Cintaku

Ligar merengkuh suaminya yang tengah berkutat dengan mesin pembuat kopi. Kecupan singkat dirinya jatuhkan pada puncak kepala sang suami. “Selamat malam, cintaku,” sapanya mengundang gelenyar tubuh Raga.

“Cintaku, cintaku mulu, abis selingkuh?” Ligar menghela napasnya mendengar dugaan sang suami. “Diketawain Mbak Tun bibirmu cemberut gitu.” Raga seketika melirik Mbak Tun yang tengah merapihkan bahan dapur dengan tersenyum.

“Lah situ tiba-tiba terus-terusan manggil cintaku. Mbak Tun bukan ngetawain aku, dia geli denger kamu manggil gitu,” sahut Raga.

Mpun kula tak minggir mawon,” sahut Mbak Tun lalu beranjak pergi dari dapur. (Sudah saya tak minggir saja)

Ligar tanpa permisi meminum kopi yang baru saja dibuat oleh suaminya. Hal itu mengabibatkan perutnya mendapat sikutan dari Raga. Tawa Ligar lepas kala Raga menggeram dengan menaruh cangkir baru dengan keras pada mesin pembuat kopi.

“Cintaku marah-marah terus seharian.” Ligar meraih dagu Raga, membawanya menoleh ke arahnya. “Dih.” Ucapan andalan Raga itu terlontar dan lelaki itu lantas mengalihkan pandangannya dari Ligar.

Badan Raga tiba-tiba terangkat, pelakunya tak lain adalah Ligat. Dirinya didudukkan di sebelah mesin pembuat kopi yang tengah menyiapkan kopi barunya. “Mau cium atau aku cium?” tawar Ligar mengingat awalnya Raga lah yang ingin menciumnya. Ligar tak mau suaminya itu menggerutu lagi perkara dirinya.

“Minta cium yang bener kamu pap!” perintahnya. Ligar menatap tak mengerti maksudnya. “Cepet bilang minta aku cium!” desaknya tak sabaran.

“Cintaku... mau cium dong...” pinta Ligar dengan nada mendayu.

“Kurang lengkap. Kayak di chat tadi,” pintanya sekaligus menggoda Ligar yang dirinya sadari sudah cukup menahan entah geram atau gemas padanya.

“Pipoyku, suamiku, cintaku, sayangku, kasihku, ayo kasih suaminya cium. Cium yang banyak...” Sialan, ucapan itu berhasil memporak-porandahkan jantung Raga.

Raga tersenyum puas melihat suaminya merajuk padanya. Lantas dirinya kalungkan tangannya pada leher sang suami. Dirinya raup bibir tebal Ligar yang sudah dirinya bayangkan dari siang tadi. Kakinya mengalung pada pinggang Ligar dan tubuh keduanya semakin merapat menunjukkan ciuman yang semakin intens.

Dari kejauhan, Haris melihat hal tak senonoh itu pun lantas membalik arah Arsen agar tak melihat kegiatan kedua orang tuanya. Ingatkan Haris untuk mengirim pesan panjang kepada Raga setelah ini. Dirinya harus mencari alasan masuk akal untuk Arsen yang tak dirinya biarkan pergi ke kamarnya agar tak melihat kegiatan yang tengah dilakukan kedua orangtuanya di dapur.