Permintaan

“PIPOYYY!!!” Arsen berteriak memanggil Raga sembari berlari mengejarnya. Sedangkan yang dikejar tertawa puas mendengar teriakan bocil kesayangannya.

Mendapati Raga yang tak menghentikan langkah atas teriakannya, Arsen pun menghentikan kejarannya. Anak itu duduk di atas rerumputan dan mengencangkan tangisnya. Raga justru semakin tertawa puas mendengar tangisan Arsen, menjahili bocilnya itu amat seru baginya.

“Pipoy tanggung jawab itu bocilnya nangis, jangan berani iseng aja,” pinta Ligar yang sedari tadi memperhatikan dua kesayangannya itu dari gazebo.

“PIPOY GAK MAU GENDONG AKU PAPOGAR~” adu Arsen yang tak berpindah dari tempatnya.

“Males, aku mau sama suamiku.” Raga justru mengambil tempat dipangkuan Ligar dan memeluk suaminya itu. Dirinya julurkan lidahnya pada Arsen yang membuat anak itu semakin mengencangkan tangisnya.

“Gak usah modus dulu, itu bocilnya diatasin.”

Raga seolah tak mendengar apapun. Dirinya nikmati menggelendoti sang suami, membakar rasa iri pada Arsen. Mulanya dirinya tak berniat menjahili Arsen hari ini, namun anak itu berulang kali mengerjainya tadi, hingga akhirnya muncullah idenya untuk membalas menjahilinya.

“Pipoy...”

“Aku atasin bocil, tapi nanti kamu harus ikut aku. Gak boleh nolak,” ucapnya dengan penuh penegasan pada kalimat terakhir.

Duh Gusti, iki kok malah aku seng keno,” gumam Ligar kala Raga beranjak menghampiri Arsen.

Ligar kini was-was terhadap Raga. Senyuman suaminya itu nampak penuh arti, dirinya dapat simpulkan bahwa ajakan Raga itu akan menguji dirinya.

“Pipoy nanti harus bacain aku buku sampe aku bobo, dimulai dari habis makan malam,” pinta Arsen sebagai tebusan atas perbuatan Raga padanya.

“Bacain bukunya besok aja pas kita udah di Jakarta. Kamu kan di sini tidur sama Yangti sama Kung, jarang loh ketemu mereka, kalo sama Pipo kan tiap hari ketemu.” Raga beralasan pada Arsen karena dirinya sudah mendapat wacana yang baru dia susun beberapa menit yang lalu.

“Kalo di Jakarta berarti satu minggu ya, Pipoy,” tawarnya setelah meneguk es yang dibawakan Ligar.

“Pap anakmu nih,” adu Raga pada Ligar yang tentunya tak akan membantu dirinya melawan permintaan Arsen.

“Urusan kamu, yang bikin anaknya nangis kan kamu. Papo did nothing ya, Bro!” Ligar mengajukan kepalan tangan untuk mendapat tos dari Arsen.

“Yaudah iya seminggu, tapi jangan ganggu Pipo pacaran sama Papo,” sahut Raga.

“Kata Miss pacar-pacaran itu enggak boleh, Pipoy.”

“Buat anak kecil gak boleh, Pipo sama Papo bukan anak kecil, jadi boleh wlee~” Ligar seketika membekap mulut Raga yang menjulurkan lidahnya.