lostduskworld

Pandangan Ligar mengelilingi seluruh sudut ruangan namun tak mendapati keberadaan Raga yang menurut penuturan Arsen lelaki itu berada di ruangan mereka berdua. Ligar mengetuk berulang kali pintu kamar mandi yang terkunci, dirinya tahu pasti Raga di dalam sana.

“Raga...” panggilnya masih dengan mengetuk pintu kamar mandi. “Kamu mau jawab panggilan aku atau aku dobrak pintunya?!” tawar Ligar yang tak kunjung mendapat balasan.

“Aku mau keluar ganti baju, kamu keluar dulu,” pintanya dari dalam dengan suara menggema.

Tak berselang lama Raga keluar dari kamar mandi. Lelaki itu mengobrak-abrik laci mencari sesuatu. Dirinya berbohong pada Ligar, Raga keluar dengan berpakaian sebagaimana biasanya dia di rumah, bahkan badannya tak basah seperti baru saja mandi.

“Kamu suka banget bohong ya.” Raga terkejut mendengar suara Ligar. Pria itu sedari tadi hanya menepi ke balkon, tidak beranjak keluar ruangan mereka berdua.

Ligar tak terkejut dengan badan dan wajah Raga yang memiliki banyak lebam dan luka. Pasalnya tadi dirinya sempat bertemu Haidan, memenuhi ajakan lelaki itu untuk bertemu dan lelaki itu menyatakan jujur baru saja baku hantam dengan Raga, mirisnya lukanya lebih parah daripada Raga. Ligar mengerti kemampuan berbaku hantam Raga tidak perlu diragukan.

“Mau aku tambahin gak bonyoknya?” tawar Ligar yang tentu dipersilahkan Raga. Ligar membawanya duduk di pinggiran ranjang dan meraih kotak obat yang ditaruh Raga di nakas. Dirinya obati luka di punggung Raga yang tidak bisa lelaki itu raih untuk mengobatinya. Berulang kali rintihan terdengar karena Raga merasakan perih pada bagian yang tengah diobati Ligar. “Kamu nyuruh aku keluar karena mau nutupin luka kamu?” tanyanya oada Raga yang memegang sebuah concealer.

“Pap, marahin aku deh. Kayak waktu itu kita ribut karena Arsen,” pintanya.

“Kamu dimarahin atau enggak itu sama aja,” sahutnya. “Kamu mau liat sesuatu nggak?” Raga nampak ragu namun memberikan anggukannya. Ligar memberikan gawainya pada Raga dan menunjukkan pesan dari Papanya tadi. “Dikhawatirin Papa kamu tuh. Sedih pasti dia kalo liat anaknya bonyok kayak gini.”

“Dih orang dia liat aku berantem, diem aja tuh,” sahutnya mengingat baku hantamnya dengan Haidan yang disaksikan sang Papa.

“Raga, aku tadi ketemu Haidan.” Sontak Raga berbalik menghadap Ligar. “Kita semua salah, sama-sama punya luka yang bekasnya gak kunjung hilang. Kita tata pelan-pelan ya buat kedepannya. Aku gak bisa bilang mudah karena bekas luka itu kegores lagi, tapi akan ada waktunya itu kering,” pungkasnya.

“Kamu kenapa cepet banget maafinnya?” heran Raga.

“Emang ada aku bilang maafin kamu?” Raga menggeleng. “Aku pasti maafin kamu, tapi aku perlu waktu buat nerimanya,” terangnya.

“Kita aneh banget ya.” Ligar menaikkan kedua alisnya. “Gak tau, aneh aja,” tambah Raga dengan sedikit mengulas senyum.

Ligar harap dengan keputusannya berdamai hari ini akan membuahkan hal baik kedepannya. Dirinya kini tengah mengumpulkan kembali kepercayaannya untuk Raga. Julian mungkin akan mengatainya bodoh, tetapi dirinya tak akan pedulikan itu karena pernikahannya masih bisa dirinya genggam lagi kali ini. Antara dirinya dan Raga masih saling menginkan satu sama lain, lain cerita dengan kisahnya yang lalu.

“Kamu kayaknya udah capek denger ini, tapi aku tetep mau bilang. Maaf ya aku masih banyak banget kurangnya dan sering bikin kamu repot. Aku bakal pelan-pelan perbaikin dan aku minta bantuan tegasnya kamu. Kamu gak nempatin tempat orang lain di sini, kamu nempatin tempat kamu, tempat sebagai pasangan hidup aku.” Bulu kuduk Raga berdiri mengucapkannya. Dirinya memampukan diri berucap seperti itu yang sebetulnya tak pernah dirinya lakukan ke siapapun sehingga terasa aneh buatnya.

“Tapi kalo untuk main fisik ke kamu aku gak akan pernah mau dan jangan sekali lagi kamu minta itu. Aku bakal temenin kamu perbaikin pelan-pelan, karena kurangku sendiri juga masih banyak,” balas Ligar. “Kamu mau peluk nggak?” Raga pun tanpa berpikir panjang langsung masuk dalam dekapan Ligar.

Keduanya cukup lama dalam pelukan itu. Tak ada suara yang keluar dari keduanya, hanya deruan napas dan isakan yang beberapa kali muncul. Keduanya tak ada yang berniat melepas pelukan hangat penuh kerinduan itu.

“PAPOGARㅡOH NO! PIPOY AKUU~” Arsen menutup mulutnya melangkah memasuki ruangan orang tuanya. Ligar dan Raga seketika melepas pelukan keduanya atas kedatangan Arsen dengan ranselnya yang siap pergi bimbingan belajar. Anak itu membuka telapaknya menampakkan bibirnya yang mencebik. “Pipoy aku kenapa PapogarㅡAWW!!” Anak itu menangis dan ikut mengaduh ketika Raga mengaduh karena lukanya disentuh Arsen.

“Kata kamu kan Pipoy jadi pahlawan menyelamatkan dunia, Bro,” terang Ligar mengingat obrolan keduanya tadi.

“Pipoy betulan jadi anggota S.H.I.E.L.D?” hebohnya.

“Bukan S.H.I.E.L.D, tapi tim bubadibako.” Arsen seketika mendengus mendengar jawaban Ligar.

“Aku gak mau pergi bimbel hari ini.” Anak itu melompat naik ke ranjang orang tuanya. “Aku mau nemenin Pipoy aku. Kasian jadi sakit karena menyelamatkan dunia. Pasti Pipoy habis ketemu monster, ya? Atau zombie?” Raga hanya bingung menyimak perbincangan Arsen dan Ligar yang tak dia mengerti.

Hampir satu jam tanpa henti Ligar memukuli samsak. Pria itu lepaskan seluruh emosinya di sana. Julian yang melihatnya pun tak menghentikan. Sekali lagi dalam kehidupan pernikahannya, hal itu hadir dan membuatnya meragukan dirinya. Banyak hal tentang dirinya sendiri dia salahkan. Ligar terkapar dalam ring memikirkan titik kesalahannya yang membuat hal yang sama terulang kembali.

