lostduskworld

Di tengah persiapan makan malam, Cielo kembali menawarkan kepada Acacio dan Alicio untuk berbincang dengan Elazar melalui panggilan video. Cielo berani menawarkan hal tersebut karena adanya persetujuan Ruelle dan si kembar yang mengenali Elazar. Dirinya bersyukur bahwa Ruelle tetap mengenalkan Elazar sebagai ayah mereka dan dirinya sebagai sang kakak. 

Papaps is okay if we have a video call with Ayah. Don’t you want to let Ayah knows what you have done today? Ayah in his break time right now,” tawar Cielo.

Ayah is fine to talk with us, Kakak Iel? We never meet Ayah even just say hi on call,” ragu Acacio diikuti anggukan Alicio yang memiliki keraguan yang sama.

Of course. Ayah wants to know you, twins. You can have a call if you want to. Papaps is sorry for taking you away from Ayah. Let Ayah get to know you well,” sahut Ruelle dari kitchen bar.

Jelas terbesit rasa bersalah dalam diri Ruelle karena tidak mempertemukan mereka lebih awal. Akan tetapi yang dilakukannya bukanlah semata-mata untuk memenuhi egonya, keputusan yang diambilnya melalui banyak pertimbangan. Ruelle sangat berterima kasih terhadap Cielo karena tanpa ketukan pesan singkatnya, entah berapa tahun lagi Ruelle bisa meyakinkan dirinya untuk melangkah menggapai tangan putra sulungnya bahkan mempertemukannya dengan si kembar.

We will never leave you, Papaps,” balas Alicio.

Just have a call with Ayah!” sahut Ruelle sebelum berlalu kembali sibuk dengan agenda memasaknya.

Cielo tidak kuasa menahan tawanya melihat Acacio dan Alicio yang memeluk erat lengannya di kanan dan kiri. Ketika wajah Elazar muncul di layar, kedua anak itu spontan bersamaan menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Cielo.

Ayah is fine to see us, Kakak Iel?” “Ayah not mad?

Marah? Sejauh apa yang mereka pikirkan sampai Elazar akan marah hanya karena panggilan video ini. Cielo sudah dibuat tertawa melihat tingkah si kembar dan kini di tambah sang Ayah yang nampak membeku di seberang sana. Memang jahilnya Cielo tidak memberi tahu terlebih dahulu bahwa akan menelponnya bersama si kembar.

“Kamu jangan iseng, Cielo,” tutur Elazar yang panik melihat si kembar yang nampak takut hingga bersembunyi dibalik badan Cielo. “Ayah matikan ini ya, Cielo.”

“Ayah gak mau ngobrol sama mereka? Papaps bolehin kok,” tahan Cielo melihat Elazar yang menutup videonya. “Nyalain kameranya gapapa, Ayah.”

“Ai dan Io mau bicara dengan Ayah? Ayah tidak akan matikan video call-nya kalau kalian bersedia,” tanya Elazar memastikan. Dirinya tak mau anak-anaknya justru takut padanya walaupun dirinya sangat ingin berbincang.

Perlahan Acacio dan Alicio muncul dari balik badan Cielo. Keduanya menyapa Elazar dengan senyuman canggung. Matanya tak berkedip menatap Elazar di sana. Mereka memperhatikan perbedaan muka sang Ayah yang sebelumnya hanya mereka tahu melalui foto-foto lama yang disimpan oleh Ruelle.

“Halo, Ai dan Io. Kabar kalian bagaimana? Maaf ya Ayah baru menyapa kalian dari sini,” sapa Elazar yang bingung mengeluarkan kalimat seperti apa untuk berbincang dengan si kembar. 

We are good, Ayah. We can understand it, kita bukan anak nakal,” balas Alicio.

“Iya, Ayah. We knows kok kalau divorced-parents itu tidak mudah bertemu lagi, even we as your childern want to. Tapi sedih sekali harus menunggu lama. I miss you so so so so much, Ayah…” timpal Acacio.

Ruelle sungguh berusaha sebaik mungkin selama ini untuk menjelaskan kondisi dirinya dan Elazar kepada si kembar. Dirinya tak ingin kata ‘perpisahan’ yang selalu diingat oleh si kembar atas orangtuanya. Oleh karena itu, dirinya mengimbangi dengan berbagi kisah indah dirinya dan Elazar pada mereka. Semua itu jelas sulit, terlebih menjelaskan bahwa hadirnya mereka karena cinta kedua orangtuanya. Keduanya sering menampik hal itu setelah beranjak remaja dan mengetahui fakta perpisahan orangtua mereka adalah saat keduanya masih sebesar biji di dalam perut sang Papa.

Ayah don’t say sorry to us. Io and I should apologize to you. We made you divorced and Kakak Iel lose his parents. Kalau tidak ada aku dan Io, it wouldn’t have happened.

Kaki Ruelle lemas mendengar ucapan itu. Dirinya duduk memeluk kakinya bersembunyi dibalik kitchen bar, tak kuasa melangkah menghampiri ketiga anaknya. Sama hal nya dengan Elazar, pria itu nampak sejenak mematung mendengarnya. Tangannya mengisyaratkan elakan atas pernyataan si kembar. Dirinya sunggung tak mengira bahwa pemikiran si kembar sampai ke sana.

“Dede… itu bukan salah kalian. Ayah seharusnya bisa lebih baik menjaga kalian, Ayah minta maaf untuk Dede dan Kakak Iel. Maaf Ayah dan Papa memilih untuk berpisah. Itu adalah kesalahan fatal Ayah yang tidak bijak menjadi kepala keluarga. Ayah minta maaf ya…” Rasanya sungguh menyakitkan mengatakan hal seperti ini terhadap anak-anaknya. “Dede… Boleh Ayah minta kesempatan untuk dekat dengan Dede? Menjadi Ayah yang selalu ada untuk Dede, boleh?” lanjutnya meminta.

Elazar sangat mengharapkan kesempatan dari si kembar, anak yang baru dirinya ketahui saat mereka mulai menginjak masa remajanya. Marah pada Ruelle pun tak mampu karena dirinya tahu alasan Ruelle menutupinya. Ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaiki pun tak bisa, yang bisa dirinya lakukan adalah menghadapi buah dari perbuatan lamanya. Dirinya sudah gagal menjadi suami untuk Ruelle dan tak mau gagal juga menjadi Ayah untuk anak-anaknya.

“Dede itu siapa?” “Aku dan Io?”

Tawa Cielo pecah mendengar pertanyaan si kembar yang alih-alih menanggapi permintaan sang Ayah. Ruelle yang menangis di balik kitchen bar pun ikut terkekeh mendengarnya, sedangkan Elazar menunjukkan raut kikuk.

“Iya, maksud Ayah itu panggil Adek. Tidak suka ya dipanggil Dede?” Elazar menggaruk tengkuknya yang tak gatal.

No… Ayah, we justㅡuhmm sedikit bingung tadi Ayah memanggil siapa. Io suka kok Ayah, itu… Okay,” balas Acacio yang kemudian menoleh pada Alicio seolah meminta bantuan untuk menjelaskan. “Aku dan Io suka kok Ayah, panggil kita Dede is okay,” timpal Alicio.

“Terima kasih, ya, Dede.” Elazar mengulas senyumnya. “Lalu permintaan Ayah tadiㅡ”

“BOLEH AYAH!!” sahut keduanya serentak. Elazar sungguh tak dapat menahan senyumannya. 

“Kamu harusnya jawab pertanyaan Ayah dulu!” Alicio menyikut Acacio disampingnya. “Hish! Kamu juga ikut-ikut!”

“Jangan bertengkar ya, Dede,” peringat Elazar di seberang.

“Ayah janji selalu jadi Ayah kita, ya! Ayahnya aku, Ai, dan Kakak Iel.” Cielo ditarik Acacio untuk muncul di kamera. “Tuh janji, Yah!” timpal Cielo yang ikut bergabung.

“Ayah janji.” Elazar mengangkat jari kelingkingnya sebagai bentuk janji.

“Janji juga bersama Papa?”

Mati. Pertanyaan mematikan itu terucap lantang untuk Elazar. Pria itu hanya bisa menunjukkan senyumannya tanpa sepatah kata pun.

Cielo bukan lagi seorang anak-anak. Dirinya sudah tumbuh menjadi dewasa. Selain itu, dirinya juga bukanlah putra semata wayang Elazar dan Ruelle, ada si kembar yang merupakan adiknyaㅡyang baru diketahuinya di usianya yang menginjak 20 tahun.

Disaat Cielo mengetahui kabar kolapsnya perusahaan sang Ayah, disitulah dirinya menyadari mengapa akhir-akhir ini Ayahnya begitu sibuk, pun Papanya yang biasanya mudah dirinya temui di rumah menjadi sama sibuknya seperti sang Ayah. Dirinya pikir semua itu tidak akan memakan waktu lama, namun sudah hampir satu tahun dia perhatikan perusahaan sang Ayah justru semakin menurun. Bahkan dirinya mengetahui keterlambatan pembayaran sekolah adik-adiknya dan kuliahnya sendiri dimana sebelumnya itu tidak pernah terjadi.

Aneh jika hal itu tidak menyita pikirannya. Dirinya merasa tidak pantas dengan kondisinya yang sudah bisa memahami keadaan orang tuanya dan mampu mencari uang sendiri tidak turut membantu. Pasti tidak diperkenankan jika dirinya terang-terangan menunjukkan bantuannya, karena itulah dirinya melakukan semuanya diam-diam biarpun terkena amarah sang Ayah karena mengesampingkan kuliahnya karena pekerjaan.

Mulai dari finansial keluarga, kuliah, pekerjaan, dan keinginannya untuk bisa menghidupi kedua adiknya itu semua ada dalam pikirannya. Dia memikirkan itu semua di waktu yang bersamaan hingga berakhir dirinya tidak mampu menemukan solusi. Pikirannya tidak kuat menampung semuanya.

Sebuah pelukan erat diterima oleh Cielo. Pelukan itu sukses menumpahkan tangisan Cielo. Usapan hangat Elazar memang tak pernah gagal untuk menumpahkan tangisannya.

“Cielo, maaf ya Ayah sudah buat kita di kondisi seperti ini. Ayah sangat berterima kasih atas pengertian Cielo untuk keluarga kecil kita. Kakak Cielo hebat sekali.” Elazar jatuhkan kecupan di kepala putra sulungnya itu.

