Raga dan Kopi

Ligar menempatkan kepala Raga pada pahanya. Gerakan Ligar mengusik tidur Raga, membuat lelaki itu mengulat mencari posisi nyamannya. Kacamata Raga dia lepas agar tak mengganggu tidurnya. Telapaknya bergerak halus memberikan usapan pada kepala Raga.

“Lah udah tidur lagi. Gue pikir udah balik,” celetuk asisten Raga kala mendapati Raga yang tengah tidur berbantal paha sang suami.

“Ar, mau kopi?” tawarnya pada Ardian, asisten Raga yang baru menghampirinya. “Iya itu emang kopinya Raga. Gapapa minum aja, saya lupa dia gak boleh ngopi dulu,” terang Ligar mengingat kehamilan Raga.

“Waduh, makasih, Pak,” tukasnya seraya mengambil kopi dari tangan Ligar. “Oh iya, suami bapak kayaknya sakit deh. Kerjanya dikit-dikit tidur, bangun cuma marahin bocah baru sampe kena mental,” lanjutnya dengan iringan tawa.

“Itu ngomelnya sampe ke saya,” bisik Ligar pada Ardian yang membuat keduanya menggelegarkan tawa.

“Dih kamu kapan nyampenya?” tanya Raga yang terbangun karena terusik oleh tawa kedua orang itu.

“Dari tadi kamu tidurㅡpelan-pelan bangunnya.” Ligar membantu Raga untuk duduk.

Mata Raga mengerjap, menyadarkan diri dari kantuknya. Tidak bisa, kantuknya begitu kuat. Raga tak mampu menghilangkan kantuknya. Dirinya memeluk lengan Ligar dan menyandarkan kepalanya di sana.

“Pap, kopi aku!” Raga langsung dalam posisi tegap mengingat dirinya menitip kopi pada Ligar. Maniknya menilik kup yang dipegang oleh Ardian bertuliskan namanya. “Anjeng itu kopi gue lo minum!” Ligar dengan segera menahan tangan Raga.

Ligar turun dari duduknya dan merendahkan sedikit badannya untuk membawa Raga dari duduknya ke gendongan punggungnya. “Kamu gak boleh minum kopi,” tutur Ligar sembari membawa Raga menjauh.

“KOPI GUE ITU!!”

“Ar, kita balik dulu ya!” pamit Ligar sebelum semakin jauh.

Tanpa diketahui Ligar, Raga digendongannya melemparkan jari tengah pada Ardian yang dengan bangga meledeknya karena tak diperbolehkan meminum kopi.


Pemandangan saat ini benar-benar langka dimata Ligar. Dirinya memasangkan safety belt pada Raga yang tengah melipat tangannya di depan dada dengan memanyunkan bibirnya. Dengan cekatan Ligar memotret sang suami dengan gawainya.

“Gak usah foto-foto gue!” lantangnya saat menyadari suara jepretan dari gawai Ligar.

Ligar menyurai rambut Raga dengan jemarinya. Dirinya jatuhkan satu kecupan di pipi menggembung Raga yang kemudian lelaki kecil itu menjauhkan pipinya.

“Pipoy, mulai sekarang stop dulu ya kopinya. Itu gak baik buat perkembangan bayi kita.” Raga merinding mendengar untaian kata 'bayi kita'. Itu sungguh asing ditelinganya, rasanya menggelikan mendengarnya. “Pipoy cintaku... Mau ya buat stop dulu?” Raga hanya berdeham membalasnya.

“Gantinya cium.” Hamil atau tidak sama saja. Raga akan mengiyakan pantangan dari Ligar asal digantikan ciuman. Ligar hanya bisa menepukkan telapak tangan di keningnya. “Cepet cium dulu!” lanjutnya meminta.

Ligar menuruti kemauan cintanya dengan mempertemukan labium keduanya. Raga melepaskan safety belt yang telah dipasangkan Ligar untuk bisa lebih mendekatkan dirinya dengan sang suami untuk memperdalam ciuman keduanya. Entah kenapa rasanya rasa senang Raga membuncah disaat berpagutan dengan Ligar. Dirinya seperti memenangkan dunia. Sata tautan keduanya lepas, Raga masih berulah kali memberikan kecupan di bibir Ligar. Bahkan saat Ligar mengemudi mobil melaju pulang, Raga menyimpan tangan kiri Ligar dalam genggamannya dengan sesekali memberinya kecupan. Raga merasa girang sendiri dengan senyumnya yang tak lepas.