Permintaan Maaf untuk Noa

Suasana ruang keluarga yang tampak hangat dengan kaca besar yang menampilkan langit kemerahan itu berbanding terbalik dengan suasana hati Noa yang tengah mendung. Janji sang Ayah yang berubah membuatnya sedih. Ayah yang selalu meluangkan waktu untuk acaranya, bahkan selalu bersedia saat diminta menemaninya di atas panggung itu esok tak akan hadir melihatnya. Semangatnya bahkan meredup saat latihan terakhir hari ini.

Elgar menghela napas panjang melihat Noa yang langsung bersembunyi dalam pelukan Koa saat kehadirannya. Noa bahkan tidak menghiraukan Ruby yang menyambut Elgar dengan peluk dan ciuman itu dimana biasanya keduanya akan berebut untuk menjadi yang pertama memeluk saat kepulangannya.

“Keluarkan mantramu, Husband.” Ruby memberikan kedipannya sebelum Elgar bergerak mendekati Noa.

Baru tangannya membelai rambut pirang Noa, gadis cantik itu semakin menyembunyikan wajahnya dalam pelukang sang Kakak. Koa hanya menahan tawa melihat raut Elgar yang memohon bantuannya.

“Adik—Cantiknya Ayah…” Rambut pirang yang disentuhnya bergerak akibat gelengan kepala. “Ayah minta maaf tidak bisa menonton dan menemani Adik besok. Ayah bukan tidak sayang Adik, Ayah sayang dan Ayah mau bisa menonton dan menemani Adik seperti biasanya—boleh menghadap sebentar ke Ayah, tidak? Ayah sedang bicara dengan Adik.”

Noa hanya memutar kepalanya, menoleh pada sang Ayah tanpa beranjak dari pelukan sang Kakak. Hati Elgar seakan dicubit melihat mata bersinar yang menyorotnya kecewa dengan hidung yang memerah dan bibir yang menekuk

“Cantiknya Ayah… Ayah besok akan tetap mengusahakan datang, seperti yang Ayah bilang tadi,” ucapnya seraya menata surai yang menutupi wajah cantik putrinya.

Elgar bergerak mengeluarkan isi salah satu paper bag yang dibawanya. Mata yang menyorotnya kecewa itu menatap tanpa putus pergerakan tangan Elgar. Telinganya memerah karena sudah membayangkan sesuatu yang akan terjadi setelah ini. Jantungnya berdebar kegirangan melihat apa yang dikeluarkan Elgar, namun dia tetap menjaga raut wajahnya.

“Adik lihat liontin cantik ini. Ayah sudah memasukkan segala doa dan dukungan untuk Adik tampil besok di sini. Besok memang Ayah mungkin tidak menonton Adik, tetapi Ayah tetap mendukung dan mendoakan keberhasilan Adik—Ayah pakaikan untuk Adik, mau?”

“Kalau mau senyum tuh senyum aja, Bayi. Pakai ditahan segala,” ledek Koa yang mendapat dengusan dari sang Adik.

“Rayuannya emang bahaya,” gumam Ruby yang memerhatikan dengan melepas senyumnya.

“Lepas dulu peluk Kakaknya, Ayah tidak bisa memasangkan kalau Adik menempel begitu.” Noa seketika beranjak mendengarnya.

Tawa Elgar tak bisa ditahan ketika Noa beranjak dengan cepat. Pahanya mendapat pukulan atas tawa itu. Tangannya bergerak memasangkan kalung pada putrinya yang telah duduk siap menghadapnya.

“Manisnya anak cantik Ayah jadi berkurang karena cemberut. Kalau Ayah suapi cake apa manisnya akan bertambah lagi?” Senyum manis Noa seketika hadir melihat Elgar mengeluarkan kue dari paper bag lain yang dibawanya.

“Mudah sekali memaafkan Ayah hanya dengan necklace dan cake,” sindir Ruby di sofa seberang.

“Adik belum maafkan Ayah, Obiy.” Elgar seketika menatap kesal Ruby setelah mendengar balasan Noa. “Ayah harus menepati janji untuk tetap ke sekolah Adik baru Adik maafkan Ayah,” lanjutnya dengan tangan yang sibuk menyendok kue.