lostduskworld

“PIPOYYY!!!” Arsen berteriak memanggil Raga sembari berlari mengejarnya. Sedangkan yang dikejar tertawa puas mendengar teriakan bocil kesayangannya.

Mendapati Raga yang tak menghentikan langkah atas teriakannya, Arsen pun menghentikan kejarannya. Anak itu duduk di atas rerumputan dan mengencangkan tangisnya. Raga justru semakin tertawa puas mendengar tangisan Arsen, menjahili bocilnya itu amat seru baginya.

“Pipoy tanggung jawab itu bocilnya nangis, jangan berani iseng aja,” pinta Ligar yang sedari tadi memperhatikan dua kesayangannya itu dari gazebo.

“PIPOY GAK MAU GENDONG AKU PAPOGAR~” adu Arsen yang tak berpindah dari tempatnya.

“Males, aku mau sama suamiku.” Raga justru mengambil tempat dipangkuan Ligar dan memeluk suaminya itu. Dirinya julurkan lidahnya pada Arsen yang membuat anak itu semakin mengencangkan tangisnya.

“Gak usah modus dulu, itu bocilnya diatasin.”

Raga seolah tak mendengar apapun. Dirinya nikmati menggelendoti sang suami, membakar rasa iri pada Arsen. Mulanya dirinya tak berniat menjahili Arsen hari ini, namun anak itu berulang kali mengerjainya tadi, hingga akhirnya muncullah idenya untuk membalas menjahilinya.

“Pipoy...”

“Aku atasin bocil, tapi nanti kamu harus ikut aku. Gak boleh nolak,” ucapnya dengan penuh penegasan pada kalimat terakhir.

Duh Gusti, iki kok malah aku seng keno,” gumam Ligar kala Raga beranjak menghampiri Arsen.

Ligar kini was-was terhadap Raga. Senyuman suaminya itu nampak penuh arti, dirinya dapat simpulkan bahwa ajakan Raga itu akan menguji dirinya.

“Pipoy nanti harus bacain aku buku sampe aku bobo, dimulai dari habis makan malam,” pinta Arsen sebagai tebusan atas perbuatan Raga padanya.

“Bacain bukunya besok aja pas kita udah di Jakarta. Kamu kan di sini tidur sama Yangti sama Kung, jarang loh ketemu mereka, kalo sama Pipo kan tiap hari ketemu.” Raga beralasan pada Arsen karena dirinya sudah mendapat wacana yang baru dia susun beberapa menit yang lalu.

“Kalo di Jakarta berarti satu minggu ya, Pipoy,” tawarnya setelah meneguk es yang dibawakan Ligar.

“Pap anakmu nih,” adu Raga pada Ligar yang tentunya tak akan membantu dirinya melawan permintaan Arsen.

“Urusan kamu, yang bikin anaknya nangis kan kamu. Papo did nothing ya, Bro!” Ligar mengajukan kepalan tangan untuk mendapat tos dari Arsen.

“Yaudah iya seminggu, tapi jangan ganggu Pipo pacaran sama Papo,” sahut Raga.

“Kata Miss pacar-pacaran itu enggak boleh, Pipoy.”

“Buat anak kecil gak boleh, Pipo sama Papo bukan anak kecil, jadi boleh wlee~” Ligar seketika membekap mulut Raga yang menjulurkan lidahnya.

Sakit hatinya terasa ketika membalas pesan sang Mama. Raga tidak lah lupa atas hal yang dirinya dapat selepas perceraian orang tuanya. Mama maupun Papanya tak ada yang mau membawanya ke rumah baru mereka. Dirinya ditinggalkan bersama pengasuhnya di rumah yang selama itu mereka tempati. Kedua orangtuanya pergi melangkah ke kehidupan baru mereka tanpa adanya dirinya.

Kala itu kecewanya bukan main saat sang Mama menjenguknya dengan membawa seorang lelaki yang diperkenalkan sebagai Papanya. Raga kecil kala itu hanya dapat mempertanyakan kenapa sang Papa berubah tanpa mendapat jawaban dari keduanya. Persetan dengan Papanya yang berubah, kala itu Raga berharap dirinya akan kembali tinggal dengan sang Mama, namun nyatanya nihil. Dirinya kembali ditinggal sendiri, bahkan seorang yang diperkenalkan sebagai Papanya itu dengan berani menahan tangannya yang hendak masuk mobil mereka.

Dalam tengkurapnya, dia rasakan sapuan hangat di kepalanya, disusul dengan sebuah kecupan singkat di sana. Raga tahu pelakunya adalah Ligar. Pria itu berlanjut memberikan usapan hangat pada punggung Raga yang naik-turun tanpa bertanya alasannya menangis.

“Pap, kamu dulu gimana waktu dapet hak asuh bocil?” Ligar cukup terkejut atas pertanyaan itu.

“Takut. Hal yang seharusnya dilakukan dua orang, hari itu sebagian besar tanggung jawabnya jatuh ke aku atas keputusan bersama.”

Ligar sebelumnya sempat berada di titik terpaksa mendapat hak asuh Arsen. Dirinya dan mantan istri tidak memperkarakan hak asuh di meja hukum, keduanya memilih berkompromi secara kekeluargaan. Jika secara hukum, hak asuh Arsen otomatis jatuh pada mantan istrinya, selain karena Arsen masih dibawah umur, anak itu juga masih dalam usia yang membutuhkan ASI. Ligar yang jelas tidak bisa memberikan ASI dari dirinya, menolak tegas untuk hak asuh Arsen ada pada dirinya kala itu. Hanya kata takut yang menggambarkan keadaannya disaat sekelilingnya menyetujui keputusan mantan istrinya dengan hak asuh Arsen jatuh padanya.

