Adik Bayi

Ketika turun ke ruang makan, Raga disambut dengan pelukan Arsen. Bocil kesayangannya itu telah rapi dengan seragamnya, berbanding terbalik dengan dirinya yang baru saja bangun. Maniknya mengabsen setiap sudut ruang makan dan tak menemukan keberadaan Ligar.

Baru saja Raga letakkan cangkir di mesin kopi, dirinya sudah ditarik Arsen untuk duduk di ruang makan. Nyawanya yang masih belum sepenuhnya terkumpul membuat dirinya pasrah saja dengan perbuatan Arsen. Anak itu menyuguhkan segelas susu untuknya yang dia buat dengan tangannya sendiri dan sedikit bantuan Mbak Tun untuk menuangkan air panasnya tadi.

“Pipoy tidak boleh minum kopi, minumnya susu ya!” tuturnya membuat Raga mengerutkan dahinya. Tidak pernah sebelumnya Arsen memprotes hal ini, biasanya anak ini justru mempertanyakan jika saat pagi dirinya tidak menyeduh kopi.

“Susu itu buat bocah kayak kamu sama bayi,” balasnya menanggapi perintah Arsen.

“Kan Pipoy ada adik bayi!” Mata Raga membulat mendengarnya. Dari mana bocah ciliknya ini mengetahui kehamilannya. Pikirnya tidak mungkin Arsen memahami testpack yang ditemukannya kemarin. “Di sini Pipoy ada adik bayi.” Arsen menyentuh perutnya lantas memberikan kecupannya di perut Raga.

“Kamu tau dari mana, Cil?” bingungnya.

“Papo tadi kasih tahu. Papo bilang Pipoy ada adik bayi kayak Pipinya Lundra.” Emosinya tiba-tiba naik mengetahui Ligar yang telah memberitahu Arsen.

Raga menggelegarkan nama Ligar dengan teriakannya karena tak tahu dimana keberadaan pria itu. Arsen menggunakan tangan kanannya untuk menutup telinganya sedangkan tangan kirinya dia letakkan di perut Raga. Bocah cilik itu tak mau adik bayi di perut Pipoynya sakit telinga atas teriakan kencang Raga.

Ligar menuruni anak tangga dengan cepat setelah mendengar teriakan Raga. Dirinya berjalan ke arah Raga yang menatapnya sengit dengan tangannya yang mengancingkan kemejanya.

“Kamu kasih tau bocil?!” sentak Raga membuat Ligar dengan cepat menganggukkan kepalanya.

Ligar tak berani melanjutkan langkahnya melihat wajah memerah Raga. Sepertinya dirinya akan mendapat amarah Raga karena memberitahukan kehamilannya pada Arsen. Pikirannya itu dengan cepat dipatahkan saat Raga dihadapannya kini menangis. Arsen dan dirinya sejenak bertemu pandang karena sama bingungnya dengan Raga yang tiba-tiba menangis.

“Kemaren aku mau kasih tau kamu malah bocil ngirim foto ke grup. Hari ini aku mau kasih tau bocil tapi kamu malah ngasih tau duluan.” Raga mengencangkan tangisnya setelah menyelesaikan kalimatnya. “Kenapa aku gak dibolehin ngasih tau ini semua sendiri? Sakit hati banget aku taunya,” lanjutnya.

Tangisnya semakin nyaring saat Ligar memeluknya, ditambah dengan Arsen yang juga mengikuti tindakan sang Papo. Tak ada kalimat yang keluar dari mulut Ligar. Dirinya biarkan Raga menangis sepuasnya daripada dirinya menanggapi dengan kalimat dan semakin memanaskan suasana pagi.

“Kalo gitu kita ulang aja deh! Aku ceritanya enggak tau ya Pipoy.” Arsen melepaskan pelukannya dan mengambil duduk berhadapan dengan Raga. “Papo jangan ikut-ikutan ya! Papo gak diajak!” Perintahnya pada Ligar dengan muka kesalnya.

Raga mengusap air mata yang membasahi pipinya. Hazelnya nampak berkilau akibat air mata yang masih menyisa di sana. Dengan lekat, dirinya menatap Arsen yang menunggunya antusias.

“Kamu seneng Pipoy ada adik bayi?” Arsen mengangguk tanpa ragu.

