Pipoy
“Lo gantiin baju gue?” tebak Raga menyadari pakaiannya sudah berganti dari bajunya semalam. Anggukan kepala Ligar dibalas decakan Raga.
“Arsen suka ke sini pagi-pagi, saya gak mau anak saya cium bau alkohol dari kamu,” terangnya.
Raga menarik lengan Ligar yang hendak keluar dari ruangan. “Lo gak cari kesempatan kan waktu gantiin gue baju?” tanya Raga takut ada sesuatu diluar keinginannya karena dirinya dalam keadaan tidak sadar malam itu.
“Gak. Kamu apa menariknya coba?” Mulut Raga terbuka tak menyangka mendengar balasan Ligar itu. “Kamu lebih baik mandi sekarang, saya mau siapkan sarapan di bawah,” ujarnya lalu beranjak keluar dari ruangannya.
Mendengar ucapan Ligar tadi, Raga merasa dirinya tengah diejek oleh lelaki yang lebih tua dari dirinya itu. Dirinya sempatkan memukul foto Ligar yang terdapat di sana sebelum beranjak mandi. Beruntung saja dirinya tidak menggunakan tenaga penuh dan memecahkan kaca yang menyampul foto itu.
“PIPOYYY~” sebuah panggilan nyaring itu terdengar masuk ke ruangan Ligar. “Loh Pipoy ke mana?ㅡPIPOYY MANDI??” Arsen mengetuk pintu kamar mandi sembari bertanya.
“Bentar lagi selesai, Cil,” balas Raga dari dalam.
“Aku tunggu di bawah sama Papogar ya!” sahutnya lalu beranjak pergi.
Tak lama dari Arsen yang berpamitan turun, Raga telah menyelesaikan mandinya. Ketika keluar dari kamar mandi, dirinya dikejutkan dengan Ligar yang berada di walk-in closet. Lelaki itu entah tengah sibuk mencari apa. Raga segera menghilangkan raut terkejutnya dan beranjak mengambil bajunya.
“Apa lo liat-liat?!” sewot Raga ketika mengetahui Ligar menatapnya. “Lo diem di situ dulu, gue mau ganti baju,” perintah Raga pada Ligar untuk tetap berada pada walk-in closet.
“Ya tinggal ganti saja, saya gak tertarik nonton kamu ganti baju,” balasnya membuat Raga melempar tendangan angin di depan wajah Ligar yang tengah berjongkok mencari barang pada almari bawah.
Setelah menemukan barang yang dicarinya, Ligar berdiam menunggu Raga di walk-in closet. Beberapa menit dia menunggu, Raga akhirnya menghampiri dirinya, memberitahu bahwa dirinya telah selesai berpakaian. Akan tetapi, alih-alih keduanya beranjak turun, Raga justru menahan Ligar di sana.
“Lo tadi tanya apa yang menarik dari gue?” Ligar hanya diam tak mebalas. “Gue kasih tau lo salah satunya.” Setelah kalimatnya itu selesai, dirinya dengan sedikit berjinjit mempertemukan buah bibirnya dengan milik Ligar.
Ligar terdiam sesasat guna mencerna apa yang tengah dihadapinya. Gigitan yang diberikan Raga untuk membuka belah bibirnya itu menyadarkannya tentang apa yang tengah terjadi. Ligar tak membalas ketika Raga membuat basah bibirnya dengan lumatannya.
Ligar mendorong tubuh Raga menjauh dari dirinya. “Kamu menggoda saya?” tanyanya yang dibalas kekehan Raga. “Gue cuma mau kasih tau, pede banget gue godain lo. Lo bego cipokan ya ternyata,” balas Raga frontal.
Mendengar ejekan Raga, Ligar jadi terpancing. Jemarinya beranjak mengangkat dagu Raga, dirinya pertemukan buah bibir keduanya lagi. Lumatan dan sesapan Ligar menantang Raga untuk menunjukkan seberapa hebatnya dia dalam berciuman. Lidahnya menerobos masuk mengabsen deretan gigi lawannya, menantangnya untuk bergulat lidah di sana.
Ligar tarik tengkuk lawannya untuk memperdalam perbuatannya. Saliva keduanya yang telah bercampur menjadi pembuka sarapan keduanya. Raga yang nampak mulai terbuai tanpa sadar meloloskan lenguhannya. Keduanya seketika saling melepas mendengar itu. Dengan napas yang masih menderu, keduanya menyadari yang dilakukan pagi ini telah melewati batas yang mereka buat untuk diri mereka sendiri.
Ruang makan kini diselimuti suasana canggung. Keduanya masih terbayang apa yang baru keduanya lakukan tadi. Raga sudah meneguk dua gelas air mineral untuk menyadarkan pikirannya. Dirinya merutuki dirinya sendiri yang mengikuti pikiran spontannya untuk mencium Ligar tadi yang ternyata ditanggapi oleh sang lawan. Ligar pun sama hal nya dengan Raga, merutuki dirinya sendiri karena terpancing membalas ciuman Raga karena rasa tak terimanya diejek.
“Pipoy aku mau lagi corn-nya,” pinta Arsen.
“Pipoy?” Arsen mengangguk. Raga baru sadari panggilannya sudah berganti lagi. “Ganti-ganti mulu deh,” celetuknya.
“Itu Papogar yang kasih nama. Kemaren aku liat Papo ngetik di handphonenya pipo gemoy alias pipoy terus itu ada foto Pipoy,” terangnya mengejutkan Raga maupun Ligar. “Aku setuju sama Papogar buat panggil Pipo itu Pipoy. Pipo emang lucu soalnya cuma males senyum aja jadi kayak zombie,” lanjutnya.
Raga melirik Ligar dengan senyum seringainya. Yang katanya tidak tertarik dengan dirinya tetapi membuat sebutan semacam itu untuknya. Raga berusaha sebaik mungkin menahan tawanya di sana.
“Itu gak seperti yang kamu pikirkan, jangan terlalu pede,” ucap Ligar pada Raga sebelum beranjak pergi mengantar Arsen ke sekolah.