Rasa yang Kembali Dirasakan
Selepas bekerja, Raga berniat memberitahu kelulusannya kepada orang tuanya. Mamanya yang berada di luar kota dia beritahu melalui telepon dan satu kalimat pujian pun tak terucap, justru mengucap tuntutan baru dan kekecewaan atas nilainya. Papanya yang masih di kota yang sama dengannya pun dirinya hampiri ke kediamannya. Dirinya salah berharap reaksi yang berbeda, nyatanya sama dengan Mamanya.
Kedatangan Ligar yang langsung memeluk Raga yang tengah duduk di sofa itu mengundang tanya Papa Raga. Raga sendiri juga terkejut atas tindakan Ligar itu.
“Kamu siapa?” Ligar melepas pelukannya mendengar pertanyaan itu. “Saya Ligar,” balas Ligar dengan menglurkan tangannya yang sama sekali tak dijabat oleh Papa Raga.
“Kamu ada hubungan apa dengan Raga? Anak geng motornya?” tanyanya pada Ligar.
“Bukan, hubungan kami lebih dekat dari itu.” Papa Raga tertawa mendengar hal itu, sedangkan Raga terkejut karena Ligar mengucapkan itu di depan Papanya. “Seberapa dekat?” tanya pria itu. “Bisa terikat dalam pernikahan,” balas Ligar membuat Raga membulatkan matanya mendengar dirinya selantang itu mengatakannya.
“Kamu kelihatannya orang benar, tetapi mau-mau saja menjadi mainan anak saya. Dia tidak pernah serius dengan siapapun.”
Raga sungguh tak habis pikir dengan Papanya yang mengatakan hal itu tentangnya pada orang lain. Ketika banyak orang tua memuji anaknya dihadapan semua orang, orang tuanya justru dengan santai menjelekkan dirinya.
“Mungkin itu benar, tetapi yang selama ini saya lihat, Raga anak yang bertanggung jawab atas apapun yang sudah dia putuskan. Saya percaya dengan Raga,” ujar Ligar tegas.
“Saya sudah peringatkan kamu, mau mendengarkan atau tidak, itu tidak menjadi urusan saya. Kalau kalian menikah pun ya silahkan saja,” tuturnya yang tak peduli.
“Gak suka banget sama anak sendiri,” gumam Raga dengan kekehannya yang didengar baik oleh Papanya dan Ligar.
“Sikapmu persis sekali dengan Mama kamu itu. Anak kok tidak sopan sama orang tua, bisanya cuma bikin ribet, bodoh banget lagi, lulus IPK segitu aja kamu banggain depan Papa,” tutur sang Papa.
Raga hanya tersenyum mendengarnya sedangkan Ligar marah sekali mendengar hal itu. Dirinya tak terbayang bahwa orang tua seperti itu nyata adanya. Raga yang mendapatkan hal itu, dirinya ikut sakit hati.
“Pantas saja Raga bisa menjadikan orang lain sebagai mainannya, ada Bapak yang memberikan contoh,” sahut Ligar masih dalam intonasi tenang walaupun dirinya sudah mendidih. “Raga, ayo kita pulang,” lanjut Ligar mengajak Raga beranjak.
Selepas keluar dari komplek perumahan Papa Raga, Ligar membawa mobilnya menepi di jalanan yang telah menyepi. Dirinya tarik Raga dalam dekapannya. Raga hanya pasrah, dirinya juga tak ingin mendebat Ligar. Bahkan kecupan yang dijatuhkan Ligar pada puncak kepalanya dia terima begitu saja.
Ligar yang memeluk Raga telah menitihkan air matanya melepaskan rasa sakit hatinya atas perkataan Papa Raga pada Raga, sedangkan Raga tak sedikitpun mengeluarkan air matanya. Bahkan ketika Ligar datang melihat kepala Raga berulang kalo didorong dengan telunjuk Papanya dengan segala perkataan yang menyalahkan itu tak sedikitpun wajahnya basah. Raga hanya tersenyum getir setiap mendapatkan hal itu.
“Kamu punya aku dan Arsen di sini. Kamu hebat, hebat banget. IPK kamu itu bagus, kamu lulus dengan hasil terbaik kamu atas semua usaha kamu, iti bagus. Aku bangga sama kamu di sini,” tutur Ligar seraya berulang kali mengecup puncak kepala Raga dan membelai hangat punggungnya.
Mendengar segala ucapan Ligar, Raga hanya diam. Tangannya meremat ujung kaos Ligar. Air mata Raga perlahan turun, tetapi bukan karena mengingat segala perkataan dan sikap orang tuanya, melainkan atas sikap Ligar padanya. Dia lupa rasanya dipuji, dihargai, dan disayang, dan hari ini Ligar mengingatkan rasa itu padanya dengan jelas.
Raga menahan suara tangisnya, namun Ligar tahu Raga tengah menangis karena dirinya merasakan basah pada sebagian dadanya akibat air mata Raga. Ligar biarkan Raga memuaskan tangisannya dalam dekapannya.