cw // physical attack , fight , mention of divorce , unwanted pregnancy , harsh words
Raga tidak suka atas rasa canggung yang terjadi. Mulutnya ingin sekali meneriakkan kalimat pada pria di bangku kemudi. Dirinya mencoba meredakan luapan dalam dirinya agar tak tumpah dengan menikmati jalanan malam. Jalanan malam tak sehening suasana di dalam mobil. Raga sejenak terbuai atas indahnya malam sampai akhirnya sadar bahwa mobil Ligar tak melaju menuju rumah mereka.
Tidak peduli, Raga mencoba untuk itu. Pertanyaan dalam pikirannya tak diungkapkan. Raga biarkan dirinya dibawa entah kemana oleh Ligar. Maniknya mencuri pandang pada seorang di bangku kemudi. Rautnya nampak tenang, namun tak ada garis senyum yang terbentuk.
Memori Raga seketika memutar kejadian ributnya dengan Ligar atas hubungannya dengan Haidan kala melihat ring tinju didepannya. Saat itu dirinya mengetahui bagaimana cara Ligar meredam amarahnya dengan memukuli samsak melalui foto yang dikirim oleh Jemian, namun hari ini dirinya akan melihat dengan mata kepalanya sendiri.
Raga mengambil sarung tinju dan memakainya. Dirinya naik ke atas ring mengikuti Ligar yang tengah bersiap memukuli samsak dihadapannya. “Lawan aku, aku juga pengen ninju!” ujarnya bermodal title jagoan jalanan.
Ligar menurunkan samsak dari ring sebagai bentuk persetujuan. Mulutnya enggan menjawab langsung kemauan Raga. Badan kecil Raga bukan hal yang bisa dirinya remehkan, pasalnya dirinya tahu rasa kerasnya pukulan Raga.
“Pake ini.” Ligar melempar head guard kepada Raga.
Keduanya saling beradu tinju di dalam ring. Raga kesit menghindari pukulan-pukulan Ligar. Tak ada argumen yang bersahutan, di dalam ring keduanya saling melepas emosi dengan melayangkan pukulan.
Peluh telah membasahi tubuh Ligar dan Raga. Napas keduanya mulai tak karuan. Ligar menghentikan kegiatan saling tinju keduanya melihat Raga yang hampir kehilangan tenaganya.
“Jangan ditekuk kakinya.” Ligar membenarkan kaki Raga sembari memberikan minum kepada lelaki itu.
Keduanya merebahkan badan di lantai ring. Suara napas keduanya bersahutan memenuhi arena. Rasanya lepas setelah membuat badan letih menumpahkan emosi.
“Nakal banget jadi anak susah dibilangin!” Ligar mendorong betis Raga menggunakan kakinya karena lelaki itu kembali menekuk kakinya.
“Udah nakal, tukang ribut sampe jadi zombie, bikin geng-gengan, playboy, tiba-tiba punya anak pula. Kejadian kamu tuh ada aja.” Raga terkejut mendengar penuturan itu dari mulut Ligar. “Gimana bisa kamu punya anak tapi kamu sendiri baru tahu setelah anak itu lahir? Yang aku tahu kamu itu gak pernah lepas sama apa yang jadi tanggung jawab kamu, tapi hal begitu kamu lepas tanggung jawab,” lanjutnya membuat Raga seketika bangun dari tidurnya.
“Kalo aku tau dia hamil dari awal dan bilang itu anak aku, aku gak akan lari. Kamu gak tau dia gak pernah bilang itu ke aku dan milih bilang dia hamil ke orang yang jadi suaminya sekarang, dia bilang itu anak mereka, bukan anak dia sama aku.” Raga berhenti sejenak mengatur napasnya karena bicaranya menggebu. “Aku juga sama kagetnya waktu suaminya tiba-tiba dateng ke aku marah-marah. Dia juga dateng ke aku buat kasih tahu faktanya itu anak aku, tapi dia minta aku buat biarin semua tetep kayak sebelumnya. Dia mau anakku tau bapak kandungnya itu suaminya, bukan aku. Aku juga mau dianggap!”
