Berbincang dengan Ayah
Di tengah persiapan makan malam, Cielo kembali menawarkan kepada Acacio dan Alicio untuk berbincang dengan Elazar melalui panggilan video. Cielo berani menawarkan hal tersebut karena adanya persetujuan Ruelle dan si kembar yang mengenali Elazar. Dirinya bersyukur bahwa Ruelle tetap mengenalkan Elazar sebagai ayah mereka dan dirinya sebagai sang kakak.
“Papaps is okay if we have a video call with Ayah. Don’t you want to let Ayah knows what you have done today? Ayah in his break time right now,” tawar Cielo.
“Ayah is fine to talk with us, Kakak Iel? We never meet Ayah even just say hi on call,” ragu Acacio diikuti anggukan Alicio yang memiliki keraguan yang sama.
“Of course. Ayah wants to know you, twins. You can have a call if you want to. Papaps is sorry for taking you away from Ayah. Let Ayah get to know you well,” sahut Ruelle dari kitchen bar.
Jelas terbesit rasa bersalah dalam diri Ruelle karena tidak mempertemukan mereka lebih awal. Akan tetapi yang dilakukannya bukanlah semata-mata untuk memenuhi egonya, keputusan yang diambilnya melalui banyak pertimbangan. Ruelle sangat berterima kasih terhadap Cielo karena tanpa ketukan pesan singkatnya, entah berapa tahun lagi Ruelle bisa meyakinkan dirinya untuk melangkah menggapai tangan putra sulungnya bahkan mempertemukannya dengan si kembar.
“We will never leave you, Papaps,” balas Alicio.
“Just have a call with Ayah!” sahut Ruelle sebelum berlalu kembali sibuk dengan agenda memasaknya.
Cielo tidak kuasa menahan tawanya melihat Acacio dan Alicio yang memeluk erat lengannya di kanan dan kiri. Ketika wajah Elazar muncul di layar, kedua anak itu spontan bersamaan menyembunyikan wajahnya di balik tubuh Cielo.
“Ayah is fine to see us, Kakak Iel?” “Ayah not mad?”
Marah? Sejauh apa yang mereka pikirkan sampai Elazar akan marah hanya karena panggilan video ini. Cielo sudah dibuat tertawa melihat tingkah si kembar dan kini di tambah sang Ayah yang nampak membeku di seberang sana. Memang jahilnya Cielo tidak memberi tahu terlebih dahulu bahwa akan menelponnya bersama si kembar.
“Kamu jangan iseng, Cielo,” tutur Elazar yang panik melihat si kembar yang nampak takut hingga bersembunyi dibalik badan Cielo. “Ayah matikan ini ya, Cielo.”
“Ayah gak mau ngobrol sama mereka? Papaps bolehin kok,” tahan Cielo melihat Elazar yang menutup videonya. “Nyalain kameranya gapapa, Ayah.”
“Ai dan Io mau bicara dengan Ayah? Ayah tidak akan matikan video call-nya kalau kalian bersedia,” tanya Elazar memastikan. Dirinya tak mau anak-anaknya justru takut padanya walaupun dirinya sangat ingin berbincang.
Perlahan Acacio dan Alicio muncul dari balik badan Cielo. Keduanya menyapa Elazar dengan senyuman canggung. Matanya tak berkedip menatap Elazar di sana. Mereka memperhatikan perbedaan muka sang Ayah yang sebelumnya hanya mereka tahu melalui foto-foto lama yang disimpan oleh Ruelle.
“Halo, Ai dan Io. Kabar kalian bagaimana? Maaf ya Ayah baru menyapa kalian dari sini,” sapa Elazar yang bingung mengeluarkan kalimat seperti apa untuk berbincang dengan si kembar.
“We are good, Ayah. We can understand it, kita bukan anak nakal,” balas Alicio.
“Iya, Ayah. We knows kok kalau divorced-parents itu tidak mudah bertemu lagi, even we as your childern want to. Tapi sedih sekali harus menunggu lama. I miss you so so so so much, Ayah…” timpal Acacio.