“Ayah paham kalau Cielo sayang dengan kita semua, tapi Ayah sedih kalau melihat Cielo seperti ini. Cielo tidak perlu lakukan apa yang menjadi tanggung jawab Ayah dan Papa. Cielo memang hebat, tapi bukan berarti semua bisa ditangani oleh Cielo, bukannya Cielo pernah ingatkan Ayah akan hal semacam itu? Jadi Ayah minta tolong untuk Cielo sudahi semua ini ya? Cielo fokus saja dengan kuliah dan job menyanyi dengan jadwal selayaknya, tidak perlu ikut campur hal yang menjadi tanggungan Ayah dan Papa. Perlu Cielo tahu, dengan Cielo tetap di sini sama Ayah dan Papa itu sudah sangat membantu.” Cielo mengeratkan pelukannya pada Elazar.

“Ayah kalo capek cerita ya sama aku, aku bakal peluk Ayah begini,” tutur Cielo dengan sesenggukan.

“Gak dulu, lebih suka dipeluk suamiku,” balas Elazar yang langsung mendapat cubitan Ruelle di sampingnya.

“Kakak Iel, tolong istirahat dulu ya belajarnya. Papa mohon sekali. Kalau Kakak sakit nanti jadi makin kacau semuanya. Sebelum sayang sama keluarga, sayangi dulu diri sendiri, masa dirinya sendiri dibikin sakit.” Ruelle usap air mata Cielo yang membasahi pipi merahnya.

“Mau bobo dipeluk Ayah boleh, ya?” pintanya yang justru mendapat seruan dari Ruelle dan si kembar yang baru melangkahkan kaki di kamar Cielo.

“Stop rebutin Ayah, Ayah tau kok kalo Ayah itu ganteng.” Ucapan Elazar itu seketika mendapat tatapan sinis dari keempat kesayangannya. “Ih serem banget Ayah dilihatin begitu. Hari ini kita tidur sama-sama di kamar Ayah dan Papa, ok?”

“Yang sampe duluan di kamar Ayah bobonya dipeluk Ayah!” Seruan Cielo spontan menggerakkan kaki Acacico, Alicio, bahkan Ruelle sekalipun untuk berlari ke kamar utama. Elazar yang melihatnya menggelengkan kepalanya heran.

cw // unwanted baby , violence

Eros pandangi bahagianya orangtua Aru menyambut sulungnya beserta suaminya. Hangat sekali melihatnya. Dirinya tetap duduk bersama genggaman tangan Aru, tak menampik keduanya tengah sama gugupnya. Ketika Aru dibawa dalam pelukan Papinya, dirinya lemparkan senyumnya yang jelas tak dihiraukan. Walaupun begitu, Eros tetap dengan santunnya mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan orangtua Aru. Syukurnya, mereka tak pernah menolak untuk dijabat tangannya, membuatnya merasa dianggap keberadaannya.

Tangan Papi yang mengarah pada perut Osa ditahan oleh Loka. Manik pria berusia senja itu nampak bingung. Dirinya segera memundurkan tangannya kala suaminya mengatakan bahwa kondisi Osa masih rentan diawal kehamilannya.

“Maaf ya, Kak. Papi terlalu excited mau punya cucu. Papi tahu perjuangan kalian untuk dapetin malaikat kecil yang sekarang ada sama Kakak itu bagaimana,” ucapnya dengan haru.

“Papi... Loka minta maaf.” Orangtua Osa dan Aru beradu pandang mendengar ucapan maaf Loka yang terkesan aneh diucapkannya di momen seperti ini. “Foto yang Loka kirim ke kalian itu bukan punya Osa. Osa belum hamil.” Dirinya mempertegas maksudnya dikalimat terakhirnya.

Kedua orang tua tersebut nampak bingung, sedang dua pemuda di sofa seberang tengah sama menundukkan kepalanya. Genggaman tangan Aru pada Eros semakin erat, membuat keduanya saling merasakan dinginnya ujung jemari mereka.

“Itu punya Aru,” jawab Osa yang ditodong tatapan bingung penuh tanya kedua orang tuanya, pun dirinya tak melihat Aru ataupun Eros yang siap membuka mulutnya.

Eros mengeluarkan testpack dan hasil pemeriksaan Aru yang disimpannya di kantong jaketnya. Dirinya lantas ditarik berdiri oleh Papa Aru. Badan Aru ikut terhuyung karena genggaman tangan mereka.

“Saya tidak mengira kamu lebih rendah dari bayangan saya. Begitukah caramu untuk terus bisa bersama anak saya? Murahan sekali caramu!” Semua yang berada di ruang tamu seketika berdiri melihat Eros diberikan pukulan kencang.

Aru berlutut memeluk kaki sang Papa. Mulutnya terus lontarkan permohonan untuk berhenti memukuli Eros. Tak ada sama sekali perlawanan balik dari Eros, semua pukulan itu Eros terima adanya.

“Pukul aku juga! Aku sama salahnya kayak Eros. Kita sama-sama mau ngelakuinnya. Ayo pukul aku, Pa!” Aru beranjak dan membawa tangan Papanya di depan wajahnya. Tangan besar yang memukuli Eros tadi maju mendekat pipi Aru dan mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi merahnya.

Kecewa sekali hati orang tua Aru mengetahui kehamilan putranya yang belum menikah, bahkan masih menempuh pendidikan sarjananya. Sakitnya semakin terasa ketika tahu Eros lah Ayah dari anak yang dikandung Aru. Eros, anak yang hidupnya berbanding jauh dengan Aru. Eros tak semiskin itu, dirinya masih tercukupi kebutuhan pokoknya, hanya dirinya perlu mendayung lebih keras untuk kebutuhan yang lainnya, berbeda dengan Aru yang tercukupi segalanya.

Eros susah payah bangkit dan bersujud di kaki Papa Aru. “Saya minta maaf sudah mengecewakan hati kalian dan bertindak sejauh ini pada Aru, saya minta maaf. Saya akan bertanggung jawab penuh atas Aru dan anak kami,” tuturnya dengan tangis tertahan.

“Tanggung jawab? Bercanda kamu!” Eros menggelengkan kepalanya dalam sujudnya. “Untuk hidupi diri kamu sendiri saja masih bingung, bagaimana bisa kamu bertanggung jawab? Mau menikahi Aru? Jangan mimpi! Jadi apa anak saya kalau bersama kamu,” tuturnya cukup menusuk hati Eros.

“Sudah berulang kali Papi bilang kalau dia itu hanya pengaruh buruk buat kamu, Ru! Lihat sekarang kamu seperti ini. Kamu bisa terlambat lulus kalau begini jadinya.” Eros mengeratkan kepalan tangannya mendengarnya. “Dia harus hilang dari Aru. Eros maupun anak di perut kamu, harus hilang!”

“Papi!” Aru, Osa, Loka, bahkan Papa Aru berseru pada pria yang ringan melontarkan kalimat tersebut. Pun Eros yang menatap terkejut walaupun dirinya sudah memiliki bayangan akan terjadinya hal ini.

“Papi, aku ngerti Papi kecewa, tapi dengan hilangin anak itu kelewatan. Aru sama Eros buat dia ada, mereka harus tanggung jawab. Papi ajarkan anak-anak Papi buat lari dari tanggung jawab?” sahut Loka yang ikut geram.

“Papi punya dua pilihan. Hilangkan anak itu atau kamu biarkan anak itu tumbuh, tapi dia akan jadi anak Kak Osa?”

“Itu anak Aru, Pi! Osa terus yang harus tanggung jawab sama salahnya Aru!” Osa meninggalkan ruang tamu setelah menyelesaikan kalimatnya. Dirinya tidak mengira orangtuanya akan berpikir seperti ini. Batin masa kecilnya meraung mendengar ucapan Papinya. Hanya karena dirinya seorang Kakak sedang Aru adiknya yang belum tahu banyak hal, dirinya selalu diminta bertanggung jawab atas kesalahan Aru walaupun pada hal sepele. Aru sudah sebesar ini namun hal itu masih terjadi lagi padanya, pecah sudah sakit hatinya yang mengepul.

Eros pun bangkit dari sujudnya mendengar pilihan tersebut. Itu adalah pilihan paling jelek yang pernah dirinya dengar sampai hari ini. “Anak itu anak saya dengan Aru. Saya masih punya mampu untuk bertanggung jawab. Serendah itukah saya di mata kalian?” Ucapan Papi Aru bak cuka yang dituangkan pada lukanya.

cw // unwanted baby

Petak kamar kosan yang tidak bisa dibilang luas menjadi akhir perjalanan Aru hari ini. Dalam rengkuhan lelaki gemini, dirinya menyelesaikan tangisnya. Tangannya tak lepas memeluk perutnya dan sakit terus dirinya eluhkan pada Eros.

Sifat pemikir Aru membuat dirinya sendiri sekacau ini. Banyaknya kemungkinan yang akan terjadi, semua dia bayangkan. Menghilangkan seseorang yang masih belum berwujud sempurna dalam dirinya menjadi pilihannya. Mengetahui orangtuanya akan melakukan penerbangan ke Yogyakarta dini hari nanti menekan kepanikan Aru untuk bertindak gegabah tanpa memikirkan lebih lanjut.

Tangis semakin membasahi pipi Aru kala Eros menidurkan dirinya dan mengelus perutnya yang sedari tadi ia keluhkan sakit. Rasa bersalahnya menumpuk melihatnya. Lelaki itu tadi menjemputnya tanpa banyak kata. Hanya kata 'pulang' yang dilontarkan dengan tangannya menarik dirinya pergi. Ributnya tak ditanggapi apapun oleh Eros, lelaki itu tetap erat menarik dirinya pergi dari tempat itu.

“Sakit banget ya, sayang?” Aru gelengkan kepalanya. Rasa sakitnya perlahan hilang entah kemana setelah berbaring dan perutnya disapu halus oleh telapak hangat Eros. “Kamu keberatan ya sama adanya dia?” Aru diam tak bergeming.

Aru tidak bisa mendeskripsikan perasaannya atas hadirnya. Banyak perasaan muncul dalam dirinya. Arus mengerti banyaknya beban yang dipikul Eros, hal ini akan semakin memberatkan Eros. Dirinya tidak memiliki cukup ketegaan melihat orang yang disayangnya semakin kesulitan, terlebih Eros sulit menerima uluran tangannya yang ingin meringankan beban pundaknya.