“Emang kamu yakin Raga yang dulu bakal mau tanggung jawab? Jangan pake sudut pandang sekarang.” Raga menukik tajam pada Ligar. “Setahu aku, Raga itu emang bertanggung jawab, tapi Raga yang dulu itu orang yang gak yakin dengan hubungan dan komitmen, pernikahan sama sekali gak terbayang buat kamu. Raga hanya tau bebas,” tambahnya yang justru menaikkan emosi Raga.
“Setahu aku, setahu aku, sok tau! Kamu selalu ngerasa tahu sama aku, tapi tiap kita ribut kerjaanmu ngilang, diajak ngobrol susah, ngulur waktu terus. Aku mau semuanya cepet selesai, gak berlarut-larut dan memperumit keadaan, tapi kamu kelihatannya sebaliknya. Kebiasaanmu kalo lagi marah itu nyebelin!” sentak Raga.
“Api ketemu api itu semakin gedein api! Kamu paham gak kenapa dia gak mau kasih tahu kamu? Kamu gak bisa menjaminkan tanggung jawab, makanya dia pilih orang yang dia anggap bisa memberikan hal-hal yang nggak bisa kamu jamin bisa kamu berikan secara maksimal, realistis.” Ligar bangkit dari tidurnya dan duduk berhadapan dengan Raga. “Buat dia, menaklukkan kamu itu susah. Ya emang beneran susah karena udah jadi karakter kamu, bukan lagi sikap yang masih mudah berubah.”
“Aku mungkin gak bisa menjaminkan tanggung jawabku langsung saat itu, tapi aku bisa. Aku bisa kasih tanggung jawabku!”
Ligar membawa Raga dalam pelukannya. Entah mengapa tangisan Raga seketika pecah kala mendapatkan pelukan. Baru kali ini Ligar mendengar tangisan Raga yang seakan berteriak. Punggung kecil yang naik-turun dalam pelukannya menunjukkan lelaki itu melepas air mata sekaligus emosinya. Usapan telapaknya pada punggung Raga membuat lelaki itu semakin larut dalam tangisnya, namun terdengar lebih tenang dari awalnya.
“Sekarang kamu udah bisa menjaminkan tanggung jawab kamu, jadi lakuin.” Pelukan tangan Raga pada pinggang Ligar melonggar. Dirinya memundurkan sedikit tubuhnya guna leluasa menatap pria yang baru saja menyelesaikan kalimatnya.
“Kamu mau ceraiin aku?ㅡAakhh~ anjengg!” Raga mendapat jeweran ditelinganya atas pertanyaannya itu. Jeweran Ligar bukanlah main-main, rasanya mirip jeweran guru konseling sekolahnya dahulu.
“Pikiranmu kejauhan. Kamu tanggung jawab bukan berarti pisah sama aku dan menikah sama dia. Tanggung jawab sama anak kamu, dia udah punya pilihannya buat jadi pasangannya.”
Raga kembali menempatkan diri dalam pelukan Ligar. Badan keduanya yang lengket akan keringat, membuat keduanya seakan menempel. Raga puaskan mengambil kenyamanan dari pelukan Ligar. Suaminya itu memang susah ditebak tindakan dan pemikirannya.
“Kamu sayang sama aku, Pap?” Raga merasakan helaan napas Ligar. “Pertanyaan aneh.” Raga hanya mengangguk atas jawaban Ligar. Aneh memang Raga mempertanyakan pertanyaan retoris. “Kalo ke anak aku?” tambahnya bertanya.
