Obrolan Ayah

Dengan langkah pasti, Elgar memasuki ruangan yang telah dia reservasi sebelumnya. Seseorang telah menunggunya di sana. Dirinya sudah memantapkan niatnya bahwa berbincang dengan Mario ini adalah untuk menghadirkan hubungan antara dirinya, Ruby, Koa, dan Mario yang lebih baik.

“Saya melihat Koa memanggil kamu dengan sebutan Ayah dan dia gunakan senyuman lebarnya, di mana hal itu sering saya dapatkan sebelumnya. Rasanya cukup menyakitkan untuk diketahui.” Mario terkekeh pelan, menertawakan dirinya sendiri.

“Untuk bersama saya, Ruby melepaskan banyak hal. Salah satunya adalah dirinya tidak lagi menjadi pewaris keluarga Harris. Amouris Group adalah bukti nyata dari kalimat itu. Dia memilih memulai usahanya sendiri dari awal alih-alih melanjutkan milik keluarganya hanya untuk bisa bersama saya.” Untaian kata Mario itu memamerkan dirinya pernah dicintai sebegitunya oleh Ruby.

Mario pertama kali bertemu Ruby di cafe miliknya. Kala itu, Mario melihat Ruby berbincang dengan seorang laki-laki lalu ditinggalkan tanpa menyentuh makanan dan minuman yang dipesan oleh Ruby. Mario pergi mengejar laki-laki itu untuk Ruby dan berakhir ditertawakan. Dari situ mereka mulai berbincang dan Mario ketahui bahwa Ruby dan lelaki itu baru menyelesaikan kencan buta yang diatur oleh orang tua mereka, dan tujuan Ruby memang menggagalkan kencan mereka.

Dari awal mengenal Ruby, Mario tahu bahwa Ruby bukan dari kalangan orang biasa, tapi tak pernah Mario kira bahwa kalangannya itu tak bisa dirinya jangkau. Keluarganya yang sangat berkecukupan itu nyatanya masih jauh kelasnya dari keluarga Ruby.

Mario sudah berpikir berulang kali untuk melanjutkan hubungannya dengan Ruby ke jenjang yang lebih serius atau tidak. Hadirnya Ruby dalam hidupnya itu sukses menghempas perasaan miliknya yang tersisa untuk Joan, sang patah hatinya. Langkahnya ingin mundur saat tak kunjung mendapatkan restu dari keluarga Ruby bahkan tak ada respon baik sama sekali dari mereka. Akan tetapi, Ruby menghidupkan semangatnya dengan langkah nekat yang diambilnya untuk bisa bersamanya. Hanya orang bodoh yang mau melepas seseorang yang memperjuangkannya sebegitu hebat.

Keluarga Ruby menyetujui pernikahan mereka hanya karena keinginan Ruby yang tak bisa dipatahkan. Intimate wedding yang diadakan adalah cara keluarga Ruby menjaga pernikahan itu tidak terendus oleh media dan rekan bisnis mereka, walaupun pada akhirnya Ruby mengungkapnya dengan sering membawa Mario dalam agendanya. Ruby juga selalu mengenalkan Mario dengan teman-temannya, pun ingin mereka memiliki hubungan yang baik juga, tetapi Mario tidak pernah mau melewati batas antara mereka. Baginya, satu langkah yang dia ambil untuk melewati batas itu, maka ada seratus langkah lain yang maju untuk memisahkan keduanya.

Disisi adanya tentangan dari keluarga Ruby, mereka menjalani kehidupan rumah tangga dengan baik dan membahagiakan. Keduanya sama-sama bekerja, tetapi selalu mengusahakan untuk ada satu sama lain. Tidak heran kalau banyak yang merasa iri dengan hubungan keduanya yang memiliki kebebasan dan tidak dalam aturan keluarga bahkan bisnis.

Di tengah hangatnya keluarga kecil mereka, Mario kembali bersua dengan Joan. Hal itu berawal dari Joan yang mengirim surel ke Mario untuk bertemu. Tanpa disangka, Joan datang bersama anak yang dikatakan adalah darah dagingnya. Awalnya Mario menyangkal hal itu, namun hasil kecocokan tes DNA merubahnya. Niat Joan awalnya hanyalah mengenalkan putrinya pada Mario, namun setelah mengetahui bahwa Mario telah menikah dan memiliki seorang anak, dirinya merasa sakit hati dan tak adil. Yang semula dirinya yakin bisa membesarkan putrinya sendiri, saat itu berubah. Dirinya juga menginginkan putrinya mendapat sosok Ayah.

Pertemuan diam-diam yang selalu dilakukan oleh Mario untuk menemui putrinya itu tentu cepat atau lambat akan diketahui oleh Ruby. Tidak lama setelah Ruby mengetahui hal itu, dirinya membawa Joan dan putrinya ke rumah. Dengan sadar dirinya akui putrinya di depan orangtuanya, Ruby, dan Koa yang tak mengerti apapun.

Dari awal, Mario tidak pernah diterima oleh keluarga Ruby. Saat mengetahui dirinya memiliki anak diluar pernikahan, keluarga Ruby tentu semakin tidak menyukainya dan marah padanya. Ruby dan putranya dengan cepat mereka bawa kembali. Melihat Ruby yang marah dan kecewa padanya itu justru mendorongnya untuk melepaskan Ruby, hingga saat surat gugatan datang padanya dirinya dengan pasrah menerima. Kepercayaan dirinya untuk meyakinkan keluarga Ruby sudah hilang, membuat jarinya yakin menandatangani surat gugatan dari Ruby.

