Buaya
“Astaga... daritadi sarapannya masih belom juga dimakan,” omel Ligar yang kembali dari mengantar Arsen dan masih mendapati sarapan Raga yang masih utuh. “Udah dingin sarapannya, Pipoy. Udah dulu main game-nya.” Mendengar hal itu, Raga justru kembali membaringkan dirinya di kasur, enggan meraih sarapan yang telah disiapkan Ligar di nakas.
“Pipoy, makan dulu sarapannya, habis itu minum obat.” Raga masih tak bergeming dan fokus dengan ponselnya. “Kamu gak usah masuk aja deh, masih lemes gini badannya.” Ligar menata surai Raga yang masih berbaring di kasur.
“Suapin bisa kali,” celetuk Raga.
“Kamu aja masih tiduran. Mau jadi ular kamu makan sambil tiduran?” sahut Ligar.
Raga pun lantas beranjak duduk menghadap Ligar. Sebuah cubitan hidung Ligar berikan pada Raga yang membuatnya gemas.
“Heh, gak usah nyisihin sayur. Yang nurut kalo mau disuapin.” Ligar menepis tangan Raga yang menyisihkan sayur dalam sendokan makanan yang diambil Ligar. “Bikin mulut makin pahit,” alasan Raga yang jelas tak diindahkan oleh Ligar.
“Pap...” panggilnya mendapat dehaman. “Sorry ya kemaren lancang nanya mantan kamu,” lanjutnya lalu menerima suapan nasi dari Ligar.
“Aku maafin kalau kamu mau makan sayurnya.” Raga menghela napasnya. Balasan Ligar sedari semalam berusaha tidak masalah akan hal itu padahal Raga telah tahu fakta bahwa pertanyaannya menampilkan kembali memori pahit Ligar. “Aaaaa...” Ligar justru melanjutkan menyuapi Raga seakan lelaki itu adalah anak kecilnya.
Raga menerima suapan dari Ligar lalu memeluk pria tersebut. Perlakuan tiba-tibanya itu hampir membuat Ligar menumpahkan makanannya. Ligar pun lantas menaruh semangkuk makanan yang dipegangnya dan membalas pelukan sang lelaki.
“Bayi gedheku ternyata manja banget kalo sakit,” tuturnya seraya memberikan usapan kepala pada Raga.
“Kamu pasti kangen diusapin kepalanya sama Januari,” celetuk Raga asal karena tindakan Ligar mengingatkannya pada cuitan yang beberapa saat lalu dirinya baca.
Januari, nama yang tak pernah lagi dia dengar selama satu dekade lebih kini kembali dirinya dengar lagi karena Raga. Kenangannya bersama Januari telah dia larung bersama abu sang pemilik nama.
“Yang tersisa diingatanku tentang Januari itu cuma tentang kepergiannya meninggalkan semua orang tersayangnya.” Ligar rasakan pelukan Raga semakin erat. “Kamu kalo manja begini aku jadi percaya sama ibu-ibu di twitter yang bilang kamu itu orang yang beda sama ketua Bumantara. Liat aja ini kamu lucu banget peluk-peluk kayak koala.” Ligar mengalihkan bahasannya karena tak mau membahas tentang hal yang dirinya tak mau ingat bahwa hal itu ada dalam memorinya.
“Kamu dua kali dibikin hancur sama hubungan, tapi kenapa masih mau bangun hubungan lagi? Apalagi sama orang yang hidupnya aja gak jelas.” Raga merasa heran atas Ligar, dirinya saja dari melihat hancurnya hubungan orang tuanya sudah ikut hancur sendiri.
“Pertanyaan kamu terlalu berat buat hari yang masih pagi. Aku mau bangun hubungan lagi itu karena ada zombie yang disayang banget sama anakku.”
“Anjenggg, skip dah omongan buaya,” tutur Raga melepaskan pelukannya pada Ligar.
“Coba ganti aku tanya, kenapa kamu mau bangun hubungan sama aku yang pernah gagal dalam hubungan dan kamu punya ketakutan dalam hubungan dan gak mau hubungan yang mengikat sebelumnya?” balik Ligar.
“Karena aku percaya sama kamu lah,” lantang Raga.
“Iya, percaya. Itu salah satu kunci buat bangun sebuah hubungan, saling percaya.” Ligar kembali meraih mangkuk yang ditaruhnya dan kembali menyuapi Raga. “Selesaiin dulu sarapannya, udah lewat jam kamu minum obat ini,” tuturnya.
“Kata Bocil kamu aneh, Pap,” tutur Raga seraya mengunyah makanannya.
“Ditelen dulu baru ngomong,” peringatnya.
“Aku setuju sih sama bocil kalo kamu aneh. Aku aja laki kamu bilang cantik, aneh,” lanjutnya tak mengindahkan peringatan Ligar.
“Cantik itu universal dan kamu cantik itu fakta. Coba lihat wajah kamu di kaca dan kasih senyum yang manis, kamu cantik.”
“FIX EMANG LO ASLINYA BUAYA!!” Ligar seketika tertawa lepas mendengarnya.