“Aru, berat ya aku minta pertahankan dia? Maaf ya...” Aru dapat lihat air mata menggenang di pelupuk mata lelaki gemini itu. “Egois rasanya aku minta kamu pertahankan sementara dia akan kamu bawa sembilan bulan. Besok sama aku kalo mau berpisah sama dia. Malam ini aku mau tidur peluk dia dulu boleh, ya?

Tidak ada kata yang bisa Aru lontarkan, hanya dirinya anggukkan kepalanya. Dibiarkannya Eros berbaring memeluknya. Lelaki itu jatuhkan beberapa kecupan manis diperutnya. Dapat Aru rasakan basah diperutnya. Erosnya menangis. Lehernya bak dicekik menahan tangisnya tak bersuara.

Eros, aku jahat banget ya?” batinnya dalam tangisan diamnya.

Auriga panik dalam boncengan motor Elang. Bukan masalah kecepatannya, dia sudah biasa dibonceng seakan siap sehidup dan semati oleh kakak-kakaknya, tapi ini dirinya tak mengenakan helm di jalan utama. Kalau bukan demi Elang yang akan membantunya mengerjakan tugas pkkmb-nya, dirinya tak akan mau seperti ini.

Mas iku nek depan biasae onok polisi! Moh ya aku ketilang.” Auriga menepuki pundak Elang yang tetap nekat memboncengnya tanpa helm di jalan utama. “Belok o kiri!” perintahnya pada Elang untuk mengambil jalan pintas. Dirinya sungguh takut ditilang, sedangkan Elang yang membonceng hanya tertawa atas paniknya.

Auriga menghela napasnya ketika akhirnya sampai dirumahnya. Dirinya merapihkan rambutnya dengan berkaca pada spion motor Elang. “Lanangan edan,” celetuknya setelah selesai menata rambutnya. “Tunggu dulu situ, Mas. Tak ambilin barang-barangku,” tuturnya meminta Elang duduk di sofa teras rumahnya.

Elang menunggu Auriga dengan menonton tutorial pembuatan tugas pkkmb karena dirinya belum mengetahui jelas. Sesungguhnya, Elang nekat menyetujui Auriga yang memintanya membantu membuat tugas pkkmb-nya.

“Hati-hati bawanya.” Elang membukakan pintu yang belum terbuka sempurna saat Auriga akan keluar. Hampir saja anak itu menabrak pintu akibat pandangannya tertutup besarnya lembaran karton yang dibawa.

Liaten aku gak jadi-jadi bikine,” adunya seranya menjajarkan barang-barangnya. “Lapo seh susah banget kasih tugase,” tambahnya.

“Buat latihan kamu disuruh bikin maket harus jadi dalam semalam,” celetuk Elang asal.

“Serius, Mas?!” Elang menganggukan kepalanya iseng. Walaupun itu tidak sepenuhnya asal perkataannya mengingat temannya di jurusan arsitektur yang beberapa kali membuat maket seakan dirinya ken arok yang diminta ken dedes membangun candi dalam semalam.

“Apa aku mengundurkan diri aja ya? Itu kayaknya serem.” Auriga melirik sinis Elang yang menertawakan ucapannya.

“Makanya nanti kalau ada tugas sebisa mungkin jangan ditunda-tunda kerjainnya biar gak simulasi jadi Ken Arok bikin maketnya. Pinter-pinter manajemen waktu.”

Auriga menemani Elang mengerjakan tugasnya dengan menonton drama ditemani kucing kesayangannya dalam pangkuannya. Sementara Elang mengerjakan dengan batinnya merutuki dirinya sendiri yang mau saja membantu mengerjakan semua ini. Dirinya mengakui di tahun ini bentuknya lebih sulit dibanding tahun dirinya ppkmb dahulu.

Mas, monggo diminum sama dimakan ini jajanannya,” tawar seorang pekerja di rumah Auriga yang mengantarkan minuman dan makanan.

“Terima kasih, Mbak.”

Loh iki adek malah bobo nek kene.” Elang menoleh pada sofa disebelahnya melihat Auriga yang sudah pulas ditemani kucingnya.

'Enak banget anjir lo tidur, gue pusing bangsat!' batin Elang. “Biarin aja, Mbak. Capek banget dia kayaknya,” suaranya membalas ucapan pekerja tersebut.

⚠️ ; accident

Arsen dalam mode merajuknya itu sulit diatasi. Raga rasanya seperti maju kena, mundur pun kena. Arsen yang tidak dituruti tidak akan berhenti meraung. Dirinya dapat memahami Arsen yang tiga hari ini hanya menghabiskan harinya di kamar karena sakit, namun jika membawanya pergi keluar sementara kondisinya belum sepenuhnya pulih, itu bisa membuat Arsen kembali sakit dan tentunya yang Raga tak mau hadapi adalah amarah Ligar. Suaminya memang terhitung jarang marah, tetapi bukan berarti dia bisa menggampangkan segala hal dengan berpikiran Ligar tak akan marah.

“Keluar naik mobil atau gak jadi pergi?!” tegas Raga pada Arsen yang mengukuhkan pendiriannya untuk bepergian dengan motor.

Raga menghela napasnya karena pada akhirnya Arsen menurut walaupun dengan muka masamnya. Digandengnya jemari kecil yang hampir sama besarnya dengan miliknya itu menuju mobilnya yang telah disiapkan.

Sesuai permintaan bocah ciliknya, mereka pergi berdua tanpa memberitahu Ligar. Raga sedikit was-was jika Ligar pulang lebih awal dan mengetahui bahwa Arsen tidak di rumah. Dirinya telah mewanti Mbak Tun dan Mas Tono untuk mengabarinya jikalau Ligar pulang lebih awal.

“Pipoy, aku ikut mas-mas main skate ya?” izinnya pada Raga yang tentu diberikan gelengan kepala.

“Janjimu gak capek-capek!” tukasnya mengingatkan janji Arsen padanya.

Tangan kiri Raga diayun-ayun Arsen yang menggandengnya. Dirinya yakin sebentar lagi anak itu akan menggelayuti tangannya dan merajuk. Benar saja, ketika kedua sampai di dekat arena skate, Arsen menggelayuti Raga dan merajuk untuk diperbolehkan bermain. Hal itu membuat dirinya menjadi pusat perhatian.

Pada akhirnya, Raga mengalah. Dirinya membawa bocah cilik itu pada arena skate. Keduanya disambut ramah oleh skater di sana. Beberapa dari mereka mengenal Arsen dan Raga karena memang cukup sering keduanya datang.

“Gak usah heboh mainnya, udah janji gak capek-capek!” peringatnya kembali pada Arsen setelah berhasil meminjam skate salah satu skater di sana.

Jika biasanya Raga akan memantau Arsen di tempat teduh, kali ini dirinya turut mendampingi di dekat Arsen. Anak itu cerobohnya mirip dengannya, dirinya tak mau ada kejadian Arsen kembali drop karena jauh dari pengawasannya.

“Pipoy coba dong main, katanya bisa main skate!” tantangnya pada Raga.

“Kalo Pipo yang main, kamu neduh di sana.” Arsen menekuk bibirnya mendengar penuturan Raga. Tujuannya meminta itu pada Raga adalah untuk keduanya bermain bersama, namun Raga malah memintanya beristirahat. “Yaudah gak mau,” tolak Raga melihat Arsen yang enggan menyetujuinya.

“Sini, Cil, nepi dulu istirahat. Kita lihat Pipomu tuh jago beneran apa enggak. Apa bisanya cuma geber-geber motor aja.” Salah seorang skater yang ikut mendengar obrolan keduanya mengajak Arsen menepi. Lelaki itu juga mengetahui bahwa Arsen baru saja sakit karena Raga memberitahu.

“Ngejek gue banget lo! Gue nih multitalent!” Percaya dirinya menanggapi ucapan skater tersbut.

Raga menunjukkan aksinya bermain skate setelah Arsen berhasil dibujuk untuk beristirahat. Dirinya terkagun dengan diri sendiri yang masih lihat bermain papan skate walaupun sudah lama tak menyentuhnya. Di tengah unjuk kebolehannya, dirinya mendengar sorakan Arsen yang membuatnya sesekali menoleh melemparkan senyumnya.

“Keren banget kan Pipoy aku! Kamu gak punya kan Pipoy kayak Pipoynya aku?!” bangganya pada skater yang menemaninya di tempat teduh.

Arsen berlari menghampiri Raga kala dirinya menyudahi permainan papan skatenya. Bocah cilik itu dirinya tangkap dalam gendongannya dan membawanya berputar. Dirinya ikut senang melihat raut ceria Arsen setelah 3 hari ini banyak menangis karena sakitnya.

“Pipoy, aku pengen es krim boleh, ya? Please~” rajuknya lagi.

Raga tahu bahwa jika melihat ini, Ligar pasti memberikan penolakan. Akan tetapi, setelah melihat senyum cerah Arsen, dirinya tak mau membuat bibir kecil itu kembali ditekuk ke bawah. Dirinya turuti permintaan Arsen yang menginginkan es krim dengan menjanjikan tidak lebih dari satu skup.

Kedai es krim yang berada di seberang jalan membuat Raga dan Arsen harus menyeberangi ramainya jalanan. Di jam pulang sekolah dan kerja seperti ini, banyak orang berkendara dengan kecepatan tinggi dan tidak sabaran karena ingin segera sampai rumah. Raga menggenggam erat Arsen agar anak itu tak melangkah sembrono menyebrangi jalanan.

Kala lampu pejalan kaki telah hijau, Raga melangkahkan kaki di zebra cross dengan diikuti Arsen dibelakangnya yang tetap berpegang tangannya. Sahutan klakson dan teriakan riuh muncul kala salah seorang pengendara motor menancapkan gas-nya disaat lampu merah dan terdapat Raga dan Arsen yang menyeberangi jalan.

Raga yang buru-buru berlari dengan menarik Arsen nyatanya tak menolong. Motor yang melaju itu sukses menyerempet dirinya. Arsen terhuyung jatuh kala Raga ambruk akibat hantaman motor.

Arsen meraung kencang menggenggam tangan Raga. Kerumunan orang yang mengerubungi keduanya membuatnya takut. Di tengah ketakutannya, Arsen menghubungi Haris, dirinya tak punya keberanian menghubungi Ligar.

“Aku sama Pipoy!!” teriaknya ditengah isakannya kala seseorang mencoba membawanya menepi.

