Sebelum Berpisah
Raga dipeluk Arsen dengan erat, anak itu tak mau berpisah lama dengan Raga. Kepergian Raga atas pekerjaannya kali ini berlangsung selama satu minggu, hal itu merupakan kepergian terlamanya meninggalkan rumah sampai hari ini.
“Mau ikut Pipoy~” rengek Arsen dalam pelukan Raga.
“Ini kerja, bukan liburan. Cuma satu minggu,” balas Raga. “Kalo mau ke Semarang, ntar sama Papomu juga. Main ke rumah yangti sama kakung,” lanjutnya.
“Pipoy, kalo ada waktu sempetin mampir ke rumah Mami-Papi. Kalo mau nginep sekalian di sana juga gak masalah,” pinta Ligar.
Arsen yang masih enggan melepas pelukannya pun dibawa Raga untuk berdiri. Anak itu menyamankan dirinya dalam gendongan Raga. Raga biarkan bocil kesayangannya itu memuaskan diri memeluk dirinya sebelum berpisah selama satu minggu.
“Pap, cium,” kecumik Raga menagih ciuman dari sang suami.
Tangan Raga menahan kepala Arsen yang nyaman dipundaknya agar tak menoleh ke belakang. Di tengah orang-orang yang hilir mudik di bandara, keduanya saling memagut kasih untuk perpisahan selama satu minggu. Raga puaskan mencumbu sang suami, sama halnya dengan Arsen yang memuaskan diri memeluk dirinya.
“Sini sama Papo, nanti Pipoy terlambat.” Ligar mengambil Arsen dari gendongan Raga selepas menyelesaikan ciuman keduanya.
Raga memberikan ciuman singkat pada Arsen yang sudah berpindah pada gendongan Ligar. “Awas aja kalo video call gak diangkat!” peringat Raga pada Arsen.
“Pipoy jangan video call waktu aku main game makanya. Aku bisa kalah nanti,” protes Arsen.
“Jangan gitu lah, Bro. Pipoy video call kamu pasti waktu lagi senggang. Kalo kamu gak angkat, terus kamu video call lagi Pipoy setelah selesai main game tapi Pipoy gak angkat karena harus lanjut kerja, nanti kamu yang ngambek sendiri,” peringat Ligar karena hal itu beberapa kali terjadi dan dirinya selalu terkena imbas dari dua orang kesayangannya itu. Dirinya akan serba salah saat hal itu terjadi.
“Tuh dengerin, Cil,” sahut Raga.
“Tapi beliin aku skin yang kemaren aku kasih lihat Pipoy.” Raga hanya menunjuk pandang ke arah Ligar sebagai balasan permintaan Arsen. “Papogar, boleh yaa~” pintanya pada Ligar.
“Yang 750 ribu kemaren?” Arsen mengangguk. “Aduh ini tuan muda sogokannya mahal banget ya,” tutur Ligar dengan helaan napas diakhirnya. “Nanti dibeliin, janji dulu sama Pipoy,” lanjutnya yang berakhir tetap luluh dengan permintaan putra semata wayangnya.
Setelah Raga dan Arsen saling mengaitkan jari kelingking sebagai bentuk perjanjian, Ligar kembali mencium Raga sebelum benar-benar berpisah.
“Aku juga mau cium Pipoy,” pinta Arsen tak mau kalah.