“Lo balik sana, dicariin Jemian ntar,” tutur Ligar saat keluar dari ring. “Gue bakal balik, aman,” tambahnya sebelum meneguk air minumnya.

“Ndan, gue gak tau ini bener atau salah, tapi kalo setelah lo ngobrol sama Raga dan ternyata dia beneran sejauh itu hubungannya sama temen kantornya, gue mau lo lepas dari Raga. Kayak yang lo bilang, kebiasaan yang udah jadi karakter orang itu susah dilepas, main-main sama hubungan juga kebiasaan Raga. Lo pernah cerita bokapnya bilang itu ke lo dan sekarang lo ditunjukin aslinya. Kalo dengan itu lo tetep pertahanin, yang bakal sakit bukan cuma lo, tapi Arsen juga, ndan.” Julian ucapkan itu dengan tegas.

Ligar selalu percaya Raga tak akan berlaku seperti itu. Dirinya selalu yakin bahwa Raga perlahan bisa membaik bersamanya, namun sepertinya itu hanya haluannya. Raga akan selalu menjadi Jiwa Raga Satria si ketua Bumantara.


Kembali ke rumah, Ligar dapati motor Raga yang masih berada di garasi. Dirinya tak berharap banyak Raga ada di rumah, kemungkinan lelaki itu pergi bersama teman kantornya. Motor yang berada di garasi kini tak menjadi jaminan Raga berada di rumah.

Faktanya, orang yang Ligar pikir tak ada di rumah itu kini tengah duduk di sofa kamar dengan memangku laptop. Sapaan Raga hanya dibalas sekilas oleh Ligar dan pria itu lantas pergi membersihkan diri menghilangkan lengket di tubuhnya akibat keringat.

Laptop dipangkuan Raga bukan digunakan untuk mengerjakan pekerjaannya, dia gunakan itu untuk merangkai kalimat yang akan dia berikan pada Ligar. Raga tak mau sampai salah bicara yang dapat berakibat fatal bagi hubungan mereka berdua.

Ligar dibuat terkejut dengan Raga yang berdiri di depan pintu kamar mandi saat dia membukanya. “Pap, aku minta maaf...” ucap Raga setelah Ligar melewatinya. Ligar berbalik pada Raga, “Aku minta maaf...” ucap lelaki itu sekali lagi. Dirinya berusaha mendapatkan pandangan Raga, namun lelaki itu terus menghindari untuk pandangan mereka berdua bertemu.

“Kamu minta maaf buat apa?” Sakit hatinya semakin terasa saat melihat Raga. Dirinya sebaik mungkin pertahankan intonasi tenangnya walaupun ingin berteriak kencang di telinga Raga meminta alasan yang mendasarinya berlaku seperti itu.

“Aku ingkar sama janjikuㅡ” Raga menghela napasnya, “Dan atas aku sama Haidan.”

Jatuhnya Raga saat balapan yang membuatnya kalah dan mendapat pukulan beberapa bulan lalu, hari itu dia membuat janji pada Ligar untuk tak lagi mengikuti balapan. Benar, itu janji yang dia ingkari. Janji yang dirinya buat sendiri dan ucapkan dengan lantang dihadapan Ligar.

“Aku kecewa sama kamu yang masih balapan, tapi aku ngerti ngelepas hal yang jadi kebiasaan itu susah. Aku nggak bisa ngerubah kamu, aku cuma bisa bantu kamu karena semuanya kembali ke diri kamu sendiri yang mau atau enggak.” Raga tak bergeming mendengarnya.

“Atas kamu dan Haidan, aku bukan cuma kecewa, tapi juga sakit hati. Malem itu aku nyusul kamu ke sirkuit karena Julian gak sengaja lihat kamu ke arah sana. Aku lihat kamu dari jauh dan sesuai dugaanku, Jiwa Raga Satria nggak semudah itu buat kalah. Tapi sayangnya, malem itu aku kalah cepet sama Haidan buat ucapin selamat atas kemenangan kamu, bahkan Haidan juga tinggalin tanda di leher kamu. Aku gak tau seberapa jauh hubungan kamu dan Haidan, tapi itu cukup buat aku sakit hati.”

Raga seketika kelu setelah mendengar ucapan Ligar perihal dirinya dan Haidan. Raga paham Ligar tengah menahan amarahnya, mulutnya bisa tenang, tetapi matanya tidak bisa berbohong.

“Raga... Aku harus kayak gimana ke kamu?” Tenggorokan Raga seakan tercekik mendapat pertanyaan itu. Matanya sudah membendung air mata. “Raga, tolong jujur sama perasaan kamu. Aku nggak mau sekali lagi nempatin punya orang lain, tolong... jujur, Raga,” pinta Ligar dengan sedikit terpenggal karena menahan tangisnya.

Kalimat Ligar itu membuat Raga teringat alasan perceraian Ligar dengan mantan istri. Ligar tak menerangkan jelas, namun dirinya bisa mengerti kisahnya dari sekedar garis besar yang diberitahukan Ligar dengan bahasa yang diperhalus.

“Haidan punya tempat buat aku, tapi dia gak punya tempat di aku karena itu tempatnya kamu dan aku gak akan nempatin tempat yang dia punya buat aku.” Raga biarkan air matanya turun terlebih dahulu. Dia memampukan dirinya untuk menjelaskan pada Ligar karena tak mau apa yang sudah dibangunnya bersama Ligar hancur begitu saja.

“Malem itu gak seharusnya aku tetep diem, aku salah banget. Kamu bisa marah ke aku bahkan pukul aku sebanyak mungkin. Itu lebih baik daripada aku lihat kamu diem dan nangis karena aku. Aku salah banget ke kamu. Aku harusnya tegas sama Haidan, bukannya egois buat tetep deket sama dia karena kerjaanku yang selalu bareng dia.”

Raga tak pernah menganggap Haidan lebih dari teman kantornya. Segala godaan Haidan padanya tak berpengaruh sama sekali karena itu mampunya Ligar. Termasuk malam itu, dimana Haidan yang entah tahu darimana mendatangi Raga yang tengah bertanding di sirkuit. Lelaki itu memberi pelukan sebagai ucapan selamat pada Raga. Kali itu Raga diam karena terkejut atas kedatangan Haidan yang tiba-tiba dan langsung memeluk dirinya hingga menyesap kulit lehernya. Raga dengan cepat mendorong Haidan ketika sadar atas apa yang dilakukan Haidan, namun sangat disayangkan merahnya sudah menghiasi leher Raga dan baru disadarinya pagi tadi karena Ligar. Sebuah pukulan dirinya layangkan pada Haidan setelah mendorongnya karena telah bertindak kejauhan, namun sayangnya Ligar telah meluncur pergi sebelum hal itu terjadi.