Ketika turun ke ruang makan, Raga disambut dengan pelukan Arsen. Bocil kesayangannya itu telah rapi dengan seragamnya, berbanding terbalik dengan dirinya yang baru saja bangun. Maniknya mengabsen setiap sudut ruang makan dan tak menemukan keberadaan Ligar.

Baru saja Raga letakkan cangkir di mesin kopi, dirinya sudah ditarik Arsen untuk duduk di ruang makan. Nyawanya yang masih belum sepenuhnya terkumpul membuat dirinya pasrah saja dengan perbuatan Arsen. Anak itu menyuguhkan segelas susu untuknya yang dia buat dengan tangannya sendiri dan sedikit bantuan Mbak Tun untuk menuangkan air panasnya tadi.

“Pipoy tidak boleh minum kopi, minumnya susu ya!” tuturnya membuat Raga mengerutkan dahinya. Tidak pernah sebelumnya Arsen memprotes hal ini, biasanya anak ini justru mempertanyakan jika saat pagi dirinya tidak menyeduh kopi.

“Susu itu buat bocah kayak kamu sama bayi,” balasnya menanggapi perintah Arsen.

“Kan Pipoy ada adik bayi!” Mata Raga membulat mendengarnya. Dari mana bocah ciliknya ini mengetahui kehamilannya. Pikirnya tidak mungkin Arsen memahami testpack yang ditemukannya kemarin. “Di sini Pipoy ada adik bayi.” Arsen menyentuh perutnya lantas memberikan kecupannya di perut Raga.

“Kamu tau dari mana, Cil?” bingungnya.

“Papo tadi kasih tahu. Papo bilang Pipoy ada adik bayi kayak Pipinya Lundra.” Emosinya tiba-tiba naik mengetahui Ligar yang telah memberitahu Arsen.

Raga menggelegarkan nama Ligar dengan teriakannya karena tak tahu dimana keberadaan pria itu. Arsen menggunakan tangan kanannya untuk menutup telinganya sedangkan tangan kirinya dia letakkan di perut Raga. Bocah cilik itu tak mau adik bayi di perut Pipoynya sakit telinga atas teriakan kencang Raga.

Ligar menuruni anak tangga dengan cepat setelah mendengar teriakan Raga. Dirinya berjalan ke arah Raga yang menatapnya sengit dengan tangannya yang mengancingkan kemejanya.

“Kamu kasih tau bocil?!” sentak Raga membuat Ligar dengan cepat menganggukkan kepalanya.

Ligar tak berani melanjutkan langkahnya melihat wajah memerah Raga. Sepertinya dirinya akan mendapat amarah Raga karena memberitahukan kehamilannya pada Arsen. Pikirannya itu dengan cepat dipatahkan saat Raga dihadapannya kini menangis. Arsen dan dirinya sejenak bertemu pandang karena sama bingungnya dengan Raga yang tiba-tiba menangis.

“Kemaren aku mau kasih tau kamu malah bocil ngirim foto ke grup. Hari ini aku mau kasih tau bocil tapi kamu malah ngasih tau duluan.” Raga mengencangkan tangisnya setelah menyelesaikan kalimatnya. “Kenapa aku gak dibolehin ngasih tau ini semua sendiri? Sakit hati banget aku taunya,” lanjutnya.

Tangisnya semakin nyaring saat Ligar memeluknya, ditambah dengan Arsen yang juga mengikuti tindakan sang Papo. Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Ligar. Dirinya biarkan Raga menangis sepuasnya daripada dirinya menanggapi dengan kalimat dan semakin memanaskan suasana pagi.

“Kalo gitu kita ulang aja deh! Aku ceritanya enggak tau ya Pipoy.” Arsen melepaskan pelukannya dan mengambil duduk berhadapan dengan Raga. “Papo jangan ikut-ikutan ya! Papo gak diajak!” Perintahnya pada Ligar dengan muka kesalnya.

Raga mengusap air mata yang membasahi pipinya. Hazelnya nampak berkilau akibat air mata yang masih menyisa di sana. Dengan lekat, dirinya menatap Arsen yang menunggunya antusias.

“Kamu seneng Pipoy ada adik bayi?” Arsen mengangguk tanpa ragu.

“Sebenernya sedikit gak suka. Sedikit aja Pipoy.” Jemarinya membuat gerakan mencubit untuk memberitahukan betapa sedikitnya ketidaksukaannya. “Papo bilangㅡenggak, bukan Papo. Aku sedikit gak suka karena nanti kalo ada adik bayi dia suka ikut-ikut main lego aku kayak adik bayinya Mami. Tapi aku mau jadi kakak yang baik! Kakak yang baik itu keren, nanti aku ajarin adik bayi buat bikinnya. Adik bayi harus umur 6 baru boleh ikut main lego aku,” terangnya panjang.

Memang alasan anak-anak yang membuat Arsen kurang menyukai bayi. Akan tetapi itu wajar dalam usianya, terlebih hingga kini dirinya berusia sepuluh tahun dirinya menjadi satu-satunya milik sang Papo. Tentu juga Arsen memiliki rasa takut akan kehilangan perhatian Pipoynya yang baru dia dapatkan kurang lebih dua tahun terakhir.

“Pipoy tetep sayang aku kan kalo ada adik bayi?”

“Sayang lah. Kamu anak pertama Pipo dan adik bayi ini anak kedua Pipo. Semuanya disayang.” Senyuman lebar seketika tergambar di wajah Arsen. “Cil, kamu mau dipanggil kakak atau mas?” lanjut Raga bertanya.

“Pipoy jangan panggil aku bocil terus dong! Kalo aku jadi kakak itu berarti aku udah gedhe! Panggil aku Mas Arsen!” Tangan kecilnya seketika melipat didepan dadanya dengan dahi mengkerut dan suara dengusan yang terdengar. “PAPO JUGA! PANGGIL AKU MAS ARSEN! SEMUA PANGGIL AKU MAS ARSEN!” teriaknya sampai Mbak Tun yang tengah membereskan dapur ikut senang mendengarnya. Mbak Tun sendiri merupakan saksi kehidupan Arsen dari masih dalam kandungan hingga kini.

“Iya, Mas Arsen. Mas Arsen nanti mau ikut Papo sama Pipoy lihat adik bayi nggak?” Bocah cilik itu lantas mengangguk semangat. “Nanti ya pulang sekolah kita sama-sama lihat adik bayi.”

Arsen bersorak girang berlari memutari meja makan. Ketika melewati bangku Raga, dirinya menyempatkan mencium perut Raga yang masih rata sebagaimana dirinya suka mengikuti Lundra mencium perut Jemian yang telah nampak membuncit karena adanya bayi.


flashback

Ligar yang masih dalam lelapnya terusik dengan tarikan tak berdaya dari jemari-jemari kecil. Sedikit kesadarannya mencerna bahwa itu adalah Arsen yang terbangun di dini hari. Dengan perlahan dirinya melepaskan pelukan Raga dan menggeser tubuhnya membiarkan Arsen limbung diantara dirinya dan Raga.

“Tidurnya jangan kayak gitu.” Ligar reflek menarik Arsen menempel pada dirinya karena anak itu bergerak asal hingga hampir mengenai perut Raga. Lantas Ligar memilih memberikan bantal diantara Arsen dan Raga. “Di perut Pipoy ada adik bayi, hati-hati,” ceplosnya dengan sisa kesadarannya.

Dengan mendekap Arsen, Ligar kembali terlelap dalam tidurnya, berbeda dengan Arsen yang justru tak bisa kembali tidur. Pikirannya memikirkan kalimat yang baru diucapkan sang Papo. Dari dekapan Ligar, dirinya berbalik menghadap Raga. Arsen pandangi lamat-lamat Pipoy kesayangannya yang tengah pulas di alam mimpinya.

“Pipoy punya adik bayi? Kayak punya mami?” monolognya.

Arsen diam cukup lama setelahnya dan lama-kelamaan bibirnya semakin mencebik lalu mengeluarkan tangisannya. Semakin dirinya bayangkan Pipoy kesayangannya memiliki adik bayi maka tangisnya semakin menggelegar.

“Bro, kenapa? Kamu mimpi?” tanya Ligar yang kembali meraih kesadarannya akibat kencangnya tangisan Arsen.

“Pipoy beneran punya adik bayi, ya, Papo?” tanyanya berbalik pada Ligar.

Usapan-usapan hangat Ligar berikan pada Arsen. Dirinya baru menyadari bahwa telah tidak sengaja memberitahu Arsen perihal kehamilan Raga. Sebuah kecupan di kening Ligar berikan pada Arsen.

“Iya, Pipoy punya adik bayi kayak Pipinya Lundra,” terang Ligar. “Kamu sedih?” Arsen mengangguk.

“Nanti Pipoy sama Papo sayang ke adik bayi semua kayak Mami. Yang sayang aku siapa nanti?” tanyanya tersedu-sedu.

Ligar bangun dari tidurnya dan menggendong Arsen untuk berbicara menjauh dari Raga. Dirinya tak ingin suaminya itu terusik tidurnya dan mendengar apa yang Arsen katakan dan pertanyakan.

“Papo dan Pipoy selalu sayang kamu, walaupun ada adik bayi nanti, Papo dan Pipoy tetep sayang sama kamu. Mami juga sayang selalu sama kamu. Setiap hari ditelepon, diajak jalan sama Mami setiap Mami ke Jakarta. Mami juga sering ajak kamu buat nginep ke Bogor. Lihat ini waktu kamu masih kecil sama Mami. Papo, Pipoy, Mami, dan Om Papi semua sayang kamu dan gak akan ada yang lupa sama kamu.” Ligar mencabut ponselnya dari charger untuk menunjukkan kenangan masa kecil Arsen dengan dirinya dan sang mantan istri.

“Papo janji ya selalu sayang sama aku!” Arsen mengeluarkan jari kelingkingnya meminta perjanjian Ligar. “Janji.” Ligar mengaitkan kelingkingnya dengan milik Arsen sebagai bentuk janji.

“Kamu kalo jadi kakak suka, nggak?” tanya Ligar ingin tahu.

“Aku enggak tau. Aku nggak pernah jadi kakak, tapi kata Lundra aku itu juga kakak kayak dia. Katanya karena Mami punya adik bayi jadi aku itu kakak. Itu bener ya, Papo?” Ligar sedikit menyesali membincangkan hal ini dengan Arsen di pagi buta. Kesadarannya belum penuh dan sudah disambut pertanyaan berat.