“Sebenernya sedikit gak suka. Sedikit aja Pipoy.” Jemarinya membuat gerakan mencubit untuk memberitahukan betapa sedikitnya ketidaksukaannya. “Papo bilangㅡenggak, bukan Papo. Aku sedikit gak suka karena nanti kalo ada adik bayi dia suka ikut-ikut main lego aku kayak adik bayinya Mami. Tapi aku mau jadi kakak yang baik! Kakak yang baik itu keren, nanti aku ajarin adik bayi buat bikinnya. Adik bayi harus umur 6 baru boleh ikut main lego aku,” terangnya panjang.

Memang alasan anak-anak yang membuat Arsen kurang menyukai bayi. Akan tetapi itu wajar dalam usianya, terlebih hingga kini dirinya berusia sepuluh tahun dirinya menjadi satu-satunya milik sang Papo. Tentu juga Arsen memiliki rasa takut akan kehilangan perhatian Pipoynya yang baru dia dapatkan kurang lebih dua tahun terakhir.

“Pipoy tetep sayang aku kan kalo ada adik bayi?”

“Sayang lah. Kamu anak pertama Pipo dan adik bayi ini anak kedua Pipo. Semuanya disayang.” Senyuman lebar seketika tergambar di wajah Arsen. “Cil, kamu mau dipanggil kakak atau mas?” lanjut Raga bertanya.

“Pipoy jangan panggil aku bocil terus dong! Kalo aku jadi kakak itu berarti aku udah gedhe! Panggil aku Mas Arsen!” Tangan kecilnya seketika melipat didepan dadanya dengan dahi mengkerut dan suara dengusan yang terdengar. “PAPO JUGA! PANGGIL AKU MAS ARSEN! SEMUA PANGGIL AKU MAS ARSEN!” teriaknya sampai Mbak Tun yang tengah membereskan dapur ikut senang mendengarnya. Mbak Tun sendiri merupakan saksi kehidupan Arsen dari masih dalam kandungan hingga kini.

“Iya, Mas Arsen. Mas Arsen nanti mau ikut Papo sama Pipoy lihat adik bayi nggak?” Bocah cilik itu lantas mengangguk semangat. “Nanti ya pulang sekolah kita sama-sama lihat adik bayi.”

Arsen bersorak girang berlari memutari meja makan. Ketika melewati bangku Raga, dirinya menyempatkan mencium perut Raga yang masih rata sebagaimana dirinya suka mengikuti Lundra mencium perut Jemian yang telah nampak membuncit karena adanya bayi.


flashback

Ligar yang masih dalam lelapnya terusik dengan tarikan tak berdaya dari jemari-jemari kecil. Sedikit kesadarannya mencerna bahwa itu adalah Arsen yang terbangun di dini hari. Dengan perlahan dirinya melepaskan pelukan Raga dan menggeser tubuhnya membiarkan Arsen limbung diantara dirinya dan Raga.

“Tidurnya jangan kayak gitu.” Ligar reflek menarik Arsen menempel pada dirinya karena anak itu bergerak asal hingga hampir mengenai perut Raga. Lantas Ligar memilih memberikan bantal diantara Arsen dan Raga. “Di perut Pipoy ada adik bayi, hati-hati,” ceplosnya dengan sisa kesadarannya.

Dengan mendekap Arsen, Ligar kembali terlelap dalam tidurnya, berbeda dengan Arsen yang justru tak bisa kembali tidur. Pikirannya memikirkan kalimat yang baru diucapkan sang Papo. Dari dekapan Ligar, dirinya berbalik menghadap Raga. Arsen pandangi lamat-lamat Pipoy kesayangannya yang tengah pulas di alam mimpinya.

“Pipoy punya adik bayi? Kayak punya mami?” monolognya.

Arsen diam cukup lama setelahnya dan lama-kelamaan bibirnya semakin mencebik lalu mengeluarkan tangisannya. Semakin dirinya bayangkan Pipoy kesayangannya memiliki adik bayi maka tangisnya semakin menggelegar.

“Bro, kenapa? Kamu mimpi?” tanya Ligar yang kembali meraih kesadarannya akibat kencangnya tangisan Arsen.

“Pipoy beneran punya adik bayi, ya, Papo?” tanyanya berbalik pada Ligar.

Usapan-usapan hangat Ligar berikan pada Arsen. Dirinya baru menyadari bahwa telah tidak sengaja memberitahu Arsen perihal kehamilan Raga. Sebuah kecupan di kening Ligar berikan pada Arsen.

“Iya, Pipoy punya adik bayi kayak Pipinya Lundra,” terang Ligar. “Kamu sedih?” Arsen mengangguk.

