Pelukan Malam

cw // unwanted baby

Petak kamar kosan yang tidak bisa dibilang luas menjadi akhir perjalanan Aru hari ini. Dalam rengkuhan lelaki gemini, dirinya menyelesaikan tangisnya. Tangannya tak lepas memeluk perutnya dan sakit terus dirinya eluhkan pada Eros.

Sifat pemikir Aru membuat dirinya sendiri sekacau ini. Banyaknya kemungkinan yang akan terjadi, semua dia bayangkan. Menghilangkan seseorang yang masih belum berwujud sempurna dalam dirinya menjadi pilihannya. Mengetahui orangtuanya akan melakukan penerbangan ke Yogyakarta dini hari nanti menekan kepanikan Aru untuk bertindak gegabah tanpa memikirkan lebih lanjut.

Tangis semakin membasahi pipi Aru kala Eros menidurkan dirinya dan mengelus perutnya yang sedari tadi ia keluhkan sakit. Rasa bersalahnya menumpuk melihatnya. Lelaki itu tadi menjemputnya tanpa banyak kata. Hanya kata 'pulang' yang dilontarkan dengan tangannya menarik dirinya pergi. Ributnya tak ditanggapi apapun oleh Eros, lelaki itu tetap erat menarik dirinya pergi dari tempat itu.

“Sakit banget ya, sayang?” Aru gelengkan kepalanya. Rasa sakitnya perlahan hilang entah kemana setelah berbaring dan perutnya disapu halus oleh telapak hangat Eros. “Kamu keberatan ya sama adanya dia?” Aru diam tak bergeming.

Aru tidak bisa mendeskripsikan perasaannya atas hadirnya. Banyak perasaan muncul dalam dirinya. Arus mengerti banyaknya beban yang dipikul Eros, hal ini akan semakin memberatkan Eros. Dirinya tidak memiliki cukup ketegaan melihat orang yang disayangnya semakin kesulitan, terlebih Eros sulit menerima uluran tangannya yang ingin meringankan beban pundaknya.

“Aru, berat ya aku minta pertahankan dia? Maaf ya...” Aru dapat lihat air mata menggenang di pelupuk mata lelaki gemini itu. “Egois rasanya aku minta kamu pertahankan sementara dia akan kamu bawa sembilan bulan. Besok sama aku kalo mau berpisah sama dia. Malam ini aku mau tidur peluk dia dulu boleh, ya?

Tidak ada kata yang bisa Aru lontarkan, hanya dirinya anggukkan kepalanya. Dibiarkannya Eros berbaring memeluknya. Lelaki itu jatuhkan beberapa kecupan manis diperutnya. Dapat Aru rasakan basah diperutnya. Erosnya menangis. Lehernya bak dicekik menahan tangisnya tak bersuara.

Eros, aku jahat banget ya?” batinnya dalam tangisan diamnya.