Mendengar jawaban Ligar, Raga mempertanyakan perasaan orangtuanya kala itu. Pikirannya tiba-tiba mengarah bahwa kasih sayang selama 7 tahun yang mereka berikan hanya tipuan. Orang tuanya tak seperti Ligar dan mantan istrinya. Jangankan berunding untuk siapa yang mendapat hak asuh dirinya, kedua orang tuanya seakan berlomba mengecewakannya, hingga Raga juga ikut berlomba untuk mengecewakan keduanya.

Raga bangkit dari posisi tengkurapnya. Kedua tangannya membentang meminta pelukan dari Ligar. Raga itu cengeng jika membahas orang tua. Tangisnya kembali luruh dalam dekapan Ligar.

“Tadi Mama ke rumah buat ketemu kita sama kenalan sama Arsen, tapi kitanya lagi di sini,” tuturnya pada Ligar. “Boleh gak Mama sama Papa anggap diri mereka nenek-kakeknya bocil?” Bibir Ligar tertarik mengulas senyuman kecil mendengarnya.

“Boleh. Mereka Mama sama Papa dari Pipoy kesayangan Arsen.” Ligar kembali menjatuhkan kecupan di puncak kepala Raga. “Kabarin Mama kamu nanti kalo kita udah di Jakarta, ya?”

“Mereka gak kayak orang tua kamu ataupun orang tua mantan kamu,” balasnya dengan suara parau. “Aku gak mau bocil kenapa-kenapa,” lanjutnya.

“Ada aku, orang tua kamu bakal kenapa emangnya? Mereka cuma mau berkunjung ke rumah anaknya, gak akan kenapa-kenapa, sayangku.” Kembali diciumnya puncak kepala Raga dan diusapnya dengan hangat punggung lelaki itu.

Raga dipeluk Arsen dengan erat, anak itu tak mau berpisah lama dengan Raga. Kepergian Raga atas pekerjaannya kali ini berlangsung selama satu minggu, hal itu merupakan kepergian terlamanya meninggalkan rumah sampai hari ini.

“Mau ikut Pipoy~” rengek Arsen dalam pelukan Raga.

“Ini kerja, bukan liburan. Cuma satu minggu,” balas Raga. “Kalo mau ke Semarang, ntar sama Papomu juga. Main ke rumah yangti sama kakung,” lanjutnya.

“Pipoy, kalo ada waktu sempetin mampir ke rumah Mami-Papi. Kalo mau nginep sekalian di sana juga gak masalah,” pinta Ligar.

Arsen yang masih enggan melepas pelukannya pun dibawa Raga untuk berdiri. Anak itu menyamankan dirinya dalam gendongan Raga. Raga biarkan bocil kesayangannya itu memuaskan diri memeluk dirinya sebelum berpisah selama satu minggu.

“Pap, cium,” kecumik Raga menagih ciuman dari sang suami.

Tangan Raga menahan kepala Arsen yang nyaman dipundaknya agar tak menoleh ke belakang. Di tengah orang-orang yang hilir mudik di bandara, keduanya saling memagut kasih untuk perpisahan selama satu minggu. Raga puaskan mencumbu sang suami, sama halnya dengan Arsen yang memuaskan diri memeluk dirinya.

“Sini sama Papo, nanti Pipoy terlambat.” Ligar mengambil Arsen dari gendongan Raga selepas menyelesaikan ciuman keduanya.

Raga memberikan ciuman singkat pada Arsen yang sudah berpindah pada gendongan Ligar. “Awas aja kalo video call gak diangkat!” peringat Raga pada Arsen.

“Pipoy jangan video call waktu aku main game makanya. Aku bisa kalah nanti,” protes Arsen.

“Jangan gitu lah, Bro. Pipoy video call kamu pasti waktu lagi senggang. Kalo kamu gak angkat, terus kamu video call lagi Pipoy setelah selesai main game tapi Pipoy gak angkat karena harus lanjut kerja, nanti kamu yang ngambek sendiri,” peringat Ligar karena hal itu beberapa kali terjadi dan dirinya selalu terkena imbas dari dua orang kesayangannya itu. Dirinya akan serba salah saat hal itu terjadi.

“Tuh dengerin, Cil,” sahut Raga.

“Tapi beliin aku skin yang kemaren aku kasih lihat Pipoy.” Raga hanya menunjuk pandang ke arah Ligar sebagai balasan permintaan Arsen. “Papogar, boleh yaa~” pintanya pada Ligar.

“Yang 750 ribu kemaren?” Arsen mengangguk. “Aduh ini tuan muda sogokannya mahal banget ya,” tutur Ligar dengan helaan napas diakhirnya. “Nanti dibeliin, janji dulu sama Pipoy,” lanjutnya yang berakhir tetap luluh dengan permintaan putra semata wayangnya.

Setelah Raga dan Arsen saling mengaitkan jari kelingking sebagai bentuk perjanjian, Ligar kembali mencium Raga sebelum benar-benar berpisah.

“Aku juga mau cium Pipoy,” pinta Arsen tak mau kalah.

