Naksir Berat

“Pipoynya Arsen keren banget sih.” Entah sudah berapa banyak pujian yang dia dapat hari ini dari pria yang tengah tidur memeluknya saat ini. “Makasih banyak ya, Pap,” balasnya seraya memiringkan badannya membalas pelukan suaminya.

Keduanya sejenak tak bergeming. Menikmati hangatnya pelukan yang keduanya buat. Pelukan itu bahkan keduanya saling eratkan hingga tawa tanpa alasan lepas begitu saja.

“Pap, maaf ya aku masih banyak kurangnya,” tutur Raga dalam dekapan Ligar.

Ligar akui ucapan Raga itu ada benarnya, namun dirinya sendiri pun sama dengan Raga. Keduanya sama-sama memiliki kurang dan sama-sama saling melengkapi sehingga kekurangan itu seakan tak nampak.

“Jangan minta maaf, manusia itu wajar punya kurang. Aku pun juga banyak kurangnya ke kamu. Buat mencapai kata sempurna itu gak secepet kilatan cahaya, kita perlu jalani perlahan untuk dapetin sempurnanya kita. Kita jalani sama-sama, ya, Pipoy...”

“Pap, habis ini aku beneran naksir berat sama kamu.” Tawa Ligar lepas mendengarnya. Kalimat itu sama sekali tak dirinya sangka keluar dari mulut Raga. “Cium dulu coba,” pinta Ligar.

Ligar pikir lirikan sinis akan dia dapatkan karena permintaannya, kali ini pandangan cerah dia dapatkan dari Raga. Dengan senyum hangatnya, Raga mempertemukan belah bibir keduanya. Ciuman hari ini akan mendapat tanda spesial di buku kehidupan Ligar.

I love you, Mas Ligar.” Ligar membeku sejenak atas ungkapan yang jarang dia dapatkan dengan raut secerah ini, juga panggilan Mas Ligar yang diucapkan oleh Raga.

“Kalo gini sih aku makin naksir berat sama kamu.” Ligar menyugar rambutnya seakan frustasi. “I love you more, sayangku.” Balasan Ligar menjadi ultimatum bagi jantung Raga. Alih-alih bertindak menutupi salah tingkahnya, Raga justru melanjutkan salah tingkahnya dengan kembali mencium Ligar.