Ruelle sungguh berusaha sebaik mungkin selama ini untuk menjelaskan kondisi dirinya dan Elazar kepada si kembar. Dirinya tak ingin kata ‘perpisahan’ yang selalu diingat oleh si kembar atas orangtuanya. Oleh karena itu, dirinya mengimbangi dengan berbagi kisah indah dirinya dan Elazar pada mereka. Semua itu jelas sulit, terlebih menjelaskan bahwa hadirnya mereka karena cinta kedua orangtuanya. Keduanya sering menampik hal itu setelah beranjak remaja dan mengetahui fakta perpisahan orangtua mereka adalah saat keduanya masih sebesar biji di dalam perut sang Papa.
“Ayah don’t say sorry to us. Io and I should apologize to you. We made you divorced and Kakak Iel lose his parents. Kalau tidak ada aku dan Io, it wouldn’t have happened.”
Kaki Ruelle lemas mendengar ucapan itu. Dirinya duduk memeluk kakinya bersembunyi dibalik kitchen bar, tak kuasa melangkah menghampiri ketiga anaknya. Sama hal nya dengan Elazar, pria itu nampak sejenak mematung mendengarnya. Tangannya mengisyaratkan elakan atas pernyataan si kembar. Dirinya sunggung tak mengira bahwa pemikiran si kembar sampai ke sana.
“Dede… itu bukan salah kalian. Ayah seharusnya bisa lebih baik menjaga kalian, Ayah minta maaf untuk Dede dan Kakak Iel. Maaf Ayah dan Papa memilih untuk berpisah. Itu adalah kesalahan fatal Ayah yang tidak bijak menjadi kepala keluarga. Ayah minta maaf ya…” Rasanya sungguh menyakitkan mengatakan hal seperti ini terhadap anak-anaknya. “Dede… Boleh Ayah minta kesempatan untuk dekat dengan Dede? Menjadi Ayah yang selalu ada untuk Dede, boleh?” lanjutnya meminta.
Elazar sangat mengharapkan kesempatan dari si kembar, anak yang baru dirinya ketahui saat mereka mulai menginjak masa remajanya. Marah pada Ruelle pun tak mampu karena dirinya tahu alasan Ruelle menutupinya. Ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaiki pun tak bisa, yang bisa dirinya lakukan adalah menghadapi buah dari perbuatan lamanya. Dirinya sudah gagal menjadi suami untuk Ruelle dan tak mau gagal juga menjadi Ayah untuk anak-anaknya.
“Dede itu siapa?” “Aku dan Io?”
Tawa Cielo pecah mendengar pertanyaan si kembar yang alih-alih menanggapi permintaan sang Ayah. Ruelle yang menangis di balik kitchen bar pun ikut terkekeh mendengarnya, sedangkan Elazar menunjukkan raut kikuk.
“Iya, maksud Ayah itu panggil Adek. Tidak suka ya dipanggil Dede?” Elazar menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“No… Ayah, we justㅡuhmm sedikit bingung tadi Ayah memanggil siapa. Io suka kok Ayah, itu… Okay,” balas Acacio yang kemudian menoleh pada Alicio seolah meminta bantuan untuk menjelaskan. “Aku dan Io suka kok Ayah, panggil kita Dede is okay,” timpal Alicio.
“Terima kasih, ya, Dede.” Elazar mengulas senyumnya. “Lalu permintaan Ayah tadiㅡ”
“BOLEH AYAH!!” sahut keduanya serentak. Elazar sungguh tak dapat menahan senyumannya.
“Kamu harusnya jawab pertanyaan Ayah dulu!” Alicio menyikut Acacio disampingnya. “Hish! Kamu juga ikut-ikut!”
“Jangan bertengkar ya, Dede,” peringat Elazar di seberang.
“Ayah janji selalu jadi Ayah kita, ya! Ayahnya aku, Ai, dan Kakak Iel.” Cielo ditarik Acacio untuk muncul di kamera. “Tuh janji, Yah!” timpal Cielo yang ikut bergabung.
“Ayah janji.” Elazar mengangkat jari kelingkingnya sebagai bentuk janji.
“Janji juga bersama Papa?”
Mati. Pertanyaan mematikan itu terucap lantang untuk Elazar. Pria itu hanya bisa menunjukkan senyumannya tanpa sepatah kata pun.