Ligar merengkuh suaminya yang tengah berkutat dengan mesin pembuat kopi. Kecupan singkat dirinya jatuhkan pada puncak kepala sang suami. “Selamat malam, cintaku,” sapanya mengundang gelenyar tubuh Raga.

“Cintaku, cintaku mulu, abis selingkuh?” Ligar menghela napasnya mendengar dugaan sang suami. “Diketawain Mbak Tun bibirmu cemberut gitu.” Raga seketika melirik Mbak Tun yang tengah merapihkan bahan dapur dengan tersenyum.

“Lah situ tiba-tiba terus-terusan manggil cintaku. Mbak Tun bukan ngetawain aku, dia geli denger kamu manggil gitu,” sahut Raga.

Mpun kula tak minggir mawon,” sahut Mbak Tun lalu beranjak pergi dari dapur. (Sudah saya tak minggir saja)

Ligar tanpa permisi meminum kopi yang baru saja dibuat oleh suaminya. Hal itu mengabibatkan perutnya mendapat sikutan dari Raga. Tawa Ligar lepas kala Raga menggeram dengan menaruh cangkir baru dengan keras pada mesin pembuat kopi.

“Cintaku marah-marah terus seharian.” Ligar meraih dagu Raga, membawanya menoleh ke arahnya. “Dih.” Ucapan andalan Raga itu terlontar dan lelaki itu lantas mengalihkan pandangannya dari Ligar.

Badan Raga tiba-tiba terangkat, pelakunya tak lain adalah Ligat. Dirinya didudukkan di sebelah mesin pembuat kopi yang tengah menyiapkan kopi barunya. “Mau cium atau aku cium?” tawar Ligar mengingat awalnya Raga lah yang ingin menciumnya. Ligar tak mau suaminya itu menggerutu lagi perkara dirinya.

“Minta cium yang bener kamu pap!” perintahnya. Ligar menatap tak mengerti maksudnya. “Cepet bilang minta aku cium!” desaknya tak sabaran.

“Cintaku... mau cium dong...” pinta Ligar dengan nada mendayu.

“Kurang lengkap. Kayak di chat tadi,” pintanya sekaligus menggoda Ligar yang dirinya sadari sudah cukup menahan entah geram atau gemas padanya.

“Pipoyku, suamiku, cintaku, sayangku, kasihku, ayo kasih suaminya cium. Cium yang banyak...” Sialan, ucapan itu berhasil memporak-porandahkan jantung Raga.

Raga tersenyum puas melihat suaminya merajuk padanya. Lantas dirinya kalungkan tangannya pada leher sang suami. Dirinya raup bibir tebal Ligar yang sudah dirinya bayangkan dari siang tadi. Kakinya mengalung pada pinggang Ligar dan tubuh keduanya semakin merapat menunjukkan ciuman yang semakin intens.

Dari kejauhan, Haris melihat hal tak senonoh itu pun lantas membalik arah Arsen agar tak melihat kegiatan kedua orang tuanya. Ingatkan Haris untuk mengirim pesan panjang kepada Raga setelah ini. Dirinya harus mencari alasan masuk akal untuk Arsen yang tak dirinya biarkan pergi ke kamarnya agar tak melihat kegiatan yang tengah dilakukan kedua orangtuanya di dapur.

“Astaga... daritadi sarapannya masih belom juga dimakan,” omel Ligar yang kembali dari mengantar Arsen dan masih mendapati sarapan Raga yang masih utuh. “Udah dingin sarapannya, Pipoy. Udah dulu main game-nya.” Mendengar hal itu, Raga justru kembali membaringkan dirinya di kasur, enggan meraih sarapan yang telah disiapkan Ligar di nakas.

“Pipoy, makan dulu sarapannya, habis itu minum obat.” Raga masih tak bergeming dan fokus dengan ponselnya. “Kamu gak usah masuk aja deh, masih lemes gini badannya.” Ligar menata surai Raga yang masih berbaring di kasur.

“Suapin bisa kali,” celetuk Raga.

“Kamu aja masih tiduran. Mau jadi ular kamu makan sambil tiduran?” sahut Ligar.

Raga pun lantas beranjak duduk menghadap Ligar. Sebuah cubitan hidung Ligar berikan pada Raga yang membuatnya gemas.

“Heh, gak usah nyisihin sayur. Yang nurut kalo mau disuapin.” Ligar menepis tangan Raga yang menyisihkan sayur dalam sendokan makanan yang diambil Ligar. “Bikin mulut makin pahit,” alasan Raga yang jelas tak diindahkan oleh Ligar.

“Pap...” panggilnya mendapat dehaman. “Sorry ya kemaren lancang nanya mantan kamu,” lanjutnya lalu menerima suapan nasi dari Ligar.

“Aku maafin kalau kamu mau makan sayurnya.” Raga menghela napasnya. Balasan Ligar sedari semalam berusaha tidak masalah akan hal itu padahal Raga telah tahu fakta bahwa pertanyaannya menampilkan kembali memori pahit Ligar. “Aaaaa...” Ligar justru melanjutkan menyuapi Raga seakan lelaki itu adalah anak kecilnya.

Raga menerima suapan dari Ligar lalu memeluk pria tersebut. Perlakuan tiba-tibanya itu hampir membuat Ligar menumpahkan makanannya. Ligar pun lantas menaruh semangkuk makanan yang dipegangnya dan membalas pelukan sang lelaki.

