Holiday
Semenjak menginjakkan kaki di rumah orang tua Ligar, Arsen telah di ambil alih oleh keduanya. Raga masih mendapat sambutan hangat dari orang tua Ligar hingga diberi pelukan dan ciuman, sedangkan Ligar hanya mendapat jabatan tangan.
Di tengah kedua orang tua Ligar yang asik membukakan hadiah untuk cucu kesayangan dan Ligar yang mengistirahatkan badan di sofa, Raga berjalan menelisik rumah. Rumah bergaya jawa klasik dengan sentuhan modern itu mampu memamerkan kehangatan yang tercipta di dalamnya pada Raga.
Raga berhenti di depan salah satu sudut di mana foto pernikahannya dengan Ligar lengkap Arsen dan orang tua Ligar terpajang besar di sana. Rasanya sudah lama sekali tak melihat pemandangan itu. Melengkapi kehidupan Arsen seakan menjadi obat untuk lukanya.
“Kenapa kamu liatin terus?” Raga sontak menoleh terkejut. “Kita yang nikah kok gak dapet fotonya sih?” balas Raga tak mengungkap yang ada dalam pikiran dan batinnya sebelumnya.
“Dapet, kan pernah aku kasih lihat waktu itu. Ada di laci kamar kita, Pipoy.” Ligar seketika mendapat jeweran dari Maminya.
“Kamu iku masih aja kayak gitu to mas. Heh, Raga, bojomu iki lek gak disuruh gak bakal dipajang iku fotone. Kamu tau foto sebelahe iku? Ada to ndek rumah kalian?” Raga mengangguk ketika wanita paruh baya itu menunjuk foto keluarga yang berisikan Ligar beserta orangtuanya dan Arsen. “Foto iku seng masang Mami. Bojomu iku mek bilang nanti tak belikno pigora buat dipajang, halah entut. Lek bilang iku wes kat jaman raenak tapi yo gak dipajang sampek tak pajang dewe. Koe pancen mbelgedes tenan, Mas.” Ligar kembali mendapat serangan fisik dari sang Mami.
“Itu nanti kita bawa ke Jakarta aja sama pigoranya,” tutur Ligar yang mengundang lirikan Maminya. “Koe tak balang gapuro komplek lho, Mas!” Ligar seketika lari memeluk Raga ketika Maminya bersiap menyerangnya lagi.
Adegan antara ibu dan anak itu tanpa sadar mengundang senyuman Raga. Euforianya dapat Raga rasakan sepenuhnya ketika dirinya ikut campur di dalamnya dan membela suaminya yang tengah berlindung di belakangnya. “Boleh lah, Mi, kita bawa pulang,” tutur Raga.
“Walah sekongkol iki berdua.” Gelak tawa seketika pecah atas penuturan Mami.
“Wes sarapan dulu semuane biar gak kesiangan kalo jalan-jalan,” panggil Papi untuk sarapan.
Di taman hiburan, Arsen sudah asik sendiri menjelajah bersama kakek dan neneknya. Bermain dengan cucu menjadi hiburan terbaik bagi orang tua Ligar, karenanya keduanya suka lupa waktu ketika sudah bersama sang cucu.
“Kita kencan aja di sini, anak kita diculik orang tua,” bisik Ligar seraya merangkul Raga.
Sejujurnya, kencan dengan Raga adalah tujuan utama Ligar, itulah mengapa dirinya mengajak berlibur ke kota kelahirannya. Liburan bertiga ataupun berdua saja dengan Arsen itu cukup sering baginya, sedangkan menghabiskan waktu berdua dengan Raga itu terhitung jarang. Kesibukan pekerjaan mereka juga menjadi faktor dari jarangnya mereka berkencan. Jika dapat waktu yang cocok pun terkadang tidak bisa menghabiskan waktu yang lama.
“Kamu mau main apa di sini?” Ligar menoleh Raga yang dirangkulnya seraya menyisir surai lelakinya, menghilangkan belahan rambut yang telah dibuatnya. “Lucu,” gumamnya mengulas senyum.
