Tanggung Jawab

cw // unwanted baby , violence

Eros pandangi bahagianya orangtua Aru menyambut sulungnya beserta suaminya. Hangat sekali melihatnya. Dirinya tetap duduk bersama genggaman tangan Aru, tak menampik keduanya tengah sama gugupnya. Ketika Aru dibawa dalam pelukan Papinya, dirinya lemparkan senyumnya yang jelas tak dihiraukan. Walaupun begitu, Eros tetap dengan santunnya mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan orangtua Aru. Syukurnya, mereka tak pernah menolak untuk dijabat tangannya, membuatnya merasa dianggap keberadaannya.

Tangan Papi yang mengarah pada perut Osa ditahan oleh Loka. Manik pria berusia senja itu nampak bingung. Dirinya segera memundurkan tangannya kala suaminya mengatakan bahwa kondisi Osa masih rentan diawal kehamilannya.

“Maaf ya, Kak. Papi terlalu excited mau punya cucu. Papi tahu perjuangan kalian untuk dapetin malaikat kecil yang sekarang ada sama Kakak itu bagaimana,” ucapnya dengan haru.

“Papi... Loka minta maaf.” Orangtua Osa dan Aru beradu pandang mendengar ucapan maaf Loka yang terkesan aneh diucapkannya di momen seperti ini. “Foto yang Loka kirim ke kalian itu bukan punya Osa. Osa belum hamil.” Dirinya mempertegas maksudnya dikalimat terakhirnya.

Kedua orang tua tersebut nampak bingung, sedang dua pemuda di sofa seberang tengah sama menundukkan kepalanya. Genggaman tangan Aru pada Eros semakin erat, membuat keduanya saling merasakan dinginnya ujung jemari mereka.

“Itu punya Aru,” jawab Osa yang ditodong tatapan bingung penuh tanya kedua orang tuanya, pun dirinya tak melihat Aru ataupun Eros yang siap membuka mulutnya.

Eros mengeluarkan testpack dan hasil pemeriksaan Aru yang disimpannya di kantong jaketnya. Dirinya lantas ditarik berdiri oleh Papa Aru. Badan Aru ikut terhuyung karena genggaman tangan mereka.

“Saya tidak mengira kamu lebih rendah dari bayangan saya. Begitukah caramu untuk terus bisa bersama anak saya? Murahan sekali caramu!” Semua yang berada di ruang tamu seketika berdiri melihat Eros diberikan pukulan kencang.

Aru berlutut memeluk kaki sang Papa. Mulutnya terus lontarkan permohonan untuk berhenti memukuli Eros. Tak ada sama sekali perlawanan balik dari Eros, semua pukulan itu Eros terima adanya.

“Pukul aku juga! Aku sama salahnya kayak Eros. Kita sama-sama mau ngelakuinnya. Ayo pukul aku, Pa!” Aru beranjak dan membawa tangan Papanya di depan wajahnya. Tangan besar yang memukuli Eros tadi maju mendekat pipi Aru dan mengusap air mata yang jatuh membasahi pipi merahnya.

Kecewa sekali hati orang tua Aru mengetahui kehamilan putranya yang belum menikah, bahkan masih menempuh pendidikan sarjananya. Sakitnya semakin terasa ketika tahu Eros lah Ayah dari anak yang dikandung Aru. Eros, anak yang hidupnya berbanding jauh dengan Aru. Eros tak semiskin itu, dirinya masih tercukupi kebutuhan pokoknya, hanya dirinya perlu mendayung lebih keras untuk kebutuhan yang lainnya, berbeda dengan Aru yang tercukupi segalanya.

Eros susah payah bangkit dan bersujud di kaki Papa Aru. “Saya minta maaf sudah mengecewakan hati kalian dan bertindak sejauh ini pada Aru, saya minta maaf. Saya akan bertanggung jawab penuh atas Aru dan anak kami,” tuturnya dengan tangis tertahan.

“Tanggung jawab? Bercanda kamu!” Eros menggelengkan kepalanya dalam sujudnya. “Untuk hidupi diri kamu sendiri saja masih bingung, bagaimana bisa kamu bertanggung jawab? Mau menikahi Aru? Jangan mimpi! Jadi apa anak saya kalau bersama kamu,” tuturnya cukup menusuk hati Eros.

“Sudah berulang kali Papi bilang kalau dia itu hanya pengaruh buruk buat kamu, Ru! Lihat sekarang kamu seperti ini. Kamu bisa terlambat lulus kalau begini jadinya.” Eros mengeratkan kepalan tangannya mendengarnya. “Dia harus hilang dari Aru. Eros maupun anak di perut kamu, harus hilang!”

“Papi!” Aru, Osa, Loka, bahkan Papa Aru berseru pada pria yang ringan melontarkan kalimat tersebut. Pun Eros yang menatap terkejut walaupun dirinya sudah memiliki bayangan akan terjadinya hal ini.

“Papi, aku ngerti Papi kecewa, tapi dengan hilangin anak itu kelewatan. Aru sama Eros buat dia ada, mereka harus tanggung jawab. Papi ajarkan anak-anak Papi buat lari dari tanggung jawab?” sahut Loka yang ikut geram.

“Papi punya dua pilihan. Hilangkan anak itu atau kamu biarkan anak itu tumbuh, tapi dia akan jadi anak Kak Osa?”

“Itu anak Aru, Pi! Osa terus yang harus tanggung jawab sama salahnya Aru!” Osa meninggalkan ruang tamu setelah menyelesaikan kalimatnya. Dirinya tidak mengira orangtuanya akan berpikir seperti ini. Batin masa kecilnya meraung mendengar ucapan Papinya. Hanya karena dirinya seorang Kakak sedang Aru adiknya yang belum tahu banyak hal, dirinya selalu diminta bertanggung jawab atas kesalahan Aru walaupun pada hal sepele. Aru sudah sebesar ini namun hal itu masih terjadi lagi padanya, pecah sudah sakit hatinya yang mengepul.

Eros pun bangkit dari sujudnya mendengar pilihan tersebut. Itu adalah pilihan paling jelek yang pernah dirinya dengar sampai hari ini. “Anak itu anak saya dengan Aru. Saya masih punya mampu untuk bertanggung jawab. Serendah itukah saya di mata kalian?” Ucapan Papi Aru bak cuka yang dituangkan pada lukanya.