Akhir Adu Argumen

Persetan dengan dirinya yang tengah membuat kesepakatan dengan klien, Ligar meninggalkan bangku begitu saja setelah membaca pesan dari Raga. Jantungnya seakan berhenti sejenak melihat foto yang dikirimkan Raga tadi. Dengan kecepatan tinggi, Ligar melajukan motornya membelah jalanan.

Jatuhnya Arsen juga akan menjadi jatuhnya dirinya. Putra semata wayangnya hanya diam ketika dipeluk Ligar yang menangis. Ligar selalu seperti itu saat Arsen sakit, namun untuk kali ini Arsen merasakan ada yang berbeda dari pelukan itu. Dia bukan mendengar kalimat memohon kesembuhannya, namun ucapan maaf yang terus diulang.

“Mau gendong Papo~” Ligar dengan hati-hati mengangkat putranya dari ranjang.

Raga tak bersuara sama sekali. Dirinya hanya duduk memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Hanya dengan usapan telapak Ligar, Arsen dapat terlelap dalam gendongan Ligar. Raga sadar dia dan Arsen punya kesamaan, juga saat ini dirinya tengah bersitegang dengan ayahnya karena persamaan mereka itu, tetapi rasa iri atas Arsen tetap bisa menyeruak begitu saja dalam dirinya.

Raga benar-benar tak beranjak sedari tadi, bahkan saat Mas Tono datang mengantar pakaian mereka. Dirinya berinisiatif mengambil, namun Ligar lebih dulu meminta Mas Tono membawa masuk tas yang dijinjingnya untuk diletakkan pada meja kecil di sana.

“Kamu pulang aja istirahat, Arsen sama aku di sini,” tutur Ligar di tengah kegiatannya mengganti pakaian Arsen. Raga memilih tak menghiraukan itu dan tetap berada di tempatnya.

Senyuman terulas di bibir Ligar ketika selesai mengganti pakaian Arsen dan berbalik mendapati Raga yang telah terlelap. Gerakannya cepat menangkap Raga yang limbung dari tidur dengan posisi duduk. Ligar dengan perlahan membawa Raga dalam posisi tidurnya. Raga rasakan semua perlakuan dan sentuhan itu, dirinya belum sepenuhnya terlelap. Surai dirapihkan, posisi tidur dibenarkan, tubuh dengan kaos tipis Raga diselimuti dengan jas miliknya, juga memberikan pahanya menjadi bantal tidur Raga.


Raga terkesiap bangun hingga tak sengaja kepalanya terbentur dengan dagu Ligar. Pria itu sama sekali tak berpindah dari semalam. Keduanya saling mengaduh atas benturan itu dan diam beberapa saat setelahnya untuk mengumpulkan nyawa.

“Udah lewat, izin aja hari ini,” pinta Ligar pada Raga dengan suara beratnya.

Keduanya berakhir berada di kantin untuk mencari sarapan sementara Arsen belum bangun. Rasanya canggung. Beberapa hari tak banyak bertegur sapa dan pagi ini keduanya berhadapan untuk sarapan bersama tanpa Arsen diantara keduanya.

“Pipoy, maaf ya...” Panggilannya sudah berubah. “Makan aja dulu,” balas Raga menahan lanjutan pembicaraan Ligar. Dirinya sama sekali tak mengharapkan pembicaraan itu di pagi hari.


Di bawah rindangnya pohon taman rumah sakit terdapat sepasang suami dengan keadaan yang kontras dengan sejuknya angin pagi. Dinding pembatas antara keduanya masih terasa adanya.

“Pipoy, maaf yaa... Hari itu nggak seharusnya aku respon kamu kayak gitu. Aku salah, banget. Kamu suami aku, kamu juga orang tua buat Arsen. Aku minta maaf, Pipoy...” Tanpa untaian kata yang berbelit, Ligar mengakui salahnya dan melempar ucapan maaf.

“Kita sama-sama salah. Aku salah bilang aku dan bocil itu sama. Luarnya aja sama, dalemnya beda.”

Hening kembali menerpa, membiarkan angin pagi mendinginkan pikiran keduanya.

“Tentang saran kamu hari itu, aku udah pikirin itu. Aku bakal kurangin les Arsen.” Raga mengangkat kepalanya menoleh pada Ligar. “Aku ngatasin kerjaan numpuk dan dikejar deadline aja pusing banget, tapi aku malah buat anakku ngerasain itu dengan cara lain bahkan sampe dia beneran tumbang semalem,” lanjut Ligar dengan senyuman getir.

Dalam dekapan Ligar, Raga membalas pelukan itu. Raga sadari fakta bahwa Ligar itu gampang menangis, terlebih untuk orang tersayangnya. Puncak kepalanya entah telah berapa kali dijatuhi kecupan oleh Ligar. Tak ada satu pun perlakuan Ligar yang dielaknya saat ini.

“Kamu boleh pukul aku sebanyak apapun setelah ini.” Raga menggeleng dalam dekapan Ligar. “Rumah kamu di sini sama aku dan Arsen. Kamu nggak berdiri sendiri.” Kalimat itu berhasil meruntuhkan bendungan air mata Raga. “Maaf juga atas omongan Arsen tempo hari. Kamu nggak perlu jadi Jemian buat Arsen, kamu Jiwa Raga Satria, kesayanganku yang keren banget.” Raga semakin menempel pada Ligar setelah kalimat itu dilontarkan.

“Papp...” Ligar berdeham. “Mau dong kayak si bocil kemaren.” Raga menggerakkan sebelah tangan Ligar untuk memberikan usapan di punggungnya. “Bayi gedhe,” tutur Ligar dengan terkekeh dan memberikan usapan hangat di punggung Raga.

Faktanya, pilot dalam menerbangkan pesawat perlu didampingi co-pilot.