lostduskworld

Ligar menempatkan kepala Raga pada pahanya. Gerakan Ligar mengusik tidur Raga, membuat lelaki itu mengulat mencari posisi nyamannya. Kacamata Raga dia lepas agar tak mengganggu tidurnya. Telapaknya bergerak halus memberikan usapan pada kepala Raga.

“Lah udah tidur lagi. Gue pikir udah balik,” celetuk asisten Raga kala mendapati Raga yang tengah tidur berbantal paha sang suami.

“Ar, mau kopi?” tawarnya pada Ardian, asisten Raga yang baru menghampirinya. “Iya itu emang kopinya Raga. Gapapa minum aja, saya lupa dia gak boleh ngopi dulu,” terang Ligar mengingat kehamilan Raga.

“Waduh, makasih, Pak,” tukasnya seraya mengambil kopi dari tangan Ligar. “Oh iya, suami bapak kayaknya sakit deh. Kerjanya dikit-dikit tidur, bangun cuma marahin bocah baru sampe kena mental,” lanjutnya dengan iringan tawa.

“Itu ngomelnya sampe ke saya,” bisik Ligar pada Ardian yang membuat keduanya menggelegarkan tawa.

“Dih kamu kapan nyampenya?” tanya Raga yang terbangun karena terusik oleh tawa kedua orang itu.

“Dari tadi kamu tidurㅡpelan-pelan bangunnya.” Ligar membantu Raga untuk duduk.

Mata Raga mengerjap, menyadarkan diri dari kantuknya. Tidak bisa, kantuknya begitu kuat. Raga tak mampu menghilangkan kantuknya. Dirinya memeluk lengan Ligar dan menyandarkan kepalanya di sana.

“Pap, kopi aku!” Raga langsung dalam posisi tegap mengingat dirinya menitip kopi pada Ligar. Maniknya menilik kup yang dipegang oleh Ardian bertuliskan namanya. “Anjeng itu kopi gue lo minum!” Ligar dengan segera menahan tangan Raga.

Ligar turun dari duduknya dan merendahkan sedikit badannya untuk membawa Raga dari duduknya ke gendongan punggungnya. “Kamu gak boleh minum kopi,” tutur Ligar sembari membawa Raga menjauh.

“KOPI GUE ITU!!”

“Ar, kita balik dulu ya!” pamit Ligar sebelum semakin jauh.

Tanpa diketahui Ligar, Raga digendongannya melemparkan jari tengah pada Ardian yang dengan bangga meledeknya karena tak diperbolehkan meminum kopi.


Pemandangan saat ini benar-benar langka dimata Ligar. Dirinya memasangkan safety belt pada Raga yang tengah melipat tangannya di depan dada dengan memanyunkan bibirnya. Dengan cekatan Ligar memotret sang suami dengan gawainya.

“Gak usah foto-foto gue!” lantangnya saat menyadari suara jepretan dari gawai Ligar.

Ligar menyurai rambut Raga dengan jemarinya. Dirinya jatuhkan satu kecupan di pipi menggembung Raga yang kemudian lelaki kecil itu menjauhkan pipinya.

“Pipoy, mulai sekarang stop dulu ya kopinya. Itu gak baik buat perkembangan bayi kita.” Raga merinding mendengar untaian kata 'bayi kita'. Itu sungguh asing ditelinganya, rasanya menggelikan mendengarnya. “Pipoy cintaku... Mau ya buat stop dulu?” Raga hanya berdeham membalasnya.

“Gantinya cium.” Hamil atau tidak sama saja. Raga akan mengiyakan pantangan dari Ligar asal digantikan ciuman. Ligar hanya bisa menepukkan telapak tangan di keningnya. “Cepet cium dulu!” lanjutnya meminta.

Ligar menuruti kemauan cintanya dengan mempertemukan labium keduanya. Raga melepaskan safety belt yang telah dipasangkan Ligar untuk bisa lebih mendekatkan dirinya dengan sang suami untuk memperdalam ciuman keduanya. Entah kenapa rasanya rasa senang Raga membuncah disaat berpagutan dengan Ligar. Dirinya seakan memenangkan dunia. Saat tautan keduanya lepas, Raga masih berulang kali memberikan kecupan di bibir Ligar. Bahkan saat Ligar mengemudi mobil melaju pulang, Raga menyimpan tangan kiri Ligar dalam genggamannya dengan sesekali memberinya kecupan. Raga merasa girang sendiri dengan senyumnya yang tak lepas.

Ligar menempatkan kepala Raga pada pahanya. Gerakan Ligar mengusik tidur Raga, membuat lelaki itu mengulat mencari posisi nyamannya. Kacamata Raga dia lepas agar tak mengganggu tidurnya. Telapaknya bergerak halus memberikan usapan pada kepala Raga.

“Lah udah tidur lagi. Gue pikir udah balik,” celetuk asisten Raga kala mendapati Raga yang tengah tidur berbantal paha sang suami.

“Ar, mau kopi?” tawarnya pada Ardian, asisten Raga yang baru menghampirinya. “Iya itu emang kopinya Raga. Gapapa minum aja, saya lupa dia gak boleh ngopi dulu,” terang Ligar mengingat kehamilan Raga.

“Waduh, makasih, Pak,” tukasnya seraya mengambil kopi dari tangan Ligar. “Oh iya, suami bapak kayaknya sakit deh. Kerjanya dikit-dikit tidur, bangun cuma marahin bocah baru sampe kena mental,” lanjutnya dengan iringan tawa.

“Itu ngomelnya sampe ke saya,” bisik Ligar pada Ardian yang membuat keduanya menggelegarkan tawa.

“Dih kamu kapan nyampenya?” tanya Raga yang terbangun karena terusik oleh tawa kedua orang itu.

“Dari tadi kamu tidurㅡpelan-pelan bangunnya.” Ligar membantu Raga untuk duduk.

Mata Raga mengerjap, menyadarkan diri dari kantuknya. Tidak bisa, kantuknya begitu kuat. Raga tak mampu menghilangkan kantuknya. Dirinya memeluk lengan Ligar dan menyandarkan kepalanya di sana.

“Pap, kopi aku!” Raga langsung dalam posisi tegap mengingat dirinya menitip kopi pada Ligar. Maniknya menilik kup yang dipegang oleh Ardian bertuliskan namanya. “Anjeng itu kopi gue lo minum!” Ligar dengan segera menahan tangan Raga.

Ligar turun dari duduknya dan merendahkan sedikit badannya untuk membawa Raga dari duduknya ke gendongan punggungnya. “Kamu gak boleh minum kopi,” tutur Ligar sembari membawa Raga menjauh.

“KOPI GUE ITU!!”

“Ar, kita balik dulu ya!” pamit Ligar sebelum semakin jauh.

Tanpa diketahui Ligar, Raga digendongannya melemparkan jari tengah pada Ardian yang dengan bangga meledeknya karena tak diperbolehkan meminum kopi.


Pemandangan saat ini benar-benar langka dimata Ligar. Dirinya memasangkan safety belt pada Raga yang tengah melipat tangannya di depan dada dengan memanyunkan bibirnya. Dengan cekatan Ligar memotret sang suami dengan gawainya.

“Gak usah foto-foto gue!” lantangnya saat menyadari suara jepretan dari gawai Ligar.

Ligar menyurai rambut Raga dengan jemarinya. Dirinya jatuhkan satu kecupan di pipi menggembung Raga yang kemudian lelaki kecil itu menjauhkan pipinya.

“Pipoy, mulai sekarang stop dulu ya kopinya. Itu gak baik buat perkembangan bayi kita.” Raga merinding mendengar untaian kata 'bayi kita'. Itu sungguh asing ditelinganya, rasanya menggelikan mendengarnya. “Pipoy cintaku... Mau ya buat stop dulu?” Raga hanya berdeham membalasnya.

“Gantinya cium.” Hamil atau tidak sama saja. Raga akan mengiyakan pantangan dari Ligar asal digantikan ciuman. Ligar hanya bisa menepukkan telapak tangan di keningnya. “Cepet cium dulu!” lanjutnya meminta.

