Cheers

cw // alcohol , drunk , kiss

Satu hal yang baru diketahui Ligar, toleransi alkohol Raga faktanya tidak setinggi yang dia kira. Di gelas ketiga, lelaki itu mulai diambang kesadarannya. Beruntungnya, hari ini Raga minum ditemani oleh dirinya, Ligar dapat melihat dan memantau sendiri suaminya yang tengah terbang kesadarannya.

“Pap...” Raga bergelayut memeluk lengan Ligar meminta sebuah ciuman.

Bibir tipis yang sedari tadi memohon pada Ligar, kini dirinya pertemukan dengan bibirnya. Tindakannya menghadirkan senyuman puas Raga di tengah pagutan. Ditariknya dagu Raga yang membuat pagutan keduanya lebih intens. Raga beberapa kali mengulang ciuman keduanya dengan selingan kecupan-kecupan ringan.

“Gue udah lama banget gak drunk kiss kayak gini, sensasinya lebih mantep,” lanturnya yang seketika mengundang pertanyaan di kepala Ligar.

Dalam pikiran Ligar terputar beberapa nama yang mungkin dicium oleh Raga ketika lelaki itu sedang mabuk. Bahaya. Tidak akan ada lagi izin mabuk untuk Raga, terkecuali jika mabuknya itu bersamanya. “Jangan sampe Mas Tono pernah dia cium juga,” gumamnya lalu menepis pemikirannya itu.

“Biasa aja liat orangnya.” Ligar mengembalikan arah kepala Raga ke depan, lelaki itu memperhatikan seorang wanita hingga kepalanya berputar mengikuti arah wanita tersebut. “Tuh udah ada yang punya. Yang punya kamu tuh di sini, liat-liat yang lain aja matanya,” peringat Ligar.

Bukannya menurut, Raga justru lanjut menggoda Ligar dengan enggan mendengarkan peringatannya. Lelaki itu kembali memandangi wanita tadi yang kini tengah bersama seorang lelaki. Dirinya tampakkan pandangan kagum dan senyum penuh puja yang semakin membakar Ligar.

“Duda posesif,” ucapnya melirik sang suami yang kini tengah merangkulnya dengan telapak yang menutupi arah pandang Raga pada wanita tersebut. “Buset iya, suamiku, udah lepas duda,” ralatnya setelah menyadari lirikan Ligar.

“Tenang aja, Pak. Hati, Jiwa, Raga, Satria, semua punya lo nih.” Raga yang mengucap dengan nada tinggi itu seketika didekap Ligar dengan mulutnya yang ditutup oleh telapak sang pria. Usilnya Raga semakin menjadi ketika dirinya dalam pengaruh alkohol. “Apa lo liat-liat sini.” Telapak Ligar berhasil ditahan Raga agar tidak menutup mulutnya. “Sorry ya, dia udah gak duda. Dia hot daddy gue. Bener, kan, sayangku? Cheers dulu dong, daddy.” Raga mengeluqrkan kedipan matanya untuk Ligar.