Pipoy Membujuk
Ketika Ligar datang tadi, Arsen langsung beranjak dan menatap Ligar dengan bibir yang sudah mencebik. Kini, putra semata wayang Ligar itu tengah menangis dalam dekapan sang Papo. Sedangkan Ligar berusaha sebaik mungkin untuk tak tertawa lepas.
“Kenapa?” tanya Raga ketika menghampiri keduanya.
Ligar dapat rasakan bahwa tangisan Arsen semakin kencang karena badan gemetarnya. Akan tetapi, putra semata wayangnya itu menahan suara tangisnya. Arsen tidak ingin tangisannya didengar oleh Raga.
Sebelah tangan Ligar terulur membelai kepala Raga, “Kamu ramah anak banget ya ternyata,” tuturnya.
“Lah selama ini Arsen sama aku?” balasnya seraya menurunkan tangan Ligar yang merangkul dirinya. “Tanganmu!” ungkapnya kesal tak bersuara.
“Kamu tau nggak kenapa dia daritadi diem aja?” Ligar seketika mendapat cubitan di pinggangnya dari Arsen. “Dia cemburu kamu main sama yang lain, sedih katanya kamuㅡBro, jangan nyubitin Papo gitu dong.” Cubitan Arsen yang sampai memutar kulitnya itu membuatnya melempar peringatan.
Ligar mengarahkan Raga untuk melihat ke belakang tubuhnya. Arsen seketika memindahkan kepalanya pada dada bidang Ligar karena Raga mengintipnya yang tengah menangis dengan menyembunyikan kepalanya di bawah ketiak Ligar.
“Heh, ada Pipoy tuh.” Arsen menggelengkan kepalanya pada dada Ligar. “Iya, udah. Kita pulang sekarang.” Ligar lantas beranjak menggendong Arsen.
Ketiganya berpamitan juga meminta maaf terhadap Aciel dan orang tuanya karena Arsen yang kehilangan suasana hatinya. Menuju ke tempat makan siang, ketiganya berpisah karena Raga harus membawa motornya dan Arsen masih menempel pada Ligar.
“Kamu kok lucu banget cemburu sama Pipoy.” Ligar mengecup Pipi Arsen dalam gendongannya lalu mendudukkan putranya itu pada bangku mobil.
“Pipoy ke mana?” tanyanya merengek.
“Pulang dong, kamunya gak mau sama Pipoy.” Balasan Ligar itu kembali mengundang cebikan dari Arsen.
Ketika sampai di tempat makan, Arsen spontan bersembunyi dibalik tubuh Ligar ketika melihat Raga duduk di salah satu bangku di sana. Ligar tak bisa menahan tawanya mengetahui aksi lucu putranya itu.
Ligar membawa Arsen duduk berhadapan dengan Raga dan dirinya bersebelahan dengan Raga. Sebelah tangan Ligar kembali merangkul Raga lantas mencondongkan tubuhnya ke arah Raga, “Pipoy yang bikin anaknya cemburu, tolong dibujuk ya, Pipoy,” bisiknya pada Raga.
Demi seluruh bumi dan isinya, Raga merinding sekujur tubuh saat ini. Dirinya masih belum terbiasa dengan tindakan-tindakan Ligar yang menurutnya cukup berani. “Anaknya bakal aku bujuk, Papogar,” balasnya dengan senyum penuh arti seraya menurunkan rangkulan Ligar.
“Cil, MasㅡakuㅡPipo tadi gak maksud diemin kamu, maaf ya, Cil. Kamu bilang kan Mas Raga itu Piponya kamu dan kamu anaknya Pipo, jadi nomer satu Pipo tetep kamu. Tadi kamu asik sama Aciel, Pipo kan bingung sendirian, jadi main sama adiknya Aciel. Maaf yaaa...” bujuk Raga dengan kalimat yang dia rangkai selama perjalanan menuju tempat makan. Dia tidak begitu pandai merangkai kata untuk membujuk dan meminta maaf karena hal itu jarang dia lakukan.
Tangan Raga yang tengah menarik satu kantong berisikan dua buah hot wheels itu ditahan oleh Ligar di bawah meja. Dirinya menyempatkan waktu sebentar membeli hal itu untuk membujuk Arsen karena dulu dirinya juga mendapat perlakuan seperti itu.
“Pipoy sayang aku kan?” Raga memberikan anggukannya. “Aku maafin Pipoy, tapi aku juga mau disuapin Pipoy kayak adeknya Aciel,” lanjutnya.
“Makasih ya, Cil. Nanti Pipo suapin kamu,” ujar Raga dengan senyumannya. “,By the way,* Pipo punya hadiah buat kamu, Cil.” Raga memberikan hot wheels yang dirinya beli tadi pada Arsen.
“Thank you, Pipoy,” balasnya menerima dengan senang hati.