Match

Anggota Bumantara telah riuh di sirkuit. Mereka menunggu kedatangan lawan mereka hari ini. Memang satu dari mereka yang bertanding, namun bagi mereka melawan satu dari mereka itu sama dengan melawan satu Bumantara.

Kubu pendukung lawan yang tak nampak batang hidungnya membuat anggota Bumantara bertanya-tanya perihal siapa lawan ketua mereka hari ini. Bahkan sikap Haris yang nampak santai menunggu semakin membuat yang lain ingin tahu.

Seluruh anggota Bumantara, termasuk Haris, dibuat terkejut dengan kedatangan Vasco dan gerombolannya. Yang membuat Haris terkejut bukanlah gerombolan anak mengendarai vestic berwarna-warni memasuki area sirkuit, melainkan motor yang Vasco kendarai dan seorang pria yang memboceng anak kecil menggunakan motor Vasco.

“Lawan Koko hari ini Mas Haris? OH MY GOD!” Anak kecil yang mengucap hal itu bukan lagi tak asing baginya, namun memang dia kenal.

“Arsen kenal dia?” tanya Vasco yang mendapati anggukan anak itu. “Itu Mas Haris, temen aku. Liat itu sebelahnya Mas Haris itu Pipoy aku yang aku cerita ke Koko!” Vasco dibuat menganga atas jawabannya, tidak tahu harus bereaksi bagaimana.

Haris mendekat ke arah mereka, diikuti yang lainnya. Mata dan jemarinya menelisik motor yang dikendarai Vasco. Dirinya tak salah lihat, motor tersebut memanglah motor milik Raga yang sempat ingin dirinya pinjam untuk balapan hari ini.

“Wah main lo begini, Ga. Ini apa maksudnya lo pinjemin motor lo buat lawan kita?” tanyanya menyudutkan Raga. Yang disudutkan hanya mengendikkan bahu karena memang tak tahu-menahu.

“Apa-apaan! Ini motor suaminya Mas Ligar. Ngaco aja lo bilang motor anggota lo!” elak Vasco.

Haris tertawa lantas mendekat ke arah Vasco. Tangannya merangkul pundak kecil Vasco mengikis jarak antara keduanya. Tangan itu berusaha ditepis oleh Vasco namun dirinya sadar akan tenaganya yang masih dibawah Haris.

“Motor ini punya dia, Raga. Orang yang ditunjuk Arsen sebagai Pipoynya.” Haris menunjuk Raga yang tak jauh darinya dengan menekankan kalimat terakhirnya. “Karena dia Pipoynya Arsen, berarti lo paham kan siapa suaminya Mas Ligar yang lo sebut itu?” lanjutnya.

Vasco seketika kikuk. Rasanya malu sudah berucap lantang namun salah, terlebih orang yang disebutnya kini berhadapan dengannya. Sejenak dia ingin menghilang dari bumi untuk menuntaskan rasa malunya.

“Mas Raga, sorry I don't know you.” Ujung jarinya mendadak dingin kala mendapat pandangan Raga. “If you mind, I won't use yours,” lanjutnya.

“Pake-pake aja, menang atau kalah tergantung yang make,” balasnya terdengar ketus di telinga Vasco. “Buruan sana mulai balapan! Supporter lo ada anak gue dan banyak cewek, jangan bikin acaranya kelar malem banget karena lo berdua ribet,” tambahnya yang bermaksud memberikan lampu hijau pada Vasco untuk menggunakan motornya namun enggan menunjukkan ramah-tamahnya.

Haris dan Vasco bersiap di sirkuit. Keduanya beradu suara motor masing-masing. Jantung Vasco berpacu lebih kencang. Ini kali pertama sekaligus dia harap kali terakhirnya berada di sirkuit seperti ini.

“Motor yang lo pake itu gak punya sejarah kalah di sirkuit.” Vasco dibuat semakin gugup atas ujaran Haris.

“Gue pastiin sejarah kalah motor lo nambah satu hari ini,” sahut Vasco percaya diri.


Keduanya seri, Haris unggul di lap pertama dan Vasco di lap kedua. Lap ketiga menjadi penentuan mereka. Haris yang bermula tinggi percaya dirinya mendadak menurun setelah melihat Vasco bisa unggul darinya. Dirinya sama sekali tak ada rencana mengalah dari Vasco walaupun dirinya memiliki ketertarikan pada lelaki itu. Balapan ini tentang pride dan ganti rugi yang harus dia tebus, dirinya tak mau membayar diluar yang seharusnya.

Ambisi Haris dan Vasco untuk memenangkan balapan kali ini sama-sama tinggi. Manik penuh ambisi keduanya saling melirik tajam kala jarak keduanya tak jauh dan bersebelahan. Posisi keduanya berjarak tipis, membuat ambisi semakin mengerucut. Mendekati garis finish, keduanya serentak meninggikan kecepatan untuk lebih dulu sampai.

Pahit harus ditelan oleh Haris mengetahui Vasco lah yang mencapai garis finish terlebih dahulu. Keduanya hanya berjarak 2 detik saat mencapai finish.

Haris, I made it. Motor Mas Raga tetep gak punya sejarah kalah, tapi motor lo yang nambah 1 poin sejarah kalah,” ucap Vasco bangga.

“KOKO KEREN! Mas Haris payah kalah lawan Koko yang baru belajar,” sahut Arsen mengacungkan dua jempol kecilnya pada Vasco.

“Kamu gak dukung aku sih, Cil. Sedih aku balapan gak kamu dukung.” Haris berlaga kecewa menanggapi ucapan Arsen.

“Kalah tuh kalah aja gak usah nyalahin anak gue!” sewot Raga di belakang Haris. “Congrats buat lo! Main lo bagus.” Raga mengajukan kepalan tangannya untuk bersalaman dengan Vasco.

Thank you. I can't win this match without yours. Your motorsports and your husband,” balas Vasco dengan memperjelas kalimat terakhirnya. “Mas Ligar, thank you! You're a successful coach!” lanjutnya tak lupa mengucap pada yang mengajari dirinya.

Kala Vasco tengah asik membicarakan kemenangannya bersama rekan club motornya, Haris menarik Vasco menepi dari kerumunan mereka. Adik perempuan Haris yang merupakan bagian club motor Vasco pun spontan mengejar keduanya. “Eca gak usah ngikutin! Gue cuma mau ngobrol bentar!” peringatnya pada adiknya.

Tarikan Haris tidaklah kencang, yang membuat Vasco kesal adalah dirinya harus mengejar langkah Haris yang dua kali langkah normalnya. Vasco menepis tangannya lepas dari Haris ketika langkah lelaki itu berhenti.

What you want to talk about? I think it's obvious that I'm the winner, so you just need to keep our agreement.

“Karena lo ngelunjak, gue juga bakal lakuin hal yang sama.” Vasco menyalangkan pandangannya pada Haris. “Gue bakal bayar itu secara langsung, kita ketemu face to face, dengan gue cicil itu 8 juta,” lanjutnya yang membuat Vasco semakin menajamkan pandangannya.

You mean, we're gonna meet several times in the future? NO!

“Gue gak butuh pendapat lo, yang gue ucapin itu pernyataan. Dan satu lagi, seberapa banyak kita harus ketemu itu terserah gue.” Haris mengakhiri kalimatnya dan meninggalkan Vasco yang mengejar dirinya dengan penuh umpatan.