Dengan perpisahan mereka, Mario berharap Ruby dan putranya bahagia tanpa dirinya yang tak pernah dianggap dalam keluarga Ruby. Dirinya bersyukur bahwa putranya disayang sepenuh hati oleh keluarga Ruby walaupun darahnya juga mengalir di sana. Akan tetapi, setelah perpisahan mereka, Ruby seringkali datang ke rumahnya bersama Koa. Tindakan Ruby itu didasari oleh Mario yang membawa Joan dan putrinya di sana.

Sikap Mario selalu membuat Ruby merasa tidak betah berada di rumahnya itu bukan tanpa alasan. Dirinya tahu Ruby tidak nyaman berada di sana bersama Joan dan putrinya, karena itu Mario bersikap seperti itu dengan harapan Ruby akan segera meninggalkan rumahnya. Sikapnya itu ternyata memberikan hasil yang sebaliknya. Ruby justru semakin sering datang ke rumahnya dan selalu membuat alasan saat Mario akan menemuinya dan Koa. Mario menghidupkan pertarungan antara Koa dan Wilona, bahkan rasa benci Ruby yang semakin memuncak.

Penyesalannya begitu terasa saat Ruby bersama Elgar. Mantan suaminya itu memutus kontak dengannya bahkan antara dirinya dengan Koa. Marahnya muncul saat Ruby memihak Elgar, menyebut lelaki itu pasangannya, bahkan Koa dekat dengan Elgar sampai memanggilnya Ayah. Mario merasa sakit hati dan tidak terima atas hal itu.

“Kamu mendapatkan banyak hal yang tidak pernah saya dapat selama menjadi pasangan Ruby,” tutup Mario setelah kisah panjang yang dirinya jelaskan.

“Kakak mencintai dua orang dalam satu waktu?” pertanyaan itu muncul dari Elgar setelah mencerna cerita Mario yang masih mencintai Ruby, namun juga menikah dengan Joan.

“Hanya Ruby.” Mario terkekeh melihat kebingungan Elgar. “Saya pernah mencintai Joan, tapi setelah bertemu Ruby dan sampai hari ini, saya mencintai Ruby. Saya bersama Joan hanya untuk memberi keutuhan untuk putri saya. Yang saya rasakan di keluarga Ruby, itu yang Joan dapatkan di keluarga saya.”

“Kakak sepertinya tidak pantas mencintai siapapun. Kakak hanya mau dicintai tanpa mencintai dengan setara.” Mario seakan ditampar oleh perkataan Elgar.

Mario pergi menerima panggilan sejenak, pergi sejenak dari keheningan ruangan itu. Elgar dengan menghela napas panjangnya memejamkan matanya mencerna panjangnya kisah yang dituturkan oleh Mario. Dirinya menangkap niat pertemuan ini yang berbeda dari arah pembicaraan Mario. Pria itu lebih mengungkapkan bagaimana dirinya bersama Ruby dahulu dengan segala rintang yang mereka lalui.

“Saya setuju menemui Kakak di sini dengan niat untuk membuat hubungan baik antara kita karena setelah ini saya resmi menjadi pasangan sah Kak Ruby. Akan tetapi, sepertinya arah pembicaraan Kakak bukan ke sana.” Elgar menghela napasnya setelah mengakhiri kalimat.

“Saya mau Ruby kembali bersama saya.” Mario tampak serius dalam mengucapkannya, lalu tak lama tawanya lepas membingungkan Elgar. “Saya sudah tidak memiliki kesempatan itu karena kamu.”

Setelah rentetan sikapnya yang menghidupkan kebencian dari orang yang dicintainya, Mario masih memiliki pikiran untuk kembali bersama Ruby. Hal itu membuat Elgar mempertanyakan penyesalan yang sempat diucap pria itu. Rangkaian kata bahwa dirinya kehilangan kesempatan karena Elgar itu seakan ingin menyalahkan Elgar, sementara dirinya melewatkan bertahun-tahun kesempatan yang ada.

“Saya terima bahwa kesempatan Kakak itu hilang karena saya dan saya juga tidak akan pernah memberikan kesempatan itu pada Kakak.” Mario menganggukkan kepalanya. “Tapi saya memberi Kakak kesempatan untuk memperbaiki hubungan dengan Koa. Kakak hanya mengakhiri hubungan dengan Kak Ruby, bukan Koa.”

Secarik kertas yang diletakkan Elgar di meja itu Mario ambil. Jemarinya meremat bagian ujung kertas yang dia pegang. “Untuk bisa bersama putraku juga harus atas izin kamu?” Mata Mario beralih menatap Elgar sinis.

“Ya, itu sudah sepantasnya. Kakak bisa pergi bersama Kak Ruby dan Koa hanya bertiga saja dan hal itu tentu perlu persetujuan dari saya. Saya adalah pasangan dari Kak Ruby sekaligus Ayah sambung Koa,” terang Elgar.

Mario lanjutkan membaca setiap poin yang tertulis. Hitam di atas putih yang dibuat oleh Elgar itu terlihat lebih rumit dari kesepakatannya dengan Ruby saat berpisah dahulu. Dapat Mario mengerti dari semua poin yang tertulis itu menunjukkan bagaimana Elgar menjaga Ruby dan Koa, dan itu membuat dirinya merasa semakin gagal.

“Saya harap ini bukan kertas belaka.” Mario bubuhkan tanda tangannya pada lembar kertas tersebut dan salinannya.

“Kertas ini bisa bersaksi jika terjadi hal yang tidak sesuai,” balas Elgar dengan mengambil salinan yang sudah tertera tanda tangan keduanya.

Sebelum Mario beranjak meninggalkan ruangan, Elgar sejenak menghentikannya. “Kak, jangan sampai kehilangan kesempatan lagi. Maaf saya sempat mendengar obrolan Kakak di telepon tadi.” Mario hanya mengangguk dan meninggalkan Elgar.