Tanggung Jawab
“Pipoy, besok aku sama Arsen ke Bogor, boleh?” Raga yang sibuk dengan game di ponselnya lantas menoleh pada Ligar. “Ibu Maminya Arsen lagi drop, aku mau ajak Arsen ke Bogor besok,” lanjutnya yang seketika membuat ekspresi Raga berubah.
“Berdua aja?” tanyanya mendapat anggukan Ligar. “Kalo kamu mau ikut, boleh,” tukas Ligar setelah melempar anggukannya.
Raga tak bisa mendeskripsikan perasaannya. Rasanya ada hal yang berbeda pada perasaannya saat Ligar menyebut Maminya Arsen yang tidak lain adalah mantan istrinya. Dirinya ingin menjawab ikut, namun mulutnya justru mengucap kebalikannya.
“Ngapain juga aku ikut, kalian aja,” tukasnya.
Ligar pandangi sosok yang kembali fokus pada game ponselnya. Dirinya beranjak mengambil tempat di sebelah calon suaminya itu. Tangannya melingkar pada pinggang lelaki itu membuat kegiatan bermainnya sedikit terusik.
“Pemilik ruang terbesar di hati aku itu Arsen dan kamu, bukan yang lainnya,” tuturnya yang menempatkan kepalanya di bahu Raga.
Raga menoleh pada pemilik suara, “Aku on mic,” kecumik Raga pada Ligar di sebelahnya. Ligar tak mengetahui hal itu karena Raga menggunakan airpodsnya dan tak banyak bersuara selama memainkan gamenya tadi.
“Besok aku ke Bogor loh, gak mau main sama aku aja?” Pertanyaan Ligar itu sontak mengundang riuh teman-teman Raga. Mereka dan Raga sendiri mengartikan pertanyaan Ligar ke arah lain. Lelaki itu dengan sengaja menyikut Ligar membuat yang lebih tua itu mengaduh.
Ligar beranjak pergi selepas mendapat sikutan dari Raga. Dapat dirinya dengarkan segala umpatan yang Raga ucapkan pada teman-temannya saat dirinya keluar. Ligar hanya tertawa atas kekesalan Raga menghadapi teman-temannya.
Langkah Ligar masuk ke ruangan Arsen. Putra semata wayangnya itu gelagapan ketika dirinya masuk. Ligar menempatkan dirinya pada tempat tidur Arsen menghadap putranya yang tengah merakit legonya di atas karpet ruangannya.
“Bro, besok ikut Papo ke rumah Uti ya?” Arsen seketika mengalihkan fokusnya pada Ligar. “Uti lagi sakit, besok kita jenguk di rumah Mami,” lanjutnya menjelaskan maksud kepergian besok.
“Sama Pipoy juga?” Ligar menggeleng. “Kita berdua aja, Pipoy di sini,” balasnya menerangkan.
Terdengar nada kekecewaan Arsen mengetahui Raga tak ikut serta pergi ke Bogor. Ligar yang berusaha bangkit untuk mendekat pada Arsen, tanpa sengaja menjatuhkan ransel Arsen yang ditaruh pada ujung ranjang karena kakinya. Arsen pun seketika panik membereskan isi tas miliknya yang bercecer.
“Yang baru kamu masukin itu apa?” Arsen terkejut dengan pertanyaan Ligar. Anak itu nampak panik dan bingung harus menjawab apa. “Ituㅡtadiㅡmmm... buku,” terangnya gelagapan.
“Yang patahin action figure punya Papo itu Pipoy atau kamu?” Ligar langsung melemparkan pertanyaan itu karena dirinya tahu Arsen berbohong atas jawabannya. Dirinya lihat patahan action figure miliknya dimasukkan Arsen ke dalam ransel anak itu. “Papo tanya,” lanjutnya meminta jawaban Arsen.
Nada bicara Ligar memang tidak meninggi, namun terdengar tegas dan rautnya menuntut jawaban jujur Arsen. Anak itu cukup lama duduk menunduk tak mengucap jawaban sedikit pun.
“Papo mau dengar jawaban kamu, Pipoy atau kamu yang patahin action figure Papo?” Ligar sekali lagi meminta jawaban Arsen.
Arsen menggelengkan kepalanya. Dirinya perlahan menitihkan air matanya dan langsung dia usap menggunakan tangannya selepas turun membasahi wajahnya.
Ligar turun dari ranjang meraih putra semata wayangnya yang menangis tak bersuara itu. Dirinya raih pundak putranya dan menegakkan kepalanya menatapnya. “Papo tanya kamu. Kalo misal kamu yang patahin pun gapapa, Papo gak marah. Papo cuma mau denger jawaban jujur dari kamu,” tuturnya pada Arsen yang enggan bertemu pandang dengannya.
“Bukan aku. Itu temenku.” Penjelasannya terhenti karena tangisnya pecah. “Akuㅡaku udah janji sama Pipoy... Besok gak lagi ambil punya Papo gak bilang Papo... Aku janji Papogar...” Ligar meraih putranya dalam dekapannya.
“Maaf, Pap. Tadi aku bawa ke sekolah mau kasih tau temenku terus pas istirahat gak sengaja diinjek Jesse,” tuturnya dalam dekapan Ligar.
“Kenapa tadi gak bilang dulu waktu mau bawa ke sekolah?” tanya Ligar meminta penjelasan. Hening menerpa mereka selepas pertanyaan itu keluar.
“Takut... Nanti Papo marah...” balasnya.
“Justru Papo marah kalo kamu gak izin dan gak bertanggung jawab begini. Jangan diulangi lagi minjem barang siapapun itu tanpa izin dan harus tanggung jawab sama barang yang dipinjam,” tutur Ligar masih dengan nada tegasnya. Arsen mengangguk dalam dekapannya.
Selepas dari ruangan Arsen, Ligar beranjak kembali ke ruangannya menemui Raga. “Siapa yang patahin action figurenya?” Ligar membuat Raga yang tengah menyusun laporan tercekat, terlebih Ligar sudah berdiri tepat di sebelahnya.
“Ngagetin aja. Aku yang patahin. Kamu mau yang persis punyamu yang patah? Nanti aku coba cariin lagi, siapa tau masih ada,” balasnya.
“Kenapa kamu bilang itu yang patahin kamu padahal bukan kamu?” Raga menoleh. “Arsen udah waktunya buat ngerti yang namanya tanggung jawab, mulainya dari hal kecil kayak gini. Kamu yang bisa tegas sama Arsen, jangan malah nutupin gitu.” Raga diam saja mendengar penuturan Ligar.
Raga membuka ponselnya dan mendapati pesan dari Arsen. Anak itu menceritakan bagaimana dia dipergoki Ligar tadi. Lantas dirinya pandangi sosok yang telah berpindah dari hadapannya.
“Pap, maaf...” Atensi Ligar dari kopernya berpindah kepada Raga. “Arsen takut banget tadi, makanya minta dijemput aku aja dan hampir gak mau aku ajak pulang dari sekolah tadi. Dia takut bilang ke kamu,” terangnya.
“Tapi gak perlu sampe kamu tutupin seolah dia gak buat kesalahan itu. Kamu jangan gitu lagi, gapapa yang kali ini dibuat pembelajaran,” balas Ligar.
“Iya, maaf.”