Orangtua yang Saling Membahu
Si kembar berlari ke arah Elazar setelah berdiam di ambang pintu mencerna kehadiran Elazar. Dengan senang hati Elazar menerima kedua anak itu dalam dekapannya. Si kembar benar-benar nyata untuknya sekarang.
“Ruelle, aku taruh mana barang-barangnya twins?—Oh halo, Elazar?” Suami Ogie, Marhen menyapa pria yang akhir-akhir ini sering dirinya dengar tengah diumpati oleh suaminya. “Saya Marhen, suami temannya Ruelle,” terangnya memperkenalkan diri.
“Taruh disitu aja, Ko. Makasih ya udah mau direpotin nganter twins pulang.” Marhen menggelengkan kepalanya. “Loh Rocky ikut juga?” Marhen menoleh pada putra bungsunya yang baru masuk membawa tablet si kembar yang tertinggal di mobil.
“Sini Nyo salim sek sama Ayahnya Ai sama Io.” Rocky menjabat tangan pria yang sering dirinya lihat fotonya di grup obrolan itu sekaligus memperkenalkan dirinya.
“You look better in person eventho Yayah said you really minus 1000 auras.” Cielo yang paham dengan kalimat Rocky tak bisa menahan tawanya.
“Heh Nyo gak boleh ngono iku, say sorry!—Maafin Sinyo ya.” Marhen tak habis pikir bungsunya akan berucap seperti itu.
“Gapapa, Ko,” balas Elazar yang tak sepenuhnya mengerti maksud kalimat Rocky.
Suasana ruang tamu rumah Ruelle menjadi canggung selepas kepulangan Marhen dan Rocky. Bertemu dengan Elazar adalah hal yang si kembar dambakan. Walaupun sering berbincang melalui panggilan video, keduanya bingung saat dihadapkan langsung.
“Dede suka tidak Ayah datang ke sini?” tanya Elazar pada si kembar yang nampak diam.
“Io suka kok, Ayah.” “Ayah akan di sini sama kita?”
“Kalau Dede bolehkan, Ayah akan di sini beberapa hari kedepan.” Si kembar dengan semangat menganggukkan kepala.
“Selama-lamanya juga boleh. Io senang sekali, Ayah,” ucap Acacio yang disetujui oleh Alicio.
“Mana bisa gitu. Ayah bukan pasangan Papaps, gak bisa living together for a long time apalagi selamanya,” sahut Cielo.
Cielo tidak bisa menahan diri untuk tidak menjelaskan keadaan yang sebenarnya. Lagipula tujuan dirinya dan Elazar ikut Ruelle kembali ke Surabaya adalah untuk memperjelas situasi dengan si kembar, tidak salah jika dirinya memulai pembahasannya dahulu.
“Kakak Iel benar, Ayah tidak bisa lama di sini. Lain waktu Ayah bisa ke sini lagi ataupun Dede yang main ke tempat Ayah dan Kakak Iel,” terang Elazar.
Raut sedih muncul dari si kembar. Mereka mengerti bahwa orangtua mereka telah berpisah, namun tetap saja sedih melihat fakta bahwa mereka tidak bisa berkumpul bersama dalam waktu yang lama layaknya keluarga teman-temannya. Yang paling membuat si kembar sedih adalah mereka belum pernah merasakan utuhnya orangtua mereka, hanya Cielo yang pernah merasakannya.
“Tidak bisa ya Ayah dan Papaps sama-sama lagi?” Pertanyaan ini kembali muncul untuk Elazar dan Ruelle.
“Ayah minta maaf sekali sudah buat Dede dan Kakak Iel ada di kondisi seperti ini, tapi untuk Ayah dan Papa kembali menjadi pasangan itu tidak bisa semudah itu, situasinya sulit.” Si kembar nampang bingung mencerna tiap kata yang keluar dari mulut Elazar.
“Ayah dan Papa berpisah karena kesalahan Ayah. Dulu Ayah terlalu mementingkan perusahaan Ayah sampai lupa kalau ada Papa dan Kakak Iel yang juga butuh adanya Ayah di rumah. Parahnya Ayah saat itu lebih sering mendengarkan orang lain daripada Papa, pasangan Ayah sendiri. Papa mengalami banyak hal berat karena Ayah. Karena itu, sulit untuk Papa kembali bersama Ayah. Ayah banyak buat luka untuk Papa sampai membuat Dede dan Kakak Iel ada di kondisi seperti ini.” Elazar menjelaskan dengan bahasa yang lebih mudah dicerna oleh si kembar.
“Ayah tahu Dede pasti marah dengan Ayah yang sudah keterlaluan. Akan tetapi, Ayah di sini, dihadapan Papa, Kakak Iel, dan Dede, Ayah sangat menyesali perbuatan Ayah itu. Ayah tidak bisa merubah masa lalu, maka di sini Ayah mau membuat masa depan untuk kita jadi jauh lebih baik. Ayah di sini berjanji bahwa Ayah akan selalu ada menjadi Ayah untuk Dede dan Kakak Iel,” tambah Elazar.
Setelah mendengar penuturan panjang Elazar, tentu ada perasaan yang berubah dari si kembar. Mengetahui fakta sang Ayah yang mendasari perpisahan orangtuanya yang bahkan tak didebat oleh Ruelle pernyataannya membuat mereka yakin bahwa memang itulah adanya.
“Ayah sungguh menyesal?” Elazar mengangguk menanggapi Acacio. “Io kecewa dengan Ayah, tapi Io juga tidak mau kehilangan Ayah. Io suka punya Ayah dan Papaps. Walaupun tidak bisa seperti orangtua teman-teman, setidaknya Io punya orangtua yang lengkap,” terangnya mengutarakan perasaannya.
“Ai juga sama seperti Io. Ayah mengecewakan, tapi Ai mau Ayah tetap ada untuk Ai. Rasanya menyenangkan diperhatikan Ayah dan Papaps bahkan Ai juga punya Kakak Iel,” timpal Alicio. “Ayah mau berjanji tidak mengecewakan lagi?” Alicio mengangkat kelingkingnya.
“Ayah janji. Dede dan Kakak Iel bisa marah pada Ayah kalau Ayah mengecewakan lagi.” Elazar mengangkat kelingkingnya sebagai bentuk janji.
Ruelle hanya diam membiarkan Elazar memberi penjelasan pada si kembar. Energinya sudah habis untuk membujuk Cielo dalam beberapa hari lalu. Lagipula memang begini bukan cara kerja orangtua dengan saling membahu untuk mengurus anak-anaknya?