Ligar tentu tidak bisa memberikan jawaban pasti untuk pertanyaan itu. Dirinya saja belum pernah berinteraksi jauh dengan anak itu, hanya pernah sekedar menyapa. Selain itu, hatinya masih berat untuk menerima fakta bahwa Raga memiliki anak dari mantan kekasihnya. Walaupun dirinya tahu hubungan Raga dengan mantan kekasihnya telah selesai dan kehamilan wanita itu terjadi sebelum Raga bersama dirinya, tetap saja ada rasa sakit hati dan kecewa dalam dirinya.
“Aku belum bisa jawab itu, tapi bakal aku usahain untuk sayang sama dia sama hal-nya aku ke Arsen dan kamu ke Arsen. Kamu sayang sama Arsen sebagai anak perlu waktu, kan? Aku juga sama, apalagi aku belum banyak ketemu sama Nola, anak cantik kamu,” balasnya dengan harap tak melontarkan kalimat yang menyinggung hati Raga.
Ada gelanyar aneh di benak Raga kala Ligar menyebut kalimat 'Nola, anak cantik kamu'. Bukan mengarah ke perasaan yang buruk, mungkin karena kalimat itu baru ditelinganya jadi terasa aneh.
“Suaminya dia mau Nola di rumah kita selama mereka ke Bali. Aku gak tau bakal berapa lama dan bakal beneran di rumah kita atau enggak.”
“Aku gak paham sama kalimat terakhir kamu.”
“Suaminya mau mereka liburan berdua di Bali, kemungkinan lama karena semenjak dia tau Nola bukan anak kandung mereka, dia gak lagi memperlakukan Nola sama kayak sebelumnya. Dia terus hubungin aku buat ambil Nola, beda sama Shannon yang selalu ngejauhin Nola dari aku. Bahkan beberapa kali aku ketemu Nola, anak itu gak boleh setitik pun aku sentuh, aku cuma liatin dia main sama nannynya. Kalo Shannon tau suaminya mau bawa Nola ke aku selama mereka di Bali, dia pasti marah banget,” terangnya panjang dan dirinya kembali emosional saat teringat bagaimana dia bertemu anak kandungnya sendiri.
“Mau dibantu ngobrol sama mereka?” tawar Ligar yang mendapat gelengan kepala Raga. “Kalo kedepannya mau aku bantu, bilang ya. Aku di sini sama kamu.”
“Bantu buat bocil mau ngobrol sama aku aja, dia marah banget sama aku,” tutur Raga meminta.
“Aku tadi udah bicara sama Arsen. Mungkin agak susah, tapi dia gak semarah itu sama kamu. Dia sedih dan dia masih punya rasa sakit dan takut ditinggal orang yang dia sayang. Tapi boleh aku minta satu hal kalo kamu ngobrol sama Arsen?” Raga mengangguk. “Jangan paksa atau bilang ke Arsen buat nerima Nola jadi saudaranya atau sebut dia sebagai adiknya Arsen ya. Dari pengalaman yang sudah terjadi, sewaktu aku kenalin dia sama anak-anak Maminya sebagai adik dia, Arsen justru gak suka dan susah buat dia nerimanya. Biarin dia berdamai dengan sendirinya, nerima hal itu sulit buat dia apalagi ditambah sekitarnya seakan memaksa, jadinya lebih sulit buat Arsen. Maaf ya kalo aku minta begitu.”
“Aku paham dan tahu sendiri rasanya, kamu gak perlu minta maaf dengan minta itu ke aku.”
“Makasih ya udah mau komunikasiin ini dengan baik, aku jadi tahu banyak dari sudut pandang kamu. Maaf juga ya, cintaku.” Ligar menjatuhkan kecupan di kening Raga.
“Pap, kalo marah gak usah ngilang bisa nggak?” Ligar hanya mengendikkan bahunya. “Kalo mau ngilang boleh deh, tapi bilang lagi di mana. Gak akan aku susul, aku cuma mau tau,” lanjutnya.
“Iya, cintaku. Maaf ya...”