“Aku minta maaf, Pap...” maaf Raga sekali lagi ditengah isakannya. “Pap, kamu bisa pukul aku...” Raga menarik sebelah tangan Ligar dan membawanya untuk memukul kepalanya. Ligar menahan kuat tangannya agar tak sampai mengenai kepala Raga, namun Ligar sepertinya lupa bahwa kekuatan Raga tidak sekecil badannya. Ligar membuka kepalan tangannya saat Raga berhasil menggerakkan tangannya, dirinya gerakkan telapaknya mengusap surai halus lelaki itu.

“Raga... saat ini ada kesulitan buat aku percaya sama kamu.” Raga yang beberapa kali berbohong untuk ingkar janjinya dan fakta yang dia lihat malam itu bahkan hari ini Raga masih berangkat bersama Haidan membuatnya tidak bisa menelan begitu saja ucapan Raga. Juga kilasan masa lalu dimana sang mantan istri awalnya juga berulang kali mengelak hubungan gelapnya membuat dirinya sulit percaya atas penjelasan Raga.

Raga bangun tidur kelabakan. Dirinya memiliki rapat pagi hari ini dan justru terlambat bangun. Mengesampingkan Ligar dan Arsen yang sudah berangkat atau belum, dirinya fokus menyiapkan dirinya untuk ke kantor secepat mungkin.

“Bangke bapaknya bocil gak bangunin gueㅡ” kalimatnya seketika terhenti. Bodoh, pria itu pasti tengah marah padanya.

Seberapa bebalnya Raga yang sesekali masih kedapatan pergi ke club, balapan, bahkan ribut pun Ligar tak pernah marah hingga uratnya nampak. Utama pria itu adalah pada diri Raga. Raga sadar betul atas maklumnya Ligar, bahkan saat dirinya jatuh dan kalah dalam balapan beberapa bulan lalu, dia sama sekali tak mendapat amarah, justru rupa pria itu yang menangis dihadapannya. Akan tetapi, maklumnya Ligar mungkin sudah habis semalam.

“Pipoy!” Panggilan itu menyadarkannya bahwa Arsen dan Ligar masih di rumah. Raga yang berniat langsung ke kantor karena berpikir mereka berdua telah berangkat pun akhirnya berbalik ke ruang makan. “Sayang banget Pipoy baru dateng sekarang, tadi Papogar bikinin sarapan. Yang dibuat Papogar udah habis, tinggal masakannya Mba Tun.” Raga semakin sadar bahwa Ligar tengah marah padanya.

“Papo, aku berangkat sama Pipoy ya. Kemaren kan udah dianter Papo,” pinta Arsen yang membuat Raga bingung.

“Duh gimana ya...” Raga nampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Pipo hari ini berangkat sama temenㅡ”

“Kamu Papo anter aja. Ngrepotin temen Pipoy nanti kalo harus nganterin kamu sekolah juga,” potong Ligar.

“Yah... oke deh.”

“Kamu tunggu di depan aja, Papo mau ambil kunci dulu.” Ligar seketika beranjak dari duduknya.

Raga ingin menyahut obrolan mereka, namun dirinya bingung harus berkata apa. Ada rasa sedih dalam dirinya mendengar kekecewaan Arsen tadi. Dirinya yang mengerti perasaan kecewa Arsen seperti apa pun membuat dirinya juga merasa bersalah pada Arsen.

“Kamu tutupin bekas di leher kamu.” Ligar memberikan sebuah plester pada Raga. Lelaki itu sontak meraih gawainya dan memeriksa apa yang ada di lehernya.

“Kamu ngapain kasih ginian di sini?” gerutunya sembari meraih plester yang diberikan Ligar.

“Itu aku yang buat?” tanya Ligar. “Ya siapa lagi kalo bukan situ.” Ligar seketika tertawa mendengar jawaban Raga. “Aku harap sih gitu. Apa kemaren kamu mabok sampe lupa itu tanda dari siapa?”

Memori Raga seketika berputar ke kejadian semalam. Dirinya sama sekali tidak mabuk malam itu. Rautnya seketika panik berhadapan dengan Ligar.

“Pap, ini gak kayak yang kamu maksud. Aku beneran gak ada hubungan apa-apa sama dia,” panik Raga menjelaskan.

“Aku gak nuduh kamu begitu, tapi ucapanmu barusan buat aku mikir hubungan kamu sama dia itu kayak apa,” balas Ligar.

“Sumpah gak ada apa-apa,” ucap Raga meninggi mempertegas ucapannya.

“Aku mau nganterin Arsen.” Ligar langsung meninggalkan Raga begitu saja.

Raga menyibak surainya frustasi. Dirinya baru tahu Ligar tak hanya memergokinya balapan semalam.

Delon segera berpamitan ketika Leon datang. Raley mengulurukan kedua tangannya meminta dibawa dalam gendongan Leon untuk keluar dari klinik. Raley tidak perlu rawat inap karena hanya mengalami luka ringan. Sebetulnya Raley sanggup saja berjalan, namun dia ingin merepotkan kekasihnya itu. Baginya, kesempatan untuk menempel dengan Leon itu sangat sayang untuk dilewatkan.

Mbul, aman iku loh motormu,” tunjuk Raley pada motor Leon yang terparkir di depan klinik. “Yang penting iku kamu.” Raley langsung memberikan ciuman di pipi Leon dari belakang.

Raley perhatikan kekasihnya yang dengan telaten menata duduknya di mobil agar aman dan nyaman. “Arek kakehan polah,” omel Leon pada Raley yang tidak bisa diam hingga lututnya terbentur dashboard. “Iki menanteamu, baksone dimakan nde apart aja, yang.” Leon memberikan minuman Raley lalu menutup pintu mobil.

Tadi gimana kamu kok iso ketabrak gitu, yang?” tanya Leon yang baru duduk di bangku kemudi.

Aku tadi loh meneng, Mbul.” Leon sudah tertawa mendengar satu kalimat Raley. “Loh serius, Mbul. Iku lampune merah, aku yo diem poo nunggu lampu ijo. Terus ujuk-ujuk tekan belakang iku mak dug 'Lah opo iku cok?' kaget aku, Mbul. Sikilku iso jagang tapi bobotku mbek motor iku kan perbandingane jauh ta, terus disenggol ya oleng aku mbul. Untunge aku sat set pas oleng iku sikilku segera tak selamatkan jadi gak ketiban motor Mbul, mek kepentok setir mbek badanku mencium tanah air. Seng nabrak aku banting setir gulung koming, Mbul. Sakno areke tapi yo piye, salahe dewe gak aturan nyetir motor.

Leon kasihan atas Raley, namun juga ingin tertawa atas ceritanya. Kekasihnya itu memang pandai bercerita hingga orang yang mendengarnya bisa terbawa suasana.

Mbul aku nde apartmu aja loh,” pintanya. “Gak kasian opo pacare sakit dibiarno dewean nde apart. Lek aku kenapa-napa piye?” tambahnya mendramatisir.

