Secretly

⚠️ ; accident

Arsen dalam mode merajuknya itu sulit diatasi. Raga rasanya seperti maju kena, mundur pun kena. Arsen yang tidak dituruti tidak akan berhenti meraung. Dirinya dapat memahami Arsen yang tiga hari ini hanya menghabiskan harinya di kamar karena sakit, namun jika membawanya pergi keluar sementara kondisinya belum sepenuhnya pulih, itu bisa membuat Arsen kembali sakit dan tentunya yang Raga tak mau hadapi adalah amarah Ligar. Suaminya memang terhitung jarang marah, tetapi bukan berarti dia bisa menggampangkan segala hal dengan berpikiran Ligar tak akan marah.

“Keluar naik mobil atau gak jadi pergi?!” tegas Raga pada Arsen yang mengukuhkan pendiriannya untuk bepergian dengan motor.

Raga menghela napasnya karena pada akhirnya Arsen menurut walaupun dengan muka masamnya. Digandengnya jemari kecil yang hampir sama besarnya dengan miliknya itu menuju mobilnya yang telah disiapkan.

Sesuai permintaan bocah ciliknya, mereka pergi berdua tanpa memberitahu Ligar. Raga sedikit was-was jika Ligar pulang lebih awal dan mengetahui bahwa Arsen tidak di rumah. Dirinya telah mewanti Mbak Tun dan Mas Tono untuk mengabarinya jikalau Ligar pulang lebih awal.

“Pipoy, aku ikut mas-mas main skate ya?” izinnya pada Raga yang tentu diberikan gelengan kepala.

“Janjimu gak capek-capek!” tukasnya mengingatkan janji Arsen padanya.

Tangan kiri Raga diayun-ayun Arsen yang menggandengnya. Dirinya yakin sebentar lagi anak itu akan menggelayuti tangannya dan merajuk. Benar saja, ketika kedua sampai di dekat arena skate, Arsen menggelayuti Raga dan merajuk untuk diperbolehkan bermain. Hal itu membuat dirinya menjadi pusat perhatian.

Pada akhirnya, Raga mengalah. Dirinya membawa bocah cilik itu pada arena skate. Keduanya disambut ramah oleh skater di sana. Beberapa dari mereka mengenal Arsen dan Raga karena memang cukup sering keduanya datang.

“Gak usah heboh mainnya, udah janji gak capek-capek!” peringatnya kembali pada Arsen setelah berhasil meminjam skate salah satu skater di sana.

Jika biasanya Raga akan memantau Arsen di tempat teduh, kali ini dirinya turut mendampingi di dekat Arsen. Anak itu cerobohnya mirip dengannya, dirinya tak mau ada kejadian Arsen kembali drop karena jauh dari pengawasannya.

“Pipoy coba dong main, katanya bisa main skate!” tantangnya pada Raga.

“Kalo Pipo yang main, kamu neduh di sana.” Arsen menekuk bibirnya mendengar penuturan Raga. Tujuannya meminta itu pada Raga adalah untuk keduanya bermain bersama, namun Raga malah memintanya beristirahat. “Yaudah gak mau,” tolak Raga melihat Arsen yang enggan menyetujuinya.

“Sini, Cil, nepi dulu istirahat. Kita lihat Pipomu tuh jago beneran apa enggak. Apa bisanya cuma geber-geber motor aja.” Salah seorang skater yang ikut mendengar obrolan keduanya mengajak Arsen menepi. Lelaki itu juga mengetahui bahwa Arsen baru saja sakit karena Raga memberitahu.

“Ngejek gue banget lo! Gue nih multitalent!” Percaya dirinya menanggapi ucapan skater tersbut.

Raga menunjukkan aksinya bermain skate setelah Arsen berhasil dibujuk untuk beristirahat. Dirinya terkagun dengan diri sendiri yang masih lihat bermain papan skate walaupun sudah lama tak menyentuhnya. Di tengah unjuk kebolehannya, dirinya mendengar sorakan Arsen yang membuatnya sesekali menoleh melemparkan senyumnya.

“Keren banget kan Pipoy aku! Kamu gak punya kan Pipoy kayak Pipoynya aku?!” bangganya pada skater yang menemaninya di tempat teduh.

Arsen berlari menghampiri Raga kala dirinya menyudahi permainan papan skatenya. Bocah cilik itu dirinya tangkap dalam gendongannya dan membawanya berputar. Dirinya ikut senang melihat raut ceria Arsen setelah 3 hari ini banyak menangis karena sakitnya.

“Pipoy, aku pengen es krim boleh, ya? Please~” rajuknya lagi.

Raga tahu bahwa jika melihat ini, Ligar pasti memberikan penolakan. Akan tetapi, setelah melihat senyum cerah Arsen, dirinya tak mau membuat bibir kecil itu kembali ditekuk ke bawah. Dirinya turuti permintaan Arsen yang menginginkan es krim dengan menjanjikan tidak lebih dari satu skup.

Kedai es krim yang berada di seberang jalan membuat Raga dan Arsen harus menyeberangi ramainya jalanan. Di jam pulang sekolah dan kerja seperti ini, banyak orang berkendara dengan kecepatan tinggi dan tidak sabaran karena ingin segera sampai rumah. Raga menggenggam erat Arsen agar anak itu tak melangkah sembrono menyebrangi jalanan.

Kala lampu pejalan kaki telah hijau, Raga melangkahkan kaki di zebra cross dengan diikuti Arsen dibelakangnya yang tetap berpegang tangannya. Sahutan klakson dan teriakan riuh muncul kala salah seorang pengendara motor menancapkan gas-nya disaat lampu merah dan terdapat Raga dan Arsen yang menyeberangi jalan.

Raga yang buru-buru berlari dengan menarik Arsen nyatanya tak menolong. Motor yang melaju itu sukses menyerempet dirinya. Arsen terhuyung jatuh kala Raga ambruk akibat hantaman motor.

Arsen meraung kencang menggenggam tangan Raga. Kerumunan orang yang mengerubungi keduanya membuatnya takut. Di tengah ketakutannya, Arsen menghubungi Haris, dirinya tak punya keberanian menghubungi Ligar.

“Aku sama Pipoy!!” teriaknya ditengah isakannya kala seseorang mencoba membawanya menepi.