Do You Still Like Me?

Jidan, you still like me?” Pertanyaan spontan itu membuat Jidan meneguk ludahnya kasar.

Semenjak Cleo menyatakan dirinya memiliki orang yang disukai, Jidan perlahan mulai mengelak rasa itu walaupun tak berhasil. Benar, rasa itu justru semakin tumbuh dan mungkin kini telah menjadi sebuah cinta. Cleo yang selalu bersamanya hampir seharian dengan segala tingkahnya yang mampu mencuri perhatiannya, bagaimana bisa perasaan itu akan menghilang.

“Aku ambil makanan dulu.” Jidan beranjak mengambil makanan yang mereka pesan melalui aplikasi tadi.

Cleo perhatikan Jidan yang menyibukkan diri menata makanan dan minuman yang baru datang. Nampak begitu jelas tengah menghindari pertanyaan Cleo, bahkan dari sekedar rautnya saja sudah terbaca. Jidan, si bodoh dalam berbohong.

You still like me, Jidan?” ulang Cleo. “I need your answer,” tegasnya.

Jidan menghela napasnya. “Keliatan banget ya, Cle? Sorry,” tuturnya mengundang raut bingung Cleo. “Why you say sorry? Is it wrong if you like me?” Jidan mengendikkan bahunya. “Kamu punya crush. Kamu pasti gak nyaman dengan aku yang punya perasaan lebih ke kamu?” Cleo terkekeh atas jawaban Jidan.

Jidan, are you dumb? I have a crush on you. It's you, Jidan.” Cleo ucapkan itu dengan mendekat ke arah Jidan. Sebetulnya dirinya ingin meneriakkan itu kepada Jidan, namun dirinya sadar tengah di rumah Jidan dan orang tua Jidan tengah berada di rumah.

Cleo tak tahu Jidan sebodoh itu. Selama ini sudah terlalu jelas dirinya menyukai Jidan, bahkan teman satu kelas mereka dapat mengerti itu. Dari gerak-gerik Cleo yang sering mencuri pandang ke arah Jidan, mencari kesempatan untuk selalu bersama Jidan, menjahili Jidan untuk mencari perhatiannya, semuanya nampak jelas. Bahkan Cleo juga seringkali membuatkan bekal makan siang untuk Jidan, dirinya hanya lakukan itu untuk Jidan.

“Cleo, kamu serius?” Jidan tak percaya atas penuturan Cleo. Pasalnya Cleo suka sekali memberikan jebakan yang berujung hanya sekedar menggoda Jidan saja.

“Serius. Should i say it in front of your parents, Jidan?” Cleo langsung melepas tawanya melihat raut panik Jidan ketika dirinya berlaga beranjak. “I'm telling the truth,” tegas Cleo.

“Bentar, otakku masih proses.” Jidan memegang pelipinya dengan mata terpejam. Cleo hanya bisa melanjutkan tawanya melihat tingkah Jidan.

Jidan, how about we backstreet?” bisik Cleo yang sontak membuka pandangan Jidan. “We go on date but in a secret,” lanjutnya berbisik.

Gila. Jidan tak mengerti bagaimana jalan pikiran Cleo. Dirinya baru mengetahui perasaan Cleo padanya bahkan belum sejauh itu mengenal Cleo, namun anak itu sudah mengajaknya berkencan.