Ligar menuruti kemauan cintanya dengan mempertemukan labium keduanya. Raga melepaskan safety belt yang telah dipasangkan Ligar untuk bisa lebih mendekatkan dirinya dengan sang suami untuk memperdalam ciuman keduanya. Entah kenapa rasanya rasa senang Raga membuncah disaat berpagutan dengan Ligar. Dirinya seperti memenangkan dunia. Sata tautan keduanya lepas, Raga masih berulah kali memberikan kecupan di bibir Ligar. Bahkan saat Ligar mengemudi mobil melaju pulang, Raga menyimpan tangan kiri Ligar dalam genggamannya dengan sesekali memberinya kecupan. Raga merasa girang sendiri dengan senyumnya yang tak lepas.

cw // physical attack , fight , mention of divorce , unwanted pregnancy , harsh words

Raga tidak suka atas rasa canggung yang terjadi. Mulutnya ingin sekali meneriakkan kalimat pada pria di bangku kemudi. Dirinya mencoba meredakan luapan dalam dirinya agar tak tumpah dengan menikmati jalanan malam. Jalanan malam tak sehening suasana di dalam mobil. Raga sejenak terbuai atas indahnya malam sampai akhirnya sadar bahwa mobil Ligar tak melaju menuju rumah mereka.

Tidak peduli, Raga mencoba untuk itu. Pertanyaan dalam pikirannya tak diungkapkan. Raga biarkan dirinya dibawa entah kemana oleh Ligar. Maniknya mencuri pandang pada seorang di bangku kemudi. Rautnya nampak tenang, namun tak ada garis senyum yang terbentuk.

Memori Raga seketika memutar kejadian ributnya dengan Ligar atas hubungannya dengan Haidan kala melihat ring tinju didepannya. Saat itu dirinya mengetahui bagaimana cara Ligar meredam amarahnya dengan memukuli samsak melalui foto yang dikirim oleh Jemian, namun hari ini dirinya akan melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Raga mengambil sarung tinju dan memakainya. Dirinya naik ke atas ring mengikuti Ligar yang tengah bersiap memukuli samsak dihadapannya. “Lawan aku, aku juga pengen ninju!” ujarnya bermodal title jagoan jalanan.

Ligar menurunkan samsak dari ring sebagai bentuk persetujuan. Mulutnya enggan menjawab langsung kemauan Raga. Badan kecil Raga bukan hal yang bisa dirinya remehkan, pasalnya dirinya tahu rasa kerasnya pukulan Raga.

“Pake ini.” Ligar melempar head guard kepada Raga.

Keduanya saling beradu tinju di dalam ring. Raga kesit menghindari pukulan-pukulan Ligar. Tak ada argumen yang bersahutan, di dalam ring keduanya saling melepas emosi dengan melayangkan pukulan.

Peluh telah membasahi tubuh Ligar dan Raga. Napas keduanya mulai tak karuan. Ligar menghentikan kegiatan saling tinju keduanya melihat Raga yang hampir kehilangan tenaganya.

“Jangan ditekuk kakinya.” Ligar membenarkan kaki Raga sembari memberikan minum kepada lelaki itu.

Keduanya merebahkan badan di lantai ring. Suara napas keduanya bersahutan memenuhi arena. Rasanya lepas setelah membuat badan letih menumpahkan emosi.

“Nakal banget jadi anak susah dibilangin!” Ligar mendorong betis Raga menggunakan kakinya karena lelaki itu kembali menekuk kakinya.

“Udah nakal, tukang ribut sampe jadi zombie, bikin geng-gengan, playboy, tiba-tiba punya anak pula. Kejadian kamu tuh ada aja.” Raga terkejut mendengar penuturan itu dari mulut Ligar. “Gimana bisa kamu punya anak tapi kamu sendiri baru tahu setelah anak itu lahir? Yang aku tahu kamu itu gak pernah lepas sama apa yang jadi tanggung jawab kamu, tapi hal begitu kamu lepas tanggung jawab,” lanjutnya membuat Raga seketika bangun dari tidurnya.

“Kalo aku tau dia hamil dari awal dan bilang itu anak aku, aku gak akan lari. Kamu gak tau dia gak pernah bilang itu ke aku dan milih bilang dia hamil ke orang yang jadi suaminya sekarang, dia bilang itu anak mereka, bukan anak dia sama aku.” Raga berhenti sejenak mengatur napasnya karena bicaranya menggebu. “Aku juga sama kagetnya waktu suaminya tiba-tiba dateng ke aku marah-marah. Dia juga dateng ke aku buat kasih tahu faktanya itu anak aku, tapi dia minta aku buat biarin semua tetep kayak sebelumnya. Dia mau anakku tau bapak kandungnya itu suaminya, bukan aku. Aku juga mau dianggap!”

“Emang kamu yakin Raga yang dulu bakal mau tanggung jawab? Jangan pake sudut pandang sekarang.” Raga menukik tajam pada Ligar. “Setahu aku, Raga itu emang bertanggung jawab, tapi Raga yang dulu itu orang yang gak yakin dengan hubungan dan komitmen, pernikahan sama sekali gak terbayang buat kamu. Raga hanya tau bebas,” tambahnya yang justru menaikkan emosi Raga.

“Setahu aku, setahu aku, sok tau! Kamu selalu ngerasa tahu sama aku, tapi tiap kita ribut kerjaanmu ngilang, diajak ngobrol susah, ngulur waktu terus. Aku mau semuanya cepet selesai, gak berlarut-larut dan memperumit keadaan, tapi kamu kelihatannya sebaliknya. Kebiasaanmu kalo lagi marah itu nyebelin!” sentak Raga.

“Api ketemu api itu semakin gedein api! Kamu paham gak kenapa dia gak mau kasih tahu kamu? Kamu gak bisa menjaminkan tanggung jawab, makanya dia pilih orang yang dia anggap bisa memberikan hal-hal yang nggak bisa kamu jamin bisa kamu berikan secara maksimal, realistis.” Ligar bangkit dari tidurnya dan duduk berhadapan dengan Raga. “Buat dia, menaklukkan kamu itu susah. Ya emang beneran susah karena udah jadi karakter kamu, bukan lagi sikap yang masih mudah berubah.”

“Aku mungkin gak bisa menjaminkan tanggung jawabku langsung saat itu, tapi aku bisa. Aku bisa kasih tanggung jawabku!”

Ligar membawa Raga dalam pelukannya. Entah mengapa tangisan Raga seketika pecah kala mendapatkan pelukan. Baru kali ini Ligar mendengar tangisan Raga yang seakan berteriak. Punggung  kecil yang naik-turun dalam pelukannya menunjukkan lelaki itu melepas air mata sekaligus emosinya. Usapan telapaknya pada punggung Raga membuat lelaki itu semakin larut dalam tangisnya, namun terdengar lebih tenang dari awalnya.

“Sekarang kamu udah bisa menjaminkan tanggung jawab kamu, jadi lakuin.” Pelukan tangan Raga pada pinggang Ligar melonggar. Dirinya memundurkan sedikit tubuhnya guna leluasa menatap pria yang baru saja menyelesaikan kalimatnya.

“Kamu mau ceraiin aku?ㅡAakhh~ anjengg!” Raga mendapat jeweran ditelinganya atas pertanyaannya itu. Jeweran Ligar bukanlah main-main, rasanya mirip jeweran guru konseling sekolahnya dahulu.

“Pikiranmu kejauhan. Kamu tanggung jawab bukan berarti pisah sama aku dan menikah sama dia. Tanggung jawab sama anak kamu, dia udah punya pilihannya buat jadi pasangannya.”

Raga kembali menempatkan diri dalam pelukan Ligar. Badan keduanya yang lengket akan keringat, membuat keduanya seakan menempel. Raga puaskan mengambil kenyamanan dari pelukan Ligar. Suaminya itu memang susah ditebak tindakan dan pemikirannya.

“Kamu sayang sama aku, Pap?” Raga merasakan helaan napas Ligar. “Pertanyaan aneh.” Raga hanya mengangguk atas jawaban Ligar. Aneh memang Raga mempertanyakan pertanyaan retoris. “Kalo ke anak aku?” tambahnya bertanya.

