Kembali Turun
Berbulan-bulan Raga tak mendatangi sirkuit, namun malam ini dirinya kembali merasakan euforianya. Dirinya datang ke sirkuit membawa motor kebanggaannya. Bahkan beberapa hari lalu, Raga telah mempersiapkan motornya untuk balapan hari ini.
Sorakan dan sambutan hangat kerinduan anggota bumantara menyapa kedatangan Raga. Dirinya sungguh merindukan hal itu, di mana seluruh sorakan bangga tertuju padanya dan kemenangan akan diraihkan dalam sirkuit.
“Congratulations on your wedding, Raga,” sapa Dante yang hari ini menjadi lawan Raga. Senyuman miring terukir di bibir Raga dan membalah jabatan Dante. “Balapan ini hadiah dari gue atas pernikahan lo,” lanjutnya.
Pada putaran pertama, Raga memimpin di depan. Dante berjarak tak jauh darinya, namun tak mampu membalap dirinya. Senyuman miring Raga kembali terukir saat menyadari Dante yang terus mencari celah untuk membalapnya.
Sebuah decitan keras terdengar. Raga mengerem spontan di tengah balapan. Maniknya memfokuskan pandangan pada salah satu sudut tribun. Remangnya lampu tribun membuatnya memicingkan matanya hingga dirinya sadar akan dugaannya yang benar. Suaminya tengah duduk di tribun bersama salah seorang anggota club motornya.
Raga tetap melanjutkan balapannya di arena, namun kecepatannya hanya berada pada angka 50 km/jam. Pikirannya sudah tak peduli akan Dante karena Ligar telah mengambil alih pikirannya. Karena bersemangatnya, dirinya menjadi lupa bahwa Ligar seringkali tak mengambil hari terakhir visitnya di luar kota karena pria itu lebih memilih menghabiskan waktunya bersama Arsen dan Raga daripada berlibur bersama rekan kerjanya.
Kalah merupakan fakta yang harus Raga telan malam ini. Pandangannya enggan bertemu dengan Ligar yang kini tengah berjalan turun dari tribun menuju sirkuit. Batinnya terus merapal bahwa Ligar akan berlaku sebagaimana biasanya ketika dirinya melanggar janjinya sendiri.
Alih-alih disapa, Ligar justru mengucap selamat bahkan memberi pelukan untuk Dante. Satu fakta lagi yang Raga dapat, Dante merupakan anak dari seorang anggota The Sangar yang hari ini bersama Ligar dan Ligar sendiri cukup mengenal Dante.
“Maaf ya, Om, saya kalahin suaminya,” tutur Dante yang tentu mendapat lirikan sinis Raga.
“Namanya pertandingan ya ada yang menang dan kalah. Kamu bawa motornya bagus banget tadi,” balas Ligar yang memuji Dante.
Perasaan kesal dan sakit hati menyerbu Raga karena Ligar fokus pada Dante dan tak menganggap keberadaannya. Bahkan saat motornya dibawa oleh Dante karena memang itu taruhan mereka, Ligar kembali mengucap selamat dan tersenyum hangat untuk Dante.
Raga yang hendak bergabung duduk bersama anggota Bumantara ditahan lengannya oleh Ligar. Pria itu bahkan menarik dirinya untuk berada dalam rangkulannya. “Kalian gak perlu pukulin Raga karena dia kalah, Raga urusan saya.” Satu kalimat yang sukses membuat bulu kuduk Raga berdiri.
Rasa takut dan berani Raga seimbang berhadapan dengan Ligar. Akan tetapi saat berada di dalam mobil bersama Ligar, rasa takutnya menjadi lebih dominan. Di tengah itu, Raga masih mampu menutupi raut panik dan takutnya yang menghadirkan pemikiran Ligar bahwa Raga sama sekali tak merasa bersalah atas tindakannya itu.
“Aku tau janji kamu itu urusan kamu dan diri kamu sendiri, tapi kamu janji buat aku. Bukan sekali-dua kali aku bilang kalo kamu gak perlu janji apapun kalo kamu sendiri gak bisa nepatin. Kamu tau, Raga yang bertanggung jawab atas ucapan ataupun janjinya itu sekarang udah hilang.” Untaian kalimat itu sukses menampar Raga secara tidak langsung.
“Sekarang aku tanya, kamu sesuka itu sama balapan?” Ligar menghentikan mobilnya dan meraih dagu Raga membawa wajah kecil Raga menghadapnya. “Jawab. Ketua apaan kamu gak ada suaranya,” tambahnya meledek Raga yang hanya dia menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan sebagai marah, takut, atau panik.
“Ya,” jawab Raga ketus.
“Mainnya makin jelek aja gaya banget turun sirkuit lagi. Mampus motor yang kamu banggain sekarang udah pindah tangan.” Raga mengeraskan rahangnya mendengar hal itu.