Melihat Bekasnya
Hampir satu jam tanpa henti Ligar memukuli samsak. Pria itu lepaskan seluruh emosinya di sana. Julian yang melihatnya pun tak menghentikan. Sekali lagi dalam kehidupan pernikahannya, hal itu hadir dan membuatnya meragukan dirinya. Banyak hal tentang dirinya sendiri dia salahkan. Ligar terkapar dalam ring memikirkan titik kesalahannya yang membuat hal yang sama terulang kembali.
“Lo balik sana, dicariin Jemian ntar,” tutur Ligar saat keluar dari ring. “Gue bakal balik, aman,” tambahnya sebelum meneguk air minumnya.
“Ndan, gue gak tau ini bener atau salah, tapi kalo setelah lo ngobrol sama Raga dan ternyata dia beneran sejauh itu hubungannya sama temen kantornya, gue mau lo lepas dari Raga. Kayak yang lo bilang, kebiasaan yang udah jadi karakter orang itu susah dilepas, main-main sama hubungan juga kebiasaan Raga. Lo pernah cerita bokapnya bilang itu ke lo dan sekarang lo ditunjukin aslinya. Kalo dengan itu lo tetep pertahanin, yang bakal sakit bukan cuma lo, tapi Arsen juga, ndan.” Julian ucapkan itu dengan tegas.
Ligar selalu percaya Raga tak akan berlaku seperti itu. Dirinya selalu yakin bahwa Raga perlahan bisa membaik bersamanya, namun sepertinya itu hanya haluannya. Raga akan selalu menjadi Jiwa Raga Satria si ketua Bumantara.
Kembali ke rumah, Ligar dapati motor Raga yang masih berada di garasi. Dirinya tak berharap banyak Raga ada di rumah, kemungkinan lelaki itu pergi bersama teman kantornya. Motor yang berada di garasi kini tak menjadi jaminan Raga berada di rumah.
Faktanya, orang yang Ligar pikir tak ada di rumah itu kini tengah duduk di sofa kamar dengan memangku laptop. Sapaan Raga hanya dibalas sekilas oleh Ligar dan pria itu lantas pergi membersihkan diri menghilangkan lengket di tubuhnya akibat keringat.
Laptop dipangkuan Raga bukan digunakan untuk mengerjakan pekerjaannya, dia gunakan itu untuk merangkai kalimat yang akan dia berikan pada Ligar. Raga tak mau sampai salah bicara yang dapat berakibat fatal bagi hubungan mereka berdua.
Ligar dibuat terkejut dengan Raga yang berdiri di depan pintu kamar mandi saat dia membukanya. “Pap, aku minta maaf...” ucap Raga setelah Ligar melewatinya. Ligar berbalik pada Raga, “Aku minta maaf...” ucap lelaki itu sekali lagi. Dirinya berusaha mendapatkan pandangan Raga, namun lelaki itu terus menghindari untuk pandangan mereka berdua bertemu.
“Kamu minta maaf buat apa?” Sakit hatinya semakin terasa saat melihat Raga. Dirinya sebaik mungkin pertahankan intonasi tenangnya walaupun ingin berteriak kencang di telinga Raga meminta alasan yang mendasarinya berlaku seperti itu.
“Aku ingkar sama janjikuㅡ” Raga menghela napasnya, “Dan atas aku sama Haidan.”
Jatuhnya Raga saat balapan yang membuatnya kalah dan mendapat pukulan beberapa bulan lalu, hari itu dia membuat janji pada Ligar untuk tak lagi mengikuti balapan. Benar, itu janji yang dia ingkari. Janji yang dirinya buat sendiri dan ucapkan dengan lantang dihadapan Ligar.
“Aku kecewa sama kamu yang masih balapan, tapi aku ngerti ngelepas hal yang jadi kebiasaan itu susah. Aku nggak bisa ngerubah kamu, aku cuma bisa bantu kamu karena semuanya kembali ke diri kamu sendiri yang mau atau enggak.” Raga tak bergeming mendengarnya.