Ligar tentu tidak bisa memberikan jawaban pasti untuk pertanyaan itu. Dirinya saja belum pernah berinteraksi jauh dengan anak itu, hanya pernah sekedar menyapa. Selain itu, hatinya masih berat untuk menerima fakta bahwa Raga memiliki anak dari mantan kekasihnya. Walaupun dirinya tahu hubungan Raga dengan mantan kekasihnya telah selesai dan kehamilan wanita itu terjadi sebelum Raga bersama dirinya, tetap saja ada rasa sakit hati dan kecewa dalam dirinya.

“Aku belum bisa jawab itu, tapi bakal aku usahain untuk sayang sama dia sama hal-nya aku ke Arsen dan kamu ke Arsen. Kamu sayang sama Arsen sebagai anak perlu waktu, kan? Aku juga sama, apalagi aku belum banyak ketemu sama Nola, anak cantik kamu,” balasnya dengan harap tak melontarkan kalimat yang menyinggung hati Raga.

Ada gelanyar aneh di benak Raga kala Ligar menyebut kalimat 'Nola, anak cantik kamu'. Bukan mengarah ke perasaan yang buruk, mungkin karena kalimat itu baru ditelinganya jadi terasa aneh.

“Suaminya dia mau Nola di rumah kita selama mereka ke Bali. Aku gak tau bakal berapa lama dan bakal beneran di rumah kita atau enggak.”

“Aku gak paham sama kalimat terakhir kamu.”

“Suaminya mau mereka liburan berdua di Bali, kemungkinan lama karena semenjak dia tau Nola bukan anak kandung mereka, dia gak lagi memperlakukan Nola sama kayak sebelumnya. Dia terus hubungin aku buat ambil Nola, beda sama Shannon yang selalu ngejauhin Nola dari aku. Bahkan beberapa kali aku ketemu Nola, anak itu gak boleh setitik pun aku sentuh, aku cuma liatin dia main sama nannynya. Kalo Shannon tau suaminya mau bawa Nola ke aku selama mereka di Bali, dia pasti marah banget,” terangnya panjang dan dirinya kembali emosional saat teringat bagaimana dia bertemu anak kandungnya sendiri.

“Mau dibantu ngobrol sama mereka?” tawar Ligar yang mendapat gelengan kepala Raga. “Kalo kedepannya mau aku bantu, bilang ya. Aku di sini sama kamu.”

“Bantu buat bocil mau ngobrol sama aku aja, dia marah banget sama aku,” tutur Raga meminta.

“Aku tadi udah bicara sama Arsen. Mungkin agak susah, tapi dia gak semarah itu sama kamu. Dia sedih dan dia masih punya rasa sakit dan takut ditinggal orang yang dia sayang. Tapi boleh aku minta satu hal kalo kamu ngobrol sama Arsen?” Raga mengangguk. “Jangan paksa atau bilang ke Arsen buat nerima Nola jadi saudaranya atau sebut dia sebagai adiknya Arsen ya. Dari pengalaman yang sudah terjadi, sewaktu aku kenalin dia sama anak-anak Maminya sebagai adik dia, Arsen justru gak suka dan susah buat dia nerimanya. Biarin dia berdamai dengan sendirinya, nerima hal itu sulit buat dia apalagi ditambah sekitarnya seakan memaksa, jadinya lebih sulit buat Arsen. Maaf ya kalo aku minta begitu.”

“Aku paham dan tahu sendiri rasanya, kamu gak perlu minta maaf dengan minta itu ke aku.”

“Makasih ya udah mau komunikasiin ini dengan baik, aku jadi tahu banyak dari sudut pandang kamu. Maaf juga ya, cintaku.” Ligar menjatuhkan kecupan di kening Raga.

“Pap, kalo marah gak usah ngilang bisa nggak?” Ligar hanya mengendikkan bahunya. “Kalo mau ngilang boleh deh, tapi bilang lagi di mana. Gak akan aku susul, aku cuma mau tau,” lanjutnya.

“Iya, cintaku. Maaf ya...”

cw // physical attack , mention of divorce , unwanted pregnancy , harsh words

Raga tidak suka atas rasa canggung yang terjadi. Mulutnya ingin sekali meneriakkan kalimat pada pria di bangku kemudi. Dirinya mencoba meredakan luapan dalam dirinya agar tak tumpah dengan menikmati jalanan malam. Jalanan malam tak sehening suasana di dalam mobil. Raga sejenak terbuai atas indahnya malam sampai akhirnya sadar bahwa mobil Ligar tak melaju menuju rumah mereka.

Tidak peduli, Raga mencoba untuk itu. Pertanyaan dalam pikirannya tak diungkapkan. Raga biarkan dirinya dibawa entah kemana oleh Ligar. Maniknya mencuri pandang pada seorang di bangku kemudi. Rautnya nampak tenang, namun tak ada garis senyum yang terbentuk.

Memori Raga seketika memutar kejadian ributnya dengan Ligar atas hubungannya dengan Haidan kala melihat ring tinju didepannya. Saat itu dirinya mengetahui bagaimana cara Ligar meredam amarahnya dengan memukuli samsak melalui foto yang dikirim oleh Jemian, namun hari ini dirinya akan melihat dengan mata kepalanya sendiri.

Raga mengambil sarung tinju dan memakainya. Dirinya naik ke atas ring mengikuti Ligar yang tengah bersiap memukuli samsak dihadapannya. “Lawan aku, aku juga pengen ninju!” ujarnya bermodal title jagoan jalanan.

Ligar menurunkan samsak dari ring sebagai bentuk persetujuan. Mulutnya enggan menjawab langsung kemauan Raga. Badan kecil Raga bukan hal yang bisa dirinya remehkan, pasalnya dirinya tahu rasa kerasnya pukulan Raga.

“Pake ini.” Ligar melempar head guard kepada Raga.

Keduanya saling beradu tinju di dalam ring. Raga kesit menghindari pukulan-pukulan Ligar. Tak ada argumen yang bersahutan, di dalam ring keduanya saling melepas emosi dengan melayangkan pukulan.

Peluh telah membasahi tubuh Ligar dan Raga. Napas keduanya mulai tak karuan. Ligar menghentikan kegiatan saling tinju keduanya melihat Raga yang hampir kehilangan tenaganya.

“Jangan ditekuk kakinya.” Ligar membenarkan kaki Raga sembari memberikan minum kepada lelaki itu.

Keduanya merebahkan badan di lantai ring. Suara napas keduanya bersahutan memenuhi arena. Rasanya lepas setelah membuat badan letih menumpahkan emosi.

“Nakal banget jadi anak susah dibilangin!” Ligar mendorong betis Raga menggunakan kakinya karena lelaki itu kembali menekuk kakinya.

“Udah nakal, tukang ribut sampe jadi zombie, bikin geng-gengan, playboy, tiba-tiba punya anak pula. Kejadian kamu tuh ada aja.” Raga terkejut mendengar penuturan itu dari mulut Ligar. “Gimana bisa kamu punya anak tapi kamu sendiri baru tahu setelah anak itu lahir? Yang aku tahu kamu itu gak pernah lepas sama apa yang jadi tanggung jawab kamu, tapi hal begitu kamu lepas tanggung jawab,” lanjutnya membuat Raga seketika bangun dari tidurnya.

“Kalo aku tau dia hamil dari awal dan bilang itu anak aku, aku gak akan lari. Kamu gak tau dia gak pernah bilang itu ke aku dan milih bilang dia hamil ke orang yang jadi suaminya sekarang, dia bilang itu anak mereka, bukan anak dia sama aku.” Raga berhenti sejenak mengatur napasnya karena bicaranya menggebu. “Aku juga sama kagetnya waktu suaminya tiba-tiba dateng ke aku marah-marah. Dia juga dateng ke aku buat kasih tahu faktanya itu anak aku, tapi dia minta aku buat biarin semua tetep kayak sebelumnya. Dia mau anakku tau bapak kandungnya itu suaminya, bukan aku. Aku juga mau dianggap!”

