Ketahuan

Raga bangun tidur kelabakan. Dirinya memiliki rapat pagi hari ini dan justru terlambat bangun. Mengesampingkan Ligar dan Arsen yang sudah berangkat atau belum, dirinya fokus menyiapkan dirinya untuk ke kantor secepat mungkin.

“Bangke bapaknya bocil gak bangunin gueㅡ” kalimatnya seketika terhenti. Bodoh, pria itu pasti tengah marah padanya.

Seberapa bebalnya Raga yang sesekali masih kedapatan pergi ke club, balapan, bahkan ribut pun Ligar tak pernah marah hingga uratnya nampak. Utama pria itu adalah pada diri Raga. Raga sadar betul atas maklumnya Ligar, bahkan saat dirinya jatuh dan kalah dalam balapan beberapa bulan lalu, dia sama sekali tak mendapat amarah, justru rupa pria itu yang menangis dihadapannya. Akan tetapi, maklumnya Ligar mungkin sudah habis semalam.

“Pipoy!” Panggilan itu menyadarkannya bahwa Arsen dan Ligar masih di rumah. Raga yang berniat langsung ke kantor karena berpikir mereka berdua telah berangkat pun akhirnya berbalik ke ruang makan. “Sayang banget Pipoy baru dateng sekarang, tadi Papogar bikinin sarapan. Yang dibuat Papogar udah habis, tinggal masakannya Mba Tun.” Raga semakin sadar bahwa Ligar tengah marah padanya.

“Papo, aku berangkat sama Pipoy ya. Kemaren kan udah dianter Papo,” pinta Arsen yang membuat Raga bingung.

“Duh gimana ya...” Raga nampak menggaruk tengkuknya yang tak gatal. “Pipo hari ini berangkat sama temenㅡ”

“Kamu Papo anter aja. Ngrepotin temen Pipoy nanti kalo harus nganterin kamu sekolah juga,” potong Ligar.

“Yah... oke deh.”

“Kamu tunggu di depan aja, Papo mau ambil kunci dulu.” Ligar seketika beranjak dari duduknya.

Raga ingin menyahut obrolan mereka, namun dirinya bingung harus berkata apa. Ada rasa sedih dalam dirinya mendengar kekecewaan Arsen tadi. Dirinya yang mengerti perasaan kecewa Arsen seperti apa pun membuat dirinya juga merasa bersalah pada Arsen.

“Kamu tutupin bekas di leher kamu.” Ligar memberikan sebuah plester pada Raga. Lelaki itu sontak meraih gawainya dan memeriksa apa yang ada di lehernya.

“Kamu ngapain kasih ginian di sini?” gerutunya sembari meraih plester yang diberikan Ligar.

“Itu aku yang buat?” tanya Ligar. “Ya siapa lagi kalo bukan situ.” Ligar seketika tertawa mendengar jawaban Raga. “Aku harap sih gitu. Apa kemaren kamu mabok sampe lupa itu tanda dari siapa?”

Memori Raga seketika berputar ke kejadian semalam. Dirinya sama sekali tidak mabuk malam itu. Rautnya seketika panik berhadapan dengan Ligar.

“Pap, ini gak kayak yang kamu maksud. Aku beneran gak ada hubungan apa-apa sama dia,” panik Raga menjelaskan.

“Aku gak nuduh kamu begitu, tapi ucapanmu barusan buat aku mikir hubungan kamu sama dia itu kayak apa,” balas Ligar.

“Sumpah gak ada apa-apa,” ucap Raga meninggi mempertegas ucapannya.

“Aku mau nganterin Arsen.” Ligar langsung meninggalkan Raga begitu saja.

Raga menyibak surainya frustasi. Dirinya baru tahu Ligar tak hanya memergokinya balapan semalam.