Yang Dirindukan

Sambutan hangat diterima oleh Raga dan Arsen yang baru datang. Keduanya mendapat pelukan hangat dan kecupan singkat dari orang tua Ligar. Ligar sendiri juga memberikan pelukan dan kecupan singkatnya pada Raga dan Arsen, tetapi hanya Raga yang pelukannya enggan dia lepas.

Halah uwes to, Mas, lek peluk Agaa. Cul ke!” protes Mami seraya berusaha melepaskan pelukan keduanya. “Mantu karo cucune Mami iki mau tak ajak makan dulu,” lanjutnya sembari membawa Raga dan Arsen ke ruang makan.

Bukan hal yang baru jika Ligar selalu disudutkan orang tuanya ketika sedang berkumpul bersama seperti itu. Orang tuanya paling suka mengumbar berbagai kisahnya pada Raga, yang dirinya sendiri enggan menceritakan hal itu pada orang lain karena sebagian itu memalukan dan sebagian lainnya merupakan hal yang tidak penting.

“Yangti, aku setuju deh kalo Papo itu aneh.” Semua pasang mata seketika tertuju pada Arsen. “Tadi waktu Pipoy jemput aku tuh Pipoy bilang 'Buruan, Cil. Papomu udah kangen berat sama Pipo.' gitu padahal tadi soreㅡeh siang itu Papo temenin Pipo latihan balap sama aku, masa sekarang udah kangen berat kan aneh ya, Yangti,” adunya yang membuat hadir rasa malu Ligar maupun Raga.

“Emang Papomu kui lagi puber kedua, Mas Bro,” balasnya dengan tawa meledek.

Kamu jan persis Mamimu, Mas. Mereka berdua ini sama, Ga, tukang kangen berat. Ditinggal bentar aja wes kayak ditinggal setahun,” sahut Papi Ligar.

“Puber itu apa, Yangti?” bingung Arsen yang tak paham atas ucapan Kakek dan Neneknya.

“Nanti Yangti kasih tau, sekarang ikut sama Yangti aja yuk. Yangti ada hadiah buat cucuku yang paling ganteng yang hari ini jadi juara!” tuturnya mengajak Arsen beranjak dari ruang makan.

Ketika kedua orang tua Ligar dan Arsen telah meninggalkan ruang makan, Ligar lantas memeluk kembali Raga yang berada di sebelahnya. Raga yang dipeluk berlaga jual mahal dengan tak membalas pelukan sang suami.

“Pipoy, sini aku pangku biar enak peluknya.” Ligar mengangkat badan Raga dan membawanya dalan pangkuannya.

Raga yang dalam dekapan Ligar itu meletakkan kepalanya di ceruk leher Ligar. Sesekali dirinya hirup aroma tubuh suaminya itu hingga tanpa sadar dirinya menjatuhkan satu kecupan di sana.

“Waduh, aku udah dapet cium duluan aja,” tutur Ligar dengan kekehannya selepas mendapar kecupan dari Raga. “Coba kasih lihat wajahnya, katanya mau gombalin aku lagi.” Ligar mengelus kepala Raga meminta lelaki itu bangkit berhadapan dengan dirinya.

“Enggak jadi, aku mau cepet kamu cium. Aku udah dari lama kangen sama kamu yang suka godain aku, ngajak-ngajak duluan, dikit-dikit bilang kangen, mau cium, mau peluk. Aku sadar kalo sikap kamu itu pudar karena aku, tapi boleh gak kamu gitu lagi ke aku?” tutur Raga meminta.

Raga jelas tak lupa bahwa kejadian dirinya dengan Haidan itu membuat perubahan pada diri Ligar. Mungkin orang lain tak menyadari, bahkan Ligar sendiri, tetapi Raga yang selalu bersama Ligar tentu menyadarinya.

Tak ada jawaban dari lisan Ligar, pria itu memilih mempertemukan belah bibirnya dengan Raga. Tangannya yang mengalungi pinggang Raga itu menarik tubuh Raga mengikis jarak antara keduanya. Dirinya bingung memberikan jawaban untuk Raga karena dirinya tak menyadari perubahan sikapnya pada Raga. Lumatannya pada bibir Raga perlahan dan terus mendalam. Beberapa kali hidung keduanya bergesekan akibat saling berusaha memperdalam ciuman. Surai Ligar diremat oleh Raga, lelaki itu tak ingin pasif, lidahnya dia gerakkan beradu dengan milik Ligar.

“Pipoy, maaf ya.” Ligar mengeluarkan kata maaf atas aduan Raga tadi. “Hari ini kita tidur paket lengkap, mau?” lanjutnya mengajak Raga.

“Mau lah,” balas Raga cepat.

“Tapi panggil aku sayang, ya,” pinta Ligar.

“Iya, sayangku~” Raga berakhir tersenyum puas melihat wajah memerah Ligar atas panggilan sayangnya.