“Emang kamu yakin Raga yang dulu bakal mau tanggung jawab? Jangan pake sudut pandang sekarang.” Raga menukik tajam pada Ligar. “Setahu aku, Raga itu emang bertanggung jawab, tapi Raga yang dulu itu orang yang gak yakin dengan hubungan dan komitmen, pernikahan sama sekali gak terbayang buat kamu. Raga hanya tau bebas,” tambahnya yang justru menaikkan emosi Raga.

“Setahu aku, setahu aku, sok tau! Kamu selalu ngerasa tahu sama aku, tapi tiap kita ribut kerjaanmu ngilang, diajak ngobrol susah, ngulur waktu terus. Aku mau semuanya cepet selesai, gak berlarut-larut dan memperumit keadaan, tapi kamu kelihatannya sebaliknya. Kebiasaanmu kalo lagi marah itu nyebelin!” sentak Raga.

“Api ketemu api itu semakin gedein api! Kamu paham gak kenapa dia gak mau kasih tahu kamu? Kamu gak bisa menjaminkan tanggung jawab, makanya dia pilih orang yang dia anggap bisa memberikan hal-hal yang nggak bisa kamu jamin bisa kamu berikan secara maksimal, realistis.” Ligar bangkit dari tidurnya dan duduk berhadapan dengan Raga. “Buat dia, menaklukkan kamu itu susah. Ya emang beneran susah karena udah jadi karakter kamu, bukan lagi sikap yang masih mudah berubah.”

“Aku mungkin gak bisa menjaminkan tanggung jawabku langsung saat itu, tapi aku bisa. Aku bisa kasih tanggung jawabku!”

Ligar membawa Raga dalam pelukannya. Entah mengapa tangisan Raga seketika pecah kala mendapatkan pelukan. Baru kali ini Ligar mendengar tangisan Raga yang seakan berteriak. Punggung  kecil yang naik-turun dalam pelukannya menunjukkan lelaki itu melepas air mata sekaligus emosinya. Usapan telapaknya pada punggung Raga membuat lelaki itu semakin larut dalam tangisnya, namun terdengar lebih tenang dari awalnya.

“Sekarang kamu udah bisa menjaminkan tanggung jawab kamu, jadi lakuin.” Pelukan tangan Raga pada pinggang Ligar melonggar. Dirinya memundurkan sedikit tubuhnya guna leluasa menatap pria yang baru saja menyelesaikan kalimatnya.

“Kamu mau ceraiin aku?ㅡAakhh~ anjengg!” Raga mendapat jeweran ditelinganya atas pertanyaannya itu. Jeweran Ligar bukanlah main-main, rasanya mirip jeweran guru konseling sekolahnya dahulu.

“Pikiranmu kejauhan. Kamu tanggung jawab bukan berarti pisah sama aku dan menikah sama dia. Tanggung jawab sama anak kamu, dia udah punya pilihannya buat jadi pasangannya.”

Raga kembali menempatkan diri dalam pelukan Ligar. Badan keduanya yang lengket akan keringat, membuat keduanya seakan menempel. Raga puaskan mengambil kenyamanan dari pelukan Ligar. Suaminya itu memang susah ditebak tindakan dan pemikirannya.

“Kamu sayang sama aku, Pap?” Raga merasakan helaan napas Ligar. “Pertanyaan aneh.” Raga hanya mengangguk atas jawaban Ligar. Aneh memang Raga mempertanyakan pertanyaan retoris. “Kalo ke anak aku?” tambahnya bertanya.

Ligar tentu tidak bisa memberikan jawaban pasti untuk pertanyaan itu. Dirinya saja belum pernah berinteraksi jauh dengan anak itu, hanya pernah sekedar menyapa. Selain itu, hatinya masih berat untuk menerima fakta bahwa Raga memiliki anak dari mantan kekasihnya. Walaupun dirinya tahu hubungan Raga dengan mantan kekasihnya telah selesai dan kehamilan wanita itu terjadi sebelum Raga bersama dirinya, tetap saja ada rasa sakit hati dan kecewa dalam dirinya.

“Aku belum bisa jawab itu, tapi bakal aku usahain untuk sayang sama dia sama hal-nya aku ke Arsen dan kamu ke Arsen. Kamu sayang sama Arsen sebagai anak perlu waktu, kan? Aku juga sama, apalagi aku belum banyak ketemu sama Nola, anak cantik kamu,” balasnya dengan harap tak melontarkan kalimat yang menyinggung hati Raga.

Ada gelanyar aneh di benak Raga kala Ligar menyebut kalimat 'Nola, anak cantik kamu'. Bukan mengarah ke perasaan yang buruk, mungkin karena kalimat itu baru ditelinganya jadi terasa aneh.

“Suaminya dia mau Nola di rumah kita selama mereka ke Bali. Aku gak tau bakal berapa lama dan bakal beneran di rumah kita atau enggak.”

“Aku gak paham sama kalimat terakhir kamu.”

“Suaminya mau mereka liburan berdua di Bali, kemungkinan lama karena semenjak dia tau Nola bukan anak kandung mereka, dia gak lagi memperlakukan Nola sama kayak sebelumnya. Dia terus hubungin aku buat ambil Nola, beda sama Shannon yang selalu ngejauhin Nola dari aku. Bahkan beberapa kali aku ketemu Nola, anak itu gak boleh setitik pun aku sentuh, aku cuma liatin dia main sama nannynya. Kalo Shannon tau suaminya mau bawa Nola ke aku selama mereka di Bali, dia pasti marah banget,” terangnya panjang dan dirinya kembali emosional saat teringat bagaimana dia bertemu anak kandungnya sendiri.

“Mau dibantu ngobrol sama mereka?” tawar Ligar yang mendapat gelengan kepala Raga. “Kalo kedepannya mau aku bantu, bilang ya. Aku di sini sama kamu.”

“Bantu buat bocil mau ngobrol sama aku aja, dia marah banget sama aku,” tutur Raga meminta.

“Aku tadi udah bicara sama Arsen. Mungkin agak susah, tapi dia gak semarah itu sama kamu. Dia sedih dan dia masih punya rasa sakit dan takut ditinggal orang yang dia sayang. Tapi boleh aku minta satu hal kalo kamu ngobrol sama Arsen?” Raga mengangguk. “Jangan paksa atau bilang ke Arsen buat nerima Nola jadi saudaranya atau sebut dia sebagai adiknya Arsen ya. Dari pengalaman yang sudah terjadi, sewaktu aku kenalin dia sama anak-anak Maminya sebagai adik dia, Arsen justru gak suka dan susah buat dia nerimanya. Biarin dia berdamai dengan sendirinya, nerima hal itu sulit buat dia apalagi ditambah sekitarnya seakan memaksa, jadinya lebih sulit buat Arsen. Maaf ya kalo aku minta begitu.”

“Aku paham dan tahu sendiri rasanya, kamu gak perlu minta maaf dengan minta itu ke aku.”

“Makasih ya udah mau komunikasiin ini dengan baik, aku jadi tahu banyak dari sudut pandang kamu. Maaf juga ya, cintaku.” Ligar menjatuhkan kecupan di kening Raga.

“Pap, kalo marah gak usah ngilang bisa nggak?” Ligar hanya mengendikkan bahunya. “Kalo mau ngilang boleh deh, tapi bilang lagi di mana. Gak akan aku susul, aku cuma mau tau,” lanjutnya.

“Iya, cintaku. Maaf ya...”

Setiap kali menginjakkan kaki di markas Bumantara, geng motor yang didirikan oleh Pipoy dari Arsen, Lundra selalu ingin tahu lebih tentang mereka. Dirinya memiliki ketertarikan dengan motorsports, berbeda dengan sang Papa yang menyukai motor klasik. Selain itu, ada hal lain yang Lundra tak pernah lewatkan ketika berkesempatan datang ke Bumantara yaitu bertemu dengan Hito yang sering Arsen panggil Mas Anime.

Lundra berjalan beriringan dengan Raga, sedangkan Arsen berlari penuh semangat karena dirinya bisa mengendarai motor di sirkuit Bumantara. Arsen belum diperbolehkan bermotor di luar selain karena surat izinnya belum turun, kedua orangtuanya belum tega membiarkannya bermotor sendiri tanpa pengawasan.