“Nanti Pipoy sama Papo sayang ke adik bayi semua kayak Mami. Yang sayang aku siapa nanti?” tanyanya tersedu-sedu.

Ligar bangun dari tidurnya dan menggendong Arsen untuk berbicara menjauh dari Raga. Dirinya tak ingin suaminya itu terusik tidurnya dan mendengar apa yang Arsen katakan dan pertanyakan.

“Papo dan Pipoy selalu sayang kamu, walaupun ada adik bayi nanti, Papo dan Pipoy tetep sayang sama kamu. Mami juga sayang selalu sama kamu. Setiap hari ditelepon, diajak jalan sama Mami setiap Mami ke Jakarta. Mami juga sering ajak kamu buat nginep ke Bogor. Lihat ini waktu kamu masih kecil sama Mami. Papo, Pipoy, Mami, dan Om Papi semua sayang kamu dan gak akan ada yang lupa sama kamu.” Ligar mencabut ponselnya dari charger untuk menunjukkan kenangan masa kecil Arsen dengan dirinya dan sang mantan istri.

“Papo janji ya selalu sayang sama aku!” Arsen mengeluarkan jari kelingkingnya meminta perjanjian Ligar. “Janji.” Ligar mengaitkan kelingkingnya dengan milik Arsen sebagai bentuk janji.

“Kamu kalo jadi kakak suka, nggak?” tanya Ligar ingin tahu.

“Aku enggak tau. Aku nggak pernah jadi kakak, tapi kata Lundra aku itu juga kakak kayak dia. Katanya karena Mami punya adik bayi jadi aku itu kakak. Itu bener ya, Papo?” Ligar sedikit menyesali membincangkan hal ini dengan Arsen di pagi buta. Kesadarannya belum penuh dan sudah disambut pertanyaan berat.

“Itu bener, tapi kamu mau jadi kakak atau enggak itu pilihan kamu. Anaknya Mami dan Papo itu cuma kamu, gak ada yang lain. Tapi setelah Mami menikah dengan Om Papi, Mami punya adik bayi, dan sekarang Papo menikah dengan Pipoy punya adik bayi juga. Papo gak minta kamu buat jadi kakaknya adik bayinya Mami ataupun Pipoy, kamu boleh pilih mau jadi temannya adik bayi atau kakanya adik bayi. Bicara Papo susah dimengerti, ya?”

“Sedikit mengerti. Tapi kenapa kita semua gak tinggal sama-sama aja Papo? Biar aku bisa sama Papo sama Mami,” bingungnya dengan panjangnya penuturan Ligar.

“Maaf ya...”

“Karena Papo dan Mami gak menikah ya?ㅡaku buat Papo sedih ya? Jangan nangis dong Papo.”

Lidah Ligar kelu untuk menjawab pertanyaan Arsen, bahkan pikirannya saja tak mampu menemukan apa jawaban yang tepat untuk dia berikan pada Arsen. Hanya pelukan erat dengan ucapan maaf yang tak henti dia berikan.

“Papo minta maaf ya gak bisa buat Papo, kamu, dan Mami sama-sama. Papo minta maaf...”

Cukup lama Ligar dalam tangisnya dengan memeluk Arsen. Dirinya baru melepaskan itu saat Arsen memprotesnya karena membuat dirinya tertekan dalam dekapannya.

“Papo... jadi kakak itu seru atau enggak? Aku gak suka kalo jadi kakak nanti adik bayi suka ikut-ikut aku main lego. Adik bayi bisanya bikin rusak, Papo.”

“Adik bayi itu biasanya belum mengerti. Kalo kamu jadi kakak nanti kamu kasih tau adik bayi gimana cara main lego. Jadi kakak yang baik itu keren. Nanti kalo adik bayi bisa main lego karena diajarin kamu berarti kamu jago banget. Adik bayi nanti pasti bilang ke temen-temennya kalo dia bisa rakit lego karena punya kakak jagoan kayak kamu,” terang Ligar walaupun dirinya sendiri tak merasakan bagaimana menjadi kakak sesungguhnya. Dirinya sendiri merupakan anak tunggal.

“Bener juga ya, Papo. Kan adik bayi gak punya mainan di perut. Dia mana tau!” Ligar menganggukkan kepalanya.

Keduanya berbincang banyak hingga fajar tiba. Dari yang mulanya membicarakan adik bayi hingga membahas keberadaan alien di dunia. Tangis yang tadi turun telah berganti menjadi tawa.