“Bayi gedheku ternyata manja banget kalo sakit,” tuturnya seraya memberikan usapan kepala pada Raga.

“Kamu pasti kangen diusapin kepalanya sama Januari,” celetuk Raga asal karena tindakan Ligar mengingatkannya pada cuitan yang beberapa saat lalu dirinya baca.

Januari, nama yang tak pernah lagi dia dengar selama satu dekade lebih kini kembali dirinya dengar lagi karena Raga. Kenangannya bersama Januari telah dia larung bersama abu sang pemilik nama.

“Yang tersisa diingatanku tentang Januari itu cuma tentang kepergiannya meninggalkan semua orang tersayangnya.” Ligar rasakan pelukan Raga semakin erat. “Kamu kalo manja begini aku jadi percaya sama ibu-ibu di twitter yang bilang kamu itu orang yang beda sama ketua Bumantara. Liat aja ini kamu lucu banget peluk-peluk kayak koala.” Ligar mengalihkan bahasannya karena tak mau membahas tentang hal yang dirinya tak mau ingat bahwa hal itu ada dalam memorinya.

“Kamu dua kali dibikin hancur sama hubungan, tapi kenapa masih mau bangun hubungan lagi? Apalagi sama orang yang hidupnya aja gak jelas.” Raga merasa heran atas Ligar, dirinya saja dari melihat hancurnya hubungan orang tuanya sudah ikut hancur sendiri.

“Pertanyaan kamu terlalu berat buat hari yang masih pagi. Aku mau bangun hubungan lagi itu karena ada zombie yang disayang banget sama anakku.”

“Anjenggg, skip dah omongan buaya,” tutur Raga melepaskan pelukannya pada Ligar.

“Coba ganti aku tanya, kenapa kamu mau bangun hubungan sama aku yang pernah gagal dalam hubungan dan kamu punya ketakutan dalam hubungan dan gak mau hubungan yang mengikat sebelumnya?” balik Ligar.

“Karena aku percaya sama kamu lah,” lantang Raga.

“Iya, percaya. Itu salah satu kunci buat bangun sebuah hubungan, saling percaya.” Ligar kembali meraih mangkuk yang ditaruhnya dan kembali menyuapi Raga. “Selesaiin dulu sarapannya, udah lewat jam kamu minum obat ini,” tuturnya.

“Kata Bocil kamu aneh, Pap,” tutur Raga seraya mengunyah makanannya.

“Ditelen dulu baru ngomong,” peringatnya.

“Aku setuju sih sama bocil kalo kamu aneh. Aku aja laki kamu bilang cantik, aneh,” lanjutnya tak mengindahkan peringatan Ligar.

“Cantik itu universal dan kamu cantik itu fakta. Coba lihat wajah kamu di kaca dan kasih senyum yang manis, kamu cantik.”

“FIX EMANG LO ASLINYA BUAYA!!” Ligar seketika tertawa lepas mendengarnya.

Sambutan hangat diterima oleh Raga dan Arsen yang baru datang. Keduanya mendapat pelukan hangat dan kecupan singkat dari orang tua Ligar. Ligar sendiri juga memberikan pelukan dan kecupan singkatnya pada Raga dan Arsen, tetapi hanya Raga yang pelukannya enggan dia lepas.

Halah uwes to, Mas, lek peluk Agaa. Cul ke!” protes Mami seraya berusaha melepaskan pelukan keduanya. “Mantu karo cucune Mami iki mau tak ajak makan dulu,” lanjutnya sembari membawa Raga dan Arsen ke ruang makan.

Bukan hal yang baru jika Ligar selalu disudutkan orang tuanya ketika sedang berkumpul bersama seperti itu. Orang tuanya paling suka mengumbar berbagai kisahnya pada Raga, yang dirinya sendiri enggan menceritakan hal itu pada orang lain karena sebagian itu memalukan dan sebagian lainnya merupakan hal yang tidak penting.

“Yangti, aku setuju deh kalo Papo itu aneh.” Semua pasang mata seketika tertuju pada Arsen. “Tadi waktu Pipoy jemput aku tuh Pipoy bilang 'Buruan, Cil. Papomu udah kangen berat sama Pipo.' gitu padahal tadi soreㅡeh siang itu Papo temenin Pipo latihan balap sama aku, masa sekarang udah kangen berat kan aneh ya, Yangti,” adunya yang membuat hadir rasa malu Ligar maupun Raga.

“Emang Papomu kui lagi puber kedua, Mas Bro,” balasnya dengan tawa meledek.

Kamu jan persis Mamimu, Mas. Mereka berdua ini sama, Ga, tukang kangen berat. Ditinggal bentar aja wes kayak ditinggal setahun,” sahut Papi Ligar.

“Puber itu apa, Yangti?” bingung Arsen yang tak paham atas ucapan Kakek dan Neneknya.

“Nanti Yangti kasih tau, sekarang ikut sama Yangti aja yuk. Yangti ada hadiah buat cucuku yang paling ganteng yang hari ini jadi juara!” tuturnya mengajak Arsen beranjak dari ruang makan.

Ketika kedua orang tua Ligar dan Arsen telah meninggalkan ruang makan, Ligar lantas memeluk kembali Raga yang berada di sebelahnya. Raga yang dipeluk berlaga jual mahal dengan tak membalas pelukan sang suami.

