Sebuah Ajakan
Raga menghampiri Ligar yang tengah duduk di bangku luar dengan memangku laptopnya. Dirinya beberapa kali memukul dadanya karena jantungnya yang masih berdegup kencang walaupun sidah telah usai dan dirinya sudah meninggalkan ruangan.
“Ngapain lo nungguin?” tanya Raga membuat lelaki itu menutup laptopnya segera.
“Ya gapapa. Saya mau semangatin kamu sebagai mahasiswa terakhir di angkatan kamu yang akhirnya sidang akhir,” balasnya diakhiri kekehan. “Kamu mau makan apa?” lanjutnya menawarkan.
“Gak ngantor lo?” Tatapnya penuh tanya.
“Saya ambil libur sehari penuh buat kamu sidang akhir,” balasnya membuat Raga seketika mengalihkan pandangan matanya dari Raga. Ada perasaan tersentuh dirinya mendapati perlakuan Ligar. “Kita jemput Arsen dulu buat makan sama kita,” lanjutnya mengajak beranjak dari tempat itu.
Di dalam mobil Ligar, Raga memikirkan perihal kesepakatan mereka yang masih belum dia dapatkan jawabannya. Dirinya dalam kebimbangkan karena jika dia memilih tinggal, dirinya bukan hanya menjadi Pipo untuk Arsen, melainkan juga menjadi pasangan Ligar. Ini menjadi pertama kalinya Raga memikirkan secara penuh untuk sebuah hubungan.
“Lo dulu kenapa cerai sama mantan lo?” tanyanya. Dia perlu memikirkan hal itu karena Ligar memiliki catatan gagal dalam hubungan. “Kalo gak mau jawab gapapa sih,” tambahnya.
“Mantan saya menemukan seseorang yang lebih baik untuk dirinya ditengah kita berdua masih terikat. Saya udah coba sebisa mungkin untuk tetep pertahanin itu, tapi saya tetep kalah,” balas Ligar dengan memperhalus bahasanya.
Raga mengangguk. Sebuah alasan perpisahan yang sama dengan yang terjadi pada orang tuanya. “Dari kapan lo pisah?” tambahnya bertanya. “Enam tahun lalu, mungkin.” Raga reflek menoleh pada Ligar karena tak menyangka sudah selama itu dan dirinya belum menikah lagi atau memiliki hubungan dengan orang lain. Mamanya saja baru beberapa bulan setelah resmi berpisah karena perselingkuhan Papanya saja sudah mencari yang baru.
“Raga, kalo kamu pilih tetep tinggal, saya akan tanggung jawab atas kamu. Saya emang punya kegagalan dalam hubungan, tapi dari situ saya terus belajar buat jadi lebih baik lagi dalam membangun sebuah hubungan,” tutur Ligar yang menangkap maksud Raga atas segala pertanyaannya.
Degupan kencang jantung Raga muncul kembali. Dirinya masih berusaha mengerti perasaannya untuk Ligar. Kalau perkara Arsen, dia sudah aku dalam hatinya perihal rasa sayangnya pada anak itu. Dirinya mungkin nampak judes pada Arsen, tetapi dia selalu senang setiap melihat anak itu senang, walaupun tak jarang ada rasa iri yang mengikuti.
“Kalo gue milih tinggal, otomatis gue juga terikat sama lo, tapi gue gak ngerti perasaan gue ke lo,” tukasnya jujur karena kepalanya sudah tak kuasa memikirkan jawaban atas banyaknya pertanyaan dan kebingungan yang dia buat sendiri.
Ligar membawa mobilnya menepi. Dirinya merasa perlu berbicara serius dengan tenang bersama Raga.
“Kamu mau tinggal atau lepas?” tanya Ligar. “Kesampingkan dulu yang lain dan jawab pertanyaan itu dulu,” tambahnya.
“Buat Arsen, gue mau tinggal. Kalo punya ikatan sama lo juga, gue gak tau. Bingung,” balasnya.
Raga tidak masalah sama sekali dengan Arsen. Saat dirinya mengetahui rasa senang Arsen ketika dirinya setuju tinggal di sana bersamanya, dia dapat ikut merasakan perasaan senang anak itu. Mengingat bahagianya Arsen, dia tidak memiliki ketegaan untuk meninggalkan anak itu. Perginya dirinya akan mengulang kehilangannya atas satu sosok yang selalu bersamanya setiap hari.
“Raga, kalau kamu milih tetap tinggal, kamu mau mulai jatuh cinta sama saya?” Pertanyaan itu tentu mengejutkan Raga. “Saya juga akan melakukan hal yang sama buat kamu,” tambahnya.
Tindakan dan ucapan Ligar selalu diluar tebakannya. Lelaki itu paling bisa membuatnya heran dan terkejut. Sialnya bertatapan dengan Ligar justru memutar ulang memori keduanya berciuman di pagi hari. Telinganya memerah akibat memori itu terlintas.
“Raga?” “Hah? EhhㅡOke,” gelagapnya mendengar panggilan Ligar.
“Oke? Kamu setuju?” Pertanyaan Ligar menyadarkan dirinya atas apa yang baru dia ucapkan.
“Ya, nyoba aja kan?” Ligar terkekeh.
“Satu bulan kita udah coba, saya ajak kamu itu ya buat dilakuin. Kamu pikir saya tester dicoba-coba terus?” balas Ligar dengan guyonannya.
“Ya... udah, ayo,” balasnya seraya menatap arah luar.
Ligar menarik dagu Raga untuk menolehnya, meminta anak itu mengulang ucapannya dengan menatap dirinya. “Ya udah, iya,” ujarnya membuat senyum Ligar terulas lebar.