Perihal Cuitan dan Kesepakatan
Ketika kesadaran Raga telah kembali berkumpul, dirinya membuka ponselnya dan mendapati banyak pesan masuk dari grup pesan obrolan geng motornya. Dirinya memanggil Harry untuk meminta menjelaskan keramaian pada obrolan tersebut.
Raga dengan cepat membawa langkahnya ke ruang kerja Ligar selepas mengakhiri obrolannya dengan Harry. Gila saja Ligar mengunggah fotonya pada akun pribadinya. Dirinya datang menggubrak meja Ligar, mengejutkan sang pemilik yang tengah fokus dengan pekerjaannya.
“Lo ngapain post foto gue?!” Ligar nampak bingung mendengar itu. Dirinya mengerti bahwa beberapa kali memang mengunggah foto Raga, yang tidak dia mengerti adalah Raga tahu akan hal itu sedangkan dirinya mengunggah foto Raga dalam akun pribadinya yang dia kunci.
Ligar seketika memeriksa ponselnya ketika Raga menunjukkan gambar tangkapan layar akun biru Ligar. Dirinya pun terkejut karena tak sadar mengunggahnya pada akun pribadinya yang dapat dilihat banyak orang.
“Nah tuh lo liat udah rame tweet lo. Mampus lo gimana jawabnya,” tukas Raga ketika Ligar memeriksa unggahannya.
“Saya jawab aja itu kamu, biar semuanya tau ketua bumantara ini males banget,” balasnya mencoba tetap tenang menyembunyikan kepanikannya.
“Gue pukul lo!” sahut Raga. “Udah hapus aja sekarang,” pintanya agar tak semakin jauh dirinya disangka-sangka walaupun kebenarannya memang itu dirinya. Raga tak mau lebih pusing jika Ligar menjawab itu benar dirinya karena setelahnya dirinya pasti jadi sasaran pertanyaan mereka.
Ligar turuti permintaan Raga untuk menghapus unggahannya itu. Dirinya merutuki diri sendiri atas kecerobohannya itu. Ada sedikit rasa beruntung baginya karena Raga tak mempertanyakan pertanyaan yang dia duga akan keluar dari mulut Raga.
“Lo suka ngefotoin gue ya? Tertarik lo?” Baru saja Ligar merasa beruntung, nyatanya tidak, pertanyaan percaya dirinya itu keluar dilontarkan Raga. “Dih, gak punya mulut buat jawab lo?!” celetuk Raga yang hanya mendepat lirikan Ligar.
“Mungkin, sedikit.” Balasan Ligar itu membuat perubahan raut wajah Raga. “Raga, hari udah tepat satu bulan kesepakatan kita,” lanjutnya berkata dengan menatap Raga yang masih berdiri di sebelahnya.
Raga baru ingat perihal kesepakatan itu. Dirinya tak memikirkan apapun perihal kesepakatan itu selama ini. Benar bahwa Raga ingin terbebas, tapi kini bersama Ligar dan Arsen sudah menjadi hari-harinya. Bohong kalau Raga tidak merasakan nyaman berada di rumah ini, walaupun dirinya tidak suka dengan Ligar yang sering melarangnya untuk melakukan beberapa hal yang dia sukai, dia akui dirinya mendapat kenyamanan di sana.
“Apapun keputusan kamu, memilih tetap tinggal atau pergi, saya akan bertanggung jawab,” tutur Ligar.
“Gue baru inget kesepakatan kita, jangan tanya dulu bisa gak?!” ketusnya di tengah bingungnya.
“Iya, kasih tahu saya nanti aja, saya tunggu,” balas Ligar. Raga berbalik setelahnya untuk keluar dari ruangan Ligar. “Raga.” Dirinya yang baru beberapa langkah itu berhenti dan menoleh ke arah Ligar.
“Saya gak bohong sama ucapan saya kalo emang ada sedikit ketertarikan saya ke kamu,” tukasnya.