“Pipoy, sini aku pangku biar enak peluknya.” Ligar mengangkat badan Raga dan membawanya dalan pangkuannya.

Raga yang dalam dekapan Ligar itu meletakkan kepalanya di ceruk leher Ligar. Sesekali dirinya hirup aroma tubuh suaminya itu hingga tanpa sadar dirinya menjatuhkan satu kecupan di sana.

“Waduh, aku udah dapet cium duluan aja,” tutur Ligar dengan kekehannya selepas mendapar kecupan dari Raga. “Coba kasih lihat wajahnya, katanya mau gombalin aku lagi.” Ligar mengelus kepala Raga meminta lelaki itu bangkit berhadapan dengan dirinya.

“Enggak jadi, aku mau cepet kamu cium. Aku udah dari lama kangen sama kamu yang suka godain aku, ngajak-ngajak duluan, dikit-dikit bilang kangen, mau cium, mau peluk. Aku sadar kalo sikap kamu itu pudar karena aku, tapi boleh gak kamu gitu lagi ke aku?” tutur Raga meminta.

Raga jelas tak lupa bahwa kejadian dirinya dengan Haidan itu membuat perubahan pada diri Ligar. Mungkin orang lain tak menyadari, bahkan Ligar sendiri, tetapi Raga yang selalu bersama Ligar tentu menyadarinya.

Tak ada jawaban dari lisan Ligar, pria itu memilih mempertemukan belah bibirnya dengan Raga. Tangannya yang mengalungi pinggang Raga itu menarik tubuh Raga mengikis jarak antara keduanya. Dirinya bingung memberikan jawaban untuk Raga karena dirinya tak menyadari perubahan sikapnya pada Raga. Lumatannya pada bibir Raga perlahan dan terus mendalam. Beberapa kali hidung keduanya bergesekan akibat saling berusaha memperdalam ciuman. Surai Ligar diremat oleh Raga, lelaki itu tak ingin pasif, lidahnya dia gerakkan beradu dengan milik Ligar.

“Pipoy, maaf ya.” Ligar mengeluarkan kata maaf atas aduan Raga tadi. “Hari ini kita tidur paket lengkap, mau?” lanjutnya mengajak Raga.

“Mau lah,” balas Raga cepat.

“Tapi panggil aku sayang, ya,” pinta Ligar.

“Iya, sayangku~” Raga berakhir tersenyum puas melihat wajah memerah Ligar atas panggilan sayangnya.

“Pipoy~” Panggilan manis itu mengusik fokus Raga yang tengah mengatur jadwalnya. Si Bocil kesayangannya yang sebentar lagi akan genap 10 tahun itu merayap di ranjangnya untuk meraih tempat disampingnya.

“Kenapa?” tanyanya seraya menyingkirkan laptop yang dipangkunya karena Arsen berusaha mengambil tempat dipangkuannya. “Bantuin aku bilang ke Papo dong, Pipoy.” Raga menghela napasnya mendengar permintaan itu. Arsen suka sekali menumbalkan dirinya untuk membujuk Ligar atas permintaannya yang memiliki kemungkinan besar ditententang oleh Ligar.

“Pipoy, minta Papogar buat ajak Mami ke sekolah besok.”

Raut Raga yang semula tenang dan mengira itu permintaan yang tidak jauh dari melanggar aturan Ligar, kini berubah menjadi datar. Dirinya menghindari tatapan Arsen yang tengah merajuk. Jelas adanya sakit hati pada dirinya, mengingat beberapa saat lalu Ligar mengajaknya untuk hadir ke sekolah Arsen besok.

“Tapi kasih tau Papogar buat ajak Mami sendiri aja, jangan ajak Om Papi sama adek-adek. Aku mau Mami aja, Pipoy. Bantuin aku, Pipoy~” Arsen memeluknya dengan pandangan mata yang menatap Raga meminta untuk disetujui permintaannya.

“Loh... loh... sejak kapan anak kecil, di sini?” Arsen mencolek pinggang Raga ketika Ligar muncul dari pintu kamar mandi.

“Sejak lama deh. Aku kangen Pipoy aku,” balas Arsen dengan mengeratkan pelukannya pada Raga.

Dih jago lo boong, bocah bangke! Batin Raga berseru mendengar jawaban Arsen. Tanpa sadar dirinya menatap Arsen dengan pandangan heran yang disadari oleh Ligar.

“Masa sih?” ragu Ligar. “Pipoy, anaknya beneran lagi kangen kamu?” Ligar memastikan pernyataan Arsen pada Raga.

“Iya tau! Aku kangen Pipoy sambil minta bantu dikit,” jujurnya pada Ligar.

Arsen menatap Raga ketika Ligar mempertanyakan bantuan apa yang diminta Arsen pada Raga. Dalam hati Raga, ingin rasanya mengubah permintaan Arsen. Dirinya pernah mengalami hal yang sama, bahkan sering menginginkan sesuatu seperti yang diminta Arsen saat ini, namun dari sudut pandang posisinya sekarang, dia tak ingin itu terjadi. Dirinya ingin berpartisipasi sebagai orang tua untuk Arsen sepenuhnya.

Ego Raga kecil dan dewasa tengah bertarung untuk menyebutkan permintaan Arsen kepada Ligar. Hal itu membuatnya membisu cukup lama yang mengundang pertanyaan dari Ligar dan Arsen.

