Membantu
Auriga panik dalam boncengan motor Elang. Bukan masalah kecepatannya, dia sudah biasa dibonceng seakan siap sehidup dan semati oleh kakak-kakaknya, tapi ini dirinya tak mengenakan helm di jalan utama. Kalau bukan demi Elang yang akan membantunya mengerjakan tugas pkkmb-nya, dirinya tak akan mau seperti ini.
“Mas iku nek depan biasae onok polisi! Moh ya aku ketilang.” Auriga menepuki pundak Elang yang tetap nekat memboncengnya tanpa helm di jalan utama. “Belok o kiri!” perintahnya pada Elang untuk mengambil jalan pintas. Dirinya sungguh takut ditilang, sedangkan Elang yang membonceng hanya tertawa atas paniknya.
Auriga menghela napasnya ketika akhirnya sampai dirumahnya. Dirinya merapihkan rambutnya dengan berkaca pada spion motor Elang. “Lanangan edan,” celetuknya setelah selesai menata rambutnya. “Tunggu dulu situ, Mas. Tak ambilin barang-barangku,” tuturnya meminta Elang duduk di sofa teras rumahnya.
Elang menunggu Auriga dengan menonton tutorial pembuatan tugas pkkmb karena dirinya belum mengetahui jelas. Sesungguhnya, Elang nekat menyetujui Auriga yang memintanya membantu membuat tugas pkkmb-nya.
“Hati-hati bawanya.” Elang membukakan pintu yang belum terbuka sempurna saat Auriga akan keluar. Hampir saja anak itu menabrak pintu akibat pandangannya tertutup besarnya lembaran karton yang dibawa.
“Liaten aku gak jadi-jadi bikine,” adunya seranya menjajarkan barang-barangnya. “Lapo seh susah banget kasih tugase,” tambahnya.
“Buat latihan kamu disuruh bikin maket harus jadi dalam semalam,” celetuk Elang asal.
“Serius, Mas?!” Elang menganggukan kepalanya iseng. Walaupun itu tidak sepenuhnya asal perkataannya mengingat temannya di jurusan arsitektur yang beberapa kali membuat maket seakan dirinya ken arok yang diminta ken dedes membangun candi dalam semalam.
“Apa aku mengundurkan diri aja ya? Itu kayaknya serem.” Auriga melirik sinis Elang yang menertawakan ucapannya.
“Makanya nanti kalau ada tugas sebisa mungkin jangan ditunda-tunda kerjainnya biar gak simulasi jadi Ken Arok bikin maketnya. Pinter-pinter manajemen waktu.”
Auriga menemani Elang mengerjakan tugasnya dengan menonton drama ditemani kucing kesayangannya dalam pangkuannya. Sementara Elang mengerjakan dengan batinnya merutuki dirinya sendiri yang mau saja membantu mengerjakan semua ini. Dirinya mengakui di tahun ini bentuknya lebih sulit dibanding tahun dirinya ppkmb dahulu.
“Mas, monggo diminum sama dimakan ini jajanannya,” tawar seorang pekerja di rumah Auriga yang mengantarkan minuman dan makanan.
“Terima kasih, Mbak.”
“Loh iki adek malah bobo nek kene.” Elang menoleh pada sofa disebelahnya melihat Auriga yang sudah pulas ditemani kucingnya.
'Enak banget anjir lo tidur, gue pusing bangsat!' batin Elang. “Biarin aja, Mbak. Capek banget dia kayaknya,” suaranya membalas ucapan pekerja tersebut.