Tak pulangno nde rumahe Mamimu aja yo?” Decakan Raley keluar mendengarnya. “Lek aku kerja kamu kan yo tak tinggal to yang,” lanjutnya.

Mbuuull~” rengeknya atas Leon yang menggoda dirinya.


Leon benar-benar telaten mengurusi manja dan rewelnya Raley. Leon sendiri pun tahu dan sadar ada beberapa yang Raley lebih-lebihkan padahal dirinya sendiri bisa mengerjakan itu, namun Leon tak mau mendebat dan memilih menuruti kemauan sang kekasih. Lagipula dirinya suka direpotkan kekasihnya itu walaupun tak jarang membuatnya pusing kepala.

Mbul, kamu nanti sampe jam berapa nde kantor?” tanya Raley dengan menjeda mengunyah bakso di mulutnya. Dirinya tunjukkan raut sedihnya karena sebentar lagi Leon akan kembali ke kantor mengurusi beberapa pekerjaannya.

Tak usahakno gak lewat jam 8, yang,” balasnya.

Mau peluk cium sek, Mbul. Seng lama loh ya...” rajuknya.

Leon memberikan pelukannya untuk Raley setelah kekasihnya menyelesaikan makannya. “Hp nya jok jauh-jauh, nanti telp aku lek ada apa-apa. Tapi kamu jok iseng, aku lagi kerja soale, yang,” peringat Leon memeluk Raley.

Hahhh~ Ayo cium! Wes ilang bau baksone.” Leon hanya bisa menggelengkan kepala atas tingkah kekasihnya. Raley baru saja menunjukkan aroma mulutnya yang baru menghabiskan satu buah permen selepas memakan bakso.

Raley sentuh benda kenyal tak bertulang milik Leon sebelum dirinya pertemukan dengan bibirnya. Tangannya mengalung pada leher sang kekasih seraya menyesap belah bibir tebal Leon. Balasan lumatan dari Leon selalu menantang Raley bertindak lebih dalam ciuman keduanya. Bunyi kecapan bibir keduanya berlalun dengan bunyi napas yang menderu. Lidah yang berdansa di dalamnya menyatukan saliva keduanya. Raley berikan lumatan yang sedikit kuat sebelum melepas peraduan bibir keduanya.

Tuman lek nyium ra aturan, pacare meh kerja kok e.” Leon mengecup bibir Raley setelahnya. “Dipake bobok aja, abis iki linune badanmu kerasa, yang,” tambah Leon. “I love youu sayangku.” Leon mengecup bibir Raley sekali lagi.

I love you more, Mbul.” Raley kembali memeluk sejenak kekasihnya. “Lek bisa pulango cepet to, Mbul. Aku mau bobok peluk kamu,” pintanya sebelum sang kekasih berangkat.

“Pipoynya Arsen keren banget sih.” Entah sudah berapa banyak pujian yang dia dapat hari ini dari pria yang tengah tidur memeluknya saat ini. “Makasih banyak ya, Pap,” balasnya seraya memiringkan badannya membalas pelukan suaminya.

Keduanya sejenak tak bergeming. Menikmati hangatnya pelukan yang keduanya buat. Pelukan itu bahkan keduanya saling eratkan hingga tawa tanpa alasan lepas begitu saja.

“Pap, maaf ya aku masih banyak kurangnya,” tutur Raga dalam dekapan Ligar.

Ligar akui ucapan Raga itu ada benarnya, namun dirinya sendiri pun sama dengan Raga. Keduanya sama-sama memiliki kurang dan sama-sama saling melengkapi sehingga kekurangan itu seakan tak nampak.

“Jangan minta maaf, manusia itu wajar punya kurang. Aku pun juga banyak kurangnya ke kamu. Buat mencapai kata sempurna itu gak secepet kilatan cahaya, kita perlu jalani perlahan untuk dapetin sempurnanya kita. Kita jalani sama-sama, ya, Pipoy...”

“Pap, habis ini aku beneran naksir berat sama kamu.” Tawa Ligar lepas mendengarnya. Kalimat itu sama sekali tak dirinya sangka keluar dari mulut Raga. “Cium dulu coba,” pinta Ligar.

Ligar pikir lirikan sinis akan dia dapatkan karena permintaannya, kali ini pandangan cerah dia dapatkan dari Raga. Dengan senyum hangatnya, Raga mempertemukan belah bibir keduanya. Ciuman hari ini akan mendapat tanda spesial di buku kehidupan Ligar.

I love you, Mas Ligar.” Ligar membeku sejenak atas ungkapan yang jarang dia dapatkan dengan raut secerah ini, juga panggilan Mas Ligar yang diucapkan oleh Raga.

“Kalo gini sih aku makin naksir berat sama kamu.” Ligar menyugar rambutnya seakan frustasi. “I love you more, sayangku.” Balasan Ligar menjadi ultimatum bagi jantung Raga. Alih-alih bertindak menutupi salah tingkahnya, Raga justru melanjutkan salah tingkahnya dengan kembali mencium Ligar.

Semenjak menginjakkan kaki di rumah orang tua Ligar, Arsen telah di ambil alih oleh keduanya. Raga masih mendapat sambutan hangat dari orang tua Ligar hingga diberi pelukan dan ciuman, sedangkan Ligar hanya mendapat jabatan tangan.

Di tengah kedua orang tua Ligar yang asik membukakan hadiah untuk cucu kesayangan dan Ligar yang mengistirahatkan badan di sofa, Raga berjalan menelisik rumah. Rumah bergaya jawa klasik dengan sentuhan modern itu mampu memamerkan kehangatan yang tercipta di dalamnya pada Raga.

Raga berhenti di depan salah satu sudut di mana foto pernikahannya dengan Ligar lengkap Arsen dan orang tua Ligar terpajang besar di sana. Rasanya sudah lama sekali tak melihat pemandangan itu. Melengkapi kehidupan Arsen seakan menjadi obat untuk lukanya.

“Kenapa kamu liatin terus?” Raga sontak menoleh terkejut. “Kita yang nikah kok gak dapet fotonya sih?” balas Raga tak mengungkap yang ada dalam pikiran dan batinnya sebelumnya.

“Dapet, kan pernah aku kasih lihat waktu itu. Ada di laci kamar kita, Pipoy.” Ligar seketika mendapat jeweran dari Maminya.

Kamu iku masih aja kayak gitu to mas. Heh, Raga, bojomu iki lek gak disuruh gak bakal dipajang iku fotone. Kamu tau foto sebelahe iku? Ada to ndek rumah kalian?” Raga mengangguk ketika wanita paruh baya itu menunjuk foto keluarga yang berisikan Ligar beserta orangtuanya dan Arsen. “Foto iku seng masang Mami. Bojomu iku mek bilang nanti tak belikno pigora buat dipajang, halah entut. Lek bilang iku wes kat jaman raenak tapi yo gak dipajang sampek tak pajang dewe. Koe pancen mbelgedes tenan, Mas.” Ligar kembali mendapat serangan fisik dari sang Mami.