“Bocil minta kamu sama Maminya buat hadir ke sekolah besok.” Ego masa kecilnya dia paksa untuk menang. Raga ingat atas janjinya untuk menjaga Arsen tak sehancur dan sekekurangan dirinya. Dirinya hanya mengendikkan bahu ketika mendapat pandangan mendalam dari Ligar.

“Cuma Papogar sama Mami,” timpal Arsen.

“Balik ke kamar sana, Cil. Biar Pipo ngomong sama Papo,” pintanya pada Arsen.

Ligar melihat Arsen yang hendak beranjak justru ditahannya. Dirinya raih bahu kecil putranya dan mengajak pandangan keduanya bertemu. Arsen seketika menutup kedua telingannya karena tahu permintaannya akan ditolak oleh Ligar. Akan tetapi, tangan kecil itu disisihkan oleh Ligar.

“Papo bakal minta Mami, tapi gak janji buat bisa cuma Papogar dan Mami yang dateng. Mami ada Om Papi dan Papogar ada Pipoy, yang sayang kamu ada banyak.” Ligar membawa Arsen dalam dekapannya. Permintaan Arsen sulit untuk dirinya beri kepastian. Dirinya juga kembali merasa bersalah untuk Arsen karena hal itu. Harapnya, jawaban yang dia pikiran dalam waktu singkat itu tak menyakiti Arsen maupun Raga yang juga mendengarnya. Dirinya sendiri bingung harus menanggapi seperti apa.

Sepeninggalan Arsen, Ligar dan Raga diterpa hening. Raga kembali sibuk dengan laptopnya dan Ligar yang masih dengan pemikirannya. Dirinya masih tak tahu langkah mana yang harus dirinya ambil.

“Pipoy, maaf ya...” Raga menatap heran suaminya itu. Baginya tak ada salah yang dilakukan Ligar padanya.

“Pikirin perasaan Bocil, itu yang penting,” tutur Raga sebelum kembali fokus pada laptopnya yang sebetulnya tak ada yang dirinya kerjakan di sana. “Yang bocil minta itu sama kayak aku yang mau Mama sama Papa ada di nikahan kita. Buat bocil, besok itu hari penting dia, dia mau orang tuanya yang jadi saksi dia,” tambahnya.

“Kamu juga orangtuanya.” Raga tersenyum getir menatap Ligar.

“Ya, aku sah disebut orang tua dia, tapi aku tetep bukan orang tua kandung dia,” ujarnya. “Kamu minta mantan kamu buat dateng besok,” lanjutnya.

“Kamu gapapa?”

“Dih, kenapa-napa lah, aku cemburu,” balasnya yang merubah raut dan nada bicaranya menjadi menyulut. “Pikirin juga ntar abis acara itu buat ngebujuk aku. Aku gak bakal banting harga buat kamu, aku bakal jual mahal banget,” tambahnya.

Ligar dibuat gemas melihat Raga yang melontarkan kecemburuannya dengan terang-terangan. Dirinya meraih Raga untuk masuk dalam dekapannya, namun ditahan oleh Raga yang membuatnya menatap Raga penuh tanya. “Oke, mulai besok aku jual mahal.” Raga lantas segera masuk dalam dekapan Ligar, sedangkan yang mendapat perlakuan itu hanya terkekeh gemas.

“Jangan dibeliin, Pap,” kompor Raga yang baru bergabung dengan Ligar dan Arsen.

Mendengar suara Raga itu, Arsen lantas menoleh dan mengisyaratkan Raga untuk diam. Anak itu tengah merayu Ligar dengan segala kata manisnya untuk dibelikan motor.

“Gak usah beli motor lah, kamu Pipoy bonceng aja, Cil,” sahut Raga lagi.

“Pipoy aja sama Papogar. Kata Papo kan Pipoy suaminya Papo, kayak Panjul sama Pipi. Panjul sama Pipi kan selalu boncengan, masa Papogar sama Pipoy sendiri-sendiri,” balas Arsen yang membuat Ligar dan Raga menaikkan alisnya.

'Pipoy suaminya Papo' sebuah untaian kalimat yang sama dengan yang sebelumnya Raga baca pada ruang obrolannya dengan Ligar. Saat membaca saja sudah membuat jantungnya berdegup, terlebih kali ini dilantangkan oleh Arsen, tidak karuan sudah degupnya, dan bisa lebih mengacau jika Ligar sendiri yang melontarkan hal itu.

Ligar sadari raut salah tingkah Raga yang berusaha ditutupi lelaki itu dengan mengendalikan raut wajahnya. Ketika pandangan keduanya bertemu, Raga justru melemparkan tatapan sinis.

“Papogar, beliin aku motor ya...” rajuk Arsen sembari memeluk lengan Ligar.

“Beliin aja lah, Pap.” Raga seketika merubah suaranya menjadi mendukung Arsen. “Kalo bocil punya motor sendiri kan waktu touring kita bisa boncengan, Pap,” lanjutnya.

“Labelnya pembalap, tapi masih minta dibonceng,” ledeknya.

“Mintanya cuma sama situ,” sahut Raga.

“AKU SETUJU SAMA PIPOY! BELIIN AKU MOTOR!” potong Arsen.

Raga semakin memperkuat argumennya mendukung permintaan si Bocil kesayangannya. Jika Raga dan Arsen sudah satu suara seperti itu, maka tidak ada celah bagi Ligar untuk menolak permintaan itu.

