi sama suami kamu,” sahut Ligar yang masih mendengar gumaman Renjun. Juga ucapan Ligar itu membuat dirinya semakin merindukan Lucas yang jauh darinya.
“Bocah gila beneran.” Ligar tertawa mendengar umpatan Renjun. “Aku juga gak mau menang ya, gak mau aku gituan sama kamu.” Ligar seketika menatap heran Renjun. “Raga kasih tau aku, nanti aku kasih tau gimana bisa ngobrol sama Raga but first, i need to go from here, i beg you,” tambahnya.
“Kalo mau pergi ya balapan. Dan kalo menang, kita gak akan lakuin itu karena itu janji Raga ke aku, bukan kamu. Kamu bukan Raga, kan?” Renjun mengangguk.
Renjun sejenak terbius atas perlakuan Ligar yang dengan lembut menggandengnya berjalan ke sirkuit dan membantunya memakai helm. Dirinya sejenak lupa bahwa dihadapannya itu bukanlah Lucas, rupa yang sama membuatnya terbawa dalam suasana.
“Ayo naik.” Ajakan itu membuyarkan lamunannya, membuatnya gelagapan.
Ligar merasa déja vu dengan Renjun yang berpegang pada pundaknya. Dirinya seakan merasa di belakangnya itu adalah Raga, tangannya dengan perlahan memindahkan tangan Renjun yang berpegang pada pundaknya untuk memeluk pinggangnya. “Jangan dilepas, nanti kamu bisa terbang kalo aku bawanya kenceng,” ujarnya dengan kekehan.
Selama motor melaju, Renjun hanya memeluk erat Ligar, batinnya merapal doa dan matanya terpejam. Ini benar-benar pengalaman yang gila baginya. Selain batinnya merapal doa keselamatan untuknya, dirinya juga mengharapkan Lucas tak mendalami kesukaannya terhadap motor sampai seperti ini. Ini buruk baginya.
“Udah selesai, kita menang.” Ligar sedikit mengoyak kalungan erat tangan Renjun di pinggangnya. Dapat dirinya rasakan dinginnya ujung jari lelaki itu.
“Gege...” Dengan cekatan Ligar melepas pelukan tangan Renjun dengan tenaganya. Dirinya bingung harus merespon apa. Di satu sisi kasian dan merasa bersalah atas ketakutan Renjun, di sisi lain Renjun bukanlah Raga suamianya.
Keduanya pulang dari sirkuit dengan saling diam. Ligar yang masih memikirkan sikap seperti apa yang harus dia tunjukkan untuk Renjun, sedangkan Renjun memikirkan bagaimana caranya dia bisa kembali bersama Lucas nya. Renjun sungguh merasa tak hidup di tempat ini.