Permintaan
“Jangan dibeliin, Pap,” kompor Raga yang baru bergabung dengan Ligar dan Arsen.
Mendengar suara Raga itu, Arsen lantas menoleh dan mengisyaratkan Raga untuk diam. Anak itu tengah merayu Ligar dengan segala kata manisnya untuk dibelikan motor.
“Gak usah beli motor lah, kamu Pipoy bonceng aja, Cil,” sahut Raga lagi.
“Pipoy aja sama Papogar. Kata Papo kan Pipoy suaminya Papo, kayak Panjul sama Pipi. Panjul sama Pipi kan selalu boncengan, masa Papogar sama Pipoy sendiri-sendiri,” balas Arsen yang membuat Ligar dan Raga menaikkan alisnya.
'Pipoy suaminya Papo' sebuah untaian kalimat yang sama dengan yang sebelumnya Raga baca pada ruang obrolannya dengan Ligar. Saat membaca saja sudah membuat jantungnya berdegup, terlebih kali ini dilantangkan oleh Arsen, tidak karuan sudah degupnya, dan bisa lebih mengacau jika Ligar sendiri yang melontarkan hal itu.
Ligar sadari raut salah tingkah Raga yang berusaha ditutupi lelaki itu dengan mengendalikan raut wajahnya. Ketika pandangan keduanya bertemu, Raga justru melemparkan tatapan sinis.
“Papogar, beliin aku motor ya...” rajuk Arsen sembari memeluk lengan Ligar.
“Beliin aja lah, Pap.” Raga seketika merubah suaranya menjadi mendukung Arsen. “Kalo bocil punya motor sendiri kan waktu touring kita bisa boncengan, Pap,” lanjutnya.
“Labelnya pembalap, tapi masih minta dibonceng,” ledeknya.
“Mintanya cuma sama situ,” sahut Raga.
“AKU SETUJU SAMA PIPOY! BELIIN AKU MOTOR!” potong Arsen.
Raga semakin memperkuat argumennya mendukung permintaan si Bocil kesayangannya. Jika Raga dan Arsen sudah satu suara seperti itu, maka tidak ada celah bagi Ligar untuk menolak permintaan itu.
“Papo belikan, dengan catatan kamu menepati janji yang udah kamu buat ke Papo tadi,” tutur Ligar yang mendapat anggukan semangat Arsen.
“Siap, Komandan!” Arsen sigap berdiri dan memberi hormat pada Ligar. Anak itu juga tidak lupa memeluk dan memberikan ciuman kepada Paponya sebagai ucapan terima kasih karena permintaannya disetujui.
“Kalo buat yang ini, Pap?” Raga menunjuk dirinya sendiri. “Dibonceng,” jelasnya.
“Iya, dibonceng.” Senyuman lebar seketika terulas di wajah Raga. Lelaki itu juga memberikan pelukannya mengikuti Arsen yang telah berlari girang kembali ke kamarnya. “Jangan waktu touring aja tapi,” pintanya lagi.
“Sukanya ngelunjak,” tutur Ligar. “Besok deh kita motoran berdua, mumpung Arsen diajak maminya jalan-jalan besok,” tambahnya.
“Mulai malem ini aja gak bisa apa,” tawarnya lagi.
“Kalo malem ini, kita boncengan di kasur aja.” Raga lantas menjabat tangan Ligar tanpa basa-basi.
“Deal,” ucap Raga lantang dengan raut sumringah.