“Papo belikan, dengan catatan kamu menepati janji yang udah kamu buat ke Papo tadi,” tutur Ligar yang mendapat anggukan semangat Arsen.

“Siap, Komandan!” Arsen sigap berdiri dan memberi hormat pada Ligar. Anak itu juga tidak lupa memeluk dan memberikan ciuman kepada Paponya sebagai ucapan terima kasih karena permintaannya disetujui.

“Kalo buat yang ini, Pap?” Raga menunjuk dirinya sendiri. “Dibonceng,” jelasnya.

“Iya, dibonceng.” Senyuman lebar seketika terulas di wajah Raga. Lelaki itu juga memberikan pelukannya mengikuti Arsen yang telah berlari girang kembali ke kamarnya. “Jangan waktu touring aja tapi,” pintanya lagi.

“Sukanya ngelunjak,” tutur Ligar. “Besok deh kita motoran berdua, mumpung Arsen diajak maminya jalan-jalan besok,” tambahnya.

“Mulai malem ini aja gak bisa apa,” tawarnya lagi.

“Kalo malem ini, kita boncengan di kasur aja.” Raga lantas menjabat tangan Ligar tanpa basa-basi.

“Deal,” ucap Raga lantang dengan raut sumringah.

Berbulan-bulan Raga tak mendatangi sirkuit, namun malam ini dirinya kembali merasakan euforianya. Dirinya datang ke sirkuit membawa motor kebanggaannya. Bahkan beberapa hari lalu, Raga telah mempersiapkan motornya untuk balapan hari ini.

Sorakan dan sambutan hangat kerinduan anggota bumantara menyapa kedatangan Raga. Dirinya sungguh merindukan hal itu, di mana seluruh sorakan bangga tertuju padanya dan kemenangan akan diraihkan dalam sirkuit.

Congratulations on your wedding, Raga,” sapa Dante yang hari ini menjadi lawan Raga. Senyuman miring terukir di bibir Raga dan membalah jabatan Dante. “Balapan ini hadiah dari gue atas pernikahan lo,” lanjutnya.

Pada putaran pertama, Raga memimpin di depan. Dante berjarak tak jauh darinya, namun tak mampu membalap dirinya. Senyuman miring Raga kembali terukir saat menyadari Dante yang terus mencari celah untuk membalapnya.

Sebuah decitan keras terdengar. Raga mengerem spontan di tengah balapan. Maniknya memfokuskan pandangan pada salah satu sudut tribun. Remangnya lampu tribun membuatnya memicingkan matanya hingga dirinya sadar akan dugaannya yang benar. Suaminya tengah duduk di tribun bersama salah seorang anggota club motornya.

Raga tetap melanjutkan balapannya di arena, namun kecepatannya hanya berada pada angka 50 km/jam. Pikirannya sudah tak peduli akan Dante karena Ligar telah mengambil alih pikirannya. Karena bersemangatnya, dirinya menjadi lupa bahwa Ligar seringkali tak mengambil hari terakhir visitnya di luar kota karena pria itu lebih memilih menghabiskan waktunya bersama Arsen dan Raga daripada berlibur bersama rekan kerjanya.

Kalah merupakan fakta yang harus Raga telan malam ini. Pandangannya enggan bertemu dengan Ligar yang kini tengah berjalan turun dari tribun menuju sirkuit. Batinnya terus merapal bahwa Ligar akan berlaku sebagaimana biasanya ketika dirinya melanggar janjinya sendiri.

Alih-alih disapa, Ligar justru mengucap selamat bahkan memberi pelukan untuk Dante. Satu fakta lagi yang Raga dapat, Dante merupakan anak dari seorang anggota The Sangar yang hari ini bersama Ligar dan Ligar sendiri cukup mengenal Dante.

“Maaf ya, Om, saya kalahin suaminya,” tutur Dante yang tentu mendapat lirikan sinis Raga.

“Namanya pertandingan ya ada yang menang dan kalah. Kamu bawa motornya bagus banget tadi,” balas Ligar yang memuji Dante.

Perasaan kesal dan sakit hati menyerbu Raga karena Ligar fokus pada Dante dan tak menganggap keberadaannya. Bahkan saat motornya dibawa oleh Dante karena memang itu taruhan mereka, Ligar kembali mengucap selamat dan tersenyum hangat untuk Dante.

Raga yang hendak bergabung duduk bersama anggota Bumantara ditahan lengannya oleh Ligar. Pria itu bahkan menarik dirinya untuk berada dalam rangkulannya. “Kalian gak perlu pukulin Raga karena dia kalah, Raga urusan saya.” Satu kalimat yang sukses membuat bulu kuduk Raga berdiri.

Rasa takut dan berani Raga seimbang berhadapan dengan Ligar. Akan tetapi saat berada di dalam mobil bersama Ligar, rasa takutnya menjadi lebih dominan. Di tengah itu, Raga masih mampu menutupi raut panik dan takutnya yang menghadirkan pemikiran Ligar bahwa Raga sama sekali tak merasa bersalah atas tindakannya itu.

“Aku tau janji kamu itu urusan kamu dan diri kamu sendiri, tapi kamu janji buat aku. Bukan sekali-dua kali aku bilang kalo kamu gak perlu janji apapun kalo kamu sendiri gak bisa nepatin. Kamu tau, Raga yang bertanggung jawab atas ucapan ataupun janjinya itu sekarang udah hilang.” Untaian kalimat itu sukses menampar Raga secara tidak langsung.