“Itu bener, tapi kamu mau jadi kakak atau enggak itu pilihan kamu. Anaknya Mami dan Papo itu cuma kamu, gak ada yang lain. Tapi setelah Mami menikah dengan Om Papi, Mami punya adik bayi, dan sekarang Papo menikah dengan Pipoy punya adik bayi juga. Papo gak minta kamu buat jadi kakaknya adik bayinya Mami ataupun Pipoy, kamu boleh pilih mau jadi temannya adik bayi atau kakanya adik bayi. Bicara Papo susah dimengerti, ya?”

“Sedikit mengerti. Tapi kenapa kita semua gak tinggal sama-sama aja Papo? Biar aku bisa sama Papo sama Mami,” bingungnya dengan panjangnya penuturan Ligar.

“Maaf ya...”

“Karena Papo dan Mami gak menikah ya?ㅡaku buat Papo sedih ya? Jangan nangis dong Papo.”

Lidah Ligar kelu untuk menjawab pertanyaan Arsen, bahkan pikirannya saja tak mampu menemukan apa jawaban yang tepat untuk dia berikan pada Arsen. Hanya pelukan erat dengan ucapan maaf yang tak henti dia berikan.

“Papo minta maaf ya gak bisa buat Papo, kamu, dan Mami sama-sama. Papo minta maaf...”

Cukup lama Ligar dalam tangisnya dengan memeluk Arsen. Dirinya baru melepaskan itu saat Arsen memprotesnya karena membuat dirinya tertekan dalam dekapannya.

“Papo... jadi kakak itu seru atau enggak? Aku gak suka kalo jadi kakak nanti adik bayi suka ikut-ikut aku main lego. Adik bayi bisanya bikin rusak, Papo.”

“Adik bayi itu biasanya belum mengerti. Kalo kamu jadi kakak nanti kamu kasih tau adik bayi gimana cara main lego. Jadi kakak yang baik itu keren. Nanti kalo adik bayi bisa main lego karena diajarin kamu berarti kamu jago banget. Adik bayi nanti pasti bilang ke temen-temennya kalo dia bisa rakit lego karena punya kakak jagoan kayak kamu,” terang Ligar walaupun dirinya sendiri tak merasakan bagaimana menjadi kakak sesungguhnya. Dirinya sendiri merupakan anak tunggal.

“Bener juga ya, Papo. Kan adik bayi gak punya mainan di perut. Dia mana tau!” Ligar menganggukkan kepalanya.

Keduanya berbincang banyak hingga fajar tiba. Dari yang mulanya membicarakan adik bayi hingga membahas keberadaan alien di dunia. Tangis yang tadi turun telah berganti menjadi tawa.

Ketika turun ke ruang makan, Raga disambut dengan pelukan Arsen. Bocil kesayangannya itu telah rapi dengan seragamnya, berbanding terbalik dengan dirinya yang baru saja bangun. Maniknya mengabsen setiap sudut ruang makan dan tak menemukan keberadaan Ligar.

Baru saja Raga letakkan cangkir di mesin kopi, dirinya sudah ditarik Arsen untuk duduk di ruang makan. Nyawanya yang masih belum sepenuhnya terkumpul membuat dirinya pasrah saja dengan perbuatan Arsen. Anak itu menyuguhkan segelas susu untuknya yang dia buat dengan tangannya sendiri dan sedikit bantuan Mbak Tun untuk menuangkan air panasnya tadi.

“Pipoy tidak boleh minum kopi, minumnya susu ya!” tuturnya membuat Raga mengerutkan dahinya. Tidak pernah sebelumnya Arsen memprotes hal ini, biasanya anak ini justru mempertanyakan jika saat pagi dirinya tidak menyeduh kopi.

“Susu itu buat bocah kayak kamu sama bayi,” balasnya menanggapi perintah Arsen.

“Kan Pipoy ada adik bayi!” Mata Raga membulat mendengarnya. Dari mana bocah ciliknya ini mengetahui kehamilannya. Pikirnya tidak mungkin Arsen memahami testpack yang ditemukannya kemarin. “Di sini Pipoy ada adik bayi.” Arsen menyentuh perutnya lantas memberikan kecupannya di perut Raga.

“Kamu tau dari mana, Cil?” bingungnya.

“Papo tadi kasih tahu. Papo bilang Pipoy ada adik bayi kayak Pipinya Lundra.” Emosinya tiba-tiba naik mengetahui Ligar yang telah memberitahu Arsen.

Raga menggelegarkan nama Ligar dengan teriakannya karena tak tahu dimana keberadaan pria itu. Arsen menggunakan tangan kanannya untuk menutup telinganya sedangkan tangan kirinya dia letakkan di perut Raga. Bocah cilik itu tak mau adik bayi di perut Pipoynya sakit telinga atas teriakan kencang Raga.

Ligar menuruni anak tangga dengan cepat setelah mendengar teriakan Raga. Dirinya berjalan ke arah Raga yang menatapnya sengit dengan tangannya yang mengancingkan kemejanya.

“Kamu kasih tau bocil?!” sentak Raga membuat Ligar dengan cepat menganggukkan kepalanya.

Ligar tak berani melanjutkan langkahnya melihat wajah memerah Raga. Sepertinya dirinya akan mendapat amarah Raga karena memberitahukan kehamilannya pada Arsen. Pikirannya itu dengan cepat dipatahkan saat Raga dihadapannya kini menangis. Arsen dan dirinya sejenak bertemu pandang karena sama bingungnya dengan Raga yang tiba-tiba menangis.

“Kemaren aku mau kasih tau kamu malah bocil ngirim foto ke grup. Hari ini aku mau kasih tau bocil tapi kamu malah ngasih tau duluan.” Raga mengencangkan tangisnya setelah menyelesaikan kalimatnya. “Kenapa aku gak dibolehin ngasih tau ini semua sendiri? Sakit hati banget aku taunya,” lanjutnya.

Tangisnya semakin nyaring saat Ligar memeluknya, ditambah dengan Arsen yang juga mengikuti tindakan sang Papo. Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Ligar. Dirinya biarkan Raga menangis sepuasnya daripada dirinya menanggapi dengan kalimat dan semakin memanaskan suasana pagi.

“Kalo gitu kita ulang aja deh! Aku ceritanya enggak tau ya Pipoy.” Arsen melepaskan pelukannya dan mengambil duduk berhadapan dengan Raga. “Papo jangan ikut-ikutan ya! Papo gak diajak!” Perintahnya pada Ligar dengan muka kesalnya.

Raga mengusap air mata yang membasahi pipinya. Hazelnya nampak berkilau akibat air mata yang masih menyisa di sana. Dengan lekat, dirinya menatap Arsen yang menunggunya antusias.

“Kamu seneng Pipoy ada adik bayi?” Arsen mengangguk tanpa ragu.

“Sebenernya sedikit gak suka. Sedikit aja Pipoy.” Jemarinya membuat gerakan mencubit untuk memberitahukan betapa sedikitnya ketidaksukaannya. “Papo bilangㅡenggak, bukan Papo. Aku sedikit gak suka karena nanti kalo ada adik bayi dia suka ikut-ikut main lego aku kayak adik bayinya Mami. Tapi aku mau jadi kakak yang baik! Kakak yang baik itu keren, nanti aku ajarin adik bayi buat bikinnya. Adik bayi harus umur 6 baru boleh ikut main lego aku,” terangnya panjang.

Memang alasan anak-anak yang membuat Arsen kurang menyukai bayi. Akan tetapi itu wajar dalam usianya, terlebih hingga kini dirinya berusia sepuluh tahun dirinya menjadi satu-satunya milik sang Papo. Tentu juga Arsen memiliki rasa takut akan kehilangan perhatian Pipoynya yang baru dia dapatkan kurang lebih dua tahun terakhir.

“Pipoy tetep sayang aku kan kalo ada adik bayi?”

“Sayang lah. Kamu anak pertama Pipo dan adik bayi ini anak kedua Pipo. Semuanya disayang.” Senyuman lebar seketika tergambar di wajah Arsen. “Cil, kamu mau dipanggil kakak atau mas?” lanjut Raga bertanya.

“Pipoy jangan panggil aku bocil terus dong! Kalo aku jadi kakak itu berarti aku udah gedhe! Panggil aku Mas Arsen!” Tangan kecilnya seketika melipat didepan dadanya dengan dahi mengkerut dan suara dengusan yang terdengar. “PAPO JUGA! PANGGIL AKU MAS ARSEN! SEMUA PANGGIL AKU MAS ARSEN!” teriaknya sampai Mbak Tun yang tengah membereskan dapur ikut senang mendengarnya. Mbak Tun sendiri merupakan saksi kehidupan Arsen dari masih dalam kandungan hingga kini.

“Iya, Mas Arsen. Mas Arsen nanti mau ikut Papo sama Pipoy lihat adik bayi nggak?” Bocah cilik itu lantas mengangguk semangat. “Nanti ya pulang sekolah kita sama-sama lihat adik bayi.”

Arsen bersorak girang berlari memutari meja makan. Ketika melewati bangku Raga, dirinya menyempatkan mencium perut Raga yang masih rata sebagaimana dirinya suka mengikuti Lundra mencium perut Jemian yang telah nampak membuncit karena adanya bayi.


flashback

Ligar yang masih dalam lelapnya terusik dengan tarikan tak berdaya dari jemari-jemari kecil. Sedikit kesadarannya mencerna bahwa itu adalah Arsen yang terbangun di dini hari. Dengan perlahan dirinya melepaskan pelukan Raga dan menggeser tubuhnya membiarkan Arsen limbung diantara dirinya dan Raga.

“Tidurnya jangan kayak gitu.” Ligar reflek menarik Arsen menempel pada dirinya karena anak itu bergerak asal hingga hampir mengenai perut Raga. Lantas Ligar memilih memberikan bantal diantara Arsen dan Raga. “Di perut Pipoy ada adik bayi, hati-hati,” ceplosnya dengan sisa kesadarannya.

Dengan mendekap Arsen, Ligar kembali terlelap dalam tidurnya, berbeda dengan Arsen yang justru tak bisa kembali tidur. Pikirannya memikirkan kalimat yang baru diucapkan sang Papo. Dari dekapan Ligar, dirinya berbalik menghadap Raga. Arsen pandangi lamat-lamat Pipoy kesayangannya yang tengah pulas di alam mimpinya.

“Pipoy punya adik bayi? Kayak punya mami?” monolognya.