“Kayak bocil aja main begituan,” ucapnya seolah tak mengingat kejadian di legoland kala itu.
“Itu banyak yang orang dewasa boleh,” terang Ligar namun Raga tetap enggan. Dirinya tidak dalam suasana hati yang menginginkan hal itu. “Kita jalan-jalan aja deh sambil jajan,” ajak Ligar.
Ligar berhenti ketika menghadap kaca. Dirinya sejenak mengambil gambar dirinya dan Raga di kaca. Keduanya hari ini secara tidak sengaja bersamaan memakai kaos bercorak lurik.
“Pap, jaketmu pake aja lah. Diliat-liat alay banget bajunya samaan kayak bocah baru puber pacaran,” ketus Raga.
“Panas gini pake jaket. Biarin lah dikira bocah baru puber. Kita berdua masih cocok umur 17,” sahut Ligar percaya diri.
“Dih 17 kali dua sih iya.” Ligar tertawa renyah mendengarnya. “Iya sih, ini jadi kayak kamu bocah SMA lagi main sama om-om,” tuturnya yang membuat Raga ikut tertawa. Ligar mengelus kepala Raga ketika lelaki itu tertawa karenanya. Tawa dan senyum Raga sangat sayang untuk dilewatkan.
Tawa Raga terhenti ketika melihat seorang anak keluar dari toko sebelah dirinya berdiri. Bahagia terpancar dari raut anak itu karena boneka yang tengah dipeluknya. Tidak lama dari itu orang tuanya menyusul keluar dan membawa anak itu dalam gendongannya. Lamunannya buyar ketika dirinya dibawa Ligar masuk ke dalam toko itu.
“Ini bisa diraup semua sama Bocil,” celetuk Raga ketika melihat deretan mobil-mobilan. “Ambil aja yang kamu mau, Arsen urusan Mami sama Papi hari ini,” sahut Ligar dengan kekehan diakhirnya.
Ligar dengarkan Raga berkisah ketika berada di depan bagian kartun yang sering dirinya tonton semasa kecil. Raga sudah lama sekali tak berjumpa dengan barang-barang kartun kesukaannya. Ada rasa bahagia dan bersemangat yang membuncah dalam diri Raga. Kartun itu selalu menjadi temannya yang meredam suara perdebatan orang tuanya.
“Kenapa kamu taruh lagi?” Ligar lantas mengikuti Raga yang beranjak.
“Gak penting, bocah banget,” sahutnya ketus. “Beli itu aja buat si Bocil,” tambahnya seraya beranjak kembali pada deretan mobil-mobilan.
“Gapapa, ambil aja. Gak ada aturan yang membatasi secara resmi itu cuma buat bocah,” tutur Ligar. “Persetan sama usia kamu, kamu boleh jadi anak-anak di depanku. Kamu anak keren aku. Aku juga mau kenal kamu sebagai anak-anak selain sebagai Mas Raga yang dewasa dan keren banget,” tambahnya dengan memberikan barang yang sebelumnya dikembalikan Raga.
Raga diam. Dirinya perhatikan Ligar yang tengah berjalan pada bagian boneka. Tangannya melambai meminta dihampiri. Ligar menaruh salah satu boneka di atas kepala Raga. Dirinya lantas meraih gawainya untuk mengambil gambar Raga, namun dengan cepat boneka itu disingkirkan oleh Raga.
“Jangan dilepas, aku mau foto anak keren aku,” tuturnya seraya mengambil kembali boneka yang disingkirkan Raga. Senyumnya terulas ketika mengambil gambar Raga. “Kamu jadi anak ngambek kalo gini, senyum dong,” pintanya saat menunjukkan hasil jepretannya.