“Sekarang aku tanya, kamu sesuka itu sama balapan?” Ligar menghentikan mobilnya dan meraih dagu Raga membawa wajah kecil Raga menghadapnya. “Jawab. Ketua apaan kamu gak ada suaranya,” tambahnya meledek Raga yang hanya dia menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan sebagai marah, takut, atau panik.

“Ya,” jawab Raga ketus.

“Mainnya makin jelek aja gaya banget turun sirkuit lagi. Mampus motor yang kamu banggain sekarang udah pindah tangan.” Raga mengeraskan rahangnya mendengar hal itu.

“MAS LASKARRR!~” Ragnala berlari menghampiri Laskar yang tengah berjalan ke arahnya. Para staff yang menemani Ragnala dalam proses pengambilan musik video terbarunya pun kini telah terbiasa atas sikap Ragnala itu, terlebih Juanda yang sudah sangat terbiasa hingga bosan melihat dua sejoli itu.

“Jangan lari-lari, Alaa.” Laskar menangkap Ragnala dalam pelukannya. “Alaa baru makan ya?” Ragnala mengangguk. “Gimana bisa ini sausnya ketinggal di hidung.” Laskar tertawa sembari membersihkan saus di hidung Ragnala. Lelaki itu baru saja memakan burger dan besar burger yang melebihi lebar mulutnya membuat saus itu bisa tertinggal di hidung Ragnala.

“Ihh banyak ya, Mas Laskar?” Laskar menggeleng. “Mas Laskar beneran mau in frame di MV aku, ya?” Laskar mengangguk. “Nanti makin banyak deh yang naksir Mas Laskar,” keluh Ragnala.

“HEYY! BURUAN PREPARE! KEMALEMAN NANTI!” teriak Juanda menginterupsi keduanya.


Ragnala ingin mengintip Laskar terlebih dahulu, namun Juanda tak memberinya celah dan membawanya menuju tempat pengambilan scene.

Ragnala mengambil scene di balkon kastil lalu semua lampu meredup. Ketika dirinya berpikir pengambilan scene dirinya telah selesai, Laskar muncul dan menariknya mendekat pagar balkon. Tangan Laskar merangkul pinggang ramping Ragnala, mengajaknya menghadap gelapnya langit malam dengan taburan bintang.

Pandangan keduanya sejenak bertemu saat pertunjukan drone dimulai. Ragnala benar-benar tak memahami situasi saat ini. Dirinya menutup mulutnya dengan kedua tangannya ketika drone itu berakhir membentuk kalimat 'Will You Marry Me?' Sebuah kalimat ajakan yang tak dirinya duga.

Laskar membawa Ragnala berhadapan dengannya. Dirinya genggam kedua tangan Ragnala lantas merendahkan dirinya menekuk lutut. Laskar raih sebuah kotak di kantongnya dan menunjukkan isinya dihadapan Ragnala, “Alaa, boleh Mas Laskar jadi punya Alaa selamanya?” Bendungan air mata Ragnala runtuh seketika. Ragnala memberikan anggukan kepalanya, “Mas Laskar punya Alaa,” tuturnya dengan raut terharu dan bahagia yang tak bisa ditutupi.

Keduanya saling memasangkan cincin di jari manis mereka berdua. Laskar lantas berdiri dan menarik pinggang Ragnala mengikis jarak antara keduanya. Laskar mendongakkan dagu Ragnala, mempertemukan hidung bangir keduanya. Tawa ringan terdengar dari keduanya ketika hidung bangir mereka saling bergesekan. Ragnala mengalungkan tangannya pada Laskar dan Laskar memiringkan sedikit wajahnya lalu mempertemukan belah bibir keduanya. Dihadapan seluruh staf dan keluarga keduanya yang tak keduanya sadari kehadirannya di taman bawah yang menghadap balkon, keduanya lakukan ciuman hangat yang menyalurkan rasa cinta dan bahagia.

Ragnala menyembunyikan diri dalam dekapan Laskar selepas ciuman keduanya berakhir. Ada rasa malu dirinya berciuman dengan Laskar dihadapan banyak orang, terlebih kamera yang juga tetap menyorot kegiatan keduanya.

“Mas Laskar, pulang aja yuk. Malu aku dicie-ciein,” adu Ragnala dalam dekapan Laskar.

“Emang filmingnya udah selesai mau pulang.” Ragnala mengendikkan bahunya. “Ehh, ada Mama sama Papa loh di bawah,” sadar Laskar.

“Gak mau turun deh, pasti Mama mau ledekin aku itu,” gerutunya. “Mas Laskar jangan senyum-senyum aja dong,” lanjutnya yang mendapat cubitan gemas dari Laskar di pipinya. “HishhㅡJuuu, filmingnya udah selesai belum??” tanyanya pada Juanda.

“Udah sih, dari tadi sore juga udah selesai.” Raut kesal Ragnala seketika muncul. “Ini ide calon suami kamu!” sanggah Juanda yang hendak dihampiri Ragnala. “Cieee udah punya calon suami~” godanya pada Ragnala yang mengurungkan langkahnya.

“Nyebelin!!” Seluruhnya tertawa mendengar sahutan Ragnala dengan raut kesalnya.