Raley being Raley

Delon segera berpamitan ketika Leon datang. Raley mengulurukan kedua tangannya meminta dibawa dalam gendongan Leon untuk keluar dari klinik. Raley tidak perlu rawat inap karena hanya mengalami luka ringan. Sebetulnya Raley sanggup saja berjalan, namun dia ingin merepotkan kekasihnya itu. Baginya, kesempatan untuk menempel dengan Leon itu sangat sayang untuk dilewatkan.

Mbul, aman iku loh motormu,” tunjuk Raley pada motor Leon yang terparkir di depan klinik. “Yang penting iku kamu.” Raley langsung memberikan ciuman di pipi Leon dari belakang.

Raley perhatikan kekasihnya yang dengan telaten menata duduknya di mobil agar aman dan nyaman. “Arek kakehan polah,” omel Leon pada Raley yang tidak bisa diam hingga lututnya terbentur dashboard. “Iki menanteamu, baksone dimakan nde apart aja, yang.” Leon memberikan minuman Raley lalu menutup pintu mobil.

Tadi gimana kamu kok iso ketabrak gitu, yang?” tanya Leon yang baru duduk di bangku kemudi.

Aku tadi loh meneng, Mbul.” Leon sudah tertawa mendengar satu kalimat Raley. “Loh serius, Mbul. Iku lampune merah, aku yo diem poo nunggu lampu ijo. Terus ujuk-ujuk tekan belakang iku mak dug 'Lah opo iku cok?' kaget aku, Mbul. Sikilku iso jagang tapi bobotku mbek motor iku kan perbandingane jauh ta, terus disenggol ya oleng aku mbul. Untunge aku sat set pas oleng iku sikilku segera tak selamatkan jadi gak ketiban motor Mbul, mek kepentok setir mbek badanku mencium tanah air. Seng nabrak aku banting setir gulung koming, Mbul. Sakno areke tapi yo piye, salahe dewe gak aturan nyetir motor.

Leon kasihan atas Raley, namun juga ingin tertawa atas ceritanya. Kekasihnya itu memang pandai bercerita hingga orang yang mendengarnya bisa terbawa suasana.

Mbul aku nde apartmu aja loh,” pintanya. “Gak kasian opo pacare sakit dibiarno dewean nde apart. Lek aku kenapa-napa piye?” tambahnya mendramatisir.

Tak pulangno nde rumahe Mamimu aja yo?” Decakan Raley keluar mendengarnya. “Lek aku kerja kamu kan yo tak tinggal to yang,” lanjutnya.

Mbuuull~” rengeknya atas Leon yang menggoda dirinya.


Leon benar-benar telaten mengurusi manja dan rewelnya Raley. Leon sendiri pun tahu dan sadar ada beberapa yang Raley lebih-lebihkan padahal dirinya sendiri bisa mengerjakan itu, namun Leon tak mau mendebat dan memilih menuruti kemauan sang kekasih. Lagipula dirinya suka direpotkan kekasihnya itu walaupun tak jarang membuatnya pusing kepala.

Mbul, kamu nanti sampe jam berapa nde kantor?” tanya Raley dengan menjeda mengunyah bakso di mulutnya. Dirinya tunjukkan raut sedihnya karena sebentar lagi Leon akan kembali ke kantor mengurusi beberapa pekerjaannya.

Tak usahakno gak lewat jam 8, yang,” balasnya.

Mau peluk cium sek, Mbul. Seng lama loh ya...” rajuknya.

Leon memberikan pelukannya untuk Raley setelah kekasihnya menyelesaikan makannya. “Hp nya jok jauh-jauh, nanti telp aku lek ada apa-apa. Tapi kamu jok iseng, aku lagi kerja soale, yang,” peringat Leon memeluk Raley.

Hahhh~ Ayo cium! Wes ilang bau baksone.” Leon hanya bisa menggelengkan kepala atas tingkah kekasihnya. Raley baru saja menunjukkan aroma mulutnya yang baru menghabiskan satu buah permen selepas memakan bakso.

Raley sentuh benda kenyal tak bertulang milik Leon sebelum dirinya pertemukan dengan bibirnya. Tangannya mengalung pada leher sang kekasih seraya menyesap belah bibir tebal Leon. Balasan lumatan dari Leon selalu menantang Raley bertindak lebih dalam ciuman keduanya. Bunyi kecapan bibir keduanya berlalun dengan bunyi napas yang menderu. Lidah yang berdansa di dalamnya menyatukan saliva keduanya. Raley berikan lumatan yang sedikit kuat sebelum melepas peraduan bibir keduanya.

Tuman lek nyium ra aturan, pacare meh kerja kok e.” Leon mengecup bibir Raley setelahnya. “Dipake bobok aja, abis iki linune badanmu kerasa, yang,” tambah Leon. “I love youu sayangku.” Leon mengecup bibir Raley sekali lagi.

I love you more, Mbul.” Raley kembali memeluk sejenak kekasihnya. “Lek bisa pulango cepet to, Mbul. Aku mau bobok peluk kamu,” pintanya sebelum sang kekasih berangkat.