Arsen diam cukup lama setelahnya dan lama-kelamaan bibirnya semakin mencebik lalu mengeluarkan tangisannya. Semakin dirinya bayangkan Pipoy kesayangannya memiliki adik bayi maka tangisnya semakin menggelegar.

“Bro, kenapa? Kamu mimpi?” tanya Ligar yang kembali meraih kesadarannya akibat kencangnya tangisan Arsen.

“Pipoy beneran punya adik bayi, ya, Papo?” tanyanya berbalik pada Ligar.

Usapan-usapan hangat Ligar berikan pada Arsen. Dirinya baru menyadari bahwa telah tidak sengaja memberitahu Arsen perihal kehamilan Raga. Sebuah kecupan di kening Ligar berikan pada Arsen.

“Iya, Pipoy punya adik bayi kayak Pipinya Lundra,” terang Ligar. “Kamu sedih?” Arsen mengangguk.

“Nanti Pipoy sama Papo sayang ke adik bayi semua kayak Mami. Yang sayang aku siapa nanti?” tanyanya tersedu-sedu.

Ligar bangun dari tidurnya dan menggendong Arsen untuk berbicara menjauh dari Raga. Dirinya tak ingin suaminya itu terusik tidurnya dan mendengar apa yang Arsen katakan dan pertanyakan.

“Papo dan Pipoy selalu sayang kamu, walaupun ada adik bayi nanti, Papo dan Pipoy tetep sayang sama kamu. Mami juga sayang selalu sama kamu. Setiap hari ditelepon, diajak jalan sama Mami setiap Mami ke Jakarta. Mami juga sering ajak kamu buat nginep ke Bogor. Lihat ini waktu kamu masih kecil sama Mami. Papo, Pipoy, Mami, dan Om Papi semua sayang kamu dan gak akan ada yang lupa sama kamu.” Ligar mencabut ponselnya dari charger untuk menunjukkan kenangan masa kecil Arsen dengan dirinya dan sang mantan istri.

“Papo janji ya selalu sayang sama aku!” Arsen mengeluarkan jari kelingkingnya meminta perjanjian Ligar. “Janji.” Ligar mengaitkan kelingkingnya dengan milik Arsen sebagai bentuk janji.

“Kamu kalo jadi kakak suka, nggak?” tanya Ligar ingin tahu.

“Aku enggak tau. Aku nggak pernah jadi kakak, tapi kata Lundra aku itu juga kakak kayak dia. Katanya karena Mami punya adik bayi jadi aku itu kakak. Itu bener ya, Papo?” Ligar sedikit menyesali membincangkan hal ini dengan Arsen di pagi buta. Kesadarannya belum penuh dan sudah disambut pertanyaan berat.

“Itu bener, tapi kamu mau jadi kakak atau enggak itu pilihan kamu. Anaknya Mami dan Papo itu cuma kamu, gak ada yang lain. Tapi setelah Mami menikah dengan Om Papi, Mami punya adik bayi, dan sekarang Papo menikah dengan Pipoy punya adik bayi juga. Papo gak minta kamu buat jadi kakaknya adik bayinya Mami ataupun Pipoy, kamu boleh pilih mau jadi temannya adik bayi atau kakanya adik bayi. Bicara Papo susah dimengerti, ya?”

“Sedikit mengerti. Tapi kenapa kita semua gak tinggal sama-sama aja Papo? Biar aku bisa sama Papo sama Mami,” bingungnya dengan panjangnya penuturan Ligar.

“Maaf ya...”

“Karena Papo dan Mami gak menikah ya?ㅡaku buat Papo sedih ya? Jangan nangis dong Papo.”

Lidah Ligar kelu untuk menjawab pertanyaan Arsen, bahkan pikirannya saja tak mampu menemukan apa jawaban yang tepat untuk dia berikan pada Arsen. Hanya pelukan erat dengan ucapan maaf yang tak henti dia berikan.

“Papo minta maaf ya gak bisa buat Papo, kamu, dan Mami sama-sama. Papo minta maaf...”

Cukup lama Ligar dalam tangisnya dengan memeluk Arsen. Dirinya baru melepaskan itu saat Arsen memprotesnya karena membuat dirinya tertekan dalam dekapannya.

“Papo... jadi kakak itu seru atau enggak? Aku gak suka kalo jadi kakak nanti adik bayi suka ikut-ikut aku main lego. Adik bayi bisanya bikin rusak, Papo.”

“Adik bayi itu biasanya belum mengerti. Kalo kamu jadi kakak nanti kamu kasih tau adik bayi gimana cara main lego. Jadi kakak yang baik itu keren. Nanti kalo adik bayi bisa main lego karena diajarin kamu berarti kamu jago banget. Adik bayi nanti pasti bilang ke temen-temennya kalo dia bisa rakit lego karena punya kakak jagoan kayak kamu,” terang Ligar walaupun dirinya sendiri tak merasakan bagaimana menjadi kakak sesungguhnya. Dirinya sendiri merupakan anak tunggal.

“Bener juga ya, Papo. Kan adik bayi gak punya mainan di perut. Dia mana tau!” Ligar menganggukkan kepalanya.

Keduanya berbincang banyak hingga fajar tiba. Dari yang mulanya membicarakan adik bayi hingga membahas keberadaan alien di dunia. Tangis yang tadi turun telah berganti menjadi tawa.

Ketika turun ke ruang makan, Raga disambut dengan pelukan Arsen. Bocil kesayangannya itu telah rapi dengan seragamnya, berbanding terbalik dengan dirinya yang baru saja bangun. Maniknya mengabsen setiap sudut ruang makan dan tak menemukan keberadaan Ligar.

Baru saja Raga letakkan cangkir di mesin kopi, dirinya sudah ditarik Arsen untuk duduk di ruang makan. Nyawanya yang masih belum sepenuhnya terkumpul membuat dirinya pasrah saja dengan perbuatan Arsen. Anak itu menyuguhkan segelas susu untuknya yang dia buat dengan tangannya sendiri dan sedikit bantuan Mbak Tun untuk menuangkan air panasnya tadi.

“Pipoy tidak boleh minum kopi, minumnya susu ya!” tuturnya membuat Raga mengerutkan dahinya. Tidak pernah sebelumnya Arsen memprotes hal ini, biasanya anak ini justru mempertanyakan jika saat pagi dirinya tidak menyeduh kopi.

“Susu itu buat bocah kayak kamu sama bayi,” balasnya menanggapi perintah Arsen.

“Kan Pipoy ada adik bayi!” Mata Raga membulat mendengarnya. Dari mana bocah ciliknya ini mengetahui kehamilannya. Pikirnya tidak mungkin Arsen memahami testpack yang ditemukannya kemarin. “Di sini Pipoy ada adik bayi.” Arsen menyentuh perutnya lantas memberikan kecupannya di perut Raga.

“Kamu tau dari mana, Cil?” bingungnya.

“Papo tadi kasih tahu. Papo bilang Pipoy ada adik bayi kayak Pipinya Lundra.” Emosinya tiba-tiba naik mengetahui Ligar yang telah memberitahu Arsen.

Raga menggelegarkan nama Ligar dengan teriakannya karena tak tahu dimana keberadaan pria itu. Arsen menggunakan tangan kanannya untuk menutup telinganya sedangkan tangan kirinya dia letakkan di perut Raga. Bocah cilik itu tak mau adik bayi di perut Pipoynya sakit telinga atas teriakan kencang Raga.

Ligar menuruni anak tangga dengan cepat setelah mendengar teriakan Raga. Dirinya berjalan ke arah Raga yang menatapnya sengit dengan tangannya yang mengancingkan kemejanya.

“Kamu kasih tau bocil?!” sentak Raga membuat Ligar dengan cepat menganggukkan kepalanya.

Ligar tak berani melanjutkan langkahnya melihat wajah memerah Raga. Sepertinya dirinya akan mendapat amarah Raga karena memberitahukan kehamilannya pada Arsen. Pikirannya itu dengan cepat dipatahkan saat Raga dihadapannya kini menangis. Arsen dan dirinya sejenak bertemu pandang karena sama bingungnya dengan Raga yang tiba-tiba menangis.

“Kemaren aku mau kasih tau kamu malah bocil ngirim foto ke grup. Hari ini aku mau kasih tau bocil tapi kamu malah ngasih tau duluan.” Raga mengencangkan tangisnya setelah menyelesaikan kalimatnya. “Kenapa aku gak dibolehin ngasih tau ini semua sendiri? Sakit hati banget aku taunya,” lanjutnya.

Tangisnya semakin nyaring saat Ligar memeluknya, ditambah dengan Arsen yang juga mengikuti tindakan sang Papo. Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Ligar. Dirinya biarkan Raga menangis sepuasnya daripada dirinya menanggapi dengan kalimat dan semakin memanaskan suasana pagi.

“Kalo gitu kita ulang aja deh! Aku ceritanya enggak tau ya Pipoy.” Arsen melepaskan pelukannya dan mengambil duduk berhadapan dengan Raga. “Papo jangan ikut-ikutan ya! Papo gak diajak!” Perintahnya pada Ligar dengan muka kesalnya.

Raga mengusap air mata yang membasahi pipinya. Hazelnya nampak berkilau akibat air mata yang masih menyisa di sana. Dengan lekat, dirinya menatap Arsen yang menunggunya antusias.

“Kamu seneng Pipoy ada adik bayi?” Arsen mengangguk tanpa ragu.

“Sebenernya sedikit gak suka. Sedikit aja Pipoy.” Jemarinya membuat gerakan mencubit untuk memberitahukan betapa sedikitnya ketidaksukaannya. “Papo bilangㅡenggak, bukan Papo. Aku sedikit gak suka karena nanti kalo ada adik bayi dia suka ikut-ikut main lego aku kayak adik bayinya Mami. Tapi aku mau jadi kakak yang baik! Kakak yang baik itu keren, nanti aku ajarin adik bayi buat bikinnya. Adik bayi harus umur 6 baru boleh ikut main lego aku,” terangnya panjang.

Memang alasan anak-anak yang membuat Arsen kurang menyukai bayi. Akan tetapi itu wajar dalam usianya, terlebih hingga kini dirinya berusia sepuluh tahun dirinya menjadi satu-satunya milik sang Papo. Tentu juga Arsen memiliki rasa takut akan kehilangan perhatian Pipoynya yang baru dia dapatkan kurang lebih dua tahun terakhir.

“Pipoy tetep sayang aku kan kalo ada adik bayi?”