Raga benar-benar menuruti setiap arahan Ligar. Dirinya tak mengelak ketika diminta bergaya ini dan itu. Ligar benar-benar seperti orang tua Raga saat ini. Banyak sekali gambar yang diambil Ligar, bahkan senyumnya tak pudar ketika mengambil gambar Raga, bahkan dirinya juga melepaskan pujian untuk Raga.
“Harus impas.” Raga memakaikan topeng salah satu karakter superhero pada Ligar dan pria itu peka dengan merendahkan badannya yang lebih tinggi dari Raga.
Raga mengambil beberapa foto Ligar dengan beberapa barang di sana karena tak mau malu sendirian difoto dengan boneka, walaupun tak ada yang memperhatikan keduanya. Perasaan itu muncul dari dirinya sendiri karena tengah berada di tempat umum. Yang di dalam toko mungkin tak memperhatikan, namun masih ada yang diluar toko dapat melihat keduanya.
Ligar dan Raga menyusul Arsen beserta orang tua Ligar di outdoor cafe and resto selepas berbelanja. Keduanya menenteng banyak kantong belanja karena kalap. Selain membeli untuk keduanya dan Arsen, keduanya juga membeli untuk hadiah teman-teman Arsen, bahkan Raga membeli satu boneka kelinci untuk Jemian yang sering dirinya sumpah serapahi.
Arsen heboh sendiri ketika Ligar dan Raga datang membawa banyak kantong belanja. Anak itu mengintip isi setiap kantong belanja dengan bersemangat.
“Kalian peseno makanan dulu, ini ada air kalo haus.” Papi memberikan botol minuman pada kedua lalu memanggil pelayan untuk mendatangi meja mereka.
“Bajumu basah main air apa keringet?” tanya Ligar yang merasakan basah pada pakaian Arsen.
“Keringet. Anakmu persis kamu aktif e waktu kecil. Untung Papi karo Mamimu sek rajin olahraga, ndes,” sahut Papi.
Sembari menunggu makanan datang, Raga memilih mengikuti Arsen yang tengah mencari sesuatu. Bukan tanpa alasan Raga melakukan itu, di meja mereka, orang tua Ligar tengah membicarakan saudara mereka yang entah ada apa dengan berbahasa jawa, dirinya memelih menepi karena tak mengerti dan daripada menyimak bak orang bodoh.
“Pipoy, ayo kita kasih ini ke Papogar.” Arsen menunjukkan seekor katak kecil pada Raga. “Papogar takut sama ini.” Raga dengan cepat menahan Arsen yang bersiap lari.
“Gak boleh kayak gitu. Takut itu gak boleh diisengin,” peringat Raga. Dirinya juga memiliki ketakutan terhadap sesuatu dan dirinya paling benci sekaligus akan marah ketika orang menjahili ketakutannya. Ketakutan bukan hal yang bisa dibercandakan.
“Biar Papogar gak takut lagi, makanya Papogar harus ketemu katak,” terangnya polos.
“Iya, tapi gak diisengin gitu, Cil. Nanti Papomu bisa makin takut. Jangan iseng kayak gitu ya, ke siapapun itu, oke?” Arsen mengangguk mengerti.
“Aku pulangin lagi ya kataknya. Dadah!” tuturnya seraya mengembalikan katak tersebut di tempat asalnya. “PAPOGAR STOP!” teriaknya ketika berbalik mendapat Ligar yang berjalan menghampiri. “Papogar nggak boleh ke sana, itu ada wrebekkk~ wrebekkk~” tuturnya menyamarkan sebutan katak dengan suaranya.
“Cuci tangan dulu, Cil,” titah Raga yang langsung disanggupi Arsen.
Arsen menceritakan bagaimana Raga menasehatinya tadi di tengah makan siang. Karena Arsen, Raga mati-matian menjaga rautnya agar tak menampakkan dirinya yang tersipu malu sekaligus bahagia karena mendapatkan pujian dari mertua juga suaminya. Dirinya merasa tak seberapa melakukan hal itu, namun senangnya luar biasa kala mendapat apresiasi.