Sejenak di Bumantara
Setiap kali menginjakkan kaki di markas Bumantara, geng motor yang didirikan oleh Pipoy dari Arsen, Lundra selalu ingin tahu lebih tentang mereka. Dirinya memiliki ketertarikan dengan 3ýenuh semangat karena dirinya bisa mengendarai motor di sirkuit Bumantara. Arsen belum diperbolehkan bermotor di luar selain karena surat izinnya belum turun, kedua orangtuanya belum tega membiarkannya bermotor sendiri tanpa pengawasan.
“Mas Anime, aku pake motornya ya!” teriak Arsen pada Hito yang tengah asik berbincang dengan kekasihnya. Senyumnya merekah selepas menangkap kunci motor dari lemparan Hito. “Ayo kita balapan!” Kali ini Arsen berseru pada Lundra yang jelas mendapat penolakan.
“Gak akan aku kasih tau ke Jemian,” tukas Raga yang paham penolakan Lundra. Raga sendiri tahu anak itu ingin mencoba balapan di sirkuit, setidaknya sekali.
“Lain kali aja, Pipo. Aku udah janji sama Pipi.” Lundra ingin saja menyetujui permintaan Arsen, namun hari ini tujuan dia ikut datang ke Bumantara adalag untuk berbincang dengan Hito.
“Balapan sama Pipo aja, Cil. Lundra takut dimarahin Pipinya!” ujar Raga sembari berjalan menghampiri putranya.
“Ah lo mah cupu!” Kepalan tangan diangkat Lundra sebagai balasan dan ditanggapi dengan tawa renyah Arsen.
Dengan tidak tahu malu, Lundra bergabung dengan Hito dan sang kekasih. Decakan kesal Hito terdengar jelas di telinga Lundra dan dirinya hanya menampakkan deretan giginya menatap Hito.
“Mending sana lo balapan sama sahabat sejati lo tuh,” ujar Hito yang paham atas kedatangan Lundra.
“Gitu amat sih, yang. Duduk aja sini, dek,” sambut kekasih Hito pada Lundra. “Aku udah lama gak ketemu kamu udah makin tinggi aja. Bentar lagi kalah sih tinggi kamu, To,” lanjutnya seraya memandang Lundra dari atas ke bawah.
“Kakak, aku pinjem Mas Anime bentar ya. Ada obrolan penting,” izin Lundra pada kekasih Hito.
Hito hanya pasrah kala ditarik Lundra. Semenyebalkannya Arsen dan Lundra, dirinya tetap akan menurut pada akhirnya. Alasannya pasrah tentunya karena tidak ingin membuat keributan dan berurusan dengan orang tua keduanya. Bagi Hito, berursan dengan bapak-bapak mereka itu memusingkan, terlebih Papanya Lundra kurang suka dengan Bumantara.
“Lo mah tiap datengin gue kalo gak nanyain Arsen ya nanyain gimana pacaran itu, tapi sampe hari ini gak ada baunya lo jadian sama Arsen.” Hito langsung menembakkan poinnya. “Takut kena marah bapak lo ya?” Hito tertawa setelah melepas pertanyaannya yang tentu saja tepat sasaran.
“Aar belom 17 tahun Mas Anime, belom boleh lah pacar-pacaran.” Hito hanya mengangguk dengan senyumannya. “Aar kan suka banget sama Mas Anime, dia itu selalu bilang Mas Anime keren. Dia juga bilang aku keren, tapi buat Aar keren aku itu di bawah Mas Anime dikit.” Hito berdeham sombong mendengar penuturan Lundra.
Wajah Lundra selalu serius kala berbincang dengan Hito. Saat ini saja anak itu tengah menilik Hito yang disebut keren oleh Arsen. Raut seriusnya itu tak pernah gagal membuat Hito tertawa.
“Mas Anime gimana bisa sekeren ini?” Bocah tetap saja bocah, begitulah kalimat yang terbesit di pikiran Hito.
“Lo mau keren kayak gue?” Lundra mengangguk.