“Sayang lah. Kamu anak pertama Pipo dan adik bayi ini anak kedua Pipo. Semuanya disayang.” Senyuman lebar seketika tergambar di wajah Arsen. “Cil, kamu mau dipanggil kakak atau mas?” lanjut Raga bertanya.

“Pipoy jangan panggil aku bocil terus dong! Kalo aku jadi kakak itu berarti aku udah gedhe! Panggil aku Mas Arsen!” Tangan kecilnya seketika melipat didepan dadanya dengan dahi mengkerut dan suara dengusan yang terdengar. “PAPO JUGA! PANGGIL AKU MAS ARSEN! SEMUA PANGGIL AKU MAS ARSEN!” teriaknya sampai Mbak Tun yang tengah membereskan dapur ikut senang mendengarnya. Mbak Tun sendiri merupakan saksi kehidupan Arsen dari masih dalam kandungan hingga kini.

“Iya, Mas Arsen. Mas Arsen nanti mau ikut Papo sama Pipoy lihat adik bayi nggak?” Bocah cilik itu lantas mengangguk semangat. “Nanti ya pulang sekolah kita sama-sama lihat adik bayi.”

Arsen bersorak girang berlari memutari meja makan. Ketika melewati bangku Raga, dirinya menyempatkan mencium perut Raga yang masih rata sebagaimana dirinya suka mengikuti Lundra mencium perut Jemian yang telah nampak membuncit karena adanya bayi.


flashback

Ligar yang masih dalam lelapnya terusik dengan tarikan tak berdaya dari jemari-jemari kecil. Sedikit kesadarannya mencerna bahwa itu adalah Arsen yang terbangun di dini hari. Dengan perlahan dirinya melepaskan pelukan Raga dan menggeser tubuhnya membiarkan Arsen limbung diantara dirinya dan Raga.

“Tidurnya jangan kayak gitu.” Ligar reflek menarik Arsen menempel pada dirinya karena anak itu bergerak asal hingga hampir mengenai perut Raga. Lantas Ligar memilih memberikan bantal diantara Arsen dan Raga. “Di perut Pipoy ada adik bayi, hati-hati,” ceplosnya dengan sisa kesadarannya.

Dengan mendekap Arsen, Ligar kembali terlelap dalam tidurnya, berbeda dengan Arsen yang justru tak bisa kembali tidur. Pikirannya memikirkan kalimat yang baru diucapkan sang Papo. Dari dekapan Ligar, dirinya berbalik menghadap Raga. Arsen pandangi lamat-lamat Pipoy kesayangannya yang tengah pulas di alam mimpinya.

“Pipoy punya adik bayi? Kayak punya mami?” monolognya.

Arsen diam cukup lama setelahnya dan lama-kelamaan bibirnya semakin mencebik lalu mengeluarkan tangisannya. Semakin dirinya bayangkan Pipoy kesayangannya memiliki adik bayi maka tangisnya semakin menggelegar.

“Bro, kenapa? Kamu mimpi?” tanya Ligar yang kembali meraih kesadarannya akibat kencangnya tangisan Arsen.

“Pipoy beneran punya adik bayi, ya, Papo?” tanyanya berbalik pada Ligar.

Usapan-usapan hangat Ligar berikan pada Arsen. Dirinya baru menyadari bahwa telah tidak sengaja memberitahu Arsen perihal kehamilan Raga. Sebuah kecupan di kening Ligar berikan pada Arsen.

“Iya, Pipoy punya adik bayi kayak Pipinya Lundra,” terang Ligar. “Kamu sedih?” Arsen mengangguk.

“Nanti Pipoy sama Papo sayang ke adik bayi semua kayak Mami. Yang sayang aku siapa nanti?” tanyanya tersedu-sedu.

Ligar bangun dari tidurnya dan menggendong Arsen untuk berbicara menjauh dari Raga. Dirinya tak ingin suaminya itu terusik tidurnya dan mendengar apa yang Arsen katakan dan pertanyakan.

“Papo dan Pipoy selalu sayang kamu, walaupun ada adik bayi nanti, Papo dan Pipoy tetep sayang sama kamu. Mami juga sayang selalu sama kamu. Setiap hari ditelepon, diajak jalan sama Mami setiap Mami ke Jakarta. Mami juga sering ajak kamu buat nginep ke Bogor. Lihat ini waktu kamu masih kecil sama Mami. Papo, Pipoy, Mami, dan Om Papi semua sayang kamu dan gak akan ada yang lupa sama kamu.” Ligar mencabut ponselnya dari charger untuk menunjukkan kenangan masa kecil Arsen dengan dirinya dan sang mantan istri.

“Papo janji ya selalu sayang sama aku!” Arsen mengeluarkan jari kelingkingnya meminta perjanjian Ligar. “Janji.” Ligar mengaitkan kelingkingnya dengan milik Arsen sebagai bentuk janji.

“Kamu kalo jadi kakak suka, nggak?” tanya Ligar ingin tahu.

“Aku enggak tau. Aku nggak pernah jadi kakak, tapi kata Lundra aku itu juga kakak kayak dia. Katanya karena Mami punya adik bayi jadi aku itu kakak. Itu bener ya, Papo?” Ligar sedikit menyesali membincangkan hal ini dengan Arsen di pagi buta. Kesadarannya belum penuh dan sudah disambut pertanyaan berat.

“Itu bener, tapi kamu mau jadi kakak atau enggak itu pilihan kamu. Anaknya Mami dan Papo itu cuma kamu, gak ada yang lain. Tapi setelah Mami menikah dengan Om Papi, Mami punya adik bayi, dan sekarang Papo menikah dengan Pipoy punya adik bayi juga. Papo gak minta kamu buat jadi kakaknya adik bayinya Mami ataupun Pipoy, kamu boleh pilih mau jadi temannya adik bayi atau kakanya adik bayi. Bicara Papo susah dimengerti, ya?”

“Sedikit mengerti. Tapi kenapa kita semua gak tinggal sama-sama aja Papo? Biar aku bisa sama Papo sama Mami,” bingungnya dengan panjangnya penuturan Ligar.

“Maaf ya...”

“Karena Papo dan Mami gak menikah ya?ㅡaku buat Papo sedih ya? Jangan nangis dong Papo.”

Lidah Ligar kelu untuk menjawab pertanyaan Arsen, bahkan pikirannya saja tak mampu menemukan apa jawaban yang tepat untuk dia berikan pada Arsen. Hanya pelukan erat dengan ucapan maaf yang tak henti dia berikan.

“Papo minta maaf ya gak bisa buat Papo, kamu, dan Mami sama-sama. Papo minta maaf...”

Cukup lama Ligar dalam tangisnya dengan memeluk Arsen. Dirinya baru melepaskan itu saat Arsen memprotesnya karena membuat dirinya tertekan dalam dekapannya.

“Papo... jadi kakak itu seru atau enggak? Aku gak suka kalo jadi kakak nanti adik bayi suka ikut-ikut aku main lego. Adik bayi bisanya bikin rusak, Papo.”

“Adik bayi itu biasanya belum mengerti. Kalo kamu jadi kakak nanti kamu kasih tau adik bayi gimana cara main lego. Jadi kakak yang baik itu keren. Nanti kalo adik bayi bisa main lego karena diajarin kamu berarti kamu jago banget. Adik bayi nanti pasti bilang ke temen-temennya kalo dia bisa rakit lego karena punya kakak jagoan kayak kamu,” terang Ligar walaupun dirinya sendiri tak merasakan bagaimana menjadi kakak sesungguhnya. Dirinya sendiri merupakan anak tunggal.

“Bener juga ya, Papo. Kan adik bayi gak punya mainan di perut. Dia mana tau!” Ligar menganggukkan kepalanya.

Keduanya berbincang banyak hingga fajar tiba. Dari yang mulanya membicarakan adik bayi hingga membahas keberadaan alien di dunia. Tangis yang tadi turun telah berganti menjadi tawa.

Ketika turun ke ruang makan, Raga disambut dengan pelukan Arsen. Bocil kesayangannya itu telah rapi dengan seragamnya, berbanding terbalik dengan dirinya yang baru saja bangun. Maniknya mengabsen setiap sudut ruang makan dan tak menemukan keberadaan Ligar.

Baru saja Raga letakkan cangkir di mesin kopi, dirinya sudah ditarik Arsen untuk duduk di ruang makan. Nyawanya yang masih belum sepenuhnya terkumpul membuat dirinya pasrah saja dengan perbuatan Arsen. Anak itu menyuguhkan segelas susu untuknya yang dia buat dengan tangannya sendiri dan sedikit bantuan Mbak Tun untuk menuangkan air panasnya tadi.

“Pipoy tidak boleh minum kopi, minumnya susu ya!” tuturnya membuat Raga mengerutkan dahinya. Tidak pernah sebelumnya Arsen memprotes hal ini, biasanya anak ini justru mempertanyakan jika saat pagi dirinya tidak menyeduh kopi.

“Susu itu buat bocah kayak kamu sama bayi,” balasnya menanggapi perintah Arsen.

“Kan Pipoy ada adik bayi!” Mata Raga membulat mendengarnya. Dari mana bocah ciliknya ini mengetahui kehamilannya. Pikirnya tidak mungkin Arsen memahami testpack yang ditemukannya kemarin. “Di sini Pipoy ada adik bayi.” Arsen menyentuh perutnya lantas memberikan kecupannya di perut Raga.

“Kamu tau dari mana, Cil?” bingungnya.

“Papo tadi kasih tahu. Papo bilang Pipoy ada adik bayi kayak Pipinya Lundra.” Emosinya tiba-tiba naik mengetahui Ligar yang telah memberitahu Arsen.

Raga menggelegarkan nama Ligar dengan teriakannya karena tak tahu dimana keberadaan pria itu. Arsen menggunakan tangan kanannya untuk menutup telinganya sedangkan tangan kirinya dia letakkan di perut Raga. Bocah cilik itu tak mau adik bayi di perut Pipoynya sakit telinga atas teriakan kencang Raga.

Ligar menuruni anak tangga dengan cepat setelah mendengar teriakan Raga. Dirinya berjalan ke arah Raga yang menatapnya sengit dengan tangannya yang mengancingkan kemejanya.

“Kamu kasih tau bocil?!” sentak Raga membuat Ligar dengan cepat menganggukkan kepalanya.

Ligar tak berani melanjutkan langkahnya melihat wajah memerah Raga. Sepertinya dirinya akan mendapat amarah Raga karena memberitahukan kehamilannya pada Arsen. Pikirannya itu dengan cepat dipatahkan saat Raga dihadapannya kini menangis. Arsen dan dirinya sejenak bertemu pandang karena sama bingungnya dengan Raga yang tiba-tiba menangis.