“Itu nanti kita bawa ke Jakarta aja sama pigoranya,” tutur Ligar yang mengundang lirikan Maminya. “Koe tak balang gapuro komplek lho, Mas!” Ligar seketika lari memeluk Raga ketika Maminya bersiap menyerangnya lagi.

Adegan antara ibu dan anak itu tanpa sadar mengundang senyuman Raga. Euforianya dapat Raga rasakan sepenuhnya ketika dirinya ikut campur di dalamnya dan membela suaminya yang tengah berlindung di belakangnya. “Boleh lah, Mi, kita bawa pulang,” tutur Raga.

Walah sekongkol iki berdua.” Gelak tawa seketika pecah atas penuturan Mami.

Wes sarapan dulu semuane biar gak kesiangan kalo jalan-jalan,” panggil Papi untuk sarapan.


Di taman hiburan, Arsen sudah asik sendiri menjelajah bersama kakek dan neneknya. Bermain dengan cucu menjadi hiburan terbaik bagi orang tua Ligar, karenanya keduanya suka lupa waktu ketika sudah bersama sang cucu.

“Kita kencan aja di sini, anak kita diculik orang tua,” bisik Ligar seraya merangkul Raga.

Sejujurnya, kencan dengan Raga adalah tujuan utama Ligar, itulah mengapa dirinya mengajak berlibur ke kota kelahirannya. Liburan bertiga ataupun berdua saja dengan Arsen itu cukup sering baginya, sedangkan menghabiskan waktu berdua dengan Raga itu terhitung jarang. Kesibukan pekerjaan mereka juga menjadi faktor dari jarangnya mereka berkencan. Jika dapat waktu yang cocok pun terkadang tidak bisa menghabiskan waktu yang lama.

“Kamu mau main apa di sini?” Ligar menoleh Raga yang dirangkulnya seraya menyisir surai lelakinya, menghilangkan belahan rambut yang telah dibuatnya. “Lucu,” gumamnya mengulas senyum.

“Kayak bocil aja main begituan,” ucapnya seolah tak mengingat kejadian di legoland kala itu.

“Itu banyak yang orang dewasa boleh,” terang Ligar namun Raga tetap enggan. Dirinya tidak dalam suasana hati yang menginginkan hal itu. “Kita jalan-jalan aja deh sambil jajan,” ajak Ligar.

Ligar berhenti ketika menghadap kaca. Dirinya sejenak mengambil gambar dirinya dan Raga di kaca. Keduanya hari ini secara tidak sengaja bersamaan memakai kaos bercorak lurik.

“Pap, jaketmu pake aja lah. Diliat-liat alay banget bajunya samaan kayak bocah baru puber pacaran,” ketus Raga.

“Panas gini pake jaket. Biarin lah dikira bocah baru puber. Kita berdua masih cocok umur 17,” sahut Ligar percaya diri.

“Dih 17 kali dua sih iya.” Ligar tertawa renyah mendengarnya. “Iya sih, ini jadi kayak kamu bocah SMA lagi main sama om-om,” tuturnya yang membuat Raga ikut tertawa. Ligar mengelus kepala Raga ketika lelaki itu tertawa karenanya. Tawa dan senyum Raga sangat sayang untuk dilewatkan.

Tawa Raga terhenti ketika melihat seorang anak keluar dari toko sebelah dirinya berdiri. Bahagia terpancar dari raut anak itu karena boneka yang tengah dipeluknya. Tidak lama dari itu orang tuanya menyusul keluar dan membawa anak itu dalam gendongannya. Lamunannya buyar ketika dirinya dibawa Ligar masuk ke dalam toko itu.

“Ini bisa diraup semua sama Bocil,” celetuk Raga ketika melihat deretan mobil-mobilan. “Ambil aja yang kamu mau, Arsen urusan Mami sama Papi hari ini,” sahut Ligar dengan kekehan diakhirnya.

Ligar dengarkan Raga berkisah ketika berada di depan bagian kartun yang sering dirinya tonton semasa kecil. Raga sudah lama sekali tak berjumpa dengan barang-barang kartun kesukaannya. Ada rasa bahagia dan bersemangat yang membuncah dalam diri Raga. Kartun itu selalu menjadi temannya yang meredam suara perdebatan orang tuanya.

“Kenapa kamu taruh lagi?” Ligar lantas mengikuti Raga yang beranjak.

“Gak penting, bocah banget,” sahutnya ketus. “Beli itu aja buat si Bocil,” tambahnya seraya beranjak kembali pada deretan mobil-mobilan.

“Gapapa, ambil aja. Gak ada aturan yang membatasi secara resmi itu cuma buat bocah,” tutur Ligar. “Persetan sama usia kamu, kamu boleh jadi anak-anak di depanku. Kamu anak keren aku. Aku juga mau kenal kamu sebagai anak-anak selain sebagai Mas Raga yang dewasa dan keren banget,” tambahnya dengan memberikan barang yang sebelumnya dikembalikan Raga.

Raga diam. Dirinya perhatikan Ligar yang tengah berjalan pada bagian boneka. Tangannya melambai meminta dihampiri. Ligar menaruh salah satu boneka di atas kepala Raga. Dirinya lantas meraih gawainya untuk mengambil gambar Raga, namun dengan cepat boneka itu disingkirkan oleh Raga.

“Jangan dilepas, aku mau foto anak keren aku,” tuturnya seraya mengambil kembali boneka yang disingkirkan Raga. Senyumnya terulas ketika mengambil gambar Raga. “Kamu jadi anak ngambek kalo gini, senyum dong,” pintanya saat menunjukkan hasil jepretannya.

Raga benar-benar menuruti setiap arahan Ligar. Dirinya tak mengelak ketika diminta bergaya ini dan itu. Ligar benar-benar seperti orang tua Raga saat ini. Banyak sekali gambar yang diambil Ligar, bahkan senyumnya tak pudar ketika mengambil gambar Raga, bahkan dirinya juga melepaskan pujian untuk Raga.

“Harus impas.” Raga memakaikan topeng salah satu karakter superhero pada Ligar dan pria itu peka dengan merendahkan badannya yang lebih tinggi dari Raga.

Raga mengambil beberapa foto Ligar dengan beberapa barang di sana karena tak mau malu sendirian difoto dengan boneka, walaupun tak ada yang memperhatikan keduanya. Perasaan itu muncul dari dirinya sendiri karena tengah berada di tempat umum. Yang di dalam toko mungkin tak memperhatikan, namun masih ada yang diluar toko dapat melihat keduanya.

Ligar dan Raga menyusul Arsen beserta orang tua Ligar di outdoor cafe and resto selepas berbelanja. Keduanya menenteng banyak kantong belanja karena kalap. Selain membeli untuk keduanya dan Arsen, keduanya juga membeli untuk hadiah teman-teman Arsen, bahkan Raga membeli satu boneka kelinci untuk Jemian yang sering dirinya sumpah serapahi.

