Permintaan Bocil
“Pipoy~” Panggilan manis itu mengusik fokus Raga yang tengah mengatur jadwalnya. Si Bocil kesayangannya yang sebentar lagi akan genap 10 tahun itu merayap di ranjangnya untuk meraih tempat disampingnya.
“Kenapa?” tanyanya seraya menyingkirkan laptop yang dipangkunya karena Arsen berusaha mengambil tempat dipangkuannya. “Bantuin aku bilang ke Papo dong, Pipoy.” Raga menghela napasnya mendengar permintaan itu. Arsen suka sekali menumbalkan dirinya untuk membujuk Ligar atas permintaannya yang memiliki kemungkinan besar ditententang oleh Ligar.
“Pipoy, minta Papogar buat ajak Mami ke sekolah besok.”
Raut Raga yang semula tenang dan mengira itu permintaan yang tidak jauh dari melanggar aturan Ligar, kini berubah menjadi datar. Dirinya menghindari tatapan Arsen yang tengah merajuk. Jelas adanya sakit hati pada dirinya, mengingat beberapa saat lalu Ligar mengajaknya untuk hadir ke sekolah Arsen besok.
“Tapi kasih tau Papogar buat ajak Mami sendiri aja, jangan ajak Om Papi sama adek-adek. Aku mau Mami aja, Pipoy. Bantuin aku, Pipoy~” Arsen memeluknya dengan pandangan mata yang menatap Raga meminta untuk disetujui permintaannya.
“Loh... loh... sejak kapan anak kecil, di sini?” Arsen mencolek pinggang Raga ketika Ligar muncul dari pintu kamar mandi.
“Sejak lama deh. Aku kangen Pipoy aku,” balas Arsen dengan mengeratkan pelukannya pada Raga.
Dih jago lo boong, bocah bangke! Batin Raga berseru mendengar jawaban Arsen. Tanpa sadar dirinya menatap Arsen dengan pandangan heran yang disadari oleh Ligar.
“Masa sih?” ragu Ligar. “Pipoy, anaknya beneran lagi kangen kamu?” Ligar memastikan pernyataan Arsen pada Raga.
“Iya tau! Aku kangen Pipoy sambil minta bantu dikit,” jujurnya pada Ligar.
Arsen menatap Raga ketika Ligar mempertanyakan bantuan apa yang diminta Arsen pada Raga. Dalam hati Raga, ingin rasanya mengubah permintaan Arsen. Dirinya pernah mengalami hal yang sama, bahkan sering menginginkan sesuatu seperti yang diminta Arsen saat ini, namun dari sudut pandang posisinya sekarang, dia tak ingin itu terjadi. Dirinya ingin berpartisipasi sebagai orang tua untuk Arsen sepenuhnya.
Ego Raga kecil dan dewasa tengah bertarung untuk menyebutkan permintaan Arsen kepada Ligar. Hal itu membuatnya membisu cukup lama yang mengundang pertanyaan dari Ligar dan Arsen.
“Bocil minta kamu sama Maminya buat hadir ke sekolah besok.” Ego masa kecilnya dia paksa untuk menang. Raga ingat atas janjinya untuk menjaga Arsen tak sehancur dan sekekurangan dirinya. Dirinya hanya mengendikkan bahu ketika mendapat pandangan mendalam dari Ligar.
“Cuma Papogar sama Mami,” timpal Arsen.
“Balik ke kamar sana, Cil. Biar Pipo ngomong sama Papo,” pintanya pada Arsen.
Ligar melihat Arsen yang hendak beranjak justru ditahannya. Dirinya raih bahu kecil putranya dan mengajak pandangan keduanya bertemu. Arsen seketika menutup kedua telingannya karena tahu permintaannya akan ditolak oleh Ligar. Akan tetapi, tangan kecil itu disisihkan oleh Ligar.
“Papo bakal minta Mami, tapi gak janji buat bisa cuma Papogar dan Mami yang dateng. Mami ada Om Papi dan Papogar ada Pipoy, yang sayang kamu ada banyak.” Ligar membawa Arsen dalam dekapannya. Permintaan Arsen sulit untuk dirinya beri kepastian. Dirinya juga kembali merasa bersalah untuk Arsen karena hal itu. Harapnya, jawaban yang dia pikiran dalam waktu singkat itu tak menyakiti Arsen maupun Raga yang juga mendengarnya. Dirinya sendiri bingung harus menanggapi seperti apa.
Sepeninggalan Arsen, Ligar dan Raga diterpa hening. Raga kembali sibuk dengan laptopnya dan Ligar yang masih dengan pemikirannya. Dirinya masih tak tahu langkah mana yang harus dirinya ambil.
“Pipoy, maaf ya...” Raga menatap heran suaminya itu. Baginya tak ada salah yang dilakukan Ligar padanya.
“Pikirin perasaan Bocil, itu yang penting,” tutur Raga sebelum kembali fokus pada laptopnya yang sebetulnya tak ada yang dirinya kerjakan di sana. “Yang bocil minta itu sama kayak aku yang mau Mama sama Papa ada di nikahan kita. Buat bocil, besok itu hari penting dia, dia mau orang tuanya yang jadi saksi dia,” tambahnya.
“Kamu juga orangtuanya.” Raga tersenyum getir menatap Ligar.
“Ya, aku sah disebut orang tua dia, tapi aku tetep bukan orang tua kandung dia,” ujarnya. “Kamu minta mantan kamu buat dateng besok,” lanjutnya.
“Kamu gapapa?”
“Dih, kenapa-napa lah, aku cemburu,” balasnya yang merubah raut dan nada bicaranya menjadi menyulut. “Pikirin juga ntar abis acara itu buat ngebujuk aku. Aku gak bakal banting harga buat kamu, aku bakal jual mahal banget,” tambahnya.
Ligar dibuat gemas melihat Raga yang melontarkan kecemburuannya dengan terang-terangan. Dirinya meraih Raga untuk masuk dalam dekapannya, namun ditahan oleh Raga yang membuatnya menatap Raga penuh tanya. “Oke, mulai besok aku jual mahal.” Raga lantas segera masuk dalam dekapan Ligar, sedangkan yang mendapat perlakuan itu hanya terkekeh gemas.