“Mas Anime, aku pake motornya ya!” teriak Arsen pada Hito yang tengah asik berbincang dengan kekasihnya. Senyumnya merekah selepas menangkap kunci motor dari lemparan Hito. “Ayo kita balapan!” Kali ini Arsen berseru pada Lundra yang jelas mendapat penolakan.

“Gak akan aku kasih tau ke Jemian,” tukas Raga yang paham penolakan Lundra. Raga sendiri tahu anak itu ingin mencoba balapan di sirkuit, setidaknya sekali.

“Lain kali aja, Pipo. Aku udah janji sama Pipi.” Lundra ingin saja menyetujui permintaan Arsen, namun hari ini tujuan dia ikut datang ke Bumantara adalag untuk berbincang dengan Hito.

“Balapan sama Pipo aja, Cil. Lundra takut dimarahin Pipinya!” ujar Raga sembari berjalan menghampiri putranya.

“Ah lo mah cupu!” Kepalan tangan diangkat Lundra sebagai balasan dan ditanggapi dengan tawa renyah Arsen.

Dengan tidak tahu malu, Lundra bergabung dengan Hito dan sang kekasih. Decakan kesal Hito terdengar jelas di telinga Lundra dan dirinya hanya menampakkan deretan giginya menatap Hito.

“Mending sana lo balapan sama sahabat sejati lo tuh,” ujar Hito yang paham atas kedatangan Lundra.

“Gitu amat sih, yang. Duduk aja sini, dek,” sambut kekasih Hito pada Lundra. “Aku udah lama gak ketemu kamu udah makin tinggi aja. Bentar lagi kalah sih tinggi kamu, To,” lanjutnya seraya memandang Lundra dari atas ke bawah.

“Kakak, aku pinjem Mas Anime bentar ya. Ada obrolan penting,” izin Lundra pada kekasih Hito.

Hito hanya pasrah kala ditarik Lundra. Semenyebalkannya Arsen dan Lundra, dirinya tetap akan menurut pada akhirnya. Alasannya pasrah tentunya karena tidak ingin membuat keributan dan berurusan dengan orang tua keduanya. Bagi Hito, berursan dengan bapak-bapak mereka itu memusingkan, terlebih Papanya Lundra kurang suka dengan Bumantara.

“Lo mah tiap datengin gue kalo gak nanyain Arsen ya nanyain gimana pacaran itu, tapi sampe hari ini gak ada baunya lo jadian sama Arsen.” Hito langsung menembakkan poinnya. “Takut kena marah bapak lo ya?” Hito tertawa setelah melepas pertanyaannya yang tentu saja tepat sasaran.

“Aar belom 17 tahun Mas Anime, belom boleh lah pacar-pacaran.” Hito hanya mengangguk dengan senyumannya. “Aar kan suka banget sama Mas Anime, dia itu selalu bilang Mas Anime keren. Dia juga bilang aku keren, tapi buat Aar keren aku itu di bawah Mas Anime dikit.” Hito berdeham sombong mendengar penuturan Lundra.

Wajah Lundra selalu serius kala berbincang dengan Hito. Saat ini saja anak itu tengah menilik Hito yang disebut keren oleh Arsen. Raut seriusnya itu tak pernah gagal membuat Hito tertawa.

“Mas Anime gimana bisa sekeren ini?” Bocah tetap saja bocah, begitulah kalimat yang terbesit di pikiran Hito.

“Lo mau keren kayak gue?” Lundra mengangguk.

Setiap kali menginjakkan kaki di markas Bumantara, geng motor yang didirikan oleh Pipoy dari Arsen, Lundra selalu ingin tahu lebih tentang mereka. Dirinya memiliki ketertarikan dengan 3ýenuh semangat karena dirinya bisa mengendarai motor di sirkuit Bumantara. Arsen belum diperbolehkan bermotor di luar selain karena surat izinnya belum turun, kedua orangtuanya belum tega membiarkannya bermotor sendiri tanpa pengawasan.

“Mas Anime, aku pake motornya ya!” teriak Arsen pada Hito yang tengah asik berbincang dengan kekasihnya. Senyumnya merekah selepas menangkap kunci motor dari lemparan Hito. “Ayo kita balapan!” Kali ini Arsen berseru pada Lundra yang jelas mendapat penolakan.

“Gak akan aku kasih tau ke Jemian,” tukas Raga yang paham penolakan Lundra. Raga sendiri tahu anak itu ingin mencoba balapan di sirkuit, setidaknya sekali.

“Lain kali aja, Pipo. Aku udah janji sama Pipi.” Lundra ingin saja menyetujui permintaan Arsen, namun hari ini tujuan dia ikut datang ke Bumantara adalag untuk berbincang dengan Hito.

“Balapan sama Pipo aja, Cil. Lundra takut dimarahin Pipinya!” ujar Raga sembari berjalan menghampiri putranya.

“Ah lo mah cupu!” Kepalan tangan diangkat Lundra sebagai balasan dan ditanggapi dengan tawa renyah Arsen.

Dengan tidak tahu malu, Lundra bergabung dengan Hito dan sang kekasih. Decakan kesal Hito terdengar jelas di telinga Lundra dan dirinya hanya menampakkan deretan giginya menatap Hito.

“Mending sana lo balapan sama sahabat sejati lo tuh,” ujar Hito yang paham atas kedatangan Lundra.

“Gitu amat sih, yang. Duduk aja sini, dek,” sambut kekasih Hito pada Lundra. “Aku udah lama gak ketemu kamu udah makin tinggi aja. Bentar lagi kalah sih tinggi kamu, To,” lanjutnya seraya memandang Lundra dari atas ke bawah.

“Kakak, aku pinjem Mas Anime bentar ya. Ada obrolan penting,” izin Lundra pada kekasih Hito.

Hito hanya pasrah kala ditarik Lundra. Semenyebalkannya Arsen dan Lundra, dirinya tetap akan menurut pada akhirnya. Alasannya pasrah tentunya karena tidak ingin membuat keributan dan berurusan dengan orang tua keduanya. Bagi Hito, berursan dengan bapak-bapak mereka itu memusingkan, terlebih Papanya Lundra kurang suka dengan Bumantara.

“Lo mah tiap datengin gue kalo gak nanyain Arsen ya nanyain gimana pacaran itu, tapi sampe hari ini gak ada baunya lo jadian sama Arsen.” Hito langsung menembakkan poinnya. “Takut kena marah bapak lo ya?” Hito tertawa setelah melepas pertanyaannya yang tentu saja tepat sasaran.

“Aar belom 17 tahun Mas Anime, belom boleh lah pacar-pacaran.” Hito hanya mengangguk dengan senyumannya. “Aar kan suka banget sama Mas Anime, dia itu selalu bilang Mas Anime keren. Dia juga bilang aku keren, tapi buat Aar keren aku itu di bawah Mas Anime dikit.” Hito berdeham sombong mendengar penuturan Lundra.

Wajah Lundra selalu serius kala berbincang dengan Hito. Saat ini saja anak itu tengah menilik Hito yang disebut keren oleh Arsen. Raut seriusnya itu tak pernah gagal membuat Hito tertawa.

“Mas Anime gimana bisa sekeren ini?” Bocah tetap saja bocah, begitulah kalimat yang terbesit di pikiran Hito.

“Lo mau keren kayak gue?” Lundra mengangguk.

Anggota Bumantara telah riuh di sirkuit. Mereka menunggu kedatangan lawan mereka hari ini. Memang satu dari mereka yang bertanding, namun bagi mereka melawan satu dari mereka itu sama dengan melawan satu Bumantara.

Kubu pendukung lawan yang tak nampak batang hidungnya membuat anggota Bumantara bertanya-tanya perihal siapa lawan ketua mereka hari ini. Bahkan sikap Haris yang nampak santai menunggu semakin membuat yang lain ingin tahu.