Arsen heboh sendiri ketika Ligar dan Raga datang membawa banyak kantong belanja. Anak itu mengintip isi setiap kantong belanja dengan bersemangat.

“Kalian peseno makanan dulu, ini ada air kalo haus.” Papi memberikan botol minuman pada kedua lalu memanggil pelayan untuk mendatangi meja mereka.

“Bajumu basah main air apa keringet?” tanya Ligar yang merasakan basah pada pakaian Arsen.

“Keringet. Anakmu persis kamu aktif e waktu kecil. Untung Papi karo Mamimu sek rajin olahraga, ndes,” sahut Papi.

Sembari menunggu makanan datang, Raga memilih mengikuti Arsen yang tengah mencari sesuatu. Bukan tanpa alasan Raga melakukan itu, di meja mereka, orang tua Ligar tengah membicarakan saudara mereka yang entah ada apa dengan berbahasa jawa, dirinya memelih menepi karena tak mengerti dan daripada menyimak bak orang bodoh.

“Pipoy, ayo kita kasih ini ke Papogar.” Arsen menunjukkan seekor katak kecil pada Raga. “Papogar takut sama ini.” Raga dengan cepat menahan Arsen yang bersiap lari.

“Gak boleh kayak gitu. Takut itu gak boleh diisengin,” peringat Raga. Dirinya juga memiliki ketakutan terhadap sesuatu dan dirinya paling benci sekaligus akan marah ketika orang menjahili ketakutannya. Ketakutan bukan hal yang bisa dibercandakan.

“Biar Papogar gak takut lagi, makanya Papogar harus ketemu katak,” terangnya polos.

“Iya, tapi gak diisengin gitu, Cil. Nanti Papomu bisa makin takut. Jangan iseng kayak gitu ya, ke siapapun itu, oke?” Arsen mengangguk mengerti.

“Aku pulangin lagi ya kataknya. Dadah!” tuturnya seraya mengembalikan katak tersebut di tempat asalnya. “PAPOGAR STOP!” teriaknya ketika berbalik mendapat Ligar yang berjalan menghampiri. “Papogar nggak boleh ke sana, itu ada wrebekkk~ wrebekkk~” tuturnya menyamarkan sebutan katak dengan suaranya.

“Cuci tangan dulu, Cil,” titah Raga yang langsung disanggupi Arsen.

Arsen menceritakan bagaimana Raga menasehatinya tadi di tengah makan siang. Karena Arsen, Raga mati-matian menjaga rautnya agar tak menampakkan dirinya yang tersipu malu sekaligus bahagia karena mendapatkan pujian dari mertua juga suaminya. Dirinya merasa tak seberapa melakukan hal itu, namun senangnya luar biasa kala mendapat apresiasi.

Jidan, you still like me?” Pertanyaan spontan itu membuat Jidan meneguk ludahnya kasar.

Semenjak Cleo menyatakan dirinya memiliki orang yang disukai, Jidan perlahan mulai mengelak rasa itu walaupun tak berhasil. Benar, rasa itu justru semakin tumbuh dan mungkin kini telah menjadi sebuah cinta. Cleo yang selalu bersamanya hampir seharian dengan segala tingkahnya yang mampu mencuri perhatiannya, bagaimana bisa perasaan itu akan menghilang.

“Aku ambil makanan dulu.” Jidan beranjak mengambil makanan yang mereka pesan melalui aplikasi tadi.

Cleo perhatikan Jidan yang menyibukkan diri menata makanan dan minuman yang baru datang. Nampak begitu jelas tengah menghindari pertanyaan Cleo, bahkan dari sekedar rautnya saja sudah terbaca. Jidan, si bodoh dalam berbohong.

You still like me, Jidan?” ulang Cleo. “I need your answer,” tegasnya.

Jidan menghela napasnya. “Keliatan banget ya, Cle? Sorry,” tuturnya mengundang raut bingung Cleo. “Why you say sorry? Is it wrong if you like me?” Jidan mengendikkan bahunya. “Kamu punya crush. Kamu pasti gak nyaman dengan aku yang punya perasaan lebih ke kamu?” Cleo terkekeh atas jawaban Jidan.

Jidan, are you dumb? I have a crush on you. It's you, Jidan.” Cleo ucapkan itu dengan mendekat ke arah Jidan. Sebetulnya dirinya ingin meneriakkan itu kepada Jidan, namun dirinya sadar tengah di rumah Jidan dan orang tua Jidan tengah berada di rumah.

Cleo tak tahu Jidan sebodoh itu. Selama ini sudah terlalu jelas dirinya menyukai Jidan, bahkan teman satu kelas mereka dapat mengerti itu. Dari gerak-gerik Cleo yang sering mencuri pandang ke arah Jidan, mencari kesempatan untuk selalu bersama Jidan, menjahili Jidan untuk mencari perhatiannya, semuanya nampak jelas. Bahkan Cleo juga seringkali membuatkan bekal makan siang untuk Jidan, dirinya hanya lakukan itu untuk Jidan.

“Cleo, kamu serius?” Jidan tak percaya atas penuturan Cleo. Pasalnya Cleo suka sekali memberikan jebakan yang berujung hanya sekedar menggoda Jidan saja.

“Serius. Should i say it in front of your parents, Jidan?” Cleo langsung melepas tawanya melihat raut panik Jidan ketika dirinya berlaga beranjak. “I'm telling the truth,” tegas Cleo.

“Bentar, otakku masih proses.” Jidan memegang pelipinya dengan mata terpejam. Cleo hanya bisa melanjutkan tawanya melihat tingkah Jidan.

Jidan, how about we backstreet?” bisik Cleo yang sontak membuka pandangan Jidan. “We go on date but in a secret,” lanjutnya berbisik.

Gila. Jidan tak mengerti bagaimana jalan pikiran Cleo. Dirinya baru mengetahui perasaan Cleo padanya bahkan belum sejauh itu mengenal Cleo, namun anak itu sudah mengajaknya berkencan.

Persetan dengan dirinya yang tengah membuat kesepakatan dengan klien, Ligar meninggalkan bangku begitu saja setelah membaca pesan dari Raga. Jantungnya seakan berhenti sejenak melihat foto yang dikirimkan Raga tadi. Dengan kecepatan tinggi, Ligar melajukan motornya membelah jalanan.

Jatuhnya Arsen juga akan menjadi jatuhnya dirinya. Putra semata wayangnya hanya diam ketika dipeluk Ligar yang menangis. Ligar selalu seperti itu saat Arsen sakit, namun untuk kali ini Arsen merasakan ada yang berbeda dari pelukan itu. Dia bukan mendengar kalimat memohon kesembuhannya, namun ucapan maaf yang terus diulang.

