Berkat Cassie

Dewi fortuna nampaknya tengah menyertai Rafel hari ini. Dalam lift menuju lantai dasar, dirinya dipertemukan dengan orang yang mencuri perhatiannya sedari kemarin, Levian. Lelaki itu tengah sibuk dengan ponselnya dengan berdiri di sudut lift.

Pundak Rafel ditepuk, namun jantungnya yang berdebar. Dirinya menoleh ke belakang dan berlaga kaget dengan Levian yang menepuknya, padahal dirinya sudah tahu, karena tidak mungkin Cassie meraih pundaknya semudah itu. Benar, dalam lift itu hanya terdapat mereka bertiga.

“Dari belakang tak lihat kok gak asing, ternyata bener kamu, Fel,” ujarnya dengan melempar senyum. “Sumpah wes gak bakal nyadar kalo Koko gak notice,” bohongnya.

Ketiganya melangkah keluar lift dengan saling melempar tawa ringan. Menertawakan pertemuan tak disengaja mereka hari ini.

“Ini adekmu ta, Fel?” Rafel mengangguk. “Me, say hi ke Koko. Ini Ko Levian namane.” Rafel memperkenalkan Cassie pada Levian.

Hi, Ko Levian! I Cassie memenya Ko Afel.” Levian lantas merendahkan badannya untuk sejajar dengan Cassie. “Halo, Cassie! Kamu baru main ya di sini?” tebak Levian yang mendapat anggukan malu Cassie. Levian dibuat gemas dengan tingkah malu Cassie yang menjawab pertanyaannya dengan menggelendoti Rafel. “Cassie mau ice cream nggak?” Cassie menoleh Rafel terlebih dahulu sebelum menyetujui ajakan Levian.

Rafel rasanya ingin berteriak di tengah pusat perbelanjaan. Berkat Cassie, dirinya mendapatkan waktu bersama Levian. Bahkan saat berjalan berdampingan dengan Levian yang menggendong Cassie, Rafel rasanya ingin salto karena saking senangnya.

“Fel, kamu juga pilih ice creamnya,” pinta Levian.

Selepas memesan, Rafel mengajak Cassie mencari bangku meninggalkan Levian yang tengah membayar ice cream mereka. “Oh my goodness, he just smiledㅡOH MY GOD! Ko Levi so handsome ya, Ko,” tutur Cassie dengan raut bahagia dan bersemangatnya. Aksi Cassie itu berhenti seketika dan kembali menjadi pemalu ketika Levian datang memberikan ice cream miliknya.

Is it good, Cassie?” Gadis kecil itu mengangguk dengan bibir belepotannya. “Kamu lucu banget se.” Levian membelai surai Gadis kecil yang menggemaskan itu.

Rafel tak berbincang banyak dengan Levian karena lelaki itu asik dengan Cassie. Dirinya hanya sesekali menyahut dalam obrolan keduanya. Tidak masalah tidak mendapat kesempatan mengobrol berdua, setidaknya ini bukan awal yang buruk.

“Fel, kamu parkir nde mana tadi? Tak bilangno sekalian biar mobilmu dibawain ke depan situ.”

“Aku gak bawa kendaraan, Ko. Abis ini aku pesen taxol buat pulang,” terangnya. Dirinya tadi pergi menjemput Cassie dengan menumpang pegawainya karena mobilnya masih berada di bengkel.

“Tak anter aja gak usah pesen taxol,” ujar Levian seraya memberikan kuncinya pada petugas untuk membawakan mobilnya ke depan. “Cassie mau pulang sama Ko Levi nggak?” Cassie mengangguk tanpa ragu menjawab Levian.

“Hee ya jangan ta, Ko. Tak pesen taxol aja. Ko Levi mestine capek mau cepet pulang istirahat.” Hati, pikiran, dan mulut Rafel sungguh tak sejalan.

“Halah wes ta tak anter aja. Ayo, tuh udah nde depan mobilku.” Levian langsung menggendong Cassie dan berjalan menuju mobilnya. Rafel mulutnya masih menolak tetapi hatinya kegirangan dan langkahnya bersemangat menyusul Levian dan Cassie.