Seluruh anggota Bumantara, termasuk Haris, dibuat terkejut dengan kedatangan Vasco dan gerombolannya. Yang membuat Haris terkejut bukanlah gerombolan anak mengendarai vestic berwarna-warni memasuki area sirkuit, melainkan motor yang Vasco kendarai dan seorang pria yang memboceng anak kecil menggunakan motor Vasco.

“Lawan Koko hari ini Mas Haris? OH MY GOD!” Anak kecil yang mengucap hal itu bukan lagi tak asing baginya, namun memang dia kenal.

“Arsen kenal dia?” tanya Vasco yang mendapati anggukan anak itu. “Itu Mas Haris, temen aku. Liat itu sebelahnya Mas Haris itu Pipoy aku yang aku cerita ke Koko!” Vasco dibuat menganga atas jawabannya, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Haris mendekat ke arah mereka, diikuti yang lainnya. Mata dan jemarinya menelisik motor yang dikendarai Vasco. Dirinya tak salah lihat, motor tersebut memanglah motor milik Raga yang sempat ingin dirinya pinjam untuk balapan hari ini.

“Wah main lo begini, Ga. Ini apa maksudnya lo pinjemin motor lo buat lawan kita?” tanyanya menyudutkan Raga. Yang disudutkan hanya mengendikkan bahu karena memang tak tahu-menahu.

“Apa-apaan! Ini motor suaminya Mas Ligar. Ngaco aja lo bilang motor anggota lo!” elak Vasco.

Haris tertawa lantas mendekat ke arah Vasco. Tangannya merangkul pundak kecil Vasco mengikis jarak antara keduanya. Tangan itu berusaha ditepis oleh Vasco namun dirinya sadar akan tenaganya yang masih dibawah Haris.

“Motor ini punya dia, Raga. Orang yang ditunjuk Arsen sebagai Pipoynya.” Haris menunjuk Raga yang tak jauh darinya dengan menekankan kalimat terakhirnya. “Karena dia Pipoynya Arsen, berarti lo paham kan siapa suaminya Mas Ligar yang lo sebut itu?” lanjutnya.

Vasco seketika kikuk. Rasanya malu sudah berucap lantang namun salah, terlebih orang yang disebutnya kini berhadapan dengannya. Sejenak dia ingin menghilang dari bumi untuk menuntaskan rasa malunya.

“Mas Raga, sorry I don't know you.” Ujung jarinya mendadak dingin kala mendapat pandangan Raga. “If you mind, I won't use yours,” lanjutnya.

“Pake-pake aja, menang atau kalah tergantung yang make,” balasnya terdengar ketus di telinga Vasco. “Buruan sana mulai balapan! Supporter lo ada anak gue dan banyak cewek, jangan bikin acaranya kelar malem banget karena lo berdua ribet,” tambahnya yang bermaksud memberikan lampu hijau pada Vasco untuk menggunakan motornya namun enggan menunjukkan ramah-tamahnya.

Haris dan Vasco bersiap di sirkuit. Keduanya beradu suara motor masing-masing. Jantung Vasco berpacu lebih kencang. Ini kali pertama sekaligus dia harap kali terakhirnya berada di sirkuit seperti ini.

“Motor yang lo pake itu gak punya sejarah kalah di sirkuit.” Vasco dibuat semakin gugup atas ujaran Haris.

“Gue pastiin sejarah kalah motor lo nambah satu hari ini,” sahut Vasco percaya diri.


Keduanya seri, Haris unggul di lap pertama dan Vasco di lap kedua. Lap ketiga menjadi penentuan mereka. Haris yang bermula tinggi percaya dirinya mendadak menurun setelah melihat Vasco bisa unggul darinya. Dirinya sama sekali tak ada rencana mengalah dari Vasco walaupun dirinya memiliki ketertarikan pada lelaki itu. Balapan ini tentang pride dan ganti rugi yang harus dia tebus, dirinya tak mau membayar diluar yang seharusnya.

Ambisi Haris dan Vasco untuk memenangkan balapan kali ini sama-sama tinggi. Manik penuh ambisi keduanya saling melirik tajam kala jarak keduanya tak jauh dan bersebelahan. Posisi keduanya berjarak tipis, membuat ambisi semakin mengerucut. Mendekati garis finish, keduanya serentak meninggikan kecepatan untuk lebih dulu sampai.

Pahit harus ditelan oleh Haris mengetahui Vasco lah yang mencapai garis finish terlebih dahulu. Keduanya hanya berjarak 2 detik saat mencapai finish.

Haris, I made it. Motor Mas Raga tetep gak punya sejarah kalah, tapi motor lo yang nambah 1 poin sejarah kalah,” ucap Vasco bangga.

“KOKO KEREN! Mas Haris payah kalah lawan Koko yang baru belajar,” sahut Arsen mengacungkan dua jempol kecilnya pada Vasco.

“Kamu gak dukung aku sih, Cil. Sedih aku balapan gak kamu dukung.” Haris berlaga kecewa menanggapi ucapan Arsen.

“Kalah tuh kalah aja gak usah nyalahin anak gue!” sewot Raga di belakang Haris. “Congrats buat lo! Main lo bagus.” Raga mengajukan kepalan tangannya untuk bersalaman dengan Vasco.

Thank you. I can't win this match without yours. Your motorsports and your husband,” balas Vasco dengan memperjelas kalimat terakhirnya. “Mas Ligar, thank you! You're a successful coach!” lanjutnya tak lupa mengucap pada yang mengajari dirinya.

Kala Vasco tengah asik membicarakan kemenangannya bersama rekan club motornya, Haris menarik Vasco menepi dari kerumunan mereka. Adik perempuan Haris yang merupakan bagian club motor Vasco pun spontan mengejar keduanya. “Eca gak usah ngikutin! Gue cuma mau ngobrol bentar!” peringatnya pada adiknya.

Tarikan Haris tidaklah kencang, yang membuat Vasco kesal adalah dirinya harus mengejar langkah Haris yang dua kali langkah normalnya. Vasco menepis tangannya lepas dari Haris ketika langkah lelaki itu berhenti.

What you want to talk about? I think it's obvious that I'm the winner, so you just need to keep our agreement.

“Karena lo ngelunjak, gue juga bakal lakuin hal yang sama.” Vasco menyalangkan pandangannya pada Haris. “Gue bakal bayar itu secara langsung, kita ketemu face to face, dengan gue cicil itu 8 juta,” lanjutnya yang membuat Vasco semakin menajamkan pandangannya.

You mean, we're gonna meet several times in the future? NO!

“Gue gak butuh pendapat lo, yang gue ucapin itu pernyataan. Dan satu lagi, seberapa banyak kita harus ketemu itu terserah gue.” Haris mengakhiri kalimatnya dan meninggalkan Vasco yang mengejar dirinya dengan penuh umpatan.

#Match

Anggota Bumantara telah riuh di sirkuit. Mereka menunggu kedatangan lawan mereka hari ini. Memang satu dari mereka yang bertanding, namun bagi mereka melawan satu dari mereka itu sama dengan melawan satu Bumantara.

Kubu pendukung lawan yang tak nampak batang hidungnya membuat anggota Bumantara bertanya-tanya perihal siapa lawan ketua mereka hari ini. Bahkan sikap Haris yang nampak santai menunggu semakin membuat yang lain ingin tahu.

Seluruh anggota Bumantara, termasuk Haris, dibuat terkejut dengan kedatangan Vasco dan gerombolannya. Yang membuat Haris terkejut bukanlah gerombolan anak mengendarai vestic berwarna-warni memasuki area sirkuit, melainkan motor yang Vasco kendarai dan seorang pria yang memboceng anak kecil menggunakan motor Vasco.

“Lawan Koko hari ini Mas Haris? OH MY GOD!” Anak kecil yang mengucap hal itu bukan lagi tak asing baginya, namun memang dia kenal.

“Arsen kenal dia?” tanya Vasco yang mendapati anggukan anak itu. “Itu Mas Haris, temen aku. Liat itu sebelahnya Mas Haris itu Pipoy aku yang aku cerita ke Koko!” Vasco dibuat menganga atas jawabannya, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Haris mendekat ke arah mereka, diikuti yang lainnya. Mata dan jemarinya menelisik motor yang dikendarai Vasco. Dirinya tak salah lihat, motor tersebut memanglah motor milik Raga yang sempat ingin dirinya pinjam untuk balapan hari ini.