“Mau gendong Papo~” Ligar dengan hati-hati mengangkat putranya dari ranjang.

Raga tak bersuara sama sekali. Dirinya hanya duduk memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Hanya dengan usapan telapak Ligar, Arsen dapat terlelap dalam gendongan Ligar. Raga sadar dia dan Arsen punya kesamaan, juga saat ini dirinya tengah bersitegang dengan ayahnya karena persamaan mereka itu, tetapi rasa iri atas Arsen tetap bisa menyeruak begitu saja dalam dirinya.

Raga benar-benar tak beranjak sedari tadi, bahkan saat Mas Tono datang mengantar pakaian mereka. Dirinya berinisiatif mengambil, namun Ligar lebih dulu meminta Mas Tono membawa masuk tas yang dijinjingnya untuk diletakkan pada meja kecil di sana.

“Kamu pulang aja istirahat, Arsen sama aku di sini,” tutur Ligar di tengah kegiatannya mengganti pakaian Arsen. Raga memilih tak menghiraukan itu dan tetap berada di tempatnya.

Senyuman terulas di bibir Ligar ketika selesai mengganti pakaian Arsen dan berbalik mendapati Raga yang telah terlelap. Gerakannya cepat menangkap Raga yang limbung dari tidur dengan posisi duduk. Ligar dengan perlahan membawa Raga dalam posisi tidurnya. Raga rasakan semua perlakuan dan sentuhan itu, dirinya belum sepenuhnya terlelap. Surai dirapihkan, posisi tidur dibenarkan, tubuh dengan kaos tipis Raga diselimuti dengan jas miliknya, juga memberikan pahanya menjadi bantal tidur Raga.


Raga terkesiap bangun hingga tak sengaja kepalanya terbentur dengan dagu Ligar. Pria itu sama sekali tak berpindah dari semalam. Keduanya saling mengaduh atas benturan itu dan diam beberapa saat setelahnya untuk mengumpulkan nyawa.

“Udah lewat, izin aja hari ini,” pinta Ligar pada Raga dengan suara beratnya.

Keduanya berakhir berada di kantin untuk mencari sarapan sementara Arsen belum bangun. Rasanya canggung. Beberapa hari tak banyak bertegur sapa dan pagi ini keduanya berhadapan untuk sarapan bersama tanpa Arsen diantara keduanya.

“Pipoy, maaf ya...” Panggilannya sudah berubah. “Makan aja dulu,” balas Raga menahan lanjutan pembicaraan Ligar. Dirinya sama sekali tak mengharapkan pembicaraan itu di pagi hari.


Di bawah rindangnya pohon taman rumah sakit terdapat sepasang suami dengan keadaan yang kontras dengan sejuknya angin pagi. Dinding pembatas antara keduanya masih terasa adanya.

“Pipoy, maaf yaa... Hari itu nggak seharusnya aku respon kamu kayak gitu. Aku salah, banget. Kamu suami aku, kamu juga orang tua buat Arsen. Aku minta maaf, Pipoy...” Tanpa untaian kata yang berbelit, Ligar mengakui salahnya dan melempar ucapan maaf.

“Kita sama-sama salah. Aku salah bilang aku dan bocil itu sama. Luarnya aja sama, dalemnya beda.”

Hening kembali menerpa, membiarkan angin pagi mendinginkan pikiran keduanya.

“Tentang saran kamu hari itu, aku udah pikirin itu. Aku bakal kurangin les Arsen.” Raga mengangkat kepalanya menoleh pada Ligar. “Aku ngatasin kerjaan numpuk dan dikejar deadline aja pusing banget, tapi aku malah buat anakku ngerasain itu dengan cara lain bahkan sampe dia beneran tumbang semalem,” lanjut Ligar dengan senyuman getir.

Dalam dekapan Ligar, Raga membalas pelukan itu. Raga sadari fakta bahwa Ligar itu gampang menangis, terlebih untuk orang tersayangnya. Puncak kepalanya entah telah berapa kali dijatuhi kecupan oleh Ligar. Tak ada satu pun perlakuan Ligar yang dielaknya saat ini.

“Kamu boleh pukul aku sebanyak apapun setelah ini.” Raga menggeleng dalam dekapan Ligar. “Rumah kamu di sini sama aku dan Arsen. Kamu nggak berdiri sendiri.” Kalimat itu berhasil meruntuhkan bendungan air mata Raga. “Maaf juga atas omongan Arsen tempo hari. Kamu nggak perlu jadi Jemian buat Arsen, kamu Jiwa Raga Satria, kesayanganku yang keren banget.” Raga semakin menempel pada Ligar setelah kalimat itu dilontarkan.

“Papp...” Ligar berdeham. “Mau dong kayak si bocil kemaren.” Raga menggerakkan sebelah tangan Ligar untuk memberikan usapan di punggungnya. “Bayi gedhe,” tutur Ligar dengan terkekeh dan memberikan usapan hangat di punggung Raga.

Faktanya, pilot dalam menerbangkan pesawat perlu didampingi co-pilot.

“Papp, les bocil banyak banget deh,” ucapan itu keluar dari mulut Raga di bawah remangnya lampu tidur.

“Aku nggak bisa ngajarin sendiri apa yang jadi ketertarikannya, aku perlu bantuan mereka untuk Arsen,” terangnya.

Setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, begitupun dengan Ligar. Usia anak-anak adalah usia di mana mereka mencari ketertarikan mereka. Apa yang Arsen mampu dan minati, sebisa mungkin Ligar penuhi kebutuhannya untuk mengembangkan itu, entah mana yang nantinya akan ditekuni oleh Arsen.

“Tapi itu kebanyakan Papp, jadwalnya ngalahin kita yang kerja.” Jadwal Arsen sangat padat dari senin hingga jumat, bahkan pada akhir pekan masih terdapat satu atau dua latihan. “Kasian si bocil, aku liatnya capek,” tambahnya.

“Kelihatannya mungkin gitu, tapi aku udah atur jadwalnya dengan menempatkan satu latihan yang bisa jadi refreshing dia setiap harinya. Kita lihatnya capek, tapi anaknya enjoy sama latihan-latihannya. Dia selalu seneng dan punya cerita-cerita seru tentang latihannya buat diobrolin sama kita.”

Raga seakan ditarik ke masa kecilnya saat ini. Baginya tak ada yang seru dari kalimat-kalimat Ligar. Terputar kembali dengan jelas di otaknya bagaimana dirinya menjalani banyak les tambahan setiap hari. Maksud Ligar dan orang tuanya memang berbeda, namun dapat memberikan dampak yang sama. Orang tuanya memasukkan dirinya dalam les tambahan dengan tuntutan, sedangkan Ligar atas kemauan Arsen tetapi dirinya tidak mengerti porsi Arsen. Persetan dengan Arsen yang menikmati les tambahannya, seorang anak itu memiliki kapasitas dalam menerima pengetahuan.

