Kilasan Lama

Sakit hatinya terasa ketika membalas pesan sang Mama. Raga tidak lah lupa atas hal yang dirinya dapat selepas perceraian orang tuanya. Mama maupun Papanya tak ada yang mau membawanya ke rumah baru mereka. Dirinya ditinggalkan bersama pengasuhnya di rumah yang selama itu mereka tempati. Kedua orangtuanya pergi melangkah ke kehidupan baru mereka tanpa adanya dirinya.

Kala itu kecewanya bukan main saat sang Mama menjenguknya dengan membawa seorang lelaki yang diperkenalkan sebagai Papanya. Raga kecil kala itu hanya dapat mempertanyakan kenapa sang Papa berubah tanpa mendapat jawaban dari keduanya. Persetan dengan Papanya yang berubah, kala itu Raga berharap dirinya akan kembali tinggal dengan sang Mama, namun nyatanya nihil. Dirinya kembali ditinggal sendiri, bahkan seorang yang diperkenalkan sebagai Papanya itu dengan berani menahan tangannya yang hendak masuk mobil mereka.

Dalam tengkurapnya, dia rasakan sapuan hangat di kepalanya, disusul dengan sebuah kecupan singkat di sana. Raga tahu pelakunya adalah Ligar. Pria itu berlanjut memberikan usapan hangat pada punggung Raga yang naik-turun tanpa bertanya alasannya menangis.

“Pap, kamu dulu gimana waktu dapet hak asuh bocil?” Ligar cukup terkejut atas pertanyaan itu.

“Takut. Hal yang seharusnya dilakukan dua orang, hari itu sebagian besar tanggung jawabnya jatuh ke aku atas keputusan bersama.”

Ligar sebelumnya sempat berada di titik terpaksa mendapat hak asuh Arsen. Dirinya dan mantan istri tidak memperkarakan hak asuh di meja hukum, keduanya memilih berkompromi secara kekeluargaan. Jika secara hukum, hak asuh Arsen otomatis jatuh pada mantan istrinya, selain karena Arsen masih dibawah umur, anak itu juga masih dalam usia yang membutuhkan ASI. Ligar yang jelas tidak bisa memberikan ASI dari dirinya, menolak tegas untuk hak asuh Arsen ada pada dirinya kala itu. Hanya kata takut yang menggambarkan keadaannya disaat sekelilingnya menyetujui keputusan mantan istrinya dengan hak asuh Arsen jatuh padanya.

Mendengar jawaban Ligar, Raga mempertanyakan perasaan orangtuanya kala itu. Pikirannya tiba-tiba mengarah bahwa kasih sayang selama 7 tahun yang mereka berikan hanya tipuan. Orang tuanya tak seperti Ligar dan mantan istrinya. Jangankan berunding untuk siapa yang mendapat hak asuh dirinya, kedua orang tuanya seakan berlomba mengecewakannya, hingga Raga juga ikut berlomba untuk mengecewakan keduanya.

Raga bangkit dari posisi tengkurapnya. Kedua tangannya membentang meminta pelukan dari Ligar. Raga itu cengeng jika membahas orang tua. Tangisnya kembali luruh dalam dekapan Ligar.

“Tadi Mama ke rumah buat ketemu kita sama kenalan sama Arsen, tapi kitanya lagi di sini,” tuturnya pada Ligar. “Boleh gak Mama sama Papa anggap diri mereka nenek-kakeknya bocil?” Bibir Ligar tertarik mengulas senyuman kecil mendengarnya.

“Boleh. Mereka Mama sama Papa dari Pipoy kesayangan Arsen.” Ligar kembali menjatuhkan kecupan di puncak kepala Raga. “Kabarin Mama kamu nanti kalo kita udah di Jakarta, ya?”

“Mereka gak kayak orang tua kamu ataupun orang tua mantan kamu,” balasnya dengan suara parau. “Aku gak mau bocil kenapa-kenapa,” lanjutnya.

“Ada aku, orang tua kamu bakal kenapa emangnya? Mereka cuma mau berkunjung ke rumah anaknya, gak akan kenapa-kenapa, sayangku.” Kembali diciumnya puncak kepala Raga dan diusapnya dengan hangat punggung lelaki itu.