“Atas kamu dan Haidan, aku bukan cuma kecewa, tapi juga sakit hati. Malem itu aku nyusul kamu ke sirkuit karena Julian gak sengaja lihat kamu ke arah sana. Aku lihat kamu dari jauh dan sesuai dugaanku, Jiwa Raga Satria nggak semudah itu buat kalah. Tapi sayangnya, malem itu aku kalah cepet sama Haidan buat ucapin selamat atas kemenangan kamu, bahkan Haidan juga tinggalin tanda di leher kamu. Aku gak tau seberapa jauh hubungan kamu dan Haidan, tapi itu cukup buat aku sakit hati.”
Raga seketika kelu setelah mendengar ucapan Ligar perihal dirinya dan Haidan. Raga paham Ligar tengah menahan amarahnya, mulutnya bisa tenang, tetapi matanya tidak bisa berbohong.
“Raga... Aku harus kayak gimana ke kamu?” Tenggorokan Raga seakan tercekik mendapat pertanyaan itu. Matanya sudah membendung air mata. “Raga, tolong jujur sama perasaan kamu. Aku nggak mau sekali lagi nempatin punya orang lain, tolong... jujur, Raga,” pinta Ligar dengan sedikit terpenggal karena menahan tangisnya.
Kalimat Ligar itu membuat Raga teringat alasan perceraian Ligar dengan mantan istri. Ligar tak menerangkan jelas, namun dirinya bisa mengerti kisahnya dari sekedar garis besar yang diberitahukan Ligar dengan bahasa yang diperhalus.
“Haidan punya tempat buat aku, tapi dia gak punya tempat di aku karena itu tempatnya kamu dan aku gak akan nempatin tempat yang dia punya buat aku.” Raga biarkan air matanya turun terlebih dahulu. Dia memampukan dirinya untuk menjelaskan pada Ligar karena tak mau apa yang sudah dibangunnya bersama Ligar hancur begitu saja.
“Malem itu gak seharusnya aku tetep diem, aku salah banget. Kamu bisa marah ke aku bahkan pukul aku sebanyak mungkin. Itu lebih baik daripada aku lihat kamu diem dan nangis karena aku. Aku salah banget ke kamu. Aku harusnya tegas sama Haidan, bukannya egois buat tetep deket sama dia karena kerjaanku yang selalu bareng dia.”
Raga tak pernah menganggap Haidan lebih dari teman kantornya. Segala godaan Haidan padanya tak berpengaruh sama sekali karena itu mampunya Ligar. Termasuk malam itu, dimana Haidan yang entah tahu darimana mendatangi Raga yang tengah bertanding di sirkuit. Lelaki itu memberi pelukan sebagai ucapan selamat pada Raga. Kali itu Raga diam karena terkejut atas kedatangan Haidan yang tiba-tiba dan langsung memeluk dirinya hingga menyesap kulit lehernya. Raga dengan cepat mendorong Haidan ketika sadar atas apa yang dilakukan Haidan, namun sangat disayangkan merahnya sudah menghiasi leher Raga dan baru disadarinya pagi tadi karena Ligar. Sebuah pukulan dirinya layangkan pada Haidan setelah mendorongnya karena telah bertindak kejauhan, namun sayangnya Ligar telah meluncur pergi sebelum hal itu terjadi.
“Aku minta maaf, Pap...” maaf Raga sekali lagi ditengah isakannya. “Pap, kamu bisa pukul aku...” Raga menarik sebelah tangan Ligar dan membawanya untuk memukul kepalanya. Ligar menahan kuat tangannya agar tak sampai mengenai kepala Raga, namun Ligar sepertinya lupa bahwa kekuatan Raga tidak sekecil badannya. Ligar membuka kepalan tangannya saat Raga berhasil menggerakkan tangannya, dirinya gerakkan telapaknya mengusap surai halus lelaki itu.
“Raga... saat ini ada kesulitan buat aku percaya sama kamu.” Raga yang beberapa kali berbohong untuk ingkar janjinya dan fakta yang dia lihat malam itu bahkan hari ini Raga masih berangkat bersama Haidan membuatnya tidak bisa menelan begitu saja ucapan Raga. Juga kilasan masa lalu dimana sang mantan istri awalnya juga berulang kali mengelak hubungan gelapnya membuat dirinya sulit percaya atas penjelasan Raga.