“Iya, sekarang kita liatnya dia seneng karena ini baru berjalan beberapa bulan dengan les tambahan dia yang makin padet, tapi kalo diterusin itu kasian bocilnya. Papp, tolong kurangin lah les si bocil.” Raga sedikit kelepasan meninggikan intonasinya.

Ligar bangkit dari posisi tidurnya membuat Raga mengikuti hal yang sama. Kacau. Ligar dan Raga mulai tersulut atas argumen satu sama lain. Ligar nampak menghela berat napasnya berusaha menetralisir emosinya yang naik.

“Raga, aku masukin Arsen les ini dan itu sesuai kemauan Arsen. Aku sama sekali gak maksa dan itu murni ketersediaan dia. Aku belom tau arah Arsen ke mana. Dengan masukin dia les ke bidang yang dia suka, aku bisa lihat arah Arsen ini ke mana. Kalo Arsen mulai ada rasa jenuh, aku bebasin dia mau lepas dari les itu. Les piano kemaren dia bilang udah bosen juga udah gak aku ikutin lagi. Dia sekarang les piano lagi karena mau ngisi event di sekolah, selepas itu yaudah.”

“Ngerti maksud kamu bagus, tapi kamu yang ngerti kapasitas anakmu. Aku emang gak punya pengalaman jadi orang tua sebelumnya, tapi aku punya pengalaman jadi anak kayak si bocil. Papp, apapun yang berlebihan itu buruk.” Pandangan mata Raga kini sudah berkobar.

“Dengan kamu masukin bocil les di bidang yang dia suka itu perlahan bakal jadi tuntutan buat dia. Bocil itu anaknya ambis, kamu gak nuntut pun dia bisa bikin tuntutan buat dirinya sendiri. Oke kalo itu cuma satu-dua, ini banyak. Anakmu bisa stress! Kamu terlalu fokus sama yang dia suka sampe ngesampingin kapasitas fisik, mental, sama pikirannya! Kamu ngejaga itu dari sisi lain tapi kamu juga ngerusak lewat sisi yang lain.”

Menjaga intonasi nyatanya sulit diterapkan. Raga tidak bisa untuk berargumen dengan tenang. Yang dia suarakan saat ini adalah suaranya bertahun-tahun lalu, tetapi tidak dia lontarkan pada orang tuanya melainkan pasangan hidupnya.

“Aku bertahun-tahun ngerawat Arsen sendiri, aku ngerti anakku gimana, mampunya dia seberapa bahkan dengan situasi aku yang pisah sama ibunya, Arsen tetep tumbuh dengan baik. Oke kamu punya pengalaman menjadi anak kecil kayak Arsen, tapi kamu gak seharusnya menyamakan orang tua kamu sama aku. Setiap orang tua itu punya caranya sendiri, gak ada yang sama.” Ligar merasa direndahkan oleh Raga sebagai orang tua.

Dewi fortuna nampaknya tengah menyertai Rafel hari ini. Dalam lift menuju lantai dasar, dirinya dipertemukan dengan orang yang mencuri perhatiannya sedari kemarin, Levian. Lelaki itu tengah sibuk dengan ponselnya dengan berdiri di sudut lift.

Pundak Rafel ditepuk, namun jantungnya yang berdebar. Dirinya menoleh ke belakang dan berlaga kaget dengan Levian yang menepuknya, padahal dirinya sudah tahu, karena tidak mungkin Cassie meraih pundaknya semudah itu. Benar, dalam lift itu hanya terdapat mereka bertiga.

“Dari belakang tak lihat kok gak asing, ternyata bener kamu, Fel,” ujarnya dengan melempar senyum. “Sumpah wes gak bakal nyadar kalo Koko gak notice,” bohongnya.

Ketiganya melangkah keluar lift dengan saling melempar tawa ringan. Menertawakan pertemuan tak disengaja mereka hari ini.

“Ini adekmu ta, Fel?” Rafel mengangguk. “Me, say hi ke Koko. Ini Ko Levian namane.” Rafel memperkenalkan Cassie pada Levian.

Hi, Ko Levian! I Cassie memenya Ko Afel.” Levian lantas merendahkan badannya untuk sejajar dengan Cassie. “Halo, Cassie! Kamu baru main ya di sini?” tebak Levian yang mendapat anggukan malu Cassie. Levian dibuat gemas dengan tingkah malu Cassie yang menjawab pertanyaannya dengan menggelendoti Rafel. “Cassie mau ice cream nggak?” Cassie menoleh Rafel terlebih dahulu sebelum menyetujui ajakan Levian.

Rafel rasanya ingin berteriak di tengah pusat perbelanjaan. Berkat Cassie, dirinya mendapatkan waktu bersama Levian. Bahkan saat berjalan berdampingan dengan Levian yang menggendong Cassie, Rafel rasanya ingin salto karena saking senangnya.

“Fel, kamu juga pilih ice creamnya,” pinta Levian.

Selepas memesan, Rafel mengajak Cassie mencari bangku meninggalkan Levian yang tengah membayar ice cream mereka. “Oh my goodness, he just smiledㅡOH MY GOD! Ko Levi so handsome ya, Ko,” tutur Cassie dengan raut bahagia dan bersemangatnya. Aksi Cassie itu berhenti seketika dan kembali menjadi pemalu ketika Levian datang memberikan ice cream miliknya.

Is it good, Cassie?” Gadis kecil itu mengangguk dengan bibir belepotannya. “Kamu lucu banget se.” Levian membelai surai Gadis kecil yang menggemaskan itu.

Rafel tak berbincang banyak dengan Levian karena lelaki itu asik dengan Cassie. Dirinya hanya sesekali menyahut dalam obrolan keduanya. Tidak masalah tidak mendapat kesempatan mengobrol berdua, setidaknya ini bukan awal yang buruk.

“Fel, kamu parkir nde mana tadi? Tak bilangno sekalian biar mobilmu dibawain ke depan situ.”

“Aku gak bawa kendaraan, Ko. Abis ini aku pesen taxol buat pulang,” terangnya. Dirinya tadi pergi menjemput Cassie dengan menumpang pegawainya karena mobilnya masih berada di bengkel.

“Tak anter aja gak usah pesen taxol,” ujar Levian seraya memberikan kuncinya pada petugas untuk membawakan mobilnya ke depan. “Cassie mau pulang sama Ko Levi nggak?” Cassie mengangguk tanpa ragu menjawab Levian.

“Hee ya jangan ta, Ko. Tak pesen taxol aja. Ko Levi mestine capek mau cepet pulang istirahat.” Hati, pikiran, dan mulut Rafel sungguh tak sejalan.

“Halah wes ta tak anter aja. Ayo, tuh udah nde depan mobilku.” Levian langsung menggendong Cassie dan berjalan menuju mobilnya. Rafel mulutnya masih menolak tetapi hatinya kegirangan dan langkahnya bersemangat menyusul Levian dan Cassie.