Memilih

“Kak Lego sini dong sebelah aku,” pinta Orion pada Lego yang duduk berhadapan dengan dirinya.

Baru mendaftar tetapi ada rasa cemas tersendiri bagi Orion. Perasaan cemasnya saat dulu mendaftar masuk SMA terulang kembali saat ini, dirinya saat itu gagal masuk pada pilihan pertamanya. Ada rasa sesal saat itu, bahkan perlu satu tahun bagi Orion untuk merasa nyaman dan ikhlas menerima berada di SMA saat ini.

“Ibun telepon aku angkat ya,” izin Lego.

Lego mengarahkan kamera gawai Orion yang tengah terhubung dengan Ibundanya itu ke laptop milik Orion. Sang Ibunda membantu melontarkan semangat dan meyakinkan Orion untuk memilih sesuai dengan apa yang dia ingin dan cita-citakan.

Pilih apa yang Ion mau. Ibun dan Ayah selalu doakan Ion supaya dapat yang terbaik. Sekolah menyarankan Ion, bukan mengharuskan. Gak apa-apa Ion pilih diluar dari yang disarankan sekolah,” tutur sang Ibunda menyakinkan putranya yang masih bimbang.

Ion mau masuk mana sih, Bun, jadinya?” sahut Ayah Ion yang ternyata di dekat sang Ibunda.

Masuk arsitektur NCIT, kapan hari kan bilangnya itu, Ayah,” balas Ibunda menjelaskan.

Itu alesannya biar bisa pacaran terus sama Lego,” sindirnya dengan tertawa.

“AYAAHHH!! Ada Kak Lego tau di sini. Aku mau ke sana tuh karena aku emang pengen ke sana,” sahut Orion dengan menggunakan nada kesalnya.

Ayah tau kok, kelihatan muka Lego di layar,” balasnya dengan tertawa lagi. “SNM itu main untung ya Lego, jadi pilih aja yang dipengen, iya kan?” tambahnya.

“Iya Ayah, main untung. Yang milih diluar dari yang disarankan sekolah ada juga yang lolos, Michelle temen satu angkatan aku dulu gitu,” terang Lego.

Orion sedari tadi masih berhenti pada bagian jurusan, bimbangnya semakin besar ketika dihadapkan pilihan itu. Bahkan Lego yang menggenggam tangan Orion saja merasakan dinginnya ujung jemari Orion.

“Oke, aku pilih arsi NCIT. Aku udah pegang tangan Kak Lego, untungnya pasti nular,” tuturnya lalu memilih dengan yakin jurusan dan kampus yang dia sebutkan. “Aku pilih beneran itu!!” adunya pada orangtuanya yang masih terhubung dalam panggilan.

Ibun dan Ayah doakan Ion lolos ya. Ion sendiri juga jangan putus berdoa,” tutur Ibunda. “Lego jangan lupa mampir ke rumah loh ya,” tambah Ayah Orion.

Selepas panggilan berakhir, Orion memeluk erat Kakak Lego nya. Dia sungguh memiliki harapan dalam SNMPTN, jalur yang tidak bisa didapatkan semua orang.

“Kakak, doain aku lolos SNM kayak Kakak yaa...” pintanya dalam dekapan Lego. “Aku udah atur banget buat grafik nilaiku naik terus,” tambahnya.

“Iya, Ion pasti dapet hasil yang terbaik.”