Adu Argumen
“Papp, les bocil banyak banget deh,” ucapan itu keluar dari mulut Raga di bawah remangnya lampu tidur.
“Aku nggak bisa ngajarin sendiri apa yang jadi ketertarikannya, aku perlu bantuan mereka untuk Arsen,” terangnya.
Setiap orang tua menginginkan yang terbaik untuk anaknya, begitupun dengan Ligar. Usia anak-anak adalah usia di mana mereka mencari ketertarikan mereka. Apa yang Arsen mampu dan minati, sebisa mungkin Ligar penuhi kebutuhannya untuk mengembangkan itu, entah mana yang nantinya akan ditekuni oleh Arsen.
“Tapi itu kebanyakan Papp, jadwalnya ngalahin kita yang kerja.” Jadwal Arsen sangat padat dari senin hingga jumat, bahkan pada akhir pekan masih terdapat satu atau dua latihan. “Kasian si bocil, aku liatnya capek,” tambahnya.
“Kelihatannya mungkin gitu, tapi aku udah atur jadwalnya dengan menempatkan satu latihan yang bisa jadi refreshing dia setiap harinya. Kita lihatnya capek, tapi anaknya enjoy sama latihan-latihannya. Dia selalu seneng dan punya cerita-cerita seru tentang latihannya buat diobrolin sama kita.”
Raga seakan ditarik ke masa kecilnya saat ini. Baginya tak ada yang seru dari kalimat-kalimat Ligar. Terputar kembali dengan jelas di otaknya bagaimana dirinya menjalani banyak les tambahan setiap hari. Maksud Ligar dan orang tuanya memang berbeda, namun dapat memberikan dampak yang sama. Orang tuanya memasukkan dirinya dalam les tambahan dengan tuntutan, sedangkan Ligar atas kemauan Arsen tetapi dirinya tidak mengerti porsi Arsen. Persetan dengan Arsen yang menikmati les tambahannya, seorang anak itu memiliki kapasitas dalam menerima pengetahuan.
“Iya, sekarang kita liatnya dia seneng karena ini baru berjalan beberapa bulan dengan les tambahan dia yang makin padet, tapi kalo diterusin itu kasian bocilnya. Papp, tolong kurangin lah les si bocil.” Raga sedikit kelepasan meninggikan intonasinya.
Ligar bangkit dari posisi tidurnya membuat Raga mengikuti hal yang sama. Kacau. Ligar dan Raga mulai tersulut atas argumen satu sama lain. Ligar nampak menghela berat napasnya berusaha menetralisir emosinya yang naik.
“Raga, aku masukin Arsen les ini dan itu sesuai kemauan Arsen. Aku sama sekali gak maksa dan itu murni ketersediaan dia. Aku belom tau arah Arsen ke mana. Dengan masukin dia les ke bidang yang dia suka, aku bisa lihat arah Arsen ini ke mana. Kalo Arsen mulai ada rasa jenuh, aku bebasin dia mau lepas dari les itu. Les piano kemaren dia bilang udah bosen juga udah gak aku ikutin lagi. Dia sekarang les piano lagi karena mau ngisi event di sekolah, selepas itu yaudah.”
“Ngerti maksud kamu bagus, tapi kamu yang ngerti kapasitas anakmu. Aku emang gak punya pengalaman jadi orang tua sebelumnya, tapi aku punya pengalaman jadi anak kayak si bocil. Papp, apapun yang berlebihan itu buruk.” Pandangan mata Raga kini sudah berkobar.
“Dengan kamu masukin bocil les di bidang yang dia suka itu perlahan bakal jadi tuntutan buat dia. Bocil itu anaknya ambis, kamu gak nuntut pun dia bisa bikin tuntutan buat dirinya sendiri. Oke kalo itu cuma satu-dua, ini banyak. Anakmu bisa stress! Kamu terlalu fokus sama yang dia suka sampe ngesampingin kapasitas fisik, mental, sama pikirannya! Kamu ngejaga itu dari sisi lain tapi kamu juga ngerusak lewat sisi yang lain.”
Menjaga intonasi nyatanya sulit diterapkan. Raga tidak bisa untuk berargumen dengan tenang. Yang dia suarakan saat ini adalah suaranya bertahun-tahun lalu, tetapi tidak dia lontarkan pada orang tuanya melainkan pasangan hidupnya.
“Aku bertahun-tahun ngerawat Arsen sendiri, aku ngerti anakku gimana, mampunya dia seberapa bahkan dengan situasi aku yang pisah sama ibunya, Arsen tetep tumbuh dengan baik. Oke kamu punya pengalaman menjadi anak kecil kayak Arsen, tapi kamu gak seharusnya menyamakan orang tua kamu sama aku. Setiap orang tua itu punya caranya sendiri, gak ada yang sama.” Ligar merasa direndahkan oleh Raga sebagai orang tua.