“Wah main lo begini, Ga. Ini apa maksudnya lo pinjemin motor lo buat lawan kita?” tanyanya menyudutkan Raga. Yang disudutkan hanya mengendikkan bahu karena memang tak tahu-menahu.

“Apa-apaan! Ini motor suaminya Mas Ligar. Ngaco aja lo bilang motor anggota lo!” elak Vasco.

Haris tertawa lantas mendekat ke arah Vasco. Tangannya merangkul pundak kecil Vasco mengikis jarak antara keduanya. Tangan itu berusaha ditepis oleh Vasco namun dirinya sadar akan tenaganya yang masih dibawah Haris.

“Motor ini punya dia, Raga. Orang yang ditunjuk Arsen sebagai Pipoynya.” Haris menunjuk Raga yang tak jauh darinya dengan menekankan kalimat terakhirnya. “Karena dia Pipoynya Arsen, berarti lo paham kan siapa suaminya Mas Ligar yang lo sebut itu?” lanjutnya.

Vasco seketika kikuk. Rasanya malu sudah berucap lantang namun salah, terlebih orang yang disebutnya kini berhadapan dengannya. Sejenak dia ingin menghilang dari bumi untuk menuntaskan rasa malunya.

“Mas Raga, sorry I don't know you.” Ujung jarinya mendadak dingin kala mendapat pandangan Raga. “If you mind, I won't use yours,” lanjutnya.

“Pake-pake aja, menang atau kalah tergantung yang make,” balasnya terdengar ketus di telinga Vasco. “Buruan sana mulai balapan! Supporter lo ada anak gue dan banyak cewek, jangan bikin acaranya kelar malem banget karena lo berdua ribet,” tambahnya yang bermaksud memberikan lampu hijau pada Vasco untuk menggunakan motornya namun enggan menunjukkan ramah-tamahnya.

Haris dan Vasco bersiap di sirkuit. Keduanya beradu suara motor masing-masing. Jantung Vasco berpacu lebih kencang. Ini kali pertama sekaligus dia harap kali terakhirnya berada di sirkuit seperti ini.

“Motor yang lo pake itu gak punya sejarah kalah di sirkuit.” Vasco dibuat semakin gugup atas ujaran Haris.

“Gue pastiin sejarah kalah motor lo nambah satu hari ini,” sahut Vasco percaya diri.


Keduanya seri, Haris unggul di lap pertama dan Vasco di lap kedua. Lap ketiga menjadi penentuan mereka. Haris yang bermula tinggi percaya dirinya mendadak menurun setelah melihat Vasco bisa unggul darinya. Dirinya sama sekali tak ada rencana mengalah dari Vasco walaupun dirinya memiliki ketertarikan pada lelaki itu. Balapan ini tentang pride dan ganti rugi yang harus dia tebus, dirinya tak mau membayar diluar yang seharusnya.

Ambisi Haris dan Vasco untuk memenangkan balapan kali ini sama-sama tinggi. Manik penuh ambisi keduanya saling melirik tajam kala jarak keduanya tak jauh dan bersebelahan. Posisi keduanya berjarak tipis, membuat ambisi semakin mengerucut. Mendekati garis finish, keduanya serentak meninggikan kecepatan untuk lebih dulu sampai.

Pahit harus ditelan oleh Haris mengetahui Vasco lah yang mencapai garis finish terlebih dahulu. Keduanya hanya berjarak 2 detik saat mencapai finish.

Haris, I made it. Motor Mas Raga tetep gak punya sejarah kalah, tapi motor lo yang nambah 1 poin sejarah kalah,” ucap Vasco bangga.

“KOKO KEREN! Mas Haris payah kalah lawan Koko yang baru belajar,” sahut Arsen mengacungkan dua jempol kecilnya pada Vasco.

“Kamu gak dukung aku sih, Cil. Sedih aku balapan gak kamu dukung.” Haris berlaga kecewa menanggapi ucapan Arsen.

“Kalah tuh kalah aja gak usah nyalahin anak gue!” sewot Raga di belakang Haris. “Congrats buat lo! Main lo bagus.” Raga mengajukan kepalan tangannya untuk bersalaman dengan Vasco.

Thank you. I can't win this match without yours. Your motorsports and your husband,” balas Vasco dengan memperjelas kalimat terakhirnya. “Mas Ligar, thank you! You're a successful coach!” lanjutnya tak lupa mengucap pada yang mengajari dirinya.

Kala Vasco tengah asik membicarakan kemenangannya bersama rekan club motornya, Haris menarik Vasco menepi dari kerumunan mereka. Adik perempuan Haris yang merupakan bagian club motor Vasco pun spontan mengejar keduanya. “Eca gak usah ngikutin! Gue cuma mau ngobrol bentar!” peringatnya pada adiknya.

Tarikan Haris tidaklah kencang, yang membuat Vasco kesal adalah dirinya harus mengejar langkah Haris yang dua kali langkah normalnya. Vasco menepis tangannya lepas dari Haris ketika langkah lelaki itu berhenti.

What you want to talk about? I think it's obvious that I'm the winner, so you just need to keep our agreement.

“Karena lo ngelunjak, gue juga bakal lakuin hal yang sama.” Vasco menyalangkan pandangannya pada Haris. “Gue bakal bayar itu secara langsung, kita ketemu face to face, dengan gue cicil itu 8 juta,” lanjutnya yang membuat Vasco semakin menajamkan pandangannya.

You mean, we're gonna meet several times in the future? NO!

“Gue gak butuh pendapat lo, yang gue ucapin itu pernyataan. Dan satu lagi, seberapa banyak kita harus ketemu itu terserah gue.” Haris mengakhiri kalimatnya dan meninggalkan Vasco yang mengejar dirinya dengan penuh umpatan.

# Match

Anggota Bumantara telah riuh di sirkuit. Mereka menunggu kedatangan lawan mereka hari ini. Memang satu dari mereka yang bertanding, namun bagi mereka melawan satu dari mereka itu sama dengan melawan satu Bumantara.

Kubu pendukung lawan yang tak nampak batang hidungnya membuat anggota Bumantara bertanya-tanya perihal siapa lawan ketua mereka hari ini. Bahkan sikap Haris yang nampak santai menunggu semakin membuat yang lain ingin tahu.

Seluruh anggota Bumantara, termasuk Haris, dibuat terkejut dengan kedatangan Vasco dan gerombolannya. Yang membuat Haris terkejut bukanlah gerombolan anak mengendarai vestic berwarna-warni memasuki area sirkuit, melainkan motor yang Vasco kendarai dan seorang pria yang memboceng anak kecil menggunakan motor Vasco.

“Lawan Koko hari ini Mas Haris? OH MY GOD!” Anak kecil yang mengucap hal itu bukan lagi tak asing baginya, namun memang dia kenal.

“Arsen kenal dia?” tanya Vasco yang mendapati anggukan anak itu. “Itu Mas Haris, temen aku. Liat itu sebelahnya Mas Haris itu Pipoy aku yang aku cerita ke Koko!” Vasco dibuat menganga atas jawabannya, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Haris mendekat ke arah mereka, diikuti yang lainnya. Mata dan jemarinya menelisik motor yang dikendarai Vasco. Dirinya tak salah lihat, motor tersebut memanglah motor milik Raga yang sempat ingin dirinya pinjam untuk balapan hari ini.

“Wah main lo begini, Ga. Ini apa maksudnya lo pinjemin motor lo buat lawan kita?” tanyanya menyudutkan Raga. Yang disudutkan hanya mengendikkan bahu karena memang tak tahu-menahu.

“Apa-apaan! Ini motor suaminya Mas Ligar. Ngaco aja lo bilang motor anggota lo!” elak Vasco.

Haris tertawa lantas mendekat ke arah Vasco. Tangannya merangkul pundak kecil Vasco mengikis jarak antara keduanya. Tangan itu berusaha ditepis oleh Vasco namun dirinya sadar akan tenaganya yang masih dibawah Haris.

