Bekas yang Kembali Tergores

Pandangan Ligar mengelilingi seluruh sudut ruangan namun tak mendapati keberadaan Raga yang menurut penuturan Arsen lelaki itu berada di ruangan mereka berdua. Ligar mengetuk berulang kali pintu kamar mandi yang terkunci, dirinya tahu pasti Raga di dalam sana.

“Raga...” panggilnya masih dengan mengetuk pintu kamar mandi. “Kamu mau jawab panggilan aku atau aku dobrak pintunya?!” tawar Ligar yang tak kunjung mendapat balasan.

“Aku mau keluar ganti baju, kamu keluar dulu,” pintanya dari dalam dengan suara menggema.

Tak berselang lama Raga keluar dari kamar mandi. Lelaki itu mengobrak-abrik laci mencari sesuatu. Dirinya berbohong pada Ligar, Raga keluar dengan berpakaian sebagaimana biasanya dia di rumah, bahkan badannya tak basah seperti baru saja mandi.

“Kamu suka banget bohong ya.” Raga terkejut mendengar suara Ligar. Pria itu sedari tadi hanya menepi ke balkon, tidak beranjak keluar ruangan mereka berdua.

Ligar tak terkejut dengan badan dan wajah Raga yang memiliki banyak lebam dan luka. Pasalnya tadi dirinya sempat bertemu Haidan, memenuhi ajakan lelaki itu untuk bertemu dan lelaki itu menyatakan jujur baru saja baku hantam dengan Raga, mirisnya lukanya lebih parah daripada Raga. Ligar mengerti kemampuan berbaku hantam Raga tidak perlu diragukan.

“Mau aku tambahin gak bonyoknya?” tawar Ligar yang tentu dipersilahkan Raga. Ligar membawanya duduk di pinggiran ranjang dan meraih kotak obat yang ditaruh Raga di nakas. Dirinya obati luka di punggung Raga yang tidak bisa lelaki itu raih untuk mengobatinya. Berulang kali rintihan terdengar karena Raga merasakan perih pada bagian yang tengah diobati Ligar. “Kamu nyuruh aku keluar karena mau nutupin luka kamu?” tanyanya oada Raga yang memegang sebuah concealer.

“Pap, marahin aku deh. Kayak waktu itu kita ribut karena Arsen,” pintanya.

“Kamu dimarahin atau enggak itu sama aja,” sahutnya. “Kamu mau liat sesuatu nggak?” Raga nampak ragu namun memberikan anggukannya. Ligar memberikan gawainya pada Raga dan menunjukkan pesan dari Papanya tadi. “Dikhawatirin Papa kamu tuh. Sedih pasti dia kalo liat anaknya bonyok kayak gini.”

“Dih orang dia liat aku berantem, diem aja tuh,” sahutnya mengingat baku hantamnya dengan Haidan yang disaksikan sang Papa.

“Raga, aku tadi ketemu Haidan.” Sontak Raga berbalik menghadap Ligar. “Kita semua salah, sama-sama punya luka yang bekasnya gak kunjung hilang. Kita tata pelan-pelan ya buat kedepannya. Aku gak bisa bilang mudah karena bekas luka itu kegores lagi, tapi akan ada waktunya itu kering,” pungkasnya.

“Kamu kenapa cepet banget maafinnya?” heran Raga.

“Emang ada aku bilang maafin kamu?” Raga menggeleng. “Aku pasti maafin kamu, tapi aku perlu waktu buat nerimanya,” terangnya.

“Kita aneh banget ya.” Ligar menaikkan kedua alisnya. “Gak tau, aneh aja,” tambah Raga dengan sedikit mengulas senyum.

Ligar harap dengan keputusannya berdamai hari ini akan membuahkan hal baik kedepannya. Dirinya kini tengah mengumpulkan kembali kepercayaannya untuk Raga. Julian mungkin akan mengatainya bodoh, tetapi dirinya tak akan pedulikan itu karena pernikahannya masih bisa dirinya genggam lagi kali ini. Antara dirinya dan Raga masih saling menginkan satu sama lain, lain cerita dengan kisahnya yang lalu.

“Kamu kayaknya udah capek denger ini, tapi aku tetep mau bilang. Maaf ya aku masih banyak banget kurangnya dan sering bikin kamu repot. Aku bakal pelan-pelan perbaikin dan aku minta bantuan tegasnya kamu. Kamu gak nempatin tempat orang lain di sini, kamu nempatin tempat kamu, tempat sebagai pasangan hidup aku.” Bulu kuduk Raga berdiri mengucapkannya. Dirinya memampukan diri berucap seperti itu yang sebetulnya tak pernah dirinya lakukan ke siapapun sehingga terasa aneh buatnya.

“Tapi kalo untuk main fisik ke kamu aku gak akan pernah mau dan jangan sekali lagi kamu minta itu. Aku bakal temenin kamu perbaikin pelan-pelan, karena kurangku sendiri juga masih banyak,” balas Ligar. “Kamu mau peluk nggak?” Raga pun tanpa berpikir panjang langsung masuk dalam dekapan Ligar.

Keduanya cukup lama dalam pelukan itu. Tak ada suara yang keluar dari keduanya, hanya deruan napas dan isakan yang beberapa kali muncul. Keduanya tak ada yang berniat melepas pelukan hangat penuh kerinduan itu.

“PAPOGARㅡOH NO! PIPOY AKUU~” Arsen menutup mulutnya melangkah memasuki ruangan orang tuanya. Ligar dan Raga seketika melepas pelukan keduanya atas kedatangan Arsen dengan ranselnya yang siap pergi bimbingan belajar. Anak itu membuka telapaknya menampakkan bibirnya yang mencebik. “Pipoy aku kenapa PapogarㅡAWW!!” Anak itu menangis dan ikut mengaduh ketika Raga mengaduh karena lukanya disentuh Arsen.

“Kata kamu kan Pipoy jadi pahlawan menyelamatkan dunia, Bro,” terang Ligar mengingat obrolan keduanya tadi.

“Pipoy betulan jadi anggota S.H.I.E.L.D?” hebohnya.

“Bukan S.H.I.E.L.D, tapi tim bubadibako.” Arsen seketika mendengus mendengar jawaban Ligar.

“Aku gak mau pergi bimbel hari ini.” Anak itu melompat naik ke ranjang orang tuanya. “Aku mau nemenin Pipoy aku. Kasian jadi sakit karena menyelamatkan dunia. Pasti Pipoy habis ketemu monster, ya? Atau zombie?” Raga hanya bingung menyimak perbincangan Arsen dan Ligar yang tak dia mengerti.