“Kemaren aku mau kasih tau kamu malah bocil ngirim foto ke grup. Hari ini aku mau kasih tau bocil tapi kamu malah ngasih tau duluan.” Raga mengencangkan tangisnya setelah menyelesaikan kalimatnya. “Kenapa aku gak dibolehin ngasih tau ini semua sendiri? Sakit hati banget aku taunya,” lanjutnya.

Tangisnya semakin nyaring saat Ligar memeluknya, ditambah dengan Arsen yang juga mengikuti tindakan sang Papo. Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Ligar. Dirinya biarkan Raga menangis sepuasnya daripada dirinya menanggapi dengan kalimat dan semakin memanaskan suasana pagi.

“Kalo gitu kita ulang aja deh! Aku ceritanya enggak tau ya Pipoy.” Arsen melepaskan pelukannya dan mengambil duduk berhadapan dengan Raga. “Papo jangan ikut-ikutan ya! Papo gak diajak!” Perintahnya pada Ligar dengan muka kesalnya.

Raga mengusap air mata yang membasahi pipinya. Hazelnya nampak berkilau akibat air mata yang masih menyisa di sana. Dengan lekat, dirinya menatap Arsen yang menunggunya antusias.

“Kamu seneng Pipoy ada adik bayi?” Arsen mengangguk tanpa ragu.

“Sebenernya sedikit gak suka. Sedikit aja Pipoy.” Jemarinya membuat gerakan mencubit untuk memberitahukan betapa sedikitnya ketidaksukaannya. “Papo bilangㅡenggak, bukan Papo. Aku sedikit gak suka karena nanti kalo ada adik bayi dia suka ikut-ikut main lego aku kayak adik bayinya Mami. Tapi aku mau jadi kakak yang baik! Kakak yang baik itu keren, nanti aku ajarin adik bayi buat bikinnya. Adik bayi harus umur 6 baru boleh ikut main lego aku,” terangnya panjang.

Memang alasan anak-anak yang membuat Arsen kurang menyukai bayi. Akan tetapi itu wajar dalam usianya, terlebih hingga kini dirinya berusia sepuluh tahun dirinya menjadi satu-satunya milik sang Papo. Tentu juga Arsen memiliki rasa takut akan kehilangan perhatian Pipoynya yang baru dia dapatkan kurang lebih dua tahun terakhir.

“Pipoy tetep sayang aku kan kalo ada adik bayi?”

“Sayang lah. Kamu anak pertama Pipo dan adik bayi ini anak kedua Pipo. Semuanya disayang.” Senyuman lebar seketika tergambar di wajah Arsen. “Cil, kamu mau dipanggil kakak atau mas?” lanjut Raga bertanya.

“Pipoy jangan panggil aku bocil terus dong! Kalo aku jadi kakak itu berarti aku udah gedhe! Panggil aku Mas Arsen!” Tangan kecilnya seketika melipat didepan dadanya dengan dahi mengkerut dan suara dengusan yang terdengar. “PAPO JUGA! PANGGIL AKU MAS ARSEN! SEMUA PANGGIL AKU MAS ARSEN!” teriaknya sampai Mbak Tun yang tengah membereskan dapur ikut senang mendengarnya. Mbak Tun sendiri merupakan saksi kehidupan Arsen dari masih dalam kandungan hingga kini.

“Iya, Mas Arsen. Mas Arsen nanti mau ikut Papo sama Pipoy lihat adik bayi nggak?” Bocah cilik itu lantas mengangguk semangat. “Nanti ya pulang sekolah kita sama-sama lihat adik bayi.”

Arsen bersorak girang berlari memutari meja makan. Ketika melewati bangku Raga, dirinya menyempatkan mencium perut Raga yang masih rata sebagaimana dirinya suka mengikuti Lundra mencium perut Jemian yang telah nampak membuncit karena adanya bayi.


flashback

**Ligar yang masih dalam lelapnya terusik dengan tarikan tak berdaya dari jemari-jemari kecil. Sedikit kesadarannya mencerna bahwa itu adalah Arsen yang terbangun di dini hari. Dengan perlahan dirinya melepaskan pelukan Raga dan menggeser tubuhnya membiarkan Arsen limbung diantara dirinya dan Raga.

“Tidurnya jangan kayak gitu.” Ligar reflek menarik Arsen menempel pada dirinya karena anak itu bergerak asal hingga hampir mengenai perut Raga. Lantas Ligar memilih memberikan bantal diantara Arsen dan Raga. “Di perut Pipoy ada adik bayi, hati-hati,” ceplosnya dengan sisa kesadarannya.

Dengan mendekap Arsen, Ligar kembali terlelap dalam tidurnya, berbeda dengan Arsen yang justru tak bisa kembali tidur. Pikirannya memikirkan kalimat yang baru diucapkan sang Papo. Dari dekapan Ligar, dirinya berbalik menghadap Raga. Arsen pandangi lamat-lamat Pipoy kesayangannya yang tengah pulas di alam mimpinya.

“Pipoy punya adik bayi? Kayak punya mami?” monolognya.

Arsen diam cukup lama setelahnya dan lama-kelamaan bibirnya semakin mencebik lalu mengeluarkan tangisannya. Semakin dirinya bayangkan Pipoy kesayangannya memiliki adik bayi maka tangisnya semakin menggelegar.

“Bro, kenapa? Kamu mimpi?” tanya Ligar yang kembali meraih kesadarannya akibat kencangnya tangisan Arsen.

“Pipoy beneran punya adik bayi, ya, Papo?” tanyanya berbalik pada Ligar.

Usapan-usapan hangat Ligar berikan pada Arsen. Dirinya baru menyadari bahwa telah tidak sengaja memberitahu Arsen perihal kehamilan Raga. Sebuah kecupan di kening Ligar berikan pada Arsen.

“Iya, Pipoy punya adik bayi kayak Pipinya Lundra,” terang Ligar. “Kamu sedih?” Arsen mengangguk.

“Nanti Pipoy sama Papo sayang ke adik bayi semua kayak Mami. Yang sayang aku siapa nanti?” tanyanya tersedu-sedu.

Ligar bangun dari tidurnya dan menggendong Arsen untuk berbicara menjauh dari Raga. Dirinya tak ingin suaminya itu terusik tidurnya dan mendengar apa yang Arsen katakan dan pertanyakan.

“Papo dan Pipoy selalu sayang kamu, walaupun ada adik bayi nanti, Papo dan Pipoy tetep sayang sama kamu. Mami juga sayang selalu sama kamu. Setiap hari ditelepon, diajak jalan sama Mami setiap Mami ke Jakarta. Mami juga sering ajak kamu buat nginep ke Bogor. Lihat ini waktu kamu masih kecil sama Mami. Papo, Pipoy, Mami, dan Om Papi semua sayang kamu dan gak akan ada yang lupa sama kamu.” Ligar mencabut ponselnya dari charger untuk menunjukkan kenangan masa kecil Arsen dengan dirinya dan sang mantan istri.

“Papo janji ya selalu sayang sama aku!” Arsen mengeluarkan jari kelingkingnya meminta perjanjian Ligar. “Janji.” Ligar mengaitkan kelingkingnya dengan milik Arsen sebagai bentuk janji.

“Kamu kalo jadi kakak suka, nggak?” tanya Ligar ingin tahu.

“Aku enggak tau. Aku nggak pernah jadi kakak, tapi kata Lundra aku itu juga kakak kayak dia. Katanya karena Mami punya adik bayi jadi aku itu kakak. Itu bener ya, Papo?” Ligar sedikit menyesali membincangkan hal ini dengan Arsen di pagi buta. Kesadarannya belum penuh dan sudah disambut pertanyaan berat.

“Itu bener, tapi kamu mau jadi kakak atau enggak itu pilihan kamu. Anaknya Mami dan Papo itu cuma kamu, gak ada yang lain. Tapi setelah Mami menikah dengan Om Papi, Mami punya adik bayi, dan sekarang Papo menikah dengan Pipoy punya adik bayi juga. Papo gak minta kamu buat jadi kakaknya adik bayinya Mami ataupun Pipoy, kamu boleh pilih mau jadi temannya adik bayi atau kakanya adik bayi. Bahasa Papo sulit, ya?”

“Sedikit mengerti. Tapi kenapa kita semua gak tinggal sama-sama aja Papo? Biar aku bisa sama Papo sama Mami,” bingungnya dengan panjangnya penuturan Ligar.

“Maaf ya...”

“Karena Papo dan Mami gak menikah ya?ㅡaku buat Papo sedih ya? Jangan nangis dong Papo.”

Lidah Ligar kelu untuk menjawab pertanyaan Arsen, bahkan pikirannya saja tak mampu menemukan apa jawaban yang tepat untuk dia berikan pada Arsen. Hanya pelukan erat dengan ucapan maaf yang tak henti dia berikan.

“Papo minta maaf ya gak bisa buat Papo, kamu, dan Mami sama-sama. Papo minta maaf...”

Cukup lama Ligar dalam tangisnya dengan memeluk Arsen. Dirinya baru melepaskan itu saat Arsen memprotesnya karena membuat dirinya tertekan dalam dekapannya.

“Papo... jadi kakak itu seru atau enggak? Aku gak suka kalo jadi kakak nanti adik bayi suka ikut-ikut aku main lego. Adik bayi bisanya bikin rusak, Papo.”

“Adik bayi itu biasanya belum mengerti. Kalo kamu jadi kakak nanti kamu kasih tau adik bayi gimana cara main lego. Jadi kakak yang baik itu keren. Nanti kalo adik bayi bisa main lego karena diajarin kamu berarti kamu jago banget. Adik bayi nanti pasti bilang ke temen-temennya kalo dia bisa rakit lego karena punya kakak jagoan kayak kamu,” terang Ligar walaupun dirinya sendiri tak merasakan bagaimana menjadi kakak sesungguhnya. Dirinya sendiri merupakan anak tunggal.

“Bener juga ya, Papo. Kan adik bayi gak punya mainan di perut. Dia mana tau!” Ligar menganggukkan kepalanya.

Keduanya berbincang banyak hingga fajar tiba. Dari yang mulanya membicarakan adik bayi hingga membahas keberadaan alien di dunia. Tangis yang tadi turun telah berganti menjadi tawa.**