“Motor ini punya dia, Raga. Orang yang ditunjuk Arsen sebagai Pipoynya.” Haris menunjuk Raga yang tak jauh darinya dengan menekankan kalimat terakhirnya. “Karena dia Pipoynya Arsen, berarti lo paham kan siapa suaminya Mas Ligar yang lo sebut itu?” lanjutnya.

Vasco seketika kikuk. Rasanya malu sudah berucap lantang namun salah, terlebih orang yang disebutnya kini berhadapan dengannya. Sejenak dia ingin menghilang dari bumi untuk menuntaskan rasa malunya.

“Mas Raga, sorry I don't know you.” Ujung jarinya mendadak dingin kala mendapat pandangan Raga. “If you mind, I won't use yours,” lanjutnya.

“Pake-pake aja, menang atau kalah tergantung yang make,” balasnya terdengar ketus di telinga Vasco. “Buruan sana mulai balapan! Supporter lo ada anak gue dan banyak cewek, jangan bikin acaranya kelar malem banget karena lo berdua ribet,” tambahnya yang bermaksud memberikan lampu hijau pada Vasco untuk menggunakan motornya namun enggan menunjukkan ramah-tamahnya.

Haris dan Vasco bersiap di sirkuit. Keduanya beradu suara motor masing-masing. Jantung Vasco berpacu lebih kencang. Ini kali pertama sekaligus dia harap kali terakhirnya berada di sirkuit seperti ini.

“Motor yang lo pake itu gak punya sejarah kalah di sirkuit.” Vasco dibuat semakin gugup atas ujaran Haris.

“Gue pastiin sejarah kalah motor lo nambah satu hari ini,” sahut Vasco percaya diri.


Keduanya seri, Haris unggul di lap pertama dan Vasco di lap kedua. Lap ketiga menjadi penentuan mereka. Haris yang bermula tinggi percaya dirinya mendadak menurun setelah melihat Vasco bisa unggul darinya. Dirinya sama sekali tak ada rencana mengalah dari Vasco walaupun dirinya memiliki ketertarikan pada lelaki itu. Balapan ini tentang pride dan ganti rugi yang harus dia tebus, dirinya tak mau membayar diluar yang seharusnya.

Ambisi Haris dan Vasco untuk memenangkan balapan kali ini sama-sama tinggi. Manik penuh ambisi keduanya saling melirik tajam kala jarak keduanya tak jauh dan bersebelahan. Posisi keduanya berjarak tipis, membuat ambisi semakin mengerucut. Mendekati garis finish, keduanya serentak meninggikan kecepatan untuk lebih dulu sampai.

Pahit harus ditelan oleh Haris mengetahui Vasco lah yang mencapai garis finish terlebih dahulu. Keduanya hanya berjarak 2 detik saat mencapai finish.

Haris, I made it. Motor Mas Raga tetep gak punya sejarah kalah, tapi motor lo yang nambah 1 poin sejarah kalah,” ucap Vasco bangga.

“KOKO KEREN! Mas Haris payah kalah lawan Koko yang baru belajar,” sahut Arsen mengacungkan dua jempol kecilnya pada Vasco.

“Kamu gak dukung aku sih, Cil. Sedih aku balapan gak kamu dukung.” Haris berlaga kecewa menanggapi ucapan Arsen.

“Kalah tuh kalah aja gak usah nyalahin anak gue!” sewot Raga di belakang Haris. “Congrats buat lo! Main lo bagus.” Raga mengajukan kepalan tangannya untuk bersalaman dengan Vasco.

Thank you. I can't win this match without yours. Your motorsports and your husband,” balas Vasco dengan memperjelas kalimat terakhirnya. “Mas Ligar, thank you! You're a successful coach!” lanjutnya tak lupa mengucap pada yang mengajari dirinya.

Kala Vasco tengah asik membicarakan kemenangannya bersama rekan club motornya, Haris menarik Vasco menepi dari kerumunan mereka. Adik perempuan Haris yang merupakan bagian club motor Vasco pun spontan mengejar keduanya. “Eca gak usah ngikutin! Gue cuma mau ngobrol bentar!” peringatnya pada adiknya.

Tarikan Haris tidaklah kencang, yang membuat Vasco kesal adalah dirinya harus mengejar langkah Haris yang dua kali langkah normalnya. Vasco menepis tangannya lepas dari Haris ketika langkah lelaki itu berhenti.

What you want to talk about? I think it's obvious that I'm the winner, so you just need to keep our agreement.

“Karena lo ngelunjak, gue juga bakal lakuin hal yang sama.” Vasco menyalangkan pandangannya pada Haris. “Gue bakal bayar itu secara langsung, kita ketemu face to face, dengan gue cicil itu 8 juta,” lanjutnya yang membuat Vasco semakin menajamkan pandangannya.

You mean, we're gonna meet several times in the future? NO!

“Gue gak butuh pendapat lo, yang gue ucapin itu pernyataan. Dan satu lagi, seberapa banyak kita harus ketemu itu terserah gue.” Haris mengakhiri kalimatnya dan meninggalkan Vasco yang mengejar dirinya dengan penuh umpatan.

cw // alcohol , drunk , kiss

Satu hal yang baru diketahui Ligar, toleransi alkohol Raga faktanya tidak setinggi yang dia kira. Di gelas ketiga, lelaki itu mulai diambang kesadarannya. Beruntungnya, hari ini Raga minum ditemani oleh dirinya, Ligar dapat melihat dan memantau sendiri suaminya yang tengah terbang kesadarannya.

“Pap...” Raga bergelayut memeluk lengan Ligar meminta sebuah ciuman.

Bibir tipis yang sedari tadi memohon pada Ligar, kini dirinya pertemukan dengan bibirnya. Tindakannya menghadirkan senyuman puas Raga di tengah pagutan. Ditariknya dagu Raga yang membuat pagutan keduanya lebih intens. Raga beberapa kali mengulang ciuman keduanya dengan selingan kecupan-kecupan ringan.

“Gue udah lama banget gak drunk kiss kayak gini, sensasinya lebih mantep,” lanturnya yang seketika mengundang pertanyaan di kepala Ligar.

Dalam pikiran Ligar terputar beberapa nama yang mungkin dicium oleh Raga ketika lelaki itu sedang mabuk. Bahaya. Tidak akan ada lagi izin mabuk untuk Raga, terkecuali jika mabuknya itu bersamanya. “Jangan sampe Mas Tono pernah dia cium juga,” gumamnya lalu menepis pemikirannya itu.

“Biasa aja liat orangnya.” Ligar mengembalikan arah kepala Raga ke depan, lelaki itu memperhatikan seorang wanita hingga kepalanya berputar mengikuti arah wanita tersebut. “Tuh udah ada yang punya. Yang punya kamu tuh di sini, liat-liat yang lain aja matanya,” peringat Ligar.

Bukannya menurut, Raga justru lanjut menggoda Ligar dengan enggan mendengarkan peringatannya. Lelaki itu kembali memandangi wanita tadi yang kini tengah bersama seorang lelaki. Dirinya tampakkan pandangan kagum dan senyum penuh puja yang semakin membakar Ligar.

“Duda posesif,” ucapnya melirik sang suami yang kini tengah merangkulnya dengan telapak yang menutupi arah pandang Raga pada wanita tersebut. “Buset iya, suamiku, udah lepas duda,” ralatnya setelah menyadari lirikan Ligar.

“Tenang aja, Pak. Hati, Jiwa, Raga, Satria, semua punya lo nih.” Raga yang mengucap dengan nada tinggi itu seketika didekap Ligar dengan mulutnya yang ditutup oleh telapak sang pria. Usilnya Raga semakin menjadi ketika dirinya dalam pengaruh alkohol. “Apa lo liat-liat sini.” Telapak Ligar berhasil ditahan Raga agar tidak menutup mulutnya. “Sorry ya, dia udah gak duda. Dia hot daddy gue. Bener, kan, sayangku? Cheers dulu dong, daddy.” Raga